Summer Wars – Antara perang virtual dan realita

Hito wo mamotte koso, onore mo mamoreru
~Dengan melindungi orang lain, diri sendiri juga terlindungi~

(Shimada Kanbei – Shichinin no Samurai aka Seven Samurai)
Para penggemar anime mungkin pernah mendengar nama sutradara Hosoda Mamoru sang sutradara versi anime adaptasi novel The Girl who leapt through time (dikenal dengan singkatan TokiKake) yang meraih penghargaan dimana-mana dan mengalahkan film buatan Ghibli, Tales from Earthsea yang dirilis pada tahun yang sama diberbagai festival. Kali ini Hosoda benar-benar fokus demi proyek Summer Wars hingga selama 3 tahun belakangan ini Hosoda hanya memiliki satu proyek saja dan menolak mengerjakan proyek yang lain. Hasilnya, Summer Wars tidaklah mengecewakan dari segi kualitas dan dapat menghibur orang-orang yang menontonnya. Film ini merupakan film anime kedua garapan Hosoda setelah debutnya 3 tahun yang lalu lewat TokiKake.

Adegan di awal film menunjukkan ketergantungan masyarakat modern akan komputer dimana program simulasi dunia nyata yang bernama OZ (dari Wizard of OZ??) menjadi alat komunikasi dan tempat bergaul bagi seluruh manusia di muka bumi. OZ dapat diakses baik lewat komputer hingga ponsel. Setiap orang mendapatkan account dengan avatar yang mewakili jati diri sang pemakai dan didalam dunia virtual semuanya bisa dilakukan, dari yang remeh seperti main game, belanja virtual hingga pengaturan persenjataan militer. Plot cerita kemudian beralih dengan memperkenalkan seorang anak SMU kelas 2 yang bernama Kenji, remaja introvert jenius matematika calon anggota tim olimpiade matematika Jepang yang berkecimpung dalam dunia OZ bagian maintenance system. Suatu hari Kenji menang adu janken melawan temannya Sakuma untuk mendapatkan arubaito (kerja part-time) menemani senpai tercantik di sekolah bernama Natsuki liburan musim panas, pulang ke kampung halamannya di Ueda, Nagano. Tanpa diduga, ternyata Natsumi pulang demi merayakan ulang tahun ke-90 neneknya Jinnouchi Sakae dan memperkenalkan Kenji yang tak tahu apa-apa sebagai pacarnya demi menyenangkan neneknya. Cerita mulai berkembang dari perkenalan Kenji dengan keluarga Jinnouchi yang turunan samurai hingga petualangan Kenji dalam perang di dunia virtual yang merambat ke perang di dunia nyata, akibat kekacauan yang timbul dalam dunia OZ. Lalu apa hubungannya antara keluarga Jinnouchi dan OZ hingga melibatkan Kenji? Silahkan menonton dan menemukan jawabannya sendiri.

Film ini menampilkan apa saja yang anda ingin dalam dunia anime, ada petualangan, adegan fighting seru, drama keluarga, kisah cinta, komedi hingga fantasi virtual. Dunia virtual yang disajikan merupakan cermin dunia nyata dengan jaringan sosialnya plus avatar (ingat booming facebook dan friendster), instant message (ingat twitter dan plurk) sampai akses ke dunia virtual yang dapat dilakukan dari mana saja melalui ponsel (ingat iPhone dan Blackberry), hanya saja gambaran yang ditampilkan lebih liar dan imajinatif. Sedangkan dunia nyata ditampilkan dengan detail tertata rapi dan wide-screen shot yang indah (walaupun hal ini sudah menjadi hal biasa bagi anime Jepang kelas atas). Desain artistik tidak mengecewakan mengingat Madhouse bukanlah rumah produksi anime besar seperti Ghibli. Bagi yang pernah nonton TokiKake mungkin akan menyadari terlihat ada beberapa pengulangan desain artistik dan gaya sinematografi yang pernah ditampilkan oleh Hosoda dalam film anime debutannya TokiKake, walaupun mungkin saja hal ini merupakan trademark sang sutradara.

Bejibunnya karakter dalam film ini membuat fokus terhadap karakter utama mejadi lemah, terutama menjelang pertengahan cerita hingga akhir. Memang sih, Hosoda menginginkan karakter warna-warni keluarga besar Jinnouchi menghiasi bagian dari drama keluarga yang disajikan. Terlihat jelas dari adegan perkenalan Kenji dengan seluruh keluarga Jinnouchi yang Kenji (dan aku sendiri) sulit untuk menghapal nama, hubungan keluarganya dan penampilan fisiknya (masing-masing memiliki ciri khas berbeda). Orang yang baru masuk ke dalam lingkungan suatu keluarga besar tentu sulit mengingat hal diatas tanpa pergaulan yang dekat dan berkesinambungan. Apalagi bagi seseorang yang lebih terbiasa berkomunikasi lewat avatar dalam dunia maya seperti Kenji, kontak fisik dalam sosial kemasyarakatan tentu lebih sulit lagi.

Kebanyakan kritikus mengkritik Summer Wars kurang dalam menyampaikan visi film. Memang film ini terkesan melebar dengan banyaknya tema yang ingin disampaikan, tetapi kurang dalam menggali tema yang ada sehingga menimbulkan persepsi film anime yang masih mentah. Tema utamanya yaitu benturan hubungan sosial kemasyarakatan dengan dunia virtual di era komunikasi global terlihat masih agak dangkal karena bertumpang tindih dengan tema humanisme, hubungan keluarga dan juga genre semi cyber-punk.

Bagaimanapun juga film ini sangat menarik untuk disaksikan, terutama bila ditonton bersama-sama keluarga. Nilai kekeluargaan yang ditampilkan cukup mengena (walaupun adegan akhir pesta ulang tahun si nenek agak mengganggu feeling), ditambah lagi banyak adegan-adegan virtual yang menarik bagi anak-anak dan juga drama dan komedi yang cukup mengesankan bagi orang dewasa. Pesan yang ingin disampaikan terasa tidak menggurui dan yang penting dapat menghibur para penontonnya dari segala usia. Bagi para penggemar anime movie, saya merekomendasikan film ini sebagai salah satu koleksi tontonan diakhir tahun 2009. Bagi penggemar JPop, nikmatilah lagu Bokura no Natsu no Yume (Mimpi musim panas kami) yang dibawakan Yamashita Tetsuro di akhir film. (Yamashita pernah membawakan lagu Hitomi no Naka no Rainbow yang menjadi ending song film Juvenile)

Rating: 3.5/5

Snow and Winter

Bulan Desember di Jepang berarti sudah mulai memasuki musim dingin dan di tempat-tempat tertentu (terutama Jepang utara) juga salju sudah mulai turun. Di Jepang tengah, walaupun salju belum turun tetapi udara sudah mulai turun dibawah 10 derajat di malam hari dan biasanya mulai mencapai puncak kedinginan di bulan januari. Aku sendiri tidak suka pada musim dingin, malah boleh dikatakan aku jauh lebih suka berpeluh-peluh berkeringat karena kepanasan dari pada meringkuk dibawah selimut sepanjang hari karena kedinginan.

Satu-satunya hal yang kusuka dari musim dingin hanyalah salju. Bukan salju yang bertumpuk di pekarangan ataupun salju yang berserakan di sepanjang jalan, tetapi lebih spesifik lagi salju yang turun dari langit. Melihat salju turun memang menyenangkan walaupun jika sudah sampai menjadi badai berubah menjadi menakutkan. Memasuki bulan Desember, WordPress juga menyediakan efek salju turun di halaman blog hingga awal Januari nanti. Untuk menyambut salju dan musim dingin, 3 buah tembang berlainan genre (Pop, Jazz fushion, dan JRock) yang dibawakan live oleh Mai Kuraki, Sukima Switch dan L’Arc~en~Ciel tentang salju dan musim dingin akan menyambut kedatangan anda. Selamat meringkuk dibawah selimut.
*Sleeping like a log*

Shiroi Yuki (Salju Putih) – Mai Kuraki

Fuyu no Kuchibue (Siulan musim dingin) – Sukima Switch

Winter Fall – L’Arc~en~Ciel

Anime indies durasi pendek

Menurut anda, anime seperti apakah yang bagus? Jawabannya mungkin bermacam-macam. Ada yang menyukai teknik animasi, ada yang lebih memilih keunikan cerita, ada juga yang menyukai anime tertentu karena karakter anime itu sendiri, dsb.

Anime dibawah ini adalah anime indie produksi independen tanpa melibatkan rumah produksi anime besar. Adalah Takero dan Iwasaki yang menunjukkannya padaku, dan aku pikir apa salahnya berbagi disini. Durasi 2 anime ini tak sampai 3 menit, tapi cerita dan gambar yang ditampilkan cukup mengesankan. Terbukti bahwa untuk membuat anime bagus tak perlu durasi panjang, yang penting ide ceritanya unik dan menurutku tak kalah dengan animasi pendek buatan PIXAR. Anime pertama berjudul Nekketsu Uchujin, sedangkan anime kedua berjudul Fumiko no Kokuhaku. Khusus pada anime kedua, adegan jatuhnya Fumiko benar-benar mengesankan. Pernahkah anda mimpi merasa jatuh begitu lama tanpa pernah sampai ke dasar? Seperti itulah kesanku pada anime Fumiko no Kokuhaku. Selamat menikmati dan kasih komentar.

Judul: Nekketsu Uchujin (manusia luar angkasa lekas naik darah)
Karya: Yamamoto Junichi
diambil dari link ini

Judul: Fumiko no Kokuhaku (pengakuan Fumiko/Fumiko menyatakan perasaan)
Karya: Ishida Hiroyasu
link youtube dengan subtitle bahasa Inggris

NB. Kalau anda tertarik dengan karya Makoto Shinkai yang berjudul 5 cm per second, mungkin anda juga tertarik untuk menonton anime dibawah ini. Hanya saja lebih sederhana dan tidak terlalu WAH seperti karya Makoto. Maklumlah, namanya juga produksi anime indies. Sayang tidak ada teks terjemahan untuk anime dibawah ini, tapi gambarnya WOW…..

Judul: Meguriau Sekai (Dunia bertemu kembali)
Produksi: New Adventure
part 1 dan part 2

Detective Conan The Movie 13: The Raven Chaser

Judul asli: 名探偵コナン漆黒の追跡者 (Meitantei Konan Shikkoku no Tsuisekisha)
Produksi: Toho (2009)
Sutradara: Yasuichiro Yamamoto

Akhirnya sempat juga menulis resensi film layar lebar Conan keluaran tahun 2009 ini dan aku merasa lumayan puas dengan the movie ke 13 jika melirik 2 film layar lebar Conan sebelumnya secara berturut-turut. Harap maklum, karena baik the movie 11 maupun 12 mengalami penurunan kualitas baik secara cerita misteri, suspense maupun petualangan jika dibandingkan dengan the movie sebelumnya. Kali ini Conan kembali berhadapan dengan musuh bebuyutannya Kuro Sosiki (Organisasi Hitam) beserta para gembong utamanya Gin, Vodka dan tentu saja Vermouth. Sekedar info, The Raven Chaser ini juga merupakan penampilan terakhir Kamiya Akira yang mengisi suara Meitantei Mouri Kogoro untuk Detective Conan The Movie, karena kontrak Kamiya berakhir pada tahun ini. Pada Detective Conan The Movie 14 tahun depan, Koyama Rikiya akan mengisi suara Kogoro (dimulai sejak serial anime episode 553).

6 orang ditemukan tewas di 6 tempat berbeda di jepang tengah dengan penghubung keping mahjong, sehingga menyebabkan polisi di 6 prefektur bekerja sama untuk memecahkan kasus ini. Seperti biasanya, Conan ikut terlibat dalam kasus ini karena detektif partikelir Mouri Kogoro turut diundang sebagai tenaga bantuan. Tanpa sengaja Conan menemukan bahwa Kuro Sosiki ternyata ikut terlibat dalam penyelidikan kasus ini karena menyangkut chip tentang data daftar anggota NOC Kuro Sosiki yang hilang ketika salah satu korban terbunuh. Mereka menduga kalau sang pembunuh membawanya tanpa sadar. Perlahan, Conan mulai menyadari kalau salah satu dari anggota gabungan polisi adalah penyamaran anggota Kuro Sosiki dengan kode nama Irish, dan ternyata Irish sang polisi palsu mengetahui identitas asli Conan sebagai Kudo Shinichi.

Jika melihat trailer promosi yang diluncurkan sebelum film ditayangkan, terlihat seolah-olah Kuro Sosiki benar-benar sudah dekat dengan penyingkapan identitas asli Conan. Padahal pada kenyataannya tidaklah demikian, sehingga hal ini cukup mengecewakan aku sebagai penggemar konfrontasi Conan-Kuro Sosiki. Disisi lain, film ini tidak menawarkan suspense dan thriller yang intens sebagaimana keterlibatan Kuro Sosiki dalam film Detective Conan 5: Countdown to Heaven yang lebih menegangkan dibandingkan The Raven Chaser. Benar-benar trailer yang bombastis itu membuatku terlalu banyak berharap pada film layar lebar ke 13 ini, sehingga menyebabkan penilaianku menurun cukup drastis. Tapi bagaimanapun juga dengan keterlibatan Kuro Sosiki, film ini jatuhnya masih lebih baik dibandingkan dua film sebelumnya. Misteri siapa polisi palsu samaran Kuro Sosiki yang ditampilkan juga cukup membuat penasaran, walaupun tidak menampilkan trik pembunuhan yang aneh-aneh. Segi petualangan yang kuharapkan lewat penampilan Kuro Sosiki ternyata sangat kurang, sehingga bisa dibilang tidak ada hal baru yang menarik ditawarkan oleh the movie kali ini. Sedangkan berkumpulnya para tokoh polisi 6 perfektur kenalan Conan dari berbagai kasus dalam serial manga/anime, terlihat hanya sekedar tempelan yang menuh-menuhin layar saja. Memang sih, mereka semua ditampilkan demi menyamarkan sosok Irish si polisi palsu, sayangnya hanya sebatas itu saja.

Judul The Raven Chaser sendiri diambil dari lagu Nanatsu no Ko yang dihasilkan dari bunyi dial nomer telepon bigboss Kuro Sosiki dengan awalan liriknya Karasu naze naku no (Hai gagak, kenapa kau menangis). Jika sang gagak diasumsikan sebagai Kuro Sosiki, maka tugas Conan lah mengejar sang gagak. O iya, ada satu hal aneh yang menurutku ganjil (spoiler dikit). Apakah untuk menjadi seorang penggemar band The Beatles, harus berasal dari jaman McCartney berempat masih aktif nge-band? Aku sendiri yang lahir setelah The Beatles bubar, gemar dengan lagu-lagu mereka koq.

Rating: 3/5

OST part 3: Let’s sing! Doraemon no Uta

Ini adalah lagu Doraemon full version (mengacu pada opening song anime yang hanya dinyanyikan sepertiganya saja). Terjemahan yang kubuat pada 2/3 akhir lebih dimaksudkan untuk memudahkan orang terpaksa menyanyikannya, walaupun ada beberapa arti yang agak sulit untuk diterjemahkan langsung ke bahasa Indonesia. Sedangkan 1/3 awal masih tetap mengikuti lagu dubbing Doraemon versi anime yang diputar oleh RCTI. Selamat menyanyikannya secara penuh bersama Doraemon no uta versi penyanyi Yamano Satoko (yang kupikir paling akrab komposisinya ditelinga orang Indonesia)
link diambil dari sini

DORAEMON no Uta - ドラえもんのうた
(Lagu DORAEMON)

konna koto ii na
dekitara ii na
anna yume konna yume ippai aru kedo
minna minna minna
kanaete kureru
fushigina POKKE de kanaete kureru
sora wo jiyuu ni tobitai na
(hai! takekoputaa!)
AN AN AN
tottemo daisuki, DORAEMON

Aku ingin begini, aku ingin begitu
Ingin ini ingin itu banyak sekali
Semuanya semua dapat dikabulkan
dapat dikabulkan dengan kantong ajaib.
Aku ingin terbang bebas diangkasa
(Hai! baling-baling bambu!)
La La La
Aku sayang sekali, DORAEMON

shukudai touban shiken ni otsukai
anna koto konna koto taihen dakedo
minna minna minna
tasukete kureru
benrina dougu de tasukete kureru
omocha no heitai da
(sore! tototsugeki!)
AN AN AN
tottemo daisuki, DORAEMON

Disuruh bikin PR, piket dan ujian
Tentang ini tentang itu, susah sekali
Semuanya semua diberikan bantuan
dimudahkan dengan peralatan ajaib
Boneka mainan prajurit
(Sana! Serang!)
La La La
Aku sayang sekali, DORAEMON

anna toko ii na
iketara ii na
kono kuni ano shima takusan aru kedo
minna minna minna
ikasete kureru
mirai no kikai de kanaete kureru
sekai ryokou ni ikitai na
(fufufu… doko demo DOA!)
AN AN AN
tottemo daisuki, DORAEMON
AN AN AN
tottemo daisuki, DORAEMON

Ada tempat yang indah
Andai ku bisa pergi
Negri ini pulau itu banyak sekali
Semuanya semua bisa diberangkatkan
Dikabulkan dengan mesin dari masa depan
Pergi jalan-jalan ke s’luruh dunia
(hehehe…Pintu kemana saja!)
La La La
Aku sayang sekali, DORAEMON
La La La
Aku sayang sekali, DORAEMON

New TV Serial: FlashFoward vs The Forgotten

Akhir-akhir ini jadwal nonton filmku tergerus dengan kesibukan di kampus, kalaupun ada waktu yang terselip lebih kupakai untuk nonton serial TV yang selalu kuikuti setiap minggunya dari pada menonton film layar lebar. Belum lagi kini ada serial TV baru yang mulai masuk tontonan serial regularku.
Sebenarnya ada 3 serial baru yang menambah koleksi tontonan serial TV setelah Supernatural, Heroes, Little Mosque in the Prairie hingga Dexter. Kali ini aku hanya akan membahas serial FlashForward dan The Forgotten yang sudah tayang 7 episode lebih, sedangkan serial V yang baru tayang 2 episode akan dibahas nanti setelah cukup banyak episode tayangannya untuk dibuat resensinya.

FlashForward

Plot Cerita:
Pada suatu hari, diasumsikan manusia di seluruh dunia tiba-tiba saja jatuh pingsan mendadak selama 2 menit 17 detik dan pada saat tak sadarkan diri, masing-masing individu mendapatkan visi tentang masa depan diri pribadi pada 6 bulan yang akan datang (disebut dengan nama FlashForward). Mengetahui salah satu bagian dirinya di masa depan menyebabkan perubahan mendadak bagi masing-masing individu. Fenomena apakah yang menyebabkan orang-orang dapat melihat masa depan? Apakah ini suatu hikmah dari yang maha kuasa? atau mereka menjadi korban suatu eksperimen rahasia? Sang tokoh utama agen FBI Mark Benford (Joseph Fiennes) dan rekan-rekannya mendapatkan tugas untuk menyelidiki fenomena tersebut. Belum lagi masing-masing dari anggota tim harus berurusan dengan FlashForward yang mereka dapatkan selama jeda pingsan 137 detik serta interaksi dengan orang-orang yang mendapatkan visi masa depan yang saling berhubungan.

Komentar:
Terus terang saja, ketika selesai menonton pilot episode serial ini aku langsung penasaran dan tertarik untuk menanti tayangan kelanjutannya. Kekuatan utama serial ini adalah misteri mengenai FlasForward itu sendiri dan penokohan yang kuat dari masing-masing karakter cerita dengan pengaruh FlashForward yang mereka dapatkan dalam kehidupan mereka masing-masing. Apakah masa depan yang mereka lihat dalam FlashForward sudah pasti akan terjadi? Apakah dengan mengetahui masa secuil pandangan di masa depan akan mengubah hidup seseorang? Cerita tentang orang yang tidak mendapatkan FastForward seperti rekan Bunford yang bernama Agen Demitri Noh (John Cho) juga menarik untuk diikuti, karena mereka curiga kalau 6 bulan kedepan mereka semua diasumsikan sedang tidur, atau malah mati.

Selain plot utama tentang penyelidikan fenomena FlashForward, plot pendamping tentang berubahnya kehidupan para tokoh setelah mendapatkan FlashForward juga tak kalah menarik untuk diikuti. Bagaimana jika seorang istri mendapatkan FlashForward berselingkuh dengan pria yang sama sekali tak dikenal, padahal sang istri merasa sebagai pribadi yang setia dengan keluarga bahagia, dan sang istri menganggap FlashForward bagaikan kutukan. Ada pula tokoh lainnya yang frustasi dan ingin bunuh diri, justru mendapatkan FlashForward yang membuat dirinya lebih positif memandang hidup, dan dia menganggap FlashForward sebagai anugrah. Tidak semua orang mendapatkan FlashForward menarik dan mengubah jalan hidupnya, ada pula orang yang hanya melihat hal yang sama dan monoton dengan kehidupan dimasa sekarang, dan dia menganggap FlashForward hanya omong kosong.

Menurutku serial ini akan mendapatkan premis positif kedepan dan akan terus mendapat perhatian dari para penggemar serial thriller dan drama. Sebagai info tambahan, serial ini merupakan adaptasi bebas dari novel karya Robert J. Sawyer

NB. Adegan pingsan 2 menit 17 detik yang membuat kekacauan jauh lebih menarik dibandingkan adegan matinya para surrogate dalam film Surrogate-nya Bruce Willis. Kecelakaan, pesawat jatuh, kematian di ruang operasi rumah sakit cukup masuk akal untuk menggambarkan kekacauan yang diakibatkan FlashForward.

Trailer bisa dilihat di link ini

The Forgotten

Plot Cerita:
Serial ini mengisahkan sebuah grup sukarelawan yang membantu polisi dalam mencari latar belakang korban kriminalitas yang ditemukan tanpa identitas. Biasanya polisi sudah menangani kasus si Polan dan si Polanah (mereka menyebut korban sebagai John dan Jane Doe) sudah belalu sekitar 1 bulan lebih tanpa titik terang, sehingga pencarian identitas korban dilimpahkan kepada grup sukarelawan yang bernama The Forgotten. Fokus serial ini adalah grup The Forgotten cabang Boston yang dipimpin oleh seorang mantan polisi bernama Alex Donovan (Christian Slater) yang kehilangan anak perempuannya tanpa kabar sebagai korban penculikan. Anggota lainnya memiliki latar belakang berbeda dalam keterlibatan mereka dalam grup sukarelawan ini. Ada karakter seorang istri pembunuh (berantai??) yang sepertinya ingin menebus dosa mantan suaminya, akuntan yang membenci kerja monotonnya sehingga butuh tantangan seperti kerja sukarela dalam The Forgotten, karyawan Telkom yang rasa ingin tahunya terlalu besar, hingga anggota baru seorang seniman.

Pada setiap episode, si Polan dan si Polanah bertindak sebagai narator yang menceritakan awal kasus sejak ditemukannya mayat tanpa pengenal, ungkapan perasaan si korban, hingga penutup.

Komentar:
Dengan ide cerita dan karakterisasi tokoh seperti diatas, sepertinya The Forgotten bisa saja masuk ke dalam drama kriminal favorit pemirsa TV. Sayangnya harapan itu sepertinya semakin jauh seiring dengan perkembangan serial yang setiap minggunya menampilkan ritme yang stagnan. Seharusnya seluruh anggota The Forgotten yang kaya dengan karakter unik itu bisa dikembangkan seiring dengan penyelidikan setiap kasus. Yang ada dalam tayangan malah fokus cerita tentang penyelidikan si korban saja, tanpa adanya keterlibatan emosi para tokoh dalam The Forgotten. Memang ada sih beberapa cuil ekspresi dalam menghadapi kasus, seperti misalnya Donovan dengan kasus pembunuhan seorang bapak yang mencari anak perempuannya, mengingatkannya pada kondisi dirinya sendiri. Tapi tetap saja hal itu tidak cukup menolong perkembangan karakter karena tidak berkesinambungan, apalagi kalau ingin melihat konflik dari interaksi antar anggota The Forgotten yang memiliki latar belakang dan tujuan masuk The Forgotten yang berbeda. Hingga episode 8 yang telah kutonton, serial ini terlalu lambat dalam berusaha untuk mengembangkan karakter tokoh utama sehingga cenderung mulai membosankan.

Bagi anda yang suka nonton serial dengan episode terputus-putus tanpa ada hubungan antar episode, mungkin bisa menyukai serial ini. Namun bagaimanapun juga, serial TV adalah sebuah kontinyuitas cerita yang terbagi dalam beberapa episode, bukan film layar lebar yang sekali tonton langsung habis. Sayang sekali jika kekayaan kompleksivitas serial ini justru mubazir begitu saja tanpa adanya rangkaian yang menghubungkan dengan rapi. Ibarat memiliki bumbu masak yang lengkap dan racikannya menghasilkan masakan enak, namun rasanya cuma itu-itu saja. Tetap saja 2~3 episode awal cukup layak tonton karena menampilkan prosedur kerja anggota kelompok The Forgotten dalam menelusuri identitas Jane/John Doe, hingga akhirnya bukan hanya identitas korban berhasil ditemukan melainkan juga pelaku kejahatan itu sendiri. Hanya saja perulangan yang sama membuat hal ini justru akhirnya menjadi semacam ritual biasa-biasa saja. Melihat cukup banyak bahan dasar yang bisa membuat serial ini menjadi lebih menarik, semoga saja episode-episode mendatang The Forgoten bisa diperbaiki.

NB. Jerry Bruckheimer yang tercatat sebagai executive producer dalam serial ini sepertinya turut memberikan pengaruh. Kalau melihat daftar riwayat hidupnya yang membidani beberapa serial menarik seperti CSI, kali ini Jerry Bruckheimer cenderung mengikuti gaya pembuatan film layar lebar buatannya. Penuh dengan ide unik dan terlihat megah dimata tapi kering dengan isi dan eksekusi cerita.
Tokoh Donovan tadinya diperankan oleh Rupert Penry-Jones pada pilot episode sebelum akhirnya diganti oleh Christian Slater dan adegan-adegan yang melibatkan Penry-Jones di take ulang.

Trailer dapat dilihat di link ini

透明人間:第一期 vs 第ニ期

baca judul: “Toumei Nigen: Dai Ikki vs Dai Niki”
arti: “Manusia Transparans: Periode Satu vs Periode Dua

Toumei Ningen adalah judul lagu ciptaan Seiji Kameda yang dibawakan oleh Tokyo Jihen dan dijadikan judul tema blog oleh penulis. Untuk merayakan pembukaan blog baru Toumei Ningen Dai Niki, postingan kali ini membahas mengenai lagu Toumei Ningen dalam dua versi yaitu versi Tokyo Jihen Dai Ikki dan Dai Niki.

Seperti yang diketahui oleh para penggemar Tokyo Jihen, Tokyo Jihen pertama kali dibentuk oleh Shiina Ringo pada tahun 2003 dengan anggota Shiina (Vokal), Kameda (Bass), Mikio (Lead Guitar), HZM (Piano/Keyboard) dan Hata (Drums/Percussion). Setelah menyelesaikan album pertama dan tur promosinya, Mikio dan HZM keluar dari band sehingga menyebabkan Tokyo Jihen tiba-tiba menjadi vakum selama 1 tahun. Selama masa vakum, Shiina sibuk mencari pengganti keduanya, hingga akhirnya Nagaoka Ryosuke alias Ukigumo dan Izawa Keitaro alias Izawa Ichiyo datang mengisi lowongan pemain gitar dan piano dalam Tokyo Jihen. Formasi baru Tokyo Jihen ini diberi nama Dai Niki oleh Shiina untuk membedakannya dengan formasi awal yang disebut Dai Ikki.

Seperti yang pernah dibahas pada postingan khusus tentang grup Tokyo Jihen sebelumnya, pergantian anggota ini sangat mempengaruhi warna musik Tokyo Jihen. Anda bisa merasakannya sendiri jika mendengar lagu Toumei Ningen yang dibawakan oleh versi Dai Ikki dan Dai Niki. Genre Fushion Jazz-Rock yang dibawakan oleh Dai Ikki jelas-jelas lebih berat ke arah Rock, dibandingkan dengan Dai Niki yang cenderung ngepop dan easy listening. Gaya beraksi diatas panggung juga sangat terasa perbedaannya. Tingkah ajaib HZM yang agak nyeleneh dalam bermain piano membuat panggung lebih heboh. Berbeda dengan konsep panggung Dai Niki yang terlihat lebih santai.

Versi manakah yang lebih anda sukai. Kalau saya sih suka keduanya :mrgreen: (serakah mode)

Tokyo Jihen Dai Ikki
diambil dari link ini

Tokyo Jihen Dai Niki
diambil dari link ini

Enka: Misora Hibari vs Tokyo Jihen

Genre enka adalah genre musik khas Jepang yang cukup populer, terutama dikalangan orang-orang tua. Untuk penjelasan lebih lanjut, bisa dicari infonya di lagi-lagi wikipedia.

Sebenarnya postingan pendek ini di tulis gara-gara masbro lambrtz bikin komentar beruntun tentang link youtube yang kutampilkan di facebook. Link yang berisi klip lagu Kurumaya-san yang dibawakan si ratu enka Misora Hibari memang unik (enka dengan sentuhan kental Jazz), sehingga tak aneh kalau Tokyo Jihen tertarik meng-cover lagu beliau dengan gaya berbeda (memasukkan unsur Jazz Rock). Menurut anda mana yang lebih baik? menurutku sih keduanya sama kerennya dengan ciri khas masing-masing. O iya, ini adalah satu-satunya lagu enka yang pernah dibawakan oleh Tokyo Jihen hingga saat ini. Silahkan menikmati lagu genre enka Kurumaya-san dalam dua versi.

Lirik lagunya sendiri bercerita tentang cewek Geisha yang menjalin hubungan gelap dengan pria beristri dan mereka sering berhubungan satu sama lain lewat surat cinta yang diantar oleh seorang Kurumaya-san. Si Kurumaya-san ini rupanya sering bikin kesal si Geisha karena pelupa dan suka ngilangin surat si Geisha.

Versi Queen of Enka, Misora Hibari sumber dari link ini

Versi Tokyo Jihen, sumber dari link ini

Nara-Kyoto-Osaka 2009 (bagian dua)

Melanjutkan kisah sebelumnya pada bagian satu yang menceritakan tentang kunjungan ke Nara.

IMG_0115Setelah bermalam di manga cafe yang terletak di daerah Dotonbori Osaka, kami berdua memulai perjalanan hari kedua menuju kota tua Kyoto yang menjadi pusat perhatian utama para turis yang datang ke Jepang. Ini adalah kali ketiga bagiku datang ke Kyoto setelah kunjungan sebelumnya pada tahun 2007 dan 2008. Ternyata aku masih belum bosan untuk jalan-jalan ke kota tua ini. Tujuan utama perjalanan ini adalah 清水寺 (Kiyomizudera), kuil Buddha yang terkenal dengan keberadaannya diatas pilar dan terletak diatas bukit yang memungkinkan pemandangan kota Kyoto. Tetapi sebelum itu, kami terlebih dahulu mengunjungi 東映太秦映画村 (Toei Uzumasa Eigamura atau kampung film Toei Uzumasa) dan 二条城 (Nijou-jou alias kastil Nijou).

IMG_0110Studio film milik Toei di daerah Uzumasa yang didirikan demi kepentingan pembuatan film genre Jidaigeki ini cukup menarik perhatian para turis karena menampilkan berbagai macam setting untuk situasi jaman samurai dari bangunan, jalan, sungai, jembatan hingga pasar. Benar-benar beruntung ketika berkunjung ke Eigamura, mereka sedang mengadakan pertunjukan yang dibintangi oleh seorang aktor yang cukup terkenal di dunia perfilman genre Jidaigeki, yaitu Fukumoto Seizo. Malah sempat foto bareng dengan si aktor yang masih berpakaian samurai. Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan ke kastil Nijou.

Gerbang masuk utama Ninomaru Gouten

Gerbang masuk utama Ninomaru Gouten

Kastil Nijou dikenal sebagai tempat tinggal resmi Shogun Tokugawa selama menjalankan tugasnya di ibu kota kekaisaran Kyoto untuk mendampingi tempat tinggal resmi Kaisar Jepang di Kyoto (Kyoto Gosho). Kompleks Nijoujou sangat luas tak kalah dari Kyoto Gosho hingga membuat kakiku kesemutan untuk mengelilinginya, dimulai dari gerbang utama, bangunan utama Ninomaru Gouten, Honmaru Gouten hingga tamannya yang luas. Hal yang paling menarik dari Ninomaru Gouten adalah lantai burung bul-bul yang akan berderit walaupun cuma diinjak pelan.
Taman disekitar Ninomaru Gouten

Taman disekitar Ninomaru Gouten

Konstruksi demikian dibuat untuk mencegah penyusup menyelinap masuk ketempat tinggal Shogun tanpa ketahuan. Kalau misalnya musuh Shogun mengirim seorang Ninja yang ingin membunuh sang Shogun, dipastikan dia harus mengirim Ninja dengan ilmu meringankan tubuh yang sangat mumpuni untuk menghindari jebakan lantai berderit. Selain itu gedung ini memiliki beberapa pintu rahasia tempat pengawal Shogun bersembunyi melindungi Shogun secara diam-diam.

2 Maiko dan gerbang depan kompleks, Nioumon atau Akamon

2 Maiko dan gerbang depan kompleks, Nioumon atau Akamon

Menjelang sore kami berdua bergerak menuju 祇園 (Gion), daerah pusat yang terkenal dengan banyak Maiko di Kyoto. Maiko adalah murid Geisha yang sedang berada dalam masa training. Karena sewa Geisha per jam sangat mahal, rata-rata hanya Maiko yang bertugas melayani tamu dengan diawasi langsung oleh Geisha yang men-training-nya. Sayang sekali, Maiko hanya bekerja pada malam hari, sehingga sulit ditemukan (lagi pula mereka bekerja didalam Machiya). Kami hanya melihat 3 Maiko saja, 2 orang ketika berada di Kiyomizudera (sepertinya diundang untuk sesi foto) dan 1 orang ketika berkeliaran di daerah Hanamikoji pada malam hari setelah pulang dari Kiyomizudera.

Salah satu dari koi Uranai no Ishi (Batu peramal cinta)

Salah satu dari sepasang Koi Uranai no Ishi (Batu peramal cinta)

Kiyomizudera yang berarti kuil air murni merupakan kuil Buddha yang dibangun “tanpa paku” dan berada diatas bukit dengan susunan pilar pada konstruksi dasar bangunan. Terus terang saja, Kiyomizudera merupakan tempat favoritku jika berkunjung ke Kyoto terutama sewaktu menikmati matahari terbenam disana sambil memandang kota Kyoto dari atas bukit. Di sebelah kompleks kuil terdapat jinja (kuil Shinto) bernama Jishu Jinja yang didedikasikan bagi dewi cinta dan jodoh. Disana akan ditemukan sepasang batu peramal cinta yang berjarak sekitar 18 meter. Silahkan baca di wikipedia tentang legenda dibalik Kiyomizudera kalau tertarik.

Kiyomizudera di waktu senja

Kiyomizudera di waktu senja

Setelah menikmati matahari terbenam di atas beranda Kiyomizudera, kami turun dari atas bukit setelah hari gelap dan sempat berputar-putar disekitar daerah Gion sebelum pulang kembali ke Osaka dan menginap di Manga Cafe daerah Dotonbori seperti hari sebelumnya. Malam itu benar-benar capek sehingga semua fasilitas Manga Cafe seperti makan eskrim dan minum sof drink/kopi/coklat, main PlayStation, serta Internet tak terlalu menarik perhatian. Setelah mandi, langsung tidur terkapar untuk mempersiapkan hari esok perjalanan ke 大阪城 (Osaka-Jou alias Kastil Osaka).

Bersambung: bagian akhir, Osaka Castle.

Koran Jepang tentang demo AV idol di Indonesia

Media cetak maupun televisi Indonesia memang ribut membahas pro kontra kedatangan Maria Ozawa untuk membintangi film yang direncanakan berjudul menculik Miyabi (padahal di Jepang sendiri, Ozawa sudah lama tak memakai nama panggung miyabi). Bagaimana dengan media cetak Jepang? Ternyata berita tentang pro kontra ini juga ada yang menghiasi media cetak Jepang, walaupun harus diakui bahwa hanya satu dari media cetak beroplah besar yang memberitakan hal ini yaitu Asahi Shimbun, itupun hanya memberikan sedikit info tanpa opini. Yomiuri Shimbun dan Mainichi Shimbun malah tak pernah menyinggungnya sama sekali. Berita tentang Indonesia yang mendominasi isi koran oplah besar ternyata mengenai gempa di Sumatera beberapa minggu yang lalu, termasuk cara penanggulangan, sistem pemberian bantuan obat-obatan dan makanan yang masih mengecewakan hingga berbagai macam tetek bengeknya seperti tentang konstruksi rumah masyarakat Indonesia yang gampang runtuh, walau terkena gempa berskala kecil sekalipun.

Asahi Shimbun
Asahi Shimbun membahas tentang kemungkinan pencekalan Maria Ozawa masuk ke Indonesia untuk tujuan syuting film, sehingga menyebabkan jadwal syuting film menculik miyabi tersebut terpaksa ditunda. Selain menuliskan komentar Menkominfo M. Nuh, Asahi Shimbun juga menuliskan keberadaan UU anti-pornografi.
“Walaupun tidak bugil, AV idol dilarang syuting” oleh Asahi Shimbun (10/13 ‘2009)

Shikoku Shimbun/Fukui Shimbun/Chuugoku Shimbun, dll
Shikoku Shimbun, dll menekankan tentang kontroversi kedatangan Ozawa-san yang berhubungan dengan keberadaan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar sedunia. Lucunya, koran ini juga menampilkan foto lampiran pedagang kaki lima yang sedang menjajakan jualan DVD bajakan Maria Ozawa di trotoar jalan. Berita yang ditampilkan oleh beberapa koran online ternyata mempunyai isi yang sama, kadang dengan judul berbeda.
“Demo menolak pemakaian artis AV idol” oleh Shikoku Shinbun (10/14 ‘2009)
“Demo menolak pemakaian artis AV idol” oleh Fukui Shimbun (10/14 ‘2009)

Next Page »