透明人間:第一期 vs 第ニ期

baca judul: “Toumei Nigen: Dai Ikki vs Dai Niki”
arti: “Manusia Transparans: Periode Satu vs Periode Dua

Toumei Ningen adalah judul lagu ciptaan Seiji Kameda yang dibawakan oleh Tokyo Jihen dan dijadikan judul tema blog oleh penulis. Untuk merayakan pembukaan blog baru Toumei Ningen Dai Niki, postingan kali ini membahas mengenai lagu Toumei Ningen dalam dua versi yaitu versi Tokyo Jihen Dai Ikki dan Dai Niki.

Seperti yang diketahui oleh para penggemar Tokyo Jihen, Tokyo Jihen pertama kali dibentuk oleh Shiina Ringo pada tahun 2003 dengan anggota Shiina (Vokal), Kameda (Bass), Mikio (Lead Guitar), HZM (Piano/Keyboard) dan Hata (Drums/Percussion). Setelah menyelesaikan album pertama dan tur promosinya, Mikio dan HZM keluar dari band sehingga menyebabkan Tokyo Jihen tiba-tiba menjadi vakum selama 1 tahun. Selama masa vakum, Shiina sibuk mencari pengganti keduanya, hingga akhirnya Nagaoka Ryosuke alias Ukigumo dan Izawa Keitaro alias Izawa Ichiyo datang mengisi lowongan pemain gitar dan piano dalam Tokyo Jihen. Formasi baru Tokyo Jihen ini diberi nama Dai Niki oleh Shiina untuk membedakannya dengan formasi awal yang disebut Dai Ikki.

Seperti yang pernah dibahas pada postingan khusus tentang grup Tokyo Jihen sebelumnya, pergantian anggota ini sangat mempengaruhi warna musik Tokyo Jihen. Anda bisa merasakannya sendiri jika mendengar lagu Toumei Ningen yang dibawakan oleh versi Dai Ikki dan Dai Niki. Genre Fushion Jazz-Rock yang dibawakan oleh Dai Ikki jelas-jelas lebih berat ke arah Rock, dibandingkan dengan Dai Niki yang cenderung ngepop dan easy listening. Gaya beraksi diatas panggung juga sangat terasa perbedaannya. Tingkah ajaib HZM yang agak nyeleneh dalam bermain piano membuat panggung lebih heboh. Berbeda dengan konsep panggung Dai Niki yang terlihat lebih santai.

Versi manakah yang lebih anda sukai. Kalau saya sih suka keduanya :mrgreen: (serakah mode)

Tokyo Jihen Dai Ikki
diambil dari link ini

Tokyo Jihen Dai Niki
diambil dari link ini

Enka: Misora Hibari vs Tokyo Jihen

Genre enka adalah genre musik khas Jepang yang cukup populer, terutama dikalangan orang-orang tua. Untuk penjelasan lebih lanjut, bisa dicari infonya di lagi-lagi wikipedia.

Sebenarnya postingan pendek ini di tulis gara-gara masbro lambrtz bikin komentar beruntun tentang link youtube yang kutampilkan di facebook. Link yang berisi klip lagu Kurumaya-san yang dibawakan si ratu enka Misora Hibari memang unik (enka dengan sentuhan kental Jazz), sehingga tak aneh kalau Tokyo Jihen tertarik meng-cover lagu beliau dengan gaya berbeda (memasukkan unsur Jazz Rock). Menurut anda mana yang lebih baik? menurutku sih keduanya sama kerennya dengan ciri khas masing-masing. O iya, ini adalah satu-satunya lagu enka yang pernah dibawakan oleh Tokyo Jihen hingga saat ini. Silahkan menikmati lagu genre enka Kurumaya-san dalam dua versi.

Lirik lagunya sendiri bercerita tentang cewek Geisha yang menjalin hubungan gelap dengan pria beristri dan mereka sering berhubungan satu sama lain lewat surat cinta yang diantar oleh seorang Kurumaya-san. Si Kurumaya-san ini rupanya sering bikin kesal si Geisha karena pelupa dan suka ngilangin surat si Geisha.

Versi Queen of Enka, Misora Hibari sumber dari link ini

Versi Tokyo Jihen, sumber dari link ini

Nara-Kyoto-Osaka 2009 (bagian dua)

Melanjutkan kisah sebelumnya pada bagian satu yang menceritakan tentang kunjungan ke Nara.

IMG_0115Setelah bermalam di manga cafe yang terletak di daerah Dotonbori Osaka, kami berdua memulai perjalanan hari kedua menuju kota tua Kyoto yang menjadi pusat perhatian utama para turis yang datang ke Jepang. Ini adalah kali ketiga bagiku datang ke Kyoto setelah kunjungan sebelumnya pada tahun 2007 dan 2008. Ternyata aku masih belum bosan untuk jalan-jalan ke kota tua ini. Tujuan utama perjalanan ini adalah 清水寺 (Kiyomizudera), kuil Buddha yang terkenal dengan keberadaannya diatas pilar dan terletak diatas bukit yang memungkinkan pemandangan kota Kyoto. Tetapi sebelum itu, kami terlebih dahulu mengunjungi 東映太秦映画村 (Toei Uzumasa Eigamura atau kampung film Toei Uzumasa) dan 二条城 (Nijou-jou alias kastil Nijou).

IMG_0110Studio film milik Toei di daerah Uzumasa yang didirikan demi kepentingan pembuatan film genre Jidaigeki ini cukup menarik perhatian para turis karena menampilkan berbagai macam setting untuk situasi jaman samurai dari bangunan, jalan, sungai, jembatan hingga pasar. Benar-benar beruntung ketika berkunjung ke Eigamura, mereka sedang mengadakan pertunjukan yang dibintangi oleh seorang aktor yang cukup terkenal di dunia perfilman genre Jidaigeki, yaitu Fukumoto Seizo. Malah sempat foto bareng dengan si aktor yang masih berpakaian samurai. Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan ke kastil Nijou.

Gerbang masuk utama Ninomaru Gouten

Gerbang masuk utama Ninomaru Gouten

Kastil Nijou dikenal sebagai tempat tinggal resmi Shogun Tokugawa selama menjalankan tugasnya di ibu kota kekaisaran Kyoto untuk mendampingi tempat tinggal resmi Kaisar Jepang di Kyoto (Kyoto Gosho). Kompleks Nijoujou sangat luas tak kalah dari Kyoto Gosho hingga membuat kakiku kesemutan untuk mengelilinginya, dimulai dari gerbang utama, bangunan utama Ninomaru Gouten, Honmaru Gouten hingga tamannya yang luas. Hal yang paling menarik dari Ninomaru Gouten adalah lantai burung bul-bul yang akan berderit walaupun cuma diinjak pelan.
Taman disekitar Ninomaru Gouten

Taman disekitar Ninomaru Gouten

Konstruksi demikian dibuat untuk mencegah penyusup menyelinap masuk ketempat tinggal Shogun tanpa ketahuan. Kalau misalnya musuh Shogun mengirim seorang Ninja yang ingin membunuh sang Shogun, dipastikan dia harus mengirim Ninja dengan ilmu meringankan tubuh yang sangat mumpuni untuk menghindari jebakan lantai berderit. Selain itu gedung ini memiliki beberapa pintu rahasia tempat pengawal Shogun bersembunyi melindungi Shogun secara diam-diam.

2 Maiko dan gerbang depan kompleks, Nioumon atau Akamon

2 Maiko dan gerbang depan kompleks, Nioumon atau Akamon

Menjelang sore kami berdua bergerak menuju 祇園 (Gion), daerah pusat yang terkenal dengan banyak Maiko di Kyoto. Maiko adalah murid Geisha yang sedang berada dalam masa training. Karena sewa Geisha per jam sangat mahal, rata-rata hanya Maiko yang bertugas melayani tamu dengan diawasi langsung oleh Geisha yang men-training-nya. Sayang sekali, Maiko hanya bekerja pada malam hari, sehingga sulit ditemukan (lagi pula mereka bekerja didalam Machiya). Kami hanya melihat 3 Maiko saja, 2 orang ketika berada di Kiyomizudera (sepertinya diundang untuk sesi foto) dan 1 orang ketika berkeliaran di daerah Hanamikoji pada malam hari setelah pulang dari Kiyomizudera.

Salah satu dari koi Uranai no Ishi (Batu peramal cinta)

Salah satu dari sepasang Koi Uranai no Ishi (Batu peramal cinta)

Kiyomizudera yang berarti kuil air murni merupakan kuil Buddha yang dibangun “tanpa paku” dan berada diatas bukit dengan susunan pilar pada konstruksi dasar bangunan. Terus terang saja, Kiyomizudera merupakan tempat favoritku jika berkunjung ke Kyoto terutama sewaktu menikmati matahari terbenam disana sambil memandang kota Kyoto dari atas bukit. Di sebelah kompleks kuil terdapat jinja (kuil Shinto) bernama Jishu Jinja yang didedikasikan bagi dewi cinta dan jodoh. Disana akan ditemukan sepasang batu peramal cinta yang berjarak sekitar 18 meter. Silahkan baca di wikipedia tentang legenda dibalik Kiyomizudera kalau tertarik.

Kiyomizudera di waktu senja

Kiyomizudera di waktu senja

Setelah menikmati matahari terbenam di atas beranda Kiyomizudera, kami turun dari atas bukit setelah hari gelap dan sempat berputar-putar disekitar daerah Gion sebelum pulang kembali ke Osaka dan menginap di Manga Cafe daerah Dotonbori seperti hari sebelumnya. Malam itu benar-benar capek sehingga semua fasilitas Manga Cafe seperti makan eskrim dan minum sof drink/kopi/coklat, main PlayStation, serta Internet tak terlalu menarik perhatian. Setelah mandi, langsung tidur terkapar untuk mempersiapkan hari esok perjalanan ke 大阪城 (Osaka-Jou alias Kastil Osaka).

Bersambung: bagian akhir, Osaka Castle.

Koran Jepang tentang demo AV idol di Indonesia

Media cetak maupun televisi Indonesia memang ribut membahas pro kontra kedatangan Maria Ozawa untuk membintangi film yang direncanakan berjudul menculik Miyabi (padahal di Jepang sendiri, Ozawa sudah lama tak memakai nama panggung miyabi). Bagaimana dengan media cetak Jepang? Ternyata berita tentang pro kontra ini juga ada yang menghiasi media cetak Jepang, walaupun harus diakui bahwa hanya satu dari media cetak beroplah besar yang memberitakan hal ini yaitu Asahi Shimbun, itupun hanya memberikan sedikit info tanpa opini. Yomiuri Shimbun dan Mainichi Shimbun malah tak pernah menyinggungnya sama sekali. Berita tentang Indonesia yang mendominasi isi koran oplah besar ternyata mengenai gempa di Sumatera beberapa minggu yang lalu, termasuk cara penanggulangan, sistem pemberian bantuan obat-obatan dan makanan yang masih mengecewakan hingga berbagai macam tetek bengeknya seperti tentang konstruksi rumah masyarakat Indonesia yang gampang runtuh, walau terkena gempa berskala kecil sekalipun.

Asahi Shimbun
Asahi Shimbun membahas tentang kemungkinan pencekalan Maria Ozawa masuk ke Indonesia untuk tujuan syuting film, sehingga menyebabkan jadwal syuting film menculik miyabi tersebut terpaksa ditunda. Selain menuliskan komentar Menkominfo M. Nuh, Asahi Shimbun juga menuliskan keberadaan UU anti-pornografi.
“Walaupun tidak bugil, AV idol dilarang syuting” oleh Asahi Shimbun (10/13 ‘2009)

Shikoku Shimbun/Fukui Shimbun/Chuugoku Shimbun, dll
Shikoku Shimbun, dll menekankan tentang kontroversi kedatangan Ozawa-san yang berhubungan dengan keberadaan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar sedunia. Lucunya, koran ini juga menampilkan foto lampiran pedagang kaki lima yang sedang menjajakan jualan DVD bajakan Maria Ozawa di trotoar jalan. Berita yang ditampilkan oleh beberapa koran online ternyata mempunyai isi yang sama, kadang dengan judul berbeda.
“Demo menolak pemakaian artis AV idol” oleh Shikoku Shinbun (10/14 ‘2009)
“Demo menolak pemakaian artis AV idol” oleh Fukui Shimbun (10/14 ‘2009)

Resensi pendek dan singkat

Selama 2 minggu nonton film dari yang ringan hingga yang agak berat, tapi males banget bikin review. Sepertinya virus kemalasan sedang menyerang para blogger akhir-akhir ini. OK, kali ini cuma review singkat saja dari hasil nonton dua minggu.

1. Tracing Shadow

Genre: Kungfu, Comedy
Sebetulnya film produksi Hongkong ini tidak terlalu istimewa menurutku, hanya saja kemunculan 3 pelawak dengan tampang mirip trio superstar Hongkong Jackie Chan, Jet Li dan Andy Lau plus gerombolan penyaru penyanyi Hip Hop asal Taiwan Jay Chou cukup memeriahkan film kungfu komedi yang dibalut petualangan mencari harta karun ini. Sayangnya hanya sekedar meriah, dalam artian tanpa berisi. Kehadiran anak kandung Jackie Chan yang bernama Jaycee ternyata tak terlalu menolong film ini untuk jadi lebih baik. Tapi untuk sekedar hiburan sih lumayan lah.

Mau lihat tampang plagiator sang superstar mirip apa tidak? silahkan lihat disini:
Trailer Tracing Shadow

Rating: 2.5/5

2. 20th Century Boys, 2nd Chapter

Genre: Adventure, Mystery
Sekali lagi aku kecewa dengan film Jepang dengan budget besar adaptasi dari salah satu manga favoritku ini. Setelah plot cerita yang lumayan dengan gaya flash back pada chapter pertama, bagian kedua ini justru berjalan datar begitu saja mirip dorama tanggung. Ada dua hal hal yang menarik perhatianku yaitu, pertama keberadaan si cakep imut Airi Taira yang berperan sebagai Kanna. Yang kedua adalah kemunculan Kenji kembali diakhir film sambil mengendarai motor, plus menggendong gitarnya. Bagi pengemar versi manga-nya mungkin film ini cukup mengesankan. Tapi bagi penggemar film, adaptasi kali ini menurutku mengecewakan.

Rating: 2.5/5

3. Mother (Judul Korea: Madeo)

Genre: Drama, Mystery, Detective
Film ini mengalahkan Thirst, film pastor yang berubah jadi vampir karya sutradara langganan festival Park Chan-wook dalam ajang pengiriman film wakil Korea Selatan ke ajang Academy Award. Tapi sutradara Mother sendiri bukan orang sembarangan. Nama Bong Joon-ho yang dikenal sebagai pembuat film adaptasi dari kisah nyata Memories of Murder yang juga banyak mendapatkan apresiasi positif kritikus dari berbagai ajang festival internasional.

Seperti juga Memories of Murder, Joon-ho sekali lagi menampilkan sinematografi yang menakjubkan dalam film Mother ini. Kisah seorang ibu biasa yang menjadi detektif amatir dadakan demi membuktikan ketidak bersalahan anak kesayangannya yang berpenyakit mental dalam kasus pembunuhan seorang anak sekolah. Kim Hye-ja berperan sebagai ibu yang akan berbuat apa saja demi anaknya, berakting bagus dan menyentuh perasaan. O iya, film ini adalah come back Won Bin setelah sekian lama absen dari dunia layar lebar. Aktingnya sebagai terdakwa pembunuh, seorang pria dewasa tapi berpikiran seperti anak kecil cukup meyakinkan. Berbeda dengan genre film “drama sedih” asal Korea seperti biasanya, sedih dalam film ini justru penuh dengan ironi kasih sayang ibu.

Rating: 3.75/5

4. The Taking of Pelham 123

Genre: Action, Thriller
Sebenarnya film bertema pembajakan kereta listrik ini lumayan bisa memberikan premis positif. Sayang, hanya sekedar premis tidak diikuti dengan kenyataannya. Akting Denzel Washington dan John Travolta tidak terlalu istimewa, walaupun tidak bisa dianggap jelek. Standar akting para aktor kelas atas lah. Lumayan tegang sih, tapi masih jauh untuk mendapatkan pujian sebagai film thriller terbaik. Hal yang paling menarik justru bukan pada cara pembajakannya, melainkan hubungan antara pasar saham dan ide membajak geng John Travolta.

Rating: 3/5

5. Overheard

Genre: Drama, Thriller
Film yang mengisahkan regu khusus para tukang sadap anggota kepolisian Hongkong ini lumayan menarik menurutku, apalagi dengan menampilkan rutinitas hidup para anggota regu yang kerjanya hanya menunggu, menunggu dan menunggu sang tersangka kasus trading saham ilegal kelepasan ngomong untuk dijadikan bukti di pengadilan. Sayangnya ketegangan diawal film ketika mereka memasang penyadap cuma begitu saja. Sisanya hanya menceritakan drama kehidupan anggota regu tanpa unsur suspense yang kuat, walaupun eksekusi diakhir film agak diluar dugaanku.

Rating: 3/5

6. Zombieland

Genre: Horror, Comedy, Road Movie
Campuran film zombie dan road movie ini sangat sukses meraih dollar dalam daftar box office movie. Ramuan komedi yang pas dalam perjalanan 4 survivor serangan zombie ini enak ditonton sebagai hiburan. 4 karakter berbeda dengan chemistry unik, dengan sukses ditampilkan untuk menghadapi para zombie. Tiap karakter diberikan nama berdasarkan daerah asal mereka yaitu Tallahassee, Colombus, Wichita dan Little Rock. Karakter Tallahassee yang dimainkan oleh Woody Harrelsson cukup menarik, terutama hobinya yang lebih suka membantai zombie dengan “penuh gaya” dari pada langsung tembak hingga menghadirkan Zombie Kill of the Week sebagai hiburan. O iya, komedian Bill Murray muncul sebentar sebagai dirinya sendiri yang selamat dari serangan zombie. Percayalah, Bill Murray masih mampu memancing tawa dari penampilannya yang cuma secuil itu. Tapi film ini tetap saja hanya sebuah film hiburan yang setelah ditonton dengan gampang dilupakan.

Rating: 3.25/5

K-On! Real Live Compilation

Lagi nggak mood bikin review anime K-On! Buat gantinya, aku bikin postingan ini saja. Walaupun secara plot dan cerita, K-On! masih kurang luar biasa sebagai sebuah anime, tetapi jika ditinjau dari segi musikalitas kukira anime bertema kelompok musik ini patut diacungi jempol. Lagu-lagu yang dibawakan oleh grup fiksi Houkago Tea Time alias After School Tea Time yang mewarnai anime 12 episode (plus 1 special episode) bagus dari segi aransemen musiknya. Selain laku dipasaran*), ending theme song Don’t Say Lazy juga berhasil meraih penghargaan Best Theme Song dalam Animation Kobe Award 2009. Kesuksesan ini dilanjutkan dengan perilisan CD single khusus image character’s song) yang menampilkan masing-masing karakter anime dengan seiyuu (pengisi suara) sebagai vokalis. Hampir seluruh lagu diciptakan dan diaransemen oleh Hyakkoku Hajime. Mengenai siapa vokalis Houkago Tea Time yang lebih cocok antara Mio dan Yui, Arm-suhu juga telah membahasnya di postingan ini

*) single opening dan ending song Cagayake! Girls dan Don’t Say Lazy masuk peringkat 1 dan 2 single terlaris ORICON selama 2 minggu, mini album yang dirilis dengan judul band fiktif mereka “Houkago Tea Time” berhasil masuk peringkat satu album terlaris ORICON per minggu, sehingga menyebabkan album ini semenjadi album band fiktif pertama yang berhasil menduduki peringkat satu album terlaris versi ORICON.

Postingan ini hanya menampilkan para musisi yang membawakan lagu-lagu Houkago Tea Time secara live. Versi Cover Band mana yang paling anda suka? Silahkan nikmati.

Opening Theme Song “Cagayake! Girls”

—-

Ending Song “Don’t Say Lazy”

—-

Insert Song “Fuwa-Fuwa Time”

—-

Insert Song “Watashi no Koi ha Hocchikisu”

Another season with a brand new story

Bulan September biasanya memang menjadi awal penayangan season baru serial TV di USA dan sekitarnya. 4 buah serial TV yang biasa kuikuti setiap minggu sampai sekarang juga mulai menayangkan episode terbaru mereka dibulan September. Diawali oleh penayangan episode perdana season 5 oleh serial Supernatural pada 10 September 2009 dan diakhiri oleh episode terbaru season 4 serial milik stasiun TV Canada yang berjudul Little Mosque on the Prairie pada 28 September 2009.

Supernatural
Kali ini serial Supernatural memasuki akhir dari penayangannya dengan menampilkan musuh terbesar dua bersaudara Winchester yaitu Lucifer. Nikmatilah petualangan akhir Dean dan adiknya Sam dalam season pamungkas ini, sebab kreator serial Eric Kripke sudah beberapa kali menyatakan kalau rancangan dasar serial ini mencakup 5 season. Setelah menyaksikan episode 1 hingga 3, aku merasakan kalau season kali ini akan lebih berfokus pada hubungan persaudaraan Dean dan Sam serta perselisihan mereka dengan Lucifer dalam mencegah Apocalypse. O iya, Misha Collins pemeran Malaikat Castiel kali ini naik pangkat menjadi regular cast.

Heroes
Sebenarnya aku agak kecewa dengan ending season 3 volume 4: Fugitive tahun lalu. Cara mereka menghidupkan kembali karakter Nathan benar-benar tak masuk akal. Mengapa para penulis melupakan cara mereka menghidupkan karakter Noah Bennet lewat transfusi darah Claire? Sangat bodoh kalau para penulis tak mengidahkan cerita dalam episode-episode sebelumnya, karena serial ini memiliki cerita berkelanjutan.
Tapi bagaimanapun juga serial ini masih cukup menarik untuk diikuti dengan ditampilkannya tokoh-tokoh baru dengan kekuatan berbeda, untuk mendampingi tokoh-tokoh Heroes reguler yang terus terang saja developing character-nya mulai membosankan.

Dexter
Sang serial killer favorite pemirsa kembali beraksi. Kali ini Dexter harus membagi perhatiannya antara hobi membunuh, kerja di laboratorium kepolisian dan kewajiban sebagai kepala keluarga. Dexter yang telah memiliki seorang istri cantik, 2 anak tiri, dan satu anak kandung yang masih bayi agak kesulitan mengatur waktunya. Masih cukup menarik untuk disimak lebih lanjut season ke 4 yang dimulai 27 Oktober 2009 kemarin.

Little Mosque on the Prairie
Ketika menyadari tokoh Reverend Magee telah angkat kaki dari serial ini, aku benar-benar kecewa. Tokoh pendeta favorite ku telah diganti dengan karakter pendeta baru yang bernama Rev. Thorne. Mengecewakan memang, namun tokoh Thorne yang sinis dan terkesan mirip gaya Chandler dalam serial Friends ternyata lumayan juga. Mungkin dia dimasukkan ke dalam serial untuk menambal sikap muslim-phobia Fred Tupper yang mulai lunak sejak season ke 3 tahun lalu. Mulai tahun ini, celetukan lucu dan segar Rev. Magee akan diganti dengan celetukan sinis dan offensive milik Rev. Thorne. Syukurlah tokoh J.J. yang menyebalkan itu telah disingkirkan karena mengganggu suasana serial sitcom ini menjadi drama romantis di tahun lalu.

Royal Tramp 2008

Judul lain: The Duke of Mount Deer, Lu Ding Ji, Pangeran Menjangan.
Produser: Zhang Jizhong
Pemain: Huang Xiaoming, Wallace Chung
Jumlah seri: 45 episode (Hongkong cutted version), 50 episode (versi RRC)

“It does not matter whether a cat is black or white. A cat that catches mice is a good cat.”(quoted from Deng Xiaoping)

royaltrampNovel wuxia alias cerita silat (cersil) yang diadaptasi menjadi serial ini merupakan novel terbaik karya Jin Yong menurut versiku. Bagaimana tidak? intrik, plot cerita dan terutama penokohan sangatlah unik bila dibandingkan dengan cersil karya Jin Yong maupun penulis terkenal lainnya seperti Gu Long, Liang Yusheng, Wen Ruian dkk. Bagi anda yang gemar membaca cersil karya penulis China seperti kawanan diatas maupun penulis lokal seperti Kho Ping Hoo, tentu akan mendapatkan ciri-ciri tokoh utama yang hampir pasti mirip. Lihatlah tokoh Guo Jing (Legend of Condor Heroes), Li Mubai (Crouching Tiger Hidden Dragon) dan Chen Jialuo (Holy Book and Sword) yang punya karakter pendekar sejati dan berbudi luhur alias orang gagah didunia persilatan. Atau karakter jago silat tangguh tanpa tanding seperti Yang Guo (Return of the Condor Heroes), Zhang Wuji (Heaven Sword and Dragon Sabre), maupun Li Xunhuan si pisau terbang (Flying Dagger series) akan terpatri dibenak anda sebagai tipe jagoan utama cersil yang sudah lazim. Tokoh pintar, licik penuh tipu muslihat biasanya diasosiasikan dengan musuh besar sang jagoan seperti halnya tokoh Yang Kang (musuh dalam selimut sekaligus saudara angkat Guo Jing dalam Legend of Condor Heroes) sampai Seng Kun (si licik dalam Heaven Sword and Dragon Sabre).

Dalam cersil ini, tokoh utama justru ditampilkan berkebalikan dengan ciri khas tokoh utama cersil seperti biasa, malah cenderung satu tipe dengan sifat musuh besar jagoan. Anda akan mendapatkan sang protogonis Wei Xiaobao yang pemalas, serakah, licik, tukang main perempuan, hobi judi, bermulut manis, tukang sogok, penuh dengan tipu muslihat. Sampai-sampai kategori khas jagoan utama yang jago silat pun tak dimiliki olehnya karena Wei Xiaobao sama sekali tak berbakat belajar ilmu silat. Satu-satunya kemampuan bela diri yang dimilikinya hanyalah ilmu melarikan diri. Dengan plot yang terbalik dibandingkan apa yang biasanya kita dapatkan dalam cersil, parodi dunia nyata dengan karakter yang abu-abu justru membuatku jatuh cinta serta menempatkan cersil ini sebagai the best wuxia novel that I ever read.

Plot cerita
Setting cerita dimulai dari jaman dinasti Qing, ketika suku bangsa Manchu menguasai daratan China. Wei Xiaobao, anak pelacur tanpa ayah yang jelas dari rumah bordil di Yangzhao, merantau ke kota raja Beijing ketika masih kecil dan masuk ke kota terlarang tempat tinggal kaisar sebagai kasim gadungan. Tanpa sengaja Xiaobao bertemu dengan kaisar Kangxi yang seusia dengannya dan Xiaobao yang tak tahu menahu dengan status sang kaisar cilik, berteman sebagai mana layaknya anak kecil lainnya. Cerita terus berlajut dengan Xiaobao sadar dengan status sahabat karibnya dan kondisi Wei Xiaobao pun berubah menjadi bawahan kepercayaan kaisar Kangxi.

Dilain cerita, Wei Xiaobao bertemu dengan kelompok anti-Manchu Tiandihui dan menjadi murid tunggal ketuanya Chen Jinnan, malah kemudian menjadi ketua cabang Tiandihui. Sejak itu Xiaobao menjalankan perannya sebagai agen ganda yaitu bawahan yang loyal bagi teman karibnya kaisar Manchu Kangxi sekaligus mata-mata dalam istana bagi Tiandihui. Dengan akal liciknya, mulut manis, tipu daya serta keberuntungannya yang besar, Xiaobao mampu menyelesaikan berbagai tugas berat yang diembankan oleh kaisar Kangxi dengan sukses sekaligus dilain pihak menyelamatkan para anggota Tiandihui dari kejaran pasukan kerajaan Manchu. Dalam petualangannya, Wei Xiaobao yang playboy berhasil memperistri 7 wanita cantik dengan akal bulusnya dan memperoleh 3 anak.

Akhirnya kaisar Kangxi mengetahui status Xiaobao dalam Tiandihui dan memaksa Xiaobao memilih antara dirinya sebagai teman atau Tiandihui. Satu-satunya karakter Wei Xiaobao yang baik dan menjadi kelemahannya adalah loyalitas. Xiaobao ingin sekali bisa loyal terhadap Kangxi sekaligus loyal kepada gurunya Chen Jinnan yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri, dan itu pula yang menyebabkan Xiaobao rela menjadi agen ganda. Xiaobao akhirnya sadar kalau dinasti Qing yang notabene bangsa Manchu dan Tiandihui yang ingin mengembalikan kekuasaan China ditangan suku bangsa Han tak bisa disatukan bagaikan air dan api.

wxbwives_bed
Wei Xiaobao dan 7 istri cantiknya

Sebenarnya novel wuxia ini sudah beberapa kali diadaptasi menjadi film layar lebar maupun serial TV. Yang terkenal diantaranya adalah film layar lebar Royal Tramp dengan Stephen Chow sebagai Wei Xiaobao dan serial TV The Duke of Mount Deer versi tahun 1984 dengan Tony Leung sebagai Xiaobao dan Andy Lau sebagai kaisar Kangxi (pernah disiarkan Indosiar dengan judul Pangeran Menjangan). Seperti juga halnya dengan cersilnya, produser Zhang Jizhong menggarap serial ini dengan penekanan pada tipu muslihat Xiaobao dan intrik yang melingkupinya, sehingga adegan laga tidak terlalu banyak dan malah boleh dikatakan kurang seru. Dalam beberapa hal versi 2008 ini memiliki irama penceritaan yang sama dengan versi 1984-nya Tony Leung-Andy Lau yang lebih berfokus pada hubungan persahabatan aneh antara kaisar Kangxi dengan Wei Xiaobao. Yang patut disayangkan, petualangan Xiaobao di Rusia dengan putri Sophia justru hanya diberikan berupa potongan kecil. Padahal kalau porsinya diperbesar dengan mengurangi beberapa adegan konyol yang tak penting tentu menambah daya tarik serial ini.

HeZhuoYan081Kelebihan serial ini tentu sudah bisa ditebak, yaitu kasting aktris pemeran 7 istri Xiaobao semuanya cakep dengan ciri khas masing-masing. Ada yang cakep judes, cakep anggun, cakep matang, cakep innocent, cakep imut, semuanya ada. Walaupun demikian karakter favorite ku tetaplah pemeran Shuang-erl (He Zhuoyan) yang cakep imut. :mrgreen: Selain itu juga desain kostum, sinematografi serta set dekorasi nya yang memukau patut mendapat pujian karena detailnya. Musical score nya juga lumayan memikat. Mungkin yang agak mengganggu adalah akting beberapa pemeran utamanya. Huang Xiaoming yang berperan sebagai Wei Xiaobao agak kaku pada awalnya, tetapi menjelang pertengahan terlihat dia sudah bisa menghayati karakter Wei Xiaobao. Wallace Chung sendiri terlihat kurang berwibawa dalam membawakan peran Kangxi. Justru yang mencuri perhatian adalah dua aktor cilik yang memerankan Xiaobao dan kaisar Kangxi kecil.

Salah satu isu yang dicoba untuk diangkat oleh Jin Yong dalam cersil karyanya yang terakhir ini adalah patutkah suku bangsa minoritas menjadi penguasa negeri dan memerintah suku mayoritas. Kebanyakan cersil (termasuk karya Jin Yong sebelumnya) memposisikan suku bangsa Manchu sebagai penjajah suku mayoritas Han di daratan China. Berdasarkan sejarah China yang tercatat, Kangxi termasuk salah satu kaisar yang berhasil memerintah China dengan sukses dan membuat rakyatnya aman makmur sentosa hingga jaman cucunya kaisar Qianlong (Kangxi merancang banyak pembangunan hingga diantaranya masih berlanjut sampai jaman cucunya memerintah). Walaupun ayah Kangxi seorang kaisar Manchu, ibunya berasal dari campuran suku bangsa Han bermarga Tong. Akan tetapi tetap saja hal ini belum memuaskan para pemberontak anti-Qing.

Sebetulnya kondisi Indonesia cukup mirip dengan China, yaitu memiliki banyak suku yang tersebar di seluruh negeri. Sadarkah anda kalau sejak memproklamirkan kemerdekaan, Indonesia hampir selalu dipimpin oleh presiden dari suku mayoritas? Mungkin posisi Sukarno mirip dengan kaisar Kangxi yang ibunya masih turunan suku berbeda. Pernah ayahku bercerita ketika beliau masih sekolah di kota Yogyakarta awal tahun 1960-an, banyak orang Jawa yang mengatakan Mohammad Hatta sebagai tukang nebeng Sukarno :lol: . Padahal menurutku yang pernah membaca beberapa karya tulis duo proklamator itu, isi pikiran Hatta jauh lebih rasional, maju dan rapi perencanaannya dibandingkan dengan kolega proklamatornya. Jaman sekarang juga masih banyak yang mengkampanyekan pemimpin yang putra daerah, alias turunan suku mayoritas (jadi ingat jaman kampanye Habibie yang mengklaim dirinya masih turunan bangsawan Jawa). Bagaimana dengan anda sendiri? Setujukah anda jika misalnya Indonesia dipimpin oleh orang yang asli suku Dayak, Asmat atau suku minoritas lainnya? Atau paling tidak, untuk pemimpin tingkat propinsi lah.

Kutipan Deng Xiaoping tentang kucing diatas dijadikan opini Wei Xiaobao pada akhir novel untuk mengungkapkan visi Jin Yong tentang kepemimpinan.

Relevansi Sejarah
Dalam petualangannya Wei Xiaobao banyak bertemu dengan tokoh yang akan berperan dalam sejarah dinasti Qing, khususnya pada masa pemerintahan kaisar Kangxi. Diantaranya yang sangat terkenal adalah:

Oboi, jenderal Manchu yang berkuasa mewakili Kangxi yang masih kecil dan membuat Kangxi menjadi kaisar boneka. Xiaobao membunuhnya untuk membantu Kangxi meraih kekuasaannya secara mutlak.
Wu Sangui, mantan jenderal dinasti Ming yang berkhianat dan berencana memberontak untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan dinasti Qing. Xiaobao membantu Kangxi dengan cara mengadu domba antar rekan Wu Sangui, sehingga kekuatan militer Wu Sangui menjadi lemah.
Chen Yuanyuan, wanita paling cantik seantero China pada jamannya dan menjadi ibu salah satu istri Xiaobao.
Li Zhicheng, pemberontak yang meruntuhkan dinasti Ming dan mengangkat dirinya menjadi kaisar baru, walaupun akhirnya harus turun tahta dengan cepat karena dikalahkan oleh bangsa Manchu.
Putri Changping, putri kaisar terakhir dinasti Ming yang menjadi guru salah satu istri Xiaobao dan Xiaobao sendiri.
Shi Lang, Laksamana yang menghancurkan sisa-sisa kekuasaan jenderal dinasti Ming di Taiwan. Shi Lang yang namanya kurang dikenal direkomendasikan oleh Xiaobao kepada kaisar Kangxi dan memimpin angkatan laut Manchu dalam menaklukkan Taiwan.
Zheng Keshuang, raja terakhir kerajaan Tungning turunan jenderal dinasti Ming (Koxinga) penguasa Taiwan.
Putri Sophia, anak perempuan Tsar Russia yang dibantu oleh Xiaobao mengkudeta saudara tirinya Peter I.

Un Prophete – Sang Nabi dibalik Terali

Judul lain: A Prophet
Sutradara: Jacques Audiard
Pemain: Tahar Rahim, Niels Arestrup

Bukanlah pekerjaan gampang untuk membuat film yang bersetting didalam penjara. Selain harus memaksimalkan ruang yang relatif sempit karena syuting ditempat yang itu-itu saja, sutradara harus pintar-pintar menerjemahkan isi skenario sehingga membuat film buatannya tidak membosankan selama 2 jam. Memang tak banyak-banyak amat film penjara yang pernah dibuat karena agak sulit membuatnya menjadi film menarik dan kalau bisa cukup komersil. Lihat saja film Lock Up nya Sylvester Stallone yang membosankan dan kurang laku, walaupun menjual nama si Rambo. Berbanding terbalik dengan film bertema serupa seperti Shawshank in Redemption dan The Green Mile buah karya dari novel adaptasi Stephen King yang sangat menarik untuk ditonton. Film ini disutradarai oleh Jacques Audiard yang dikenal sebagai sutradara The Beat That My Heart Skipped, sebuah film wajib tonton yang mengantarkannya meraih gelar sutradara terbaik Cesar award. Menurutku Audiard berhasil menyuguhkan penjara sebagai sebuah tempat tinggal yang penuh dengan kesedihan, ketakutan, kekerasan, kegembiraan, kebersamaan, sekaligus tempat untuk memulai harapan baru.

Malik El Djebena, pemuda 19 tahun yang ummi (tak bisa membaca dan menulis) masuk penjara sendirian tanpa kawan maupun lawan dengan masa hukuman 6 tahun. Setelah melewati masa orientasi alias diplonco penghuni penjara lainnya, pemuda ini direkrut oleh kepala geng Corsica Luciani yang mempunyai kekuasaan cukup besar dalam penjara demi menyelesaikan misi-misi yang tak bisa dilakukan anak buahnya secara langsung. Tak bisa menolak perintah Luciani karena terancam jiwanya selama masih didalam penjara, Malik bersedia menjalankan perintah Luciani. Sejak itu tak ada yang berani mengganggu Malik lagi, karena Malik telah berada dibawah proteksi geng Corsica.

Malik yang awalnya polos perlahan tapi pasti semakin tangguh seiring dengan kerasnya kehidupan penjara yang dijalaninya. Dengan cepat Malik beradaptasi dengan kondisi sekelilingnya, mengatasi masalah buta hurufnya dengan belajar di kelas khusus dalam penjara, dan juga belajar cara “berorganisasi”. Dibalik sikap penurut terhadap Luciani, ternyata Malik memiliki keberanian dan kepintaran untuk menentukan nasib bagi dirinya sendiri.

Walaupun judulnya memberikan kesan film bertema agama (terutama Islam), filmnya sendiri hanya sedikit menyinggung hal yang berkaitan dengan Islam, khususnya sebagai identitas komunitas etnis Arab. Inti cerita sesungguhnya adalah kritik sosial kemasyarakatan sistem pengelolaan penjara Perancis, terutama refleksi kondisi penjara dan para penghuninya termasuk petugas penjara. Bagian yang paling menarik menurutku berada diproses transformasi seorang pemuda biasa berubah menjadi sosok licik yang pandai memanfaatkan situasi akibat tertekan dan mengambil pelajaran dari orang-orang disekitarnya dalam penjara. Disisi lain juga membahas isu pertumbuhan populasi etnis Arab di Perancis yang semakin pesat. Seluruh isu ini diarahkan oleh Audiard dengan gaya sinisme sekaligus menampilkan sisi realis kehidupan penjara yang penuh dengan kekerasan demi sebuah tujuan yang bernama bertahan hidup. Selain itu juga ditampilkan beberapa adegan fantasi, termasuk penampilan sosok hantu Reyeb, tahanan yang dibunuh Malik atas perintah Luciani. Sosok hantu Reyeb yang ditampilkan dengan gaya realisme ini seakan-akan justru mengarahkan Malik untuk menentukan langkah demi masa depannya sendiri.

Akting para pemainnya sangat bagus, terutama duo Tahar Rahim dan Niels Arestrup yang berperan sebagai Malik dan Luciani. Sepertinya diantara mereka berdua terdapat chemistry yang mengikat antara sosok bawahan-boss hingga murid-guru. Benar-benar tak kusangka kalau Rahim adalah pendatang baru dalam dunia film. Setting penjara yang diambil oleh Audiard sangat membantu menampilkan suasana yang diinginkan sang sutradara, ini tidak terlepas dari usaha Audiard dengan menyewa para mantan tahanan sebagai penasehat sekaligus sebagai aktor figuran. Satu lagi hal yang mungkin agak aneh menurutku (walaupun sebenarnya lebih dikarenakan aku tidak tahu sistem pengelolaan penjara ala Perancis), yaitu bagi tahanan yang berkelakuan baik diberikan kesempatan untuk keluar penjara selama beberapa hari sebelum akhirnya mendapatkan remisi penuh.

Sebuah film dengan setting penjara terbaik yang pernah kutonton di tahun ini, sehingga sayang sekali untuk dilewatkan oleh para penggemar film serius. Menurutku, film ini layak untuk masuk putaran final kategori film berbahasa asing terbaik piala Oscar tahun depan.

Rating Film: 4.25/5

Largo Winch – thriller Perancis adaptasi komik Belgia

Aku memang lebih tertarik nonton film thriller buatan Perancis dari pada buatan Hollywood, padahal kalau dipikir-pikir buatan Hollywood jauh lebih bombastis dan banyak menampilkan adegan-adegan seru yang memakan banyak uang dollar. Selain itu juga, film thriller Perancis seringkali memakai cara penceritaan yang agak lambat diawal film, baru kemudian perlahan semakin cepat setelah pertengahan film. Beda dengan film Hollywood yang selalu berusaha menampilkan adegan tegang disetiap menit. Tapi ada satu kelebihan film thriller Perancis yang kusuka, mereka pandai sekali menyimpan kejutan-kejutan spesial yang akan membuat anda tahan menyimak setiap adegan hingga film habis. Kejutan-kejutan itu bagaikan kado yang disimpan dalam kotak yang berlapis-lapis bungkusnya dan disingkap sehelai demi sehelai sehingga membuat anda penasaran. Contoh film thriller Peracis yang kusuka adalah Tell No One yang pernah kubahas sebelumnya.

Film dimulai dengan dibunuhnya Nerio Winch (Miki Manojlovic) milyuner Perancis berdarah Balkan di kapal pesiarnya yang berada di perairan Hongkong. Karena kematiannya bisa menyebabkan kericuhan bursa saham dan mengacukan perekonomian dunia (mengingat perusahaan Winch Group W termasuk salah satu yang terbesar seantero jagat), kematian Winch dilaporkan akibat penyakit kanker. Dewan direksi Group W pimpinan direktur sementara Ann Ferguson (Kristin Scott Thomas) menjadi kacau balau, apalagi mereka baru mengetahui kalau si Winch tua ternyata mewariskan 65% saham miliknya kepada Winch junior bernama Largo yang keberadaannya dirahasiakan hingga tak satupun anggota direksi mengetahuinya. Largo Winch (Tomer Sisley) adalah anak angkat Winch tua yang memang sudah dipersiapkan untuk menggantikan kedudukannya sebagai boss kerajaan bisnis Winch.

Largo sediri sebenarnya enggan untuk melanjutkan kekuasaan bisnis ayah angkatnya, terlihat dari sikap pemberontakannya yang lebih suka bertualang sekehendak hatinya hingga masuk penjara dibelahan bumi Amerika Selatan dengan tuduhan menyelundupkan narkotik. Sampai akhirnya Largo mendapatkan bahwa ayah angkatnya bukan mati karena kanker, melainkan dibunuh. Dari sini mulailah cerita petualangan Largo dalam membuktikan dirinya sebagai pewaris asli kerajaan bisnis Winch, mencari dalang pembunuh ayah angkatnya, menelusuri jejak latar belakangnya di panti asuhan sebelum dipungut, hingga berkelit dari incaran pembunuh ayahnya yang ingin menguasai Group W dengan cara menghabisi pewaris akhir keluarga Winch.

Walaupun seperti film Perancis lainnya yang mengawali kisah dengan lambat, film ini lumayan bisa membuatku penasaran dengan membuka bungkusan misterinya secara perlahan dan satu persatu. Siapa yang berkhianat, siapa yang jual informasi pada musuh, siapa yang menjadi dalang cukup sulit ditebak. Kadang musuh menjadi kawan dan begitu pula sebaliknya hingga aku sampai beberapa kali tertipu salah menduga dan menebak.

Meski secara keseluruhan menarik untuk ditonton, film ini bukannya tanpa kelemahan. Kadang aku merasa sutradaranya Jerome Salle kurang bisa memaksimalkan beberapa adegan tegang sehingga terasa kurang seru. Belum lagi proses edit yang kadang bikin bingung antara mana adegan flashback dan mana adegan masa kini sehingga membuatku bingung dengan kehadiran Nerio Winch yang terlihat seperti hidup kembali. Music score yang ditampilkan kurang membantu mewujudkan ketegangan beberapa adegan aksi, akan tetapi cukup manis dan mulus ketika mengiringi peralihan adegan flashback. Hal terakhir yang agak kusesalkan adalah beberapa miscasting termasuk komedian Tomer Sisley yang didapuk sebagai Largo yang serius serta peran beberapa anggota direksi yang tidak terlihat cocok sebagai anggota dewan pemegang saham.

Sekedar info, film ini merupakan adaptasi komik Belgia yang juga pernah dibuat serial televisinya tahun 2001 seperti halnya komik XIII yang juga penah kubahas. Penulis cerita komik ini sama dengan penulis cerita komik XIII yaitu Jean Van Hamme. Sekali lagi, film ini menekankan nilai jualnya pada thriller dan misteri, sehingga sayang dilewatkan bagi anda para penggemar film jenis ini.

Rating: 3.25/5

Next Page »