Kenji Tanigaki

Kenji Tanigaki adalah action director dan fight choreographer seluruh seri Rurouni Kenshin The Movie. Selesai nonton wawancara Kenji Tanigaki, dari yang jadul sampai yang terbaru, saya merasa perjalanan hidupnya cukup menarik untuk saya tulis ringkasannya di sini.

Lahir di prefektur Nara, sejak SD Kenji bercita-cita ingin menjadi bintang film laga kayak Jackie Chan gara-gara sering nonton film Jackie Chan di TV. Masuk SMP, Kenji mulai ikut latihan bela diri Shorinji Kempo dan pernah juara turnamen tingkat prefektur. Lalu setelah lulus SMA, Kenji kuliah di Kansai Gakuin Daigaku sambil ikut kelas akting dan stunt Kurata Promotion milik Yasuaki Kurata (bintang film laga Jepang yang aktif di Hongkong era Bruce Lee). Selama 4 tahun aktif di Kurata Promotion, Kenji sering tampil di berbagai film dan acara TV sebagai anggota stunt team.

Sejak awal Kenji sudah berpikir kalau adegan action film Jepang terlalu cupu, terlihat palsu dan tidak semenarik film action Hongkong, Kalau mau jadi stuntman beneran, Hongkong lah jadi acuan. Karena itu pula ketika berumur 22 tahun setelah lulus kuliah, Kenji nekad pergi ke Hongkong untuk mencari kerja di dunia film, padahal saat itu Kenji sama sekali tidak bisa berbahasa Kanton.

Di Hongkong, sambil belajar otodidak bahasa Kanton, Kenji melamar untuk menjadi stuntman ke sekitar 200an perusahaan film di Hongkong. Saat itu Kenji baru sadar kalau profesi stuntman di Hongkong adalah profesi freelance yang dibayar per adegan stunt. Jadinya dia harus aktif mencari kesana kemari, tidak cuma menunggu panggilan jika ada perusahaan film butuh stuntman. Masalahnya tak ada yang mau menyewa jasanya karena kendala bahasa.

Continue reading ‘Kenji Tanigaki’

Rurouni Kenshin Saishuushou: The Beginning

Latar belakang

Pada masa Bakumatsu (akhir masa pemerintahan shogun Tokugawa), politik Jepang terbagi 2 menjadi pro-Shogun dan pro-kaisar Meiji yang saling bertikai. Kelompok pro-kaisar Meiji ini ingin menumbangkan kekuasaan Shogun Tokugawa dan mengembalikan kekuasaan politik pemerintah Jepang ke tangan kaisar Meiji.

Kelompok pro-kaisar Meiji ini disebut Ishin shishi, mayoritas berisi para samurai dari daerah Choshu, Satsuma dan Tosa (semua berasal dari selatan Jepang).

Ketika kelompok pro-Shogun membentuk pasukan keamanan khusus yang diberi nama Shinsengumi di Kyoto, Ishin Shishi yang pro-kaisar Meiji juga membentuk pasukan milisi bernama Kiheitai.

Awalnya Kenshin masuk Kiheitai, tapi Katsura Kogoro salah satu pimpinan Ishin Shishi daerah Choshu, melihat potensi Kenshin dan merekrutnya secara pribadi untuk menjadi pembunuh lawan politik Ishin Shishi.

Plot

Himura Kenshin (Satoh Takeru) yang bekerja di bawah perintah langsung Katsura Kogoro (Takahashi Issey) tak pernah gagal melaksanakan tugasnya, sosoknya yang menggentar lawan membuat Kenshin dijuluki Hitokiri Battosai. Suatu hari Kenshin dikirim untuk membunuh Shigekura Juubei, seorang samurai pro-Shogun. Baik Shigekura Juubei maupun pengawalnya bisa dihabisi Kenshin dengan mudah, kecuali salah satu pengawal yang masih muda tak disangka mampu melukai pipi Hitokiri Battosai.

Tak lama setelah misi tersebut, Kenshin dicegat pembunuh pro-Shogun di tengah jalan. Walau berhasil membunuh si pembunuh kiriman pro-Shogun, seorang perempuan muda bernama Yukishiro Tomoe (Arimura Kasumi) menyaksikan aksi Kenshin.

Bimbang antara melenyapkan saksi mata atau tidak, akhirnya Kenshin membawa Tomoe ke penginapan para samurai Ishin Shishi. Mulai lah hubungan tarik ulur antara Battosai muda dengan Tomoe. Sementara itu, Tomoe sendiri memiliki maksud tersembunyi dan latar belakang yang berkaitan dengan Kenshin.

Continue reading ‘Rurouni Kenshin Saishuushou: The Beginning’

Riders of Justice

Riders of Justice (judul asli: Retfærdighedens Ryttere) adalah sebuah film komedi hitam dari Denmark.

Plot

Film dibuka dengan adegan seorang bapak ingin membeli sepeda untuk keponakannya di Tallin, Estonia.
Lalu adegan beralih ke Denmark, sebuah sepeda dicuri dari stasiun yang mengakibatkan si pemilik sepeda Mathilde (Andrea Heick Gadeberg) terpaksa dijemput ibunya naik KRL.

Di tempat lain seorang matematikawan Otto (Nikolaj Lie Kaas) dipecat karena algoritma hasil penelitiannya dianggap tidak bermutu dan dia pulang naik gerbong yang sama dengan Mathilde dan ibunya.
Terjadi kecelakaan kereta, Mathilde selamat tapi ibunya tewas. Otto juga selamat dan merasa kecelakaan kereta itu bukanlah kebetulan semata.

Markus (Mads Mikkelsen) seorang tentara, ayah Mathilde yang sedang bertugas di Afganistan dipanggil pulang. Markus yang penyendiri dan hidupnya penuh dengan kekerasan terpaksa pulang untuk mengurus Mathilde yang selama ini lebih banyak dibesarkan oleh ibunya. Jurang hubungan antara ayah dan anak semakin lebar dengan karakter keras Markus bergesekan dengan anak remaja yang sedang tumbuh dewasa.

Lalu datanglah Otto bersama temannya Lennart (Lars Brygmann) dan Emmenthaler (Nicolas Bro) menemui Markus untuk mendiskusikan betapa kecelakaan kereta yang menewaskan istri Markus bukanlah sebuah kecelakaan.

Continue reading ‘Riders of Justice’

Rurouni Kenshin Saishuushou: The Final

Plot

Sosok pemuda misterius pedagang senjata ilegal datang dari kota Shanghai China untuk mencari Hittokiri Battosai.
Di Tokyo, Himura Kenshin (Satoh Takeru) sudah meninggalkan masa lalunya sebagai Hittokiri Battosai dan hidup damai di rumah Kamiya Kaoru (Takei Emi) bersama teman-temannya. Kedamaian Kenshin mulai terusik oleh teror terhadap teman-temannya, dimulai dengan terbakarnya restoran Akabeko.

Kenshin akhirnya sadar kalau yang datang mencarinya adalah Yukishiro Enishi (Arata Mackenyu), pemuda dari masa lalu yang muncul untuk membalas dendam. Masa lalu Kenshin yang selalu menghantuinya selama ini dan meninggalkan luka silang di pipi kirinya.

Continue reading ‘Rurouni Kenshin Saishuushou: The Final’

Nenek dan Polisi

Hari minggu siang hujan lebat, kami baru saja pulang dari makan siang di daerah Anjo dan berniat mau ke Toyoake karena ada janji bertemu dengan pihak real estate apartemen.

Ketika melewati pertigaan di depan Rumah Sakit Yachiyo, seperti biasa aku menghentikan mobil di depan zebra cross karena ada seorang nenek menyebrang jalan. Si nenek terlihat sudah tua sekali, rambut putih peraknya kena angin yang bertiup lumayan kencang, berjalan bertatih-tatih sambil membawa payung. Kelihatan sekali si nenek kebingungan, selain jalannya pelan terlihat kepalanya menoleh kesana kemari dengan raut muka bingung.

Refleks aku berkomentar, “Itu nenek kenapa? Nyasar kali ya?”
Istri malah lebih sigap, dia turun hujan-hujanan dan menghampiri si nenek dan bertanya, “Nenek gak papa?”

Berhubung si nenek lelet sekali gerakannya, aku berinisiatif memajukan mobil untuk menghalangi agar mobil lain yang mau lewat terpaksa bergerak agak memutar menghindari posisi si nenek.

Si nenek malah bercerita di tengah hujan kalau dia mencari alamat saudaranya yang ada di sekitar sana. Beliau bilang terakhir kali berkunjung sekitar 50 tahun yang lalu, lalu bilang umurnya sudah 94 tahun.
Aku kaget juga mendengarnya. Terang saja beliau nyasar, bangunan di sekitar Yachiyo Hospital terlihat lumayan modern, tak terlihat tanda-tanda bangunan yang usianya 50 tahun lebih.

Continue reading ‘Nenek dan Polisi’

The Call

Akhir-akhir ini mulai sering nemu film Korea genre thriller yang bikin ilfil. Penyebabnya adalah terlalu banyak plot twist dalam satu film. Kadang ada film yang plot twistnya tumpang tindih hingga 4-5 kali atau lebih.

Plot twist kalau lebih dari 2 kali bakal bikin plot twist pertama dan kedua bisa kehilangan maknanya. Ujung-ujungnya plot twist berikutnya malah terasa hambar dan tak lagi menarik. Ini juga terjadi pada film Korea yang berjudul The Call yang kutonton via kanal Netflix.

Premis awal sebenarnya cukup menarik, tentang Seo-Yeon (Park Shin-Hye) dari masa sekarang terhubung dengan Yoong Sook (Jeon Jong-Seo) di masa 20 tahun sebelumnya via telepon. Plot yang mirip dengan film Hollywood yg berjudul Frequency (terhubung via radio amatir) maupun drama Korea serial Signal (via walkie-talkie).

SPOILER.

Pada pertengahan film, para penonton dikasih plot twist yang cukup mengejutkan. Ternyata salah satu dari sosok yang saling berhubungan itu adalah serial killer. Kenapa saya sengaja kasih spoiler di sini? Karena plot twist pertama itu sudah tidak penting lagi ketika bertubi tubi plot twist berikutnya muncul yang menyebabkan “plot twist” di awal sudah tidak dianggap plot twist lagi.

Bahkan ketika plot twist ketiga, keempat dst muncul, sudah tak ada greget dan lewat begitu saja. Lalu ketika di bagian ending masih dikasih satu plot twist lagi, aku sudah tak peduli sama sekali pada cerita maupun nasib para karakter dalam film saking sudah kehilangan selera.
Too much plot twits will kill the movie.

The Hardy Boys (2020 TV Series)

Era aku duduk di bangku SMP adalah masa-masa aku sedang gila membaca. Selain buku cerita silat (Kho Ping Hoo, Chin Yung, dll) dan genre petualangan (Lima Sekawan, buku karya Karl May, dll), salah satu buku fiksi yang kugemari saat itu adalah buku dengan genre detektif. Secara masih usia SMP, tentu saja aku paling suka buku detektif remaja dan favoritku saat itu adalah serial Trio Detektif. Kebetulan ketika buku Trio Detektif yang ada sudah habis kubaca, aku mendapatkan pinjaman beberapa buku serial detektif lain dari perpustakaan yang bertitel The Hardy Boys.

Sayangnya aku merasa kurang cocok dengan buku The Hardy Boys. Gaya berceritanya terlalu mengglorifikasi American dream dan maskulinitas, tokoh duo bersaudara Hardy juga tipikal anak muda kulit putih di Amerika, belum lagi cerita misterinya terlalu simpel dan gampang ditebak anak SMP sekalipun. Terus terang saja aku merasa Trio Detektif terlalu bagus untuk dibandingkan dengan The Hardy Boys ini karena Trio Detektif lebih imajinatif dan membumi buat imajinasi anak SMP kala itu. Belakangan aku baru tahu kalau buku yang kubaca itu serial The Hardy Boys era 1950an-1970an karena ternyata serial The Hardy Boys terbit dalam 3 edisi waktu dengan gaya penulisan, latar belakang tokoh dan kondisi latar Amerika berbeda dengan era yang semakin modern. Buku-buku yang kubaca masih terasa aroma rasialis orang kulit putih di Amerika.

Ketika serial The Hardy Boys buatan Hulu tayang, aku iseng menontonnya demi kenangan masa SMP. Bagaimanakah kualitasnya dibanding novel yang diadaptasi?

Continue reading ‘The Hardy Boys (2020 TV Series)’

Caught in Time

Pada era pertengahan 1980an hingga 1990an, dunia perfiman Hongkong sempat booming film bertema drama crime-thriller dengan plot perseteruan polisi dengan bandit yang dikejarnya. Walaupun dunia perfilman Hongkong kebanjiran banyak film kelas B dengan plot serupa, setidaknya ada beberapa film yang menjadi legenda seperti The Killer besutan John Woo, City on Fire buatan Ringo Lam, Running Out of Time karya Johnnie To hingga akhirnya booming genre ini memudar dengan banjirnya beragam film bertema Kung Fu modern dengan tokoh pendekar seperti Wong Fei-hung sampai Ip Man. Sempat ada satu dua film yang laku di pasaran sekaligus meraih penghargaan festival di awal era tahun 2000an seperti misalnya Internal Affairs karya Andrew Lau dan Alan Mak, Divergence buatan Benny Chan hingga Beast Stalker garapan Dante Lam, hanya saja sinema Hongkong sudah jarang memproduksi film bertema sejenis.

Akhir-akhir ini beberapa sineas Hongkong mulai pindah jalur dan berkiprah di dunia perfilman RRC mainland yang punya pangsa penonton yang lebih besar dan mereka mulai membuat film berbahasa Mandarin. Termasuk diantaranya sutradara senior Johnnie To (Drug Lord), Dante Lam (Operation Mekong dan Operation Red Sea) sampai Andrew Lau (The Captain) dan kali ini giliran yunior mereka Lau Ho-Lung menggarap film Mainland pertamanya. Dengan mengajak koleganya aktor Hongkong terkenal Daniel Wu, bagaimanakah hasil besutan film Mainland pertama Lau Ho-Lung?

Continue reading ‘Caught in Time’

Thank You and Goodbye Sammy and Dean! 15 tahun bersama serial Supernatural

Saya masih ingat ketika pertama kali nonton episode pertama serial Supernatural pada tahun 2006 di apartemen kecilku di Fujinomiya Shizuoka. Waktu itu saya sama sekali tak menyangka akan mengikuti terus menerus nonton serial ini hingga 15 tahun lamanya. Saat itu serial yang mengisahkan petualangan dua kakak beradik Winchester dalam menghadapi setan dan monster ini sudah habis menayangkan season pertamanya hingga saya bisa nonton maraton seluruh episode season 1 via internet.

Jared Padalecki sebagai Sam (kiri) dan Jensen Ackles sebagai Dean (kanan) dalam season 1.

Hal pertama yang mengesankan dari Supernatural adalah hubungan persaudaraan antara 2 tokoh utama si sulung Dean dan adiknya Sam Winchester. Walaupun kakak beradik dan saling menyayangi satu sama lain, keduanya adalah sosok yang sangat bertolak belakang. Brotherhood mereka berdua adalah tulang punggung serial ini hingga bisa bertahan hingga 15 tahun tayang. Jensen Ackles dan Jared Padalecki yang masing-masing memerankan Dean dan Sam memiliki chemistry yang unik, mereka berdua cocok dan saling melengkapi satu sama lain. Dengan munculnya Castiel, brotherhood duo Winchester mendapat sokongan menjadi trio hunter, apalagi aktor Misha Collins yang berperan sebagai Castiel bisa langsung klop, nempel dengan duet Jensen dan Jared.

Trio hunter setelah duo Wichester dilengkapi dengan kedatangan Castiel
Continue reading ‘Thank You and Goodbye Sammy and Dean! 15 tahun bersama serial Supernatural’

Enola Holmes

Plot

Enola Holmes (Millie Bobby-Brown), adik bungsu Mycroft (Sam Claflin) dan Sherlock Holmes (Henry Cavill) memanggil pulang kedua abangnya ke kampung halaman karena ibu mereka menghilang. Masalahnya keduanya bukannya membantu Enola mencari ibu mereka tapi malah ikut “mengurus” Enola. Terutama Mycroft yang ingin Enola masuk sekolah putri untuk belajar etiket.
Enola yang tak sudi diatur akhirnya kabur untuk mencari ibunya ke London. Dalam perjalanan, Enola bertemu Tewkesbury (Louis Partridge) seorang bangsawan muda yang juga sedang kabur dari keluarganya. Dimulailah petualangan Enola di London.

Continue reading ‘Enola Holmes’

Ando-kun

Live Traffic


%d bloggers like this: