The Boys (Season 1)

the-boys-on-amazon-prime-video-c

 

Plot

Perusahaan swasta Vough International memiliki beberapa superhero yang dijadikan imej pahlawan pembela kebenaran dan pembasmi kejahatan di mata masyarakat, Vough mempublikasikan para superhero ini lewat film, bintang iklan hingga kegiatan layanan sosial, dan mereka berhasil meraup banyak uang dan keuntungan lain dari bisnis imej superhero ini. Tiap superhero terbagi dalam beberapa tim, dan tim yang paling terkenal sekaligus penghasil uang nomor satu untuk Vough adalah Seven.

Seperti namanya, Seven terdiri dari 7 superhero yang dipimpin Homelander. Anggota Seven bisa didegradasi dan anggota baru bisa dipromosikan dari tim lain yang lebih kecil. Selain Homelander, anggota Seven yang sudah lama bercokol tanpa pernah diganti adalah Black Noir dan Queen Maeve. Starlight baru saja dipromosikan menjadi anggota Seven menggantikan Lamplighter yang menghilang secara misterius.

Masalahnya, para superhero ini mabuk kekuasaan dan ketenaran, koruptif, arogan sekaligus munafik. Mereka juga bisa bertindak kejam diluar batas kemanusiaan karena pada dasarnya para superhero ini menganggap dirinya bagaikan Tuhan yang tak bisa diganggu gugat. Hanya saja demi uang, mereka berusaha menjaga imej superhero yang baik dan penolong.

Di pihak lain, mantan tentara Billy Butcher memiliki dendam pribadi terhadap superhero, terutama Homelander. Dulunya CIA memiliki black-ops bernama The Boys untuk mengantisipasi jika aktivitas Vough dan para superhero ini mengancam keamanan nasional. Hanya saja The Boys jadi non-aktif akibat bentrokan berdarah The Boys vs Seven mengakibatkan terbunuhnya anak-anak.

Billy berusaha mengaktifkan kembali The Boys tanpa persetujuan CIA. Billy merekrut warga sipil Hugh “Hughie”  Campbell untuk bergabung bersama mantan personel The Boys yang tersisa yaitu Mother’s Milk dan Frenchie.

Continue reading ‘The Boys (Season 1)’

Weathering with You

Tenkinoko

Plot

Morishima Hodaka seorang remaja kelas 1 SMA minggat dari kampung halamannya di pulau terpencil untuk pergi ke Tokyo. Luntang-lantung sampai bokek di Tokyo, Hodaka akhirnya bekerja sebagai wartawan cabutan untuk majalah okultisme. Tugas pertamanya adalah menulis berita tentang Hare no Onna, gadis misterius yang dipercaya memiliki kekuatan menghentikan hujan.
Hodaka berkenalan dengan seorang gadis muda bernama  Amano Hina yang tinggal berdua bersama adiknya si playboy Nagi. Hina membuka rahasia pada Hodaka bahwa dirinyalah si Hare no Onna.

Continue reading ‘Weathering with You’

Stranger Things Season 3

ST3

 

Plot

Tahun 1986 di kota Hawkins, Eleven, Mike, Lucas, Dustin, Will dan Max sudah tumbuh menjadi anak remaja.
Ketika benih cinta monyet mulai tumbuh di antara mereka, sebuah mall baru yang besar berdiri di kota Hawkins, lengkap dengan bioskop, toko busana hingga toko es krim yang menjadi lokasi keren buat kencan para remaja kasmaran.

Setelah lulus SMA, Steve bekerja di toko es krim dalam mall bersama partner penjual es krimnya Robin, sementara itu Nancy dan Jonathan kerja magang di kantor surat kabar lokal. Berbarengan dengan berdirinya mall, pusat kota Hawkins jadi sepi kehilangan pembeli yang lebih tertarik dengan mall megah.

Kota Hawkins yang berturut-turut mengalami teror monster dunia up-side down perlahan mulai ramai kembali. Apakah teror monster dunia up-side down telah berakhir?
Sepertinya belum.

Continue reading ‘Stranger Things Season 3’

Harga

Siapa bilang kerja di luar negeri selalu enak?

Setiap nikmat pasti ada harga yang harus dibayar, termasuk kerja di Jepang. Dari kesulitan menjalankan ibadah sampai perlakuan diskriminasi.

Continue reading ‘Harga’

Ramy (Season 1)

Ramy

 

Jarang sekali ada serial komedi yang mengetengahkan tentang minoritas muslim yang hidup di negara  mayoritas non-muslim. Kalau film action thriller sih banyak, terutama yang menampilkan minoritas muslim sebagai antagonis terutama yang berkaitan dengan terorisme dan Islamophobia.

Serial komedi terakhir jenis ini yang kutonton adalah serial Kanada berjudul Little Mosque in Prairie yang berakhir tayangannya pada tahun 2012 lalu.
Setelah sekian lama tak ada serial komedi genre ini tak ada yang menarik perhatian, baru serial Ramy ini membuatku tertarik untuk nonton serial dengan tema unik seperti ini.

Continue reading ‘Ramy (Season 1)’

Daftar Film 2018 (November- Desember)

53. Mile 22

Jelek.
Sinematografi biasa, kamera goyang melulu, editing adegan kelahinya kasar, plotnya kurang menarik.
Kalau bukan karena Iko Uwais, males nonton sampai habis.

54. Bohemian Rhapsody

Woah…..
Speechless.
Sampai ikutan nyanyi soundless.

Kritikus memang membantai film ini dengan berbagai alasan termasuk ahistoris, tapi hal ini bukan masalah bagi yang suka lagu Queen dan tahu sejarah asli. Toh Bohemian Rhapsody ini bukan film dokumenter melainkan film hiburan, dan tujuannya tercapai yaitu menghibur penonton yang menggemari lagu-lagu Farroukh Bulsara dan kawan-kawan. Sayang Friends will be Friends tidak diputar pas member Queen reconcile sebelum konser Live Aid.

Kenal lagu-lagu Queen pertama kali dari almarhum ayahku. Pas nonton tadi ingat beliau berkali-kali, sampai mikir pasti beliau senang sekali kalau kuajak nonton film ini.

 

55. The Incredible 2

Film yang menyenangkan dan menghibur. Nonton bareng keluarga jadi nilai plus dan si bocil juga suka sama dedek bayi yang lucu alias jack jack

56. The Through

Nick Cheung memang termasuk aktor bagus di generasinya, tapi untuk urusan jadi sutradara narasi yang disampaikan dia masih berantakan.

57. Inuyashiki

Lagi-lagi Satoh Takeru main film adaptasi manga. Kali ini dia jadi tokoh antagonis yang bernasib malang dipermainkan oleh suratan nasib. CGI lumayan dan penggambaran pak tua Inuyashiki sebagai ayah dan suami gagal dibawakan dengan bagus oleh Noritake Kinashi.

58. The Predator

Bukan fans serial Predator, nonton ini gara-gara Shane Black.
Walau ada beberapa adegan yang menarik, sayangnya secara keseluruhan masih jauh dari garapan terbaik Black seperti misalnya The Nice Guys.

59. Monstrum

Berburu monster dengan setting era kerajaan Joseon sebenarnya menarik, sayangnya penggarapannya jatuhnya biasa saja. Para karakter pemburu monster juga tak ada yang menarik.

60. The Equalizer 2

Pertama kali Denzel Washington mau main film sequel. Lumayan sih walau lebih bagus yang pertama. Dalam beberapa bagian malah teringat trilogi Taken, untungnya Denzel tetap tampil maksimal.

61. Venom

Film ini benar-benar bergantung pada dan terselamatkan oleh penampilan Tom Hardy yang keren.  Plotnya rada nyleneh, ngasal yang penting ada di sela-sela adegan aksi. Action sequence yang menarik cuma pas kejar-kejaran pakai motor vs mobil, sisanya biasa saja termasuk duel final Venom vs Riot.

 

62. Kungfu League

4 pendekar Kungfu dari masa lalu, Wong Fei-hung, Huo Yuan-jia, Chen Zhen, dan Ip Man melakukan perjalanan waktu ke zaman modern tahun 2018 gara-gara bla bla bla bla…..

Busyet, yang nulis skenario benar-benar gak punya imajinasi dan ide bagus buat alasan ngumpulin para pendekar zaman baheula apa? Plotnya gak penting abis, humornya gak lucu (bahkan humor lawas Mou Lei Tou-nya Stephen Chow jauh lebih lucu), duel pake efek CGI kurang budget, dan masih banyak alasan kenapa nonton film ini hanya buang waktu.

 

63. Shadow.

Film Zhang Yimou yang keren secara artistik, bagus secara plot dan menarik dari segi pengarahan. Film tentang Body Double seorang jenderal di masa perang kerajaan Tiongkok ini mengingatkan pada karya Akira Kuroshawa yang berjudul Kagemusha. Review panjang kutulis di sini.

64. One Cut of the Dead.

Di bioskop hampir aja turun layar tapi masih sempat nonton gara-gara banyak review yg bilang bagus.

35 menit pertama (iya saya nonton sambil liat jam saking bosannya) udah pengen ini film cepat selesai karena merasa ini film cuma buang-buang waktu..

Tanpa diduga, plot film berubah drastis hingga saya malah gak merasa waktu lewat begitu saja, tahu2 filmnya sudah habis dan saya pulang dengan puas.

Filmnya memang unik walau awalnya sempat terlihat generik dan membosankan. Saya acung jempol dua deh, apalagi saya tahu kalau ini film indie berbudget murah dengan banyak aktor dan aktris tak terkenal main!

 

65. Rampant

Trailernya ngasih bayangan ini film zombie setting Korea jadul.
Pas nonton, ini lebih ke film politik era Joseon yang dikasih bumbu zombie outbreak.
Gak jelek sih tapi juga gak bikin wow karena plotnya terlampau generik. Jatuhnya cuma film biasa-biasa saja walau masih lebih mending dibanding Monstrum yang kutonton beberapa minggu lalu.

 

66. Charlie and the Chocolate Factory

Nonton bareng anak buat nemenin dia di waktu luang.
Eh anaknya lebih sering sibuk main sendiri sambil nonton dan nanya-nanya tentang pabrik cokelat, bapaknya malah serius nonton dan takjub dengan visualisasi Tim Burton yang imajinatif.
Keren and I love it.

 

67. The Witch: Part 1. The Subversion.

Ini kejutan yang menyenangkan karena gak nyangka kalau filmnya bakalan bagus dan aku juga suka sama karakternya.

Awalnya aku cuma nyangka ini film horror thriller. Tentang anak yang lari dari penyekapan dan ditemukan 2 orang tua yang baru saja kehilangan anak perempuan mereka. Hingga si anak dewasa dan masuk TV, kemudian orang yang menyekapnya ketika masih kecil mengenali identitasnya lalu mulai datang meneror.

Tak tahunya datang plot lain, dan plot lurus jadinya berbalik lalu diakhiri dengan klimaks yang memuaskan sekaligus membuka kemungkinan dibuatnya sequel.

 

68. Bird Box

Survival thriller yang mengingatkan pada A Quite Place tapi tak semenarik garapan suami Emily Blunt tersebut. Rasanya ketegangannya kurang intense apalagi ditambah gaya penyutradaraan yang membolak balik timeline cerita. Tapi akting Sandra Bullock bagus dan meyakinkan.

Shadow

Shadow-poster-218x340

Plot.
Jing adalah body double seorang jendral yang memanfaatkannya untuk tampil di muka umum, terutama di hadapan sang raja. Hanya istri sang jendral yang mengetahui identitas Jing.
Jing yang terlihat setia dan rela berkorban, ternyata memiliki keinginan untuk bebas lepas dari pengaruh sang jendral.

Komentar.

Yang paling saya suka dari film ini adalah sinematografinya. Zhang Yimou memainkan kamera untuk menangkap gerakan para aktor seakan akan mereka adalah goresan kuas yang sedang menulis kaligrafi huruf indah di atas kanvas. Mungkin anda bingung dengan kalimat ini, tapi kalau nonton filmnya anda akan mengerti dan terpesona.
Dan kalau anda penggemar film-film buatan Zhang, anda akan melihat film ini berbeda dengan kebiasaan Zhang mempermainkan warna-warna cerah dalam filmnya. Film ini benar-benar refleksi dari goresan kuas kaligrafi di atas kanvas, paduan hitam-putih dan corak abu-abu di antaranya.

Arahan Zhang yang istimewa ini sangat terbantu dengan para pemeran yang memainkan karakter masing-masing dengan elegan. Deng Chao memainkan peran ganda sebagai sang jendral dan si body double Jing dengan bagus. Deng Chao didukung istrinya di dunia nyata Sun Li yang memainkan peran istri jendral tapi main mata dengan body double suaminya. Chemistry keduanya memberikan nuansa tersendiri diantara mainan goresan kuas di atas kain kanvas.

Adegan aksi walaupun sedikit dan tak semewah Hero maupun House of Flying Daggers, tapi dimasukkan Zhang ke dalam film dengan pas sesuai dengan tuntutan cerita tanpa dilebih-lebihkan.

Terus terang saja, ada beberapa bagian dalam film ini mengingatkanku pada film Kagemusha garapan Akira Kurosawa, yang menceritakan tentang body double Takeda Shingen. Bukan rahasia lagi kalau Zhang adalah fans Kurosawa, dan bahwa sebelumnya Zhang pernah membuat film Hero menggunakan gaya simbolik warna-warni busana para tokohnya seperti film Ran arahan Akira Kurosawa.

Setidaknya saya makin yakin, kalau Zhang Yimou ingin membuat film aksi wuxia, beliau tak butuh kolaborasi dengan Hollywood sampai harus mengimpor Jason Bourne.


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: