Posts Tagged 'jepang'

Ototo (Younger Brother)

Sekali adik tetaplah adik, walaupun dia melakukan hal yang menyusahkanmu

Pernahkah anda mendengar komentar yang kira-kira berbunyi, “Dalam sebuah keluarga biasanya ada saja satu orang yang jadi troublemaker menyusahkan anggota keluarga yang lain.” Aku pernah beberapa kali mendengarnya, malah salah satunya ditujukan untuk adik laki-lakiku sendiri. Karena itu, sambil menonton film ini, aku juga sekaligus merefleksi kehidupan dan pola pandanganku sendiri tentang keluarga. Kalimat dalam quote diatas adalah ucapan kakak sepupu sekaligus kakak angkatku almarhumah Ritati, ketika adikku yang satu itu terlibat hal yang menyusahkan kami sekeluarga. Paling tidak, apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam film Ototo bisa kumaklumi karena tak jauh dari apa yang disampaikan oleh kakakku diatas. Ototo sendiri dalam bahasa Jepang berarti adik lelaki. Continue reading ‘Ototo (Younger Brother)’

Advertisements

Railways – Sebuah film tentang kesederhanaan

Menurut anda, pekerjaan seperti apakah yang paling baik? Apakah yang menjadi prioritas untuk bekerja? Besarnya penghasilan? Banyaknya waktu luang? Atau seperti kebanyakan anggapan orang bahwa pekerjaan terbaik adalah bekerja dibidang yang kita sukai tanpa memandang besarnya penghasilan dan jabatan yang diraih. Railways menceritakan tentang kehidupan seseorang yang sukses dalam karirnya di kota besar tetapi memilih pindah ke kampung demi mendapatkan pekerjaan yang disukainya. Terus terang saja alur film ini hampir tanpa riak, agak datar dan sederhana dalam bercerita. Tapi justru hal yang demikian mampu menciptakan suasana tenang dan damai, sesuai dengan kondisi kehidupan kampung yang kontras dengan hiruk pikuk kehidupan kota besar layaknya Tokyo.
Continue reading ‘Railways – Sebuah film tentang kesederhanaan’

The Girl Who Leapt Through Time (2010 Live Action)

“Ini nih, teknologi buatan tahun 2010!”
(Akari mengacungkan telepon selular pada Ryota)

Yang sudah pernah menonton adaptasi novel Toki wo Kakeru Shojo (umumnya disingkat menjadi TokiKake) karya Tsutsui Yasutaka ke dalam versi anime, tentu cukup mengenal inti cerita film ini yaitu kisah seorang gadis yang melintasi waktu ke masa lampau untuk memperbaiki kejadian dimasa sekarang. Terus terang saja, sebelum menonton film ini aku tadinya sempat meremehkan, atau paling tidak tak berharap banyak kalau film ini akan cukup berharga untuk ditonton. Maklumlah, kebanyakan live action sulit untuk menandingi bahan dasar adonannya, baik itu berupa novel maupun manga. Apalagi mengingat betapa novel ini sudah beberapa kali dibuat adaptasi film live actionnya. Aku sendiri nonton hanya sekedar iseng karena lagi malas nonton film-film berat. Lalu bagaimanakah hasil dari proyek terbaru film live action adaptasi dari novel terkenal ini?
Continue reading ‘The Girl Who Leapt Through Time (2010 Live Action)’

Memoirs of A Teenage Amnesiac

Akhir-akhir ini aku lebih sering nonton film-film Asia dibandingkan film buatan Eropa ataupun buatan Hollywood. Kebetulan pula film Asia yang banyak kutonton akhir-akhir ini adalah film buatan China/Hongkong dan Jepang. Hari sabtu-minggu kemarin aku bermaksud nonton film ringan yang menghibur untuk menemani hari libur dan salah satu dari 2 film yang kupilih untuk ditonton adalah film ini. Film yang beredar di Jepang dengan judul Dare ka ga Watashi ni Kiss shita (siapakah yang menciumku) ini diangkat dari novel karangan Gabrielle Zevin. Bagaimanakah hasilnya?
Continue reading ‘Memoirs of A Teenage Amnesiac’

The other side of Kitamura Ken

Penggemar musik rock Jepang pasti kenal dengan nama Kitamura Ken, gitaris utama L’arc~en~ciel. Namun tulisan ini tidak membahas tentang L’arc~en~ciel, melainkan proyek solo Ken sang gitaris. Kalau dipikir-pikir, Ken bukanlah sosok pemain gitar asal Jepang yang paling hebat. Soal skill dan teknik, Ken masih kalah dibandingkan Tak Matsumoto (gitaris B’z) yang punya kemampuan teknik bermain lebih lengkap. Kalau dari sisi sound, Miyavi dan Sugizo bahkan punya sound yang lebih unik dan terkadang nyentrik dibandingkan sound gitar Ken yang biasa saja. Keunikan musik L’arc~en~ciel sendiri lebih dikarenakan perpaduan melodis antara gitar Ken dijalin dengan bass Tetsu yang memang berbeda style-nya dibanding band lainnya, bukan karena sound gitar Ken semata. Lalu, jika tak ada sosok Tetsu disisinya, bagaimana kira-kira musik yang dibawakan Ken?
Continue reading ‘The other side of Kitamura Ken’

Nihonjin no Shiranai Nihongo

Huruf kanji adalah produk China. Orang Jepang ngambil dan pakai begitu aja, curang tuh. Balikin dong!
(Kinrei, pada saat hari pertama Haruko mengajar)

Serial TV ini adalah serial TV Jepang favoritku di tahun 2010. Mungkin pendapatku agak berbau relatif, karena hanya ada 2 dorama yang kusaksikan di tahun 2010 hingga sekarang :mrgreen: . Asal tahu saja, aku bukan penggemar drama Jepang, malah bisa dibilang aku hampir buta dengan judul dan pernak pernik dorama yang tayang di TV. Hanya saja khusus untuk dorama yang ini, benar-benar suatu pengecualian. Bagi yang tak tahu arti dari judul serial drama yang menjadi judul postingan ini, saya artikan secara bebas: bahasa Jepang yang tak dimengerti orang Jepang. Apa? Bukannya seharusnya orang Jepang mengerti bahasa Jepang? Untuk penjelasan lebih lanjut, silahkan nonton saja sendiri. Serial ini diangkat dari manga karya Umino Nagiko dengan bantuan ilustrator Hebizo. Umino sendiri adalah seorang guru bahasa Jepang bagi orang asing dan isi dari manga karangannya sendiri tak jauh dari pengalaman Umino sendiri ketika mengajar orang-orang asing dalam berbahasa Jepang. Sekedar info, cerita manga dan serial doramanya cukup berbeda, terutama dari latar belakang tokoh utama. Continue reading ‘Nihonjin no Shiranai Nihongo’

Fish Story – Lagu Punk penyelamat dunia

Lagu Fish Story, suatu hari nanti akan menyelamatkan dunia (Manager Gekirin band, Okazaki)

Aku sadar kalau film buatan tahun 2009 ini mungkin agak sulit disukai banyak orang, malah mungkin sulit untuk dinikmati penonton pada umumnya. Memang film ini kurang laku ketika beredar di bioskop umum, tapi banyak memperoleh pujian dari para penonton sewaktu diputar di ajang festival film. Padahal kalau dipikir-pikir, Fish Story bukanlah film dengan plot cerita berat. Mungkin hal ini disebabkan Fish Story mengusung cerita yang aneh, tidak membumi dan mengawang-awang. Bayangkan saja, plot utama film ini adalah tentang bagaimana sebuah lagu punk bisa menyelamatkan dunia dari kehancuran. Aneh bukan? Namanya juga Fish Story, sebuah ungkapan untuk menggambarkan cerita mengada-ada. Tapi aku pribadi justru menyukai film non-mainstream ini karena keunikan cerita dan cara sang sutradara mengeksekusi cerita yang diadaptasi dari novel karya Kotaro Isaka (orang yang juga menulis novel Golden Slumber). Tim yang membuat film ini adalah tim yang sama dengan orang-orang yang membuat film Golden Slumber (2010) dibawah pimpinan sutradara Yoshihiro Nakamura. Continue reading ‘Fish Story – Lagu Punk penyelamat dunia’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic

Advertisements

%d bloggers like this: