Brotherly Love of 7 Wudang Heroes

Sudah menjadi hal umum jika kebanyakan orang membahas novel dan serial adaptasi Yi Tian Tu Long Ji alias Heaven Sword Dragon Sabre (HSDS) berkaitan dengan kehebatan ilmu dan kesaktian para tokohnya, dari Zhang Wuji, Zhang Sanfeng, hingga Guo Xiang.
Jika membahas hubungan karakter, yang paling umum adalah membahas kisah cinta sang protogonis Zhang Wuji dengan beberapa wanita cantik di sekelilingnya, sampai ada yang bikin tim Zhao Min dan tim Zhou Zhiruo segala.

Tahun 1977, Jin Yong pernah komentar kalau HSDS penuh dengan kisah kasih sayang antar tokoh pria. Tentu saja maksudnya adalah kasih sayang antar saudara lelaki, antar guru-murid lelaki, dan antar ayah-anak lelaki. Dalam artikel ecek-ecek ini saya ingin membahas kasih sayang pertama yaitu cinta dan kasih persaudaraan antara 7 pendekar Wudang.

Lewat berbagai narasi yang disampaikan dalam novel, ketujuh pendekar Wudang ini diadopsi oleh Zhang Sanfeng sejak masih kanak-kanak dan diangkat menjadi murid Wudang paling awal. Ketika satu demi satu dibawa ke gunung Wudang, mereka semua sudah yatim piatu dan tidak memiliki sanak saudara. Otomatis segala kasih sayang dicurahkan pada sosok terdekat, siapa lagi kalau bukan guru dan saudara perguruan mereka?

Berulang kali dalam dialog antar ketujuh pendekar Wudang diucapkan, hubungan mereka bertujuh dikatakan melebihi saudara perguruan. Kadang disebut bagaikan saudara kandung, kadang malah dikatakan melebih kasih sayang antar saudara kandung. Sejak kecil mereka selalu bersama dan saling mendukung, dari bermain hingga berlatih.
Suka-duka, susah-senang, pahit-manis, semua dilalui dan dibagi bersama, dari kanak-kanak hingga dewasa

Karena itu, sedekat-dekat dan sesayang-sayangnya hubungan saudara angkat dalam dunia Jin Yong (contohnya Xiao Feng-Duan Yu-Xu Zhu), besar kemungkinan tak akan bisa mengalahkan kedekatan 7 pendekar Wudang. Jangankan mengalahkan, mendekati saja tak akan bisa.

Zhang Sanfeng dan tujuh murid utamanya dalam serial adaptasi HSDS 2019

Secara berturut-turut, Zhang Sanfeng mengadopsi ketujuh anak ini menjadi murid-muridnya dan sepertinya sang mahaguru memberikan nama baru berdasarkan keindahan alam yang pernah dilihat Zhang Sanfeng pada mereka, seperti halnya nama Junbao menjadi Sanfeng.

Continue reading ‘Brotherly Love of 7 Wudang Heroes’

The Twilight Samurai

Plot
Iguchi Seibei, seorang samurai dari daerah Unasaka-han dikenal sebagai samurai miskin. Pekerjaannya sebagai juru hitung dan juru tulis gudang penyimpanan bahan pokok hanya menghasilkan gaji sebesar 50 koku. Itupun 30 koku dipakai untuk membayar hutang karena Seibei terpaksa berhutang demi membiayai pemakaman mendiang istrinya dengan upacara yang cukup mewah.
Demi mencukupi kehidupan keluarganya yang terdiri dari seorang ibu pikun dan 2 anak perempuan yang masih kecil, Seibei harus menggarap ladang sendiri di rumah serta membuat sangkar serangga untuk dijual. Ketika rekan-rekannya yang bekerja di gudang pulang kerja di sore hari selalu kongkow minum sake di kedai terdekat, Seibei harus buru-buru pulang untuk mengurus ibu dan anak-anaknya. Hal ini menimbulkan ejekan dan Seibei, oleh rekan-rekannya, dijuluki dengan Tasogare Seibei (Seibei si Senja) karena Seibei selalu pulang buru-buru setiap sore.


Kehidupan Seibei mulai memasuki babak baru ketika temannya Iinuma mengabarkan kalau adiknya Tomoe ingin bercerai dan pulang ke rumah keluarga Iinuma gara-gara suaminya tukang mabuk dan suka memukul. Tomoe adalah cinta pertama Seibei dan Iinuma tahu kalau Tomoe masih menaruh hati pada Seibei dan ingin menjodohkan mereka berdua.


Di lain pihak, terjadi perebutan kekuasaan di Unasaka-han setelah kepala klan wafat akibat wabah penyakit. Yogo, jago pedang terhebat di Unasaka-han ternyata menentang kepala klan yang baru. Setelah beberapa kali mengirim jago pedang untuk berduel membunuh Yogo dan selalu gagal, kepala klan yang baru akhirnya memerintahkan Seibei untuk menantang Yogo berduel hingga mati.

Continue reading ‘The Twilight Samurai’

Sistem Kokudaka

Kokudaka adalah sistem distribusi pendapatan, kekayaan dan pungutan pajak pada era feodal Jepang zaman Edo (periode kekuasaan shogun Tokugawa). Unit yang dipakai adalah koku yaitu besaran volume genma (beras coklat) dengan asumsi 1 koku bisa mencukupi kebutuhan makan 1 orang selama 1 tahun.

Sebelum Kanpaku Toyotomi Hideyoshi berkuasa, Jepang masih menggunakan sistem Kinnou dan Kandaka yang berdasarkan unit mata uang dan luas tanah.

Sistem Kinnou (金納) sendiri diadopsi dari daratan China sejak era dinasti Tang hingga dinasti Ming. Pada masa Sengoku Jidai (masa perperangan), sistem Kinnou kacau balau akibat perang. Bitasen (koin logam kualitas rendah) yang menjadi dasar akomidasi sistem Kinnou mulai sulit beredar dan diperoleh, apalagi sebagian koin uang berasal dari impor kekaisaran di China. Belum lagi masalah kualitas logam yang digunakan sebagai uang semakin membuat sistem Kinnou tidak stabil dan sulit diatur.

Sedangkan sistem Kandaka (貫高制) yang berdasarkan luas tanah sebenarnya sudah dipakai sejak zaman Kamakura dan Muromachi. Seiring dengan berlangsungnya era Sengoku Jidai, perang berkelanjutan membuat sistem dan pajak pertanahan juga menjadi kacau balau seiring dengan banyak perpindahan tangan daerah dari penguasa satu ke penguasa lain.

Di lain pihak, pada era Sengoku Jidai, alat pembayaran yang mulai sering dipakai adalah perak dan perak banyak dihasilkan oleh tambang di darah barat Jepang sehingga perekonomian Jepang jadi tidak seimbang secara daerah barat kontras sekali menjadi terlihat super kaya.

Ketika Toyotomi Hideyoshi diangkat menjadi Kampaku, Toyotomi akhirnya memberlakukan Taiko Kenchi, sebuah peraturan dimana jumlah beras genma yang dihasilkan ladang ditentukan lewat skala unit bernama koku (石). Satu koku ditentukan sebesar 10 meter kubik, pada masa Meiji 1 koku dihitung sekitar 180,39 Liter, secara kasar dihitung sebagai konsumsi beras satu orang dalam setahun dengan perhitungan 3 kali makan sehari.

3 koku diikat menjadi satu.

Penggunaan Koku sebagai dasar perhitungan pembayaran pajak, penghasilan hingga gaji mulai digunakan secara luas di seluruh Jepang sejak berdirinya shogun Tokugawa. Sistem yang menggunakan unit Koku ini disebut Kokudaka-sei alias sistem Kokudaka. Dengan berlakukan Kokudaka-sei, kasta dan tingkatan para samurai mulai terlihat jelas secara jumlah besar untuk gaji mereka menunjukkan status. Makin besar koku yang diperoleh seorang samurai, makin tinggi status dan posisinya.


Apakah dengan berlakunya Kokudaka-sei menyebabkan peredaran koin sebagai alat bayar menghilang?
Tentu tidak, karena Kokudaka-sei yang berfungsi sebagai alat perhitungan dari besaran pembayaran pajak dan penghasilan (termasuk gaji para samurai). Uang koin masih beredar luas sebagai alat pembayaran jual beli, hanya saja banyak sedikit peredarannya tidak lagi mempengaruhi perekonomian Jepang karena dasar semuanya dikembalikan ke unit Koku.
Malah pemerintah Tokugawa mendirikan Zeniza (銭座) yang dioperasikan untuk memperoduksi zeni (銭) setelah organisasi swasta Kanei Tsouho yang membuat koin atas izin shogun tak mampu mengatasi kekurangan pasokan jumlah koin yang beredar. Zeniza sendiri dibubarkan setelah pasokan koin dianggap mencukupi dan seperti yang ditulis di atas, walau tak ada lagi koin yang diproduksi, tetap saja perekonomian Jepang era Tokugawa stabil karena dasar perhitungan tetap dikembalikan ke sistem Kokudaka.

Penggunaan sistem Kokudaka mulai kehilangan keseimbangan di akhir masa kekuasaan shogun Tokugawa. Salah satu penyebabnya karena faktor para samurai yang mulai banyak menukar gaji mereka yang berupa beras menjadi uang. Kokudaka yang tadinya digunakan untuk mengatasi ketidakstabilan peredaran mata uang para era Sengoku Jidai, malah menjadi tidak stabil gara-gara para samurai menjual beras gaji mereka demi mendapatkan uang. Ini disebabkan oleh jatuhnya harga beras pada awal abad 18 akibat produksi melimpah sehingga para samurai mulai merasa aman jika menabung dalam bentuk uang dibanding beras.

Sistem Kokudaka akhirnya benar-benar dihapus seiring dengan tumbangnya shogun Tokugawa dan berdirinya pemerintahan Meiji karena pemerintah Meiji melakukan revolusi besar-besaran di segala bidang termasuk bidang ekonomi dan reformasi pajak. Ditambah lagi dengan penghapusan sistem feodal dan kasta samurai menyebabkan sistem Kokudaka kehilangan makna dan stabilitasnya.

Fujisawa Shuhei, Sastrawan Jidaigeki

Sastra Jidaigeki dan Fiksi Sejarah

Jika sastra wuxia punya Liang Yusheng, Jin Yong dan Gu Long sebagai trio pilar wuxia dari China, bagaimana dengan sastra jidaigeki dari Jepang?

Sayangnya sastra jidaigeki di Jepang tidak menikmati popularitas seperti halnya sastra wuxia di China. Bahkan sastra jidaigeki masih kalah populer dengan genre jidaigeki dalam media lain seperti film, serial drama maupun manga dan anime. Padahal cukup banyak karya sastra jidaigeki yang diadaptasi media lain terutama film dan serial drama. Masyarakat umum di Jepang memang lebih kenal genre jidaigeki dalam bentuk film dan serial drama dibandingkan dalam bentuk buku. Bukunya saja belum pernah dibaca apalagi kenal pengarang bukunya. Paling yang kenal hanya komunitas penggemar sastra jidaigeki.

Misalnya saja jarang ada yang kenal Shimozawa Kan, akan tetapi banyak yang kenal Shintaro Katsu yang berperan sebagai Zatoichi dalam serial televisi. Malah umumnya orang Jepang lebih mengasosiasikan Zatoichi dengan Shintaro Katsu maupun Beat Takeshi yang memerankan Zatoichi versi layar lebar daripada si pengarang bukunya Shimozawa Kan.

Bagaimana dengan Yoshikawa Eiji 吉川 英治 yang banyak dikenal lewat novel karyanya seperti Musashi dan Taiko? Bukannya nama beliau sangat terkenal, bahkan hingga di luar Jepang.

Masalahnya, sastra wuxia dan jidaigeki adalah genre fiksi sejarah (historical fiction), sebuah genre menceritakan plot fiksi dengan latar sejarah asli. Yoshikawa Eiji sendiri dikenal sebagai pengarang novel sejarah yang isinya berupa penceritaan ulang dengan kata-kata sendiri tentang kejadian sejarah asli dengan tokoh, plot cerita dan latar sejarah asli. Dengan demikian Yoshikawa Eiji kurang cocok dimasukkan ke dalam sastra jidaigeki yang masuk fiksi sejarah.

Walaupun kepopuleran Liang Yusheng, Jin Yong dan Gu Long sangat terbantu dengan adaptasi karya mereka ke dalam media lain seperti layar kaca televisi dan layar lebar, nama ketiga pilar wuxia ini sejak awal memang sudah dikenal luas lewat novel hasil karya tulis mereka.

Fujisawa Shuhei 藤沢 周平

Jika melihat popularitas dari banyaknya sastra jidaigeki yang diadaptasi menjadi film dan serial drama, izinkan saya kali ini saya memperkenalkan nama Fujisawa Shuhei 藤沢 周平.

Sama seperti sastrawan jidaigeki lain, karya Fujisawa Shuhei banyak dikenal masyarakat umum lewat adaptasi film dan serial drama walau mereka tak kenal nama pengarang bukunya. Akan tetapi nama Fujisawa Shuhei sangat terkenal dikalangan penggemar sastra jidaigeki.

Continue reading ‘Fujisawa Shuhei, Sastrawan Jidaigeki’

Jidaigeki dan Wuxia

Apakah kultur Jepang memiliki padanan kata untuk Wuxia? Jawabannya mungkin variatif dan berbeda untuk tiap orang, tetapi menurut saya istilah yang paling mendekati adalah Jidaigeki. Jidaigeki sendiri memiliki arti harfiah pertunjukan tentang era masa lalu, berasal dari kata jidai 時代 berarti era/zaman dan geki 劇 yang berarti pertunjukan. Masa lampau ini biasanya dibatasi hingga sekitar era Meiji pertengahan (1900 masehi).

Jidaigeki tidak sama persis dengan Wuxia sehingga tak bisa dibilang sebagai padanan kata secara langsung. Yang paling kentara, Jidaigeki tidak hanya mengetengahkan pertunjukan ahli pedang dan seniman beladiri melainkan juga drama kehidupan masyarakat di zaman lampau. Misalkan saja drama Putri Huanzhu dan Wu Zhetian tak bisa dikategorikan sebagai genre wuxia, akan tetapi jika setting dipindahkan ke Jepang masih masuk kategori Jidaigeki.

Jadi boleh dikatakan Wuxia adalah sub-genre period drama (drama sejarah) yang spesifik membahas cerita seniman beladiri sedangkan Jidaigeki adalah period drama itu sendiri.

Dalam genre Jidaigeki, sudah pasti ada cerita kepahlawanan, petualangan pendekar, seniman beladiri dan pertarungan ahli pedang. Bagian inilah yang paling tepat untuk dijadkan padanan wuxia. Jidaigeki di masa sekarang sudah berkembang secara luas lewat berbagai media seperti pertunjukan panggung theater, film, drama TV, manga (komik), novel hingga game.

Toshiro Mifune, seorang aktor terkenal yang pernah bermain sebagai Miyamoto Musashi dalam film Jidaigeki trilogi Miyamoto Musashi garapan sutradara Hiroshi Inagaki
Continue reading ‘Jidaigeki dan Wuxia’

Kronologi Sejarah Nama Keluarga Jepang

Pendahuluan

Tidak seperti marga atau nama keluarga di China yang sudah umum dipakai semua orang keturunan China tanpa ada perubahan signifikan sejak ribuan tahun lalu, marga orang Jepang terhitung relatif baru dengan pengecualian marga keturunan aristokrat dan bangsawan kelas atas.

Myouji yang berarti nama keluarga

Pada era Jomon (縄文時代) hingga 500SM, masyarakat Jepang masih hidup berkelompok tanpa memiliki sistem kelas dengan pekerjaan berburu dan meramu. Barulah pada era Yayoi (弥生時代) sekitar 300SM hingga 300M, masyarakat Jepang yang sudah menetap dan bertani mulai memiliki sistem klan Shizoku (氏族) dimana satu klan merupakan kumpulan keluarga yang memiliki pertalian darah, ikatan pernikahan dan leluhur sama. Pada era ini, nama klan adalah nama marga dan sistem penamaan ini disebut dengan sistem Uji (氏) dengan kepala klan disebut Uji no Kami (氏の上) dan anggota klan disebut ujibito (氏人).

Continue reading ‘Kronologi Sejarah Nama Keluarga Jepang’

Persekutuan Satcho

Pada era Bakumatsu, perseteruan antara kelompok pro-Shogun dan pro-Kaisar Meiji semakin keras akibat kebijakan Shogun Tokugawa membuka hubungan dengan dunia luar pasca mendaratnya kapal hitam pimpinan Komodor Perry. Kelompok pro-Meiji yang dikenal dengan nama Ishin Shishi, dimotori oleh 3 kekuatan daerah yaitu Choshu-han, Satsuma-han dan dan Tosa-han. Han di sini adalah sistem pembagian daerah kekuasaan setingkat propinsi. Di antara bertiga, Choshu dan Satsuma boleh dibilang kekuatan utama dengan terbentuknya Satcho Domei (Persekutuan Satcho) sebagai motor pihak pro-Meiji.

Satsuma dan Chosu sebenarnya memiliki sejarah rivalitas dan saling bermusuhan satu sama lain. Pada era Sengoku Jidai (masa perperangan), Satsuma dan Chosu sama-sama memihak kelompok Toyotomi. Ketika kelompok Tokugawa berhasil mengalahkan Toyotomi dan mendirikan Keshogunan Tokugawa, pihak Satsuma segera beralih mendukung Shogun Tokugawa tapi di pihak Chosu masih menyisakan bibit-bibit menentang. Chosu-Han akhirnya diperlakukan keras oleh Shogun Tokugawa dengan berbagai sanksi dan pembatasan.

Continue reading ‘Persekutuan Satcho’

Lima Hebat dari Choshu

Choshu Goketsu (長州五傑), Five Greats from Choshu atau di University College London lebih dikenal sebagai Choshu Five, adalah julukan 5 samurai muda dari Choshu-Han (Propinsi Choshu) yang menyelundup keluar Jepang pada era Bakumatsu (akhir masa Shogun Tokugawa) menuju London Inggris agar bisa belajar di perguruan tinggi demi menciptakan Jepang yang lebih modern. Kelima pemuda ini di kemudian hari akan menjadi pilar penting terbentuknya Jepang modern lewat revolusi ekonomi, industri, dan transportasi di era restorasi Meiji.

Seperti yang telah di bahas dalam tulisan persekutuan Satcho (Satsuma-Chosu), penguasa Chosu-Han dari klan Mori yang tadinya anti asing (khususnya anti-barat) mulai menyadari ketinggalan mereka terhadap teknologi modern setelah dimulainya persekutuan Satcho. Bantuan suplai senjata teknologi barat dari Satsuma-Han membuat para petinggi Chosu-Han ingin mencapai apa yang telah dimulai oleh Satsuma-Han. Cara yang paling praktis tentunya mengirim orang untuk belajar teknologi barat agar cepat mengejar ketinggalan. Opsi mendatangkan pengajar orang Eropa tak dilakukan mengingat sikap anti orang-barat klan Mori masih kuat. Masalahnya, Shogun Tokugawa sudah 200 tahunan menerapkan politik Sakoku (isolasi negeri). Hukuman mati bagi siapapun warga jepang yang pergi ke luar negeri dan warga asing masuk jepang tanpa persetujuan Shogun.

Pada tahun 1863, para petinggi Choshu-Han memutuskan memilih 5 samurai muda untuk berangkat ke London mempelajari teknologi orang Eropa agar bisa mengawali modernisasi Choshu. 5 pemuda yang dipilih ini semua berasal dari klan Samurai level bawah. Banyak alasan pemilihan ini. Selain menghindari kecurigaan Shogun (kepergian Samurai kelas atas akan menimbulkan pertanyaan), resiko hukuman mati, dan pastinya kemampuan intelektual. Terpilihlah 5 orang samurai muda Chosu-Han yaitu Ito Shunsuke, Inoue Monta, Endo Kinsuke, Yamao Yozo, dan Nomura Yakichi.

Lima Hebat dari Chosu berfoto bersama setelah tiba di London
Kiri-kanan atas: Endo Kinsuke, Ito Shunsuke
Tengah: Nomura Yakichi
Kiri-kanan bawah: Yamao Yozo, Inoue Monta
Continue reading ‘Lima Hebat dari Choshu’

Kho Ping Hoo, asimilasi budaya dan kawin campur. Sebuah opini.

Kho Ping Hoo (KPH) dikenal luas di Indonesia sebagai pengarang buku cerita silat (cersil). Mayoritas karyanya mengambil kisah kepahlawanan para pendekar di negeri Tiongkok. Selain itu KPH juga membuat beberapa judul dan serial cersil dengan latar Jawa seperti serial Badai Laut Selatan, Perawan Lembah Wilis dan Darah Mengalir di Borobudur.

Di antara sekian banyak karyanya dengan latar belakang Tiongkok dan Jawa, KPH pernah membuat 2 judul cersil dengan tokoh campuran Tionghoa dan Jawa dimana tokoh-tokoh berbeda etnis dan budaya tersebut terlibat hubungan asmara. Keduanya berjudul Kilat Pedang Membela Cinta (KPMC) dan Sejengkal Tanah Sepercik Darah (STSD), ditulis pada tahun 1981 dan terbit bersamaan pada tahun 1982.

Continue reading ‘Kho Ping Hoo, asimilasi budaya dan kawin campur. Sebuah opini.’

Jian Ke Xing (Hikmah Pedang Hijau)

Cover terjemahan Jian Ke Xing terbitan Jepang, alih bahasa oleh Okazaki Yumi

JIAN KE XING (劍客行)

Swordsman’s Journey

Hikmah Pedang Hijau

Novel ini adalah novel wuxia panjang pertama yang ditulis seluruhnya oleh Gu Long hingga habis pada tahun 1961 (ada yang bilang 1962). Walau ada beberapa novel wuxia lain yang ditulis sebelumnya oleh Gu Long, novel-novel tersebut biasanya ada bagian yang ditulis ghostwriter, kalau bukan karya kolaborasi dengan penulis lain.

Pada tahun 1964, penerbit Minxiang mencetak ulang novel ini dengan judul Wuqing Bijian (Pedang Hijau Tanpa Perasaan) dan mungkin judul ini yang dipakai oleh penyadur dengan terjemahan Hikmah Pedang Hijau.

Plot

Pendekar pedang geledek Zhan Yutian tewas menggenaskan secara misterius. Sebelum mati, Zhan Yutian masih sempat mewariskan pedang dan sebuah kantong misterius pada putra satu-satunya Zhan Bai. Kantong tersebut berisi benda-benda kecil yang diyakini Zhan Bai milik orang-orang yang mengeroyok dan membunuh ayahnya.

Awalnya Zhan Bai hanya memiliki ilmu silat biasa saja hingga akhirnya mewarisi kitab pusaka berisi ilmu maha sakti peninggalan tokoh sakti masa lalu Zhiyan Langjun (Pria Ganteng Bermata Satu).

Dengan menguasai ilmu paling sakti sejagad, diiringi para cewek cantik jelita yang semuanya naksir dan tergila-gila padanya, mulailah kisah Zhan Bai si jago muda menuntaskan dendam dan menjadi jago nomor satu.

Continue reading ‘Jian Ke Xing (Hikmah Pedang Hijau)’

Ando-kun

Archives

Live Traffic


%d bloggers like this: