Archive for the 'Random Post' Category

Kho Ping Hoo, asimilasi budaya dan kawin campur. Sebuah opini.

Kho Ping Hoo (KPH) dikenal luas di Indonesia sebagai pengarang buku cerita silat (cersil). Mayoritas karyanya mengambil kisah kepahlawanan para pendekar di negeri Tiongkok. Selain itu KPH juga membuat beberapa judul dan serial cersil dengan latar Jawa seperti serial Badai Laut Selatan, Perawan Lembah Wilis dan Darah Mengalir di Borobudur.

Di antara sekian banyak karyanya dengan latar belakang Tiongkok dan Jawa, KPH pernah membuat 2 judul cersil dengan tokoh campuran Tionghoa dan Jawa dimana tokoh-tokoh berbeda etnis dan budaya tersebut terlibat hubungan asmara. Keduanya berjudul Kilat Pedang Membela Cinta (KPMC) dan Sejengkal Tanah Sepercik Darah (STSD), ditulis pada tahun 1981 dan terbit bersamaan pada tahun 1982.

Continue reading ‘Kho Ping Hoo, asimilasi budaya dan kawin campur. Sebuah opini.’

Kenji Tanigaki

Kenji Tanigaki adalah action director dan fight choreographer seluruh seri Rurouni Kenshin The Movie. Selesai nonton wawancara Kenji Tanigaki, dari yang jadul sampai yang terbaru, saya merasa perjalanan hidupnya cukup menarik untuk saya tulis ringkasannya di sini.

Lahir di prefektur Nara, sejak SD Kenji bercita-cita ingin menjadi bintang film laga kayak Jackie Chan gara-gara sering nonton film Jackie Chan di TV. Masuk SMP, Kenji mulai ikut latihan bela diri Shorinji Kempo dan pernah juara turnamen tingkat prefektur. Lalu setelah lulus SMA, Kenji kuliah di Kansai Gakuin Daigaku sambil ikut kelas akting dan stunt Kurata Promotion milik Yasuaki Kurata (bintang film laga Jepang yang aktif di Hongkong era Bruce Lee). Selama 4 tahun aktif di Kurata Promotion, Kenji sering tampil di berbagai film dan acara TV sebagai anggota stunt team.

Sejak awal Kenji sudah berpikir kalau adegan action film Jepang terlalu cupu, terlihat palsu dan tidak semenarik film action Hongkong, Kalau mau jadi stuntman beneran, Hongkong lah jadi acuan. Karena itu pula ketika berumur 22 tahun setelah lulus kuliah, Kenji nekad pergi ke Hongkong untuk mencari kerja di dunia film, padahal saat itu Kenji sama sekali tidak bisa berbahasa Kanton.

Di Hongkong, sambil belajar otodidak bahasa Kanton, Kenji melamar untuk menjadi stuntman ke sekitar 200an perusahaan film di Hongkong. Saat itu Kenji baru sadar kalau profesi stuntman di Hongkong adalah profesi freelance yang dibayar per adegan stunt. Jadinya dia harus aktif mencari kesana kemari, tidak cuma menunggu panggilan jika ada perusahaan film butuh stuntman. Masalahnya tak ada yang mau menyewa jasanya karena kendala bahasa.

Continue reading ‘Kenji Tanigaki’

Nenek dan Polisi

Hari minggu siang hujan lebat, kami baru saja pulang dari makan siang di daerah Anjo dan berniat mau ke Toyoake karena ada janji bertemu dengan pihak real estate apartemen.

Ketika melewati pertigaan di depan Rumah Sakit Yachiyo, seperti biasa aku menghentikan mobil di depan zebra cross karena ada seorang nenek menyebrang jalan. Si nenek terlihat sudah tua sekali, rambut putih peraknya kena angin yang bertiup lumayan kencang, berjalan bertatih-tatih sambil membawa payung. Kelihatan sekali si nenek kebingungan, selain jalannya pelan terlihat kepalanya menoleh kesana kemari dengan raut muka bingung.

Refleks aku berkomentar, “Itu nenek kenapa? Nyasar kali ya?”
Istri malah lebih sigap, dia turun hujan-hujanan dan menghampiri si nenek dan bertanya, “Nenek gak papa?”

Berhubung si nenek lelet sekali gerakannya, aku berinisiatif memajukan mobil untuk menghalangi agar mobil lain yang mau lewat terpaksa bergerak agak memutar menghindari posisi si nenek.

Si nenek malah bercerita di tengah hujan kalau dia mencari alamat saudaranya yang ada di sekitar sana. Beliau bilang terakhir kali berkunjung sekitar 50 tahun yang lalu, lalu bilang umurnya sudah 94 tahun.
Aku kaget juga mendengarnya. Terang saja beliau nyasar, bangunan di sekitar Yachiyo Hospital terlihat lumayan modern, tak terlihat tanda-tanda bangunan yang usianya 50 tahun lebih.

Continue reading ‘Nenek dan Polisi’

Hijau

Hijau identik dengan Islam?

Mungkin saja, tergantung sudut pandang. Lagi pula keidentikan hijau dengan Islam baru benar-benar intensif ke seluruh dunia ketika dinasti Ottoman Turki mengkampanyekan warna hijau sebagai warna simbol Islami lewat berbagai media resmi. Era Ottoman Turki lebih dekat ke era modern sehingga wajar saja pengaruh persepsi lebih kuat terhadap masyarakat sekarang dibanding era pemerintahan dinasti Ummayah maupun Abbasiyah.

Continue reading ‘Hijau’

Harga

Siapa bilang kerja di luar negeri selalu enak?

Setiap nikmat pasti ada harga yang harus dibayar, termasuk kerja di Jepang. Dari kesulitan menjalankan ibadah sampai perlakuan diskriminasi.

Continue reading ‘Harga’

Lautaro dan Xian

Sebagai fans Inter Milan, kebetulan sekali saya menonton 2 pertandingan pre-season Inter Milan (melawan Zenit dan Sheffield United) dan melihat ada 3 pemain anyar yang permainannya terlihat menonjol, bahkan lebih menonjol dibandingkan muka-muka lama pemain regular. Pemain pertama adalah Kwadwo Asamoah yang direkrut dari Juventus secara gratisan. Asamoah cukup lama bermain di liga serie A Italia sehingga wajar saja terlihat langsung klop dengan gaya dan taktik tim. Untuk itu saya fokus membahas 2 pemain lain yang masih muda dan baru pertama kali main di liga serie A Italia yaitu Lautaro Martinez (21 tahun) dan Xian Emmers (19 tahun).

Continue reading ‘Lautaro dan Xian’

Remake: Pengkhianatan G30S, sebuah ide.

cover-vcd-film-g30s-pki

Ketika membaca berita tentang anak-anak sekolah jaman sekarang tertidur ketika menonton film Pengkhianatan G30S  (PG30S) karya sutradara Arifin C. Noer, tiba-tiba saya mendapatkan ide bagus untuk pembuatan remake film tersebut dengan gaya yang lebih kekinian. Apalagi sebelumnya, Jokowi pernah melontarkan ide untuk membuat ulang film tersebut (remake) untuk generasi muda.

Continue reading ‘Remake: Pengkhianatan G30S, sebuah ide.’

Nonton 4DX

Lama juga aku tidak mengunjungi blog ini, apalagi mengisinya dengan tulisan. Maklumlah, aku sempat mudik pulang ke Indonesia selama 3 mingguan dan sejak kembali ke Jepang penyakit malas ngeblog kumat. OK, kali ini aku cuma ingin membahas pengalaman nonton film di bioskop dengan teknologi 4DX.

Pertama soal istilah, apa itu 4DX? Menurut penuturan wikipedia, 4DX adalah teknologi perfilman yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan Korea Selatan untuk menggabungkan tontonan dengan efek di lingkungan sekitar. Singkatnya, sambil menonton film, penonton juga bisa merasakan sensasi kejadian di dalam film secara langsung dengan bantuan teknologi khusus seperti misalnya kursi yang bergerak secara mekanik sesuai dengan gerakan adegan dalam film, bau yang keluar untuk mendukung suasana, efek cipratan air pas adegan basah-basahan, hawa panas ketika adegan yang melibatkan api berkobar dan lain-lain.

Tadinya aku bermaksud menonton film 4DX di Nagoya yaitu di bioskop Korona World dengan tiket seharga 3100 yen (1800 yen untuk HTM, 300 yen untuk efek 3D, dan 1000 yen untuk 4DX). Tapi sejak tayangan perdana film 4DX Iron Man 3 di sana, aku belum sempat juga merasakan sensasi 4DX di bioskop Jepang.
Eh…. Ternyata malah aku merasakannya di dalam negeri, tepatnya ketika pulang mudik kemarin sewaktu menonton film Percy Jackson: Sea of Monsters di bioskop Blitz Grand Indonesia.

Kesannya?
Yah, karena ini pengalaman nonton pertama kali, tentu saja aku merasakan sensasi nonton yang berbeda dengan nonton film biasanya. Yang cukup menyenangkan adalah efek bau-bauan bunga sewaktu adegan di hutan dan hawa panas sewaktu adegan melibatkan api. Entah kenapa aku kurang bisa merasakan percikan air ketika adegan film sedang bersetting di laut, mungkin akunya yang kurang sensitif terhadap cipratan air. Sedangkan yang agak mengganggu menurutku gerakan kursi mekanik yang cenderung mengganggu keasyikan nonton. Beberapa kali hentakan kursi membuat kacamata 3D yang kukenakan miring ke kanan-kiri terbentur sandaran kursi sehingga mengganggu konsentrasi nonton.

Yang pasti, nonton 4DX untuk pertama kali cukup menyenangkan. Setidaknya aku pengen nonton film 4DX lagi, tentunya nonton film yang berbeda. Kayaknya sih aku lebih memilih nonton pas sedang mudik lagi, habisnya harga tiket 4DX di Indonesia cuma setengah harga tiket nonton 4DX di Jepang. HTM 4DX di Blitz cuma Rp. 150.000 di hari libur, bandingkan dengan nonton di Korona World Nagoya yang kalau di kurs rupiah bisa mencapai Rp. 310.000-an.

Stupid Movie

Stupid movies made by stupid directors, played by stupid actors, for stupid audiences. Sometimes I am glad for being stupid enough, so I can enjoy to watch some of that stupid movies. For me, being a stupid audience is a gift and a curse altogether and it makes me feel the humanity of being not smart.

Latar Mitologi The Lord of the Ring

Postingan kali ini lebih bersifat sebagai penyegar ingatan saya pribadi dan sarana persiapan sebelum nonton trilogi terbaru buatan Peter Jackson yaitu The Hobbit. Mungkin para pembaca sekalian yang sudah menonton trilogi film The Lord of the Ring (TLOTR) maupun pernah membaca novel karya J.R.R. Tolkien tersebut banyak mengetahui latar belakang mitologi Middle Earth yang menjadi sentral cerita, atau malah belum tahu tentang latar ceritanya. Di sini saya ingin membuat ringkasan tentang latar belakang mitologi Middle Earth, terutama tentang makhluk-makhluk yang menghuninya. Seperti yang telah diketahui, J.R.R. Tolkien banyak mengambil dari campuran mitologi biblikal, mitologi Inggris kuno (Anglo-Saxon), Nordik, Jerman kuno, Persia hingga mitologi Yunani/Romawi sebagai dasar dari mitologi Middle Earth. Yang namanya ringkasan tentunya banyak sekali hal yang disingkat dan dibuat sesederhana mungkin agar gampang dimengerti, apalagi sebagian besar isi tulisan ini diambil dari buku The Silmarillion yang isinya banyak berbentuk syair. Bagi yang ingin mengetahui lebih mendalam dan detail tentang sejarah Middle Earth, bisa langsung mengunjungi link ke wikipedia yang saya sediakan. Atau jauh lebih baik lagi jika membeli dan membaca buku The Silmarillion.

Continue reading ‘Latar Mitologi The Lord of the Ring’


Ando-kun

Live Traffic


%d bloggers like this: