Archive for the 'Resensi Film' Category

Daftar Film 2018 (November- Desember)

53. Mile 22

Jelek.
Sinematografi biasa, kamera goyang melulu, editing adegan kelahinya kasar, plotnya kurang menarik.
Kalau bukan karena Iko Uwais, males nonton sampai habis.

54. Bohemian Rhapsody

Woah…..
Speechless.
Sampai ikutan nyanyi soundless.

Kritikus memang membantai film ini dengan berbagai alasan termasuk ahistoris, tapi hal ini bukan masalah bagi yang suka lagu Queen dan tahu sejarah asli. Toh Bohemian Rhapsody ini bukan film dokumenter melainkan film hiburan, dan tujuannya tercapai yaitu menghibur penonton yang menggemari lagu-lagu Farroukh Bulsara dan kawan-kawan. Sayang Friends will be Friends tidak diputar pas member Queen reconcile sebelum konser Live Aid.

Kenal lagu-lagu Queen pertama kali dari almarhum ayahku. Pas nonton tadi ingat beliau berkali-kali, sampai mikir pasti beliau senang sekali kalau kuajak nonton film ini.

 

55. The Incredible 2

Film yang menyenangkan dan menghibur. Nonton bareng keluarga jadi nilai plus dan si bocil juga suka sama dedek bayi yang lucu alias jack jack

56. The Through

Nick Cheung memang termasuk aktor bagus di generasinya, tapi untuk urusan jadi sutradara narasi yang disampaikan dia masih berantakan.

57. Inuyashiki

Lagi-lagi Satoh Takeru main film adaptasi manga. Kali ini dia jadi tokoh antagonis yang bernasib malang dipermainkan oleh suratan nasib. CGI lumayan dan penggambaran pak tua Inuyashiki sebagai ayah dan suami gagal dibawakan dengan bagus oleh Noritake Kinashi.

58. The Predator

Bukan fans serial Predator, nonton ini gara-gara Shane Black.
Walau ada beberapa adegan yang menarik, sayangnya secara keseluruhan masih jauh dari garapan terbaik Black seperti misalnya The Nice Guys.

59. Monstrum

Berburu monster dengan setting era kerajaan Joseon sebenarnya menarik, sayangnya penggarapannya jatuhnya biasa saja. Para karakter pemburu monster juga tak ada yang menarik.

60. The Equalizer 2

Pertama kali Denzel Washington mau main film sequel. Lumayan sih walau lebih bagus yang pertama. Dalam beberapa bagian malah teringat trilogi Taken, untungnya Denzel tetap tampil maksimal.

61. Venom

Film ini benar-benar bergantung pada dan terselamatkan oleh penampilan Tom Hardy yang keren.  Plotnya rada nyleneh, ngasal yang penting ada di sela-sela adegan aksi. Action sequence yang menarik cuma pas kejar-kejaran pakai motor vs mobil, sisanya biasa saja termasuk duel final Venom vs Riot.

 

62. Kungfu League

4 pendekar Kungfu dari masa lalu, Wong Fei-hung, Huo Yuan-jia, Chen Zhen, dan Ip Man melakukan perjalanan waktu ke zaman modern tahun 2018 gara-gara bla bla bla bla…..

Busyet, yang nulis skenario benar-benar gak punya imajinasi dan ide bagus buat alasan ngumpulin para pendekar zaman baheula apa? Plotnya gak penting abis, humornya gak lucu (bahkan humor lawas Mou Lei Tou-nya Stephen Chow jauh lebih lucu), duel pake efek CGI kurang budget, dan masih banyak alasan kenapa nonton film ini hanya buang waktu.

 

63. Shadow.

Film Zhang Yimou yang keren secara artistik, bagus secara plot dan menarik dari segi pengarahan. Film tentang Body Double seorang jenderal di masa perang kerajaan Tiongkok ini mengingatkan pada karya Akira Kuroshawa yang berjudul Kagemusha. Review panjang kutulis di sini.

64. One Cut of the Dead.

Di bioskop hampir aja turun layar tapi masih sempat nonton gara-gara banyak review yg bilang bagus.

35 menit pertama (iya saya nonton sambil liat jam saking bosannya) udah pengen ini film cepat selesai karena merasa ini film cuma buang-buang waktu..

Tanpa diduga, plot film berubah drastis hingga saya malah gak merasa waktu lewat begitu saja, tahu2 filmnya sudah habis dan saya pulang dengan puas.

Filmnya memang unik walau awalnya sempat terlihat generik dan membosankan. Saya acung jempol dua deh, apalagi saya tahu kalau ini film indie berbudget murah dengan banyak aktor dan aktris tak terkenal main!

 

65. Rampant

Trailernya ngasih bayangan ini film zombie setting Korea jadul.
Pas nonton, ini lebih ke film politik era Joseon yang dikasih bumbu zombie outbreak.
Gak jelek sih tapi juga gak bikin wow karena plotnya terlampau generik. Jatuhnya cuma film biasa-biasa saja walau masih lebih mending dibanding Monstrum yang kutonton beberapa minggu lalu.

 

66. Charlie and the Chocolate Factory

Nonton bareng anak buat nemenin dia di waktu luang.
Eh anaknya lebih sering sibuk main sendiri sambil nonton dan nanya-nanya tentang pabrik cokelat, bapaknya malah serius nonton dan takjub dengan visualisasi Tim Burton yang imajinatif.
Keren and I love it.

 

67. The Witch: Part 1. The Subversion.

Ini kejutan yang menyenangkan karena gak nyangka kalau filmnya bakalan bagus dan aku juga suka sama karakternya.

Awalnya aku cuma nyangka ini film horror thriller. Tentang anak yang lari dari penyekapan dan ditemukan 2 orang tua yang baru saja kehilangan anak perempuan mereka. Hingga si anak dewasa dan masuk TV, kemudian orang yang menyekapnya ketika masih kecil mengenali identitasnya lalu mulai datang meneror.

Tak tahunya datang plot lain, dan plot lurus jadinya berbalik lalu diakhiri dengan klimaks yang memuaskan sekaligus membuka kemungkinan dibuatnya sequel.

 

68. Bird Box

Survival thriller yang mengingatkan pada A Quite Place tapi tak semenarik garapan suami Emily Blunt tersebut. Rasanya ketegangannya kurang intense apalagi ditambah gaya penyutradaraan yang membolak balik timeline cerita. Tapi akting Sandra Bullock bagus dan meyakinkan.

Daftar Film 2018 (Agustus-Oktober)

38. Mission Impossible: Ghost Protocol

39. Mission Impossible: Rogue Nation

Nonton ulang seri Mission Impossible gara-gara banyak yang bilang film Mission Impossible: Fall Out berhubungan dengan seri sebelumnya. Jadi sebelum nonton Fall Out, nonton ulang GP dan RN untuk menyegarkan ingat. Ngomong-ngomong, kedua film Mission Impossible ini cukup menghibur untuk ditonton ulang.

40. Mission Impossible: Fall Off

Nonton di IMAX, kepuasan terasa maksimal. Semua adegan aksi lebih terasa tegang dan mencekam, Tom Cruise emang gila-gilan nekad. Salah satu film action paling seru yang pernah saya tonton. Film ini memang lebih maknyuss kalau nonton pakai sistem IMAX, sampai-sampai pas kebelet pengen pipis di tengah seru-serunya Tom Cruise beraksi, rela ditahan karena gak mau kehilangan momen ketegangan.

41. Trinity, The Nekad Traveler

Entah apa yang ingin diutarakan film ini karena isinya absurd, seabsurd Rizal Mantovani mengarahkan beberapa anak muda mendaki gunung Semeru lalu tiba-tiba jadi nasionalis dadakan.

Satu-satunya kelebihan film ini adalah Maudy Ayunda yang cantik, tetap cakep secakep-cakepnya dengan busana keren dan full make-up walau sedang travel ke daerah-daerah yang biasanya dijelajahi para petualangan, dengan kaos oblong dengan wajah lelah tapi puas.

42. Bleach

Lumayan, layak tonton walau gak bisa dibilang memuaskan.
Silahkan baca review lengkapnya di sini

43. Ploey – You Never Fly Alone

Nonton bareng si bocil. Dari awal udah sadar kalau animasi ini bukan buatan hollywood, ternyata setelah dicek buatan Islandia (Iceland). Plot sangat sederhana dengan konklusi yang juga sederhana. Lumayan membuat si bocil terhibur.

44. Posesif

Ditonton gara-gara film ini masuk nominasi film terbaik FFI 21017 dan jadi kontroversi karena memiliki nominasi untuk 10 kategori.

Filmnya sendiri lumayan bagus, intrik dan thrillernya juga berjalan dengan mulus. Yang paling menonjol adalah akting 2 pemeran utamanya yaitu Adipati Dolken dan Putri Marino. Untuk penyutradaraannya sendiri walaupun bagus menurutku tidak luarbiasa untuk jadi pemenang sutradara terbaik FFI 2017.

45. The Meg

Jaws KW ke-sekian demi jualan hiburan.
Menghibur? O ya jelas menghibur dan seru  dengan plot khas film kelas B, tapi jangan dipikirin kenyataan latar saintifik film layaknya film dokumenter.

46. Skycraper

Lagi-lagi film hiburan buat dinikmati sambil mematikan fungsi otak.

Lakban (duck tape) buat aksi memanjat gedung tinggi? Tom Cruise aja pake sarung tangan khusus untuk memanjat Burj Kalifa, pake lakban itu mission im-im-im-im-im-impossible

Polisi bego nuduh ibu sengaja membiarkan anaknya dikepung api sementara suaminya yang jelas-jelas bertaruh nyawa menyelamatkan anaknya sebagai tipu muslihat? Itu karakter polisi bego mending ditiadakan aja, toh tidak mengganggu plot film.

dan terakhir, The Rock dalam film hampir semuanya nyaris. Nyaris jatoh lah, nyaris kena tembak lah, nyaris ketimpa tiang lah, bahkan Bruce Willis yang susah mati itu aja kalah die hard sama The Rock.

Yang menarik dalam film ini, tokoh utamanya penderita cacat yang harus menggunakan kaki palsu. Tentu saja hal ini untuk menambah ketegangan, tapi tetap saja harus diapresiasi karakterisasi tokoh utama seorang jagoan yang menderita cacat fisik.

47. Greatest Showman

Plot klise tapi saya selalu suka film musikal.
Adegan musikalnya keren dan untuk hal ini saja saya sudah melupakan kurangnya pengolahan karakter para anggota sirkus pimpinan P.T. Barnum yang mentok cuma sekedar orang aneh yang ingin dihargai sebagai manusia.
Oh, saya sudah baca biografi tentang Barnum, jadinya rada meh menonton betapa mulianya karakter Hugh Jackman “menolong” orang-orang yang direkrut untuk tampil di arena sirkusnya.

48. Detective Dee: The Four Heavenly Kings

Entah kenapa Tsui Hark doyan bikin serial Di Renjie yang diplot sebagai detektif era dinasti Tang. Film pertamanya bagus, lalu muncul prequel The Rise of Sea Dragon yang tak perlu. Sekarang muncul lagi sequel dan prequel tersebut.

Film ini bisa dibilang lanjutan dari The Rise of Sea Dragon yang menampilkan tiga sekawan tak akur Di Renjie sang detektif, Shatuo si tabib, dan Yuchi Zhengjin sang pengawal kaisar, bekerja sama memecahkan misteri demi menyelamatkan kaisar dan permaisuri.

Seperti halnya film prequelnya, film ini juga sarat dengan efek CGI tanggung, plot misteri yang tidak bikin penasaran dan gaya menyelidik Di Renjie a la Sherlock Holmes era Tiongkok kuno.

Hasilnya ya biasa saja, malah saya lebih suka film The Thousand Faces of Dunjia yang diproduseri oleh Tsui Hark.

49. Big Brother

Donnie Yen tampil sebagai mantan tentara Amerika yang pulang ke Hongkong dan mengajar di SMA tempat dia bersekolah sebelum pergi ke Amerika dan jadi tentara di sana.

Maunya sih film ini bergaya Dangerous Mind a la Hongkong, tapi ya semuanya serba tanggung. Dramanya klise, isu pendidikan yang dibahas juga tanggung, bahkan adegan aksi juga tanggung. Walau Kenji Tanigaki (yang bikin koreografi untuk Ruruoni Kenshin) berhasil mengkoreografi adegan tarung dengan baik, dengan hanya ada 2 adegan berantem di sepanjang film, tentunya membuat penggemar Donnie Yen kurang puas.

50. Sicario 2: Soldado

Film bagus, tapi tidak seistimewa prequelnya. Akting keren duo del Toro – Brolin dan kebrutalan aksi mereka masih jadi sajian utama.

51. Mojin: The Lost Legend

Tomb Rider versi China, lengkap dengan bongkar kuburan kuno a la fengsui dan 8 diagram bagua. Lumayan sih walau kadang rada lebay, tapi spesial efek a la China gak jelek-jelek amat. Btw, ada Shu Qi main jadi Chinese Lara Croft buat obat kangen.

52. Ant-man and the Wasp

Agak dragging dan membosankan dibanding prequelnya, komedinya juga tak selucu film pertamanya gara-gara tokoh yang dimainkan Michael Pena tak semenonjol film sebelumnya. Tapi layaknya kacang goreng, film ini masih menghibur kalau gak ngantuk pas nonton.
Kejutan: Michelle Pfeiffer!

Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: