Bodyguards and Assassins

Film ini menceritakan tentang bentrokan antara orang-orang yang ingin membunuh founding father Republik China modern Dr. Sun Yat-sen dengan orang-orang yang ingin melindunginya pada setting waktu bulan Oktober tahun 1905 ketka Sun Yat-sen berkunjung ke Victoria City (Hong Kong jaman sekarang). Kunjungan Sun Yat-sen ke Hong Kong sendiri memang kejadian sejarah, hanya saja peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Sun Yat-sen yang menjadi tema film ini hanyalah kisah fiksi belaka. Film ini menampilkan 3 orang tokoh yang memang kutahu memiliki hubungan erat dengan revolusi China dan Kuomintang yaitu Sun Yat-sen sendiri, Chen Shaobai (rekan Sun sejak sekolah kedokteran) dan Li Yutang.
Continue reading ‘Bodyguards and Assassins’

Up in the Air – Traveling and Connecting

Life is better with company. Everybody needs a co-pilot
(Ryan Bingham)

Film ini adalah film pertama ditahun ini yang kutonton untuk mendapatkan nilai 4.5/5 dariku. Tak berlebihan memang, karena film ini menampilkan sebuah film utuh yang hampir tiada cacat. Sutradara film ini Jason Reitman boleh dibilang masih bau kencur kalau melihat jumlah film yang dihasilkannya, tapi jika melihat kualitas film yang diarahkannya, anda pasti akan terkesan dengan kemampuannya. Oh ya, kalau melihat nama keluarganya anda mungkin sudah bisa menebak kalau Jason masih punya hubungan keluarga dengan sutradara film komedi terkenal Ivan Reitman. Jason memang anak lelaki satu-satunya Ivan Reitman yang mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi sutradara. Film ini adalah adaptasi novel karya Walter Kirn dengan judul yang sama.

Perkenalkan sang tokoh utama Ryan Bingham (George Clooney), seorang motivator ulung umur 30-an tahun yang bekerja sebagai career transition counselor (bingung menerjemahkannya). Pekerjaan utamanya adalah menjadi konsultan bagi para karyawan yang baru dipecat supaya menemukan karir baru lainnya untuk dirintis kembali. Tentu saja sebelum memberikan konsultasi, tugas Ryan yang paling penting adalah memecat karyawan tersebut karena bos masing-masing tak punya nyali melakukannya. Untuk melakukan tugasnya, Ryan harus sering terbang (disebut sebagai flyer) kesana kemari keliling USA sehingga boleh dibilang kalau rumahnya adalah pesawat terbang dan keluarga terdekatnya adalah kru pesawat, dengan target pribadi untuk terbang hingga mencapai total jarak 100 juta mil.
Continue reading ‘Up in the Air – Traveling and Connecting’

The Message – Pesan atau Propaganda?

Film produksi China Mainland (RRC) ini bertaburan bintang-bintang serial silat terkenal China yang masing-masing sudah memiliki nama yang cukup dikenal oleh pecinta film-serial silat seperti Huang Xiao-ming (Yo Ko/Yang Guo dalam Return of The Condor Heroes 2006), Zhou Xun (Oey Yong/Huang Rong dalam Legend of The Condor Heroes 2003), Alec Su (Thio Buki/Zhang Wuji dalam Heaven Sword and Dragon Sabre 2003) hingga Li Bingbing (Penyihir rambut putih dalam The Forbidden Kingdom bareng Jet Li dan Jackie Chan). Film bertema thriller misteri dan bernuansa noir spionase ini diangkat dari adaptasi novel berjudul sama (judul asli feng sheng yang berarti suara angin alias gosip) karya Mai Jia yang memang cukup dikenal di RRC sebagai penulis novel misteri.
Continue reading ‘The Message – Pesan atau Propaganda?’

Julie & Julia: Film 2 in 1

Akhirnya penulis sekaligus sutradara Nora Ephron bikin film lagi setelah terakhir kalinya mengarahkan Nicole Kidman sebagai penyihir pada tahun 2005. Bagi penggemar film-film bertema feminis, tentu anda merasa akrab dengan nama Ephron yang telah menelurkan karya-karya penuh kenangan seperti Slepless in Seattle dan tentu saja karya fenomenalnya sebagai penulis, When Harry met Sally… Kali ini Ephron kembali ke kursi sutradara merangkap penulis skenario dan produser, mengarahkan aktris senior Meryl Streep dan juniornya Amy Adams dalam satu film dengan setting 2 masa (tahun 1950-an dan 2002) serta 2 lokasi (Perancis dan Amerika).
Continue reading ‘Julie & Julia: Film 2 in 1′

(500) Days of Summer/Rab ne Bana di Jodi

Apakah cinta itu manusiawi ataukah bersifat Illahi

(500) Days of Summer

Walaupun Roger Ebert memberikan nilai 4/4 dalam review yang dibuat olehnya, aku menonton film ini dengan harapan rendah dan hanya berharap untuk medapatan hiburan dari cerita komedi romantis. Tahu sendiri lah Mr. Ebert seperti apa, kadang beliau gampang ngasih nilai tinggi buat film yang biasa-biasa aja. Tak disangka, pada awal film saja sudah muncul tulisan “this is not a love story”. Eh? Film apa nih? Sepertinya Roger Ebert gak salah ngasih bintang buat film ini. Sebenarnya sudah banyak blogger tukang nonton yang membahas mengenai film ini, tapi aku tertarik untuk membahasnya dari sudut pandangku. Mengapa? Karena aku pernah mengalami sendiri bagaimana rasanya menjadi Tom Hansen.
Continue reading ‘(500) Days of Summer/Rab ne Bana di Jodi’

Resensi pendek dan singkat [2]

Akhir-akhir ini jatah nonton film serial berkurang karena banyak serial yang libur tayang menjelang natal dan tahun baru. Untuk mengisi kekosongan, film layar lebar kembali menjadi santapan penulis. Hanya saja karena lumayan banyak yang ditonton, ditambah malasnya penulis bikin resensi per film yang memakan waktu, akhirnya hanya membuat resensi pendek seperti ini yang bisa dilakukan. O iya, kali ini resensi pendeknya hanya menampilkan film-film produksi asia.

1. 4th Period Mystery (Korea, 2009)
Masih ingatkah kalian pada anak kecil yang minta fried chicken pada neneknya yang tua renta tapi malah dikasih ayam rebus dalam film Korea yang berjudul The Way Home? Yoo Seung-hoo adalah namanya, dan dia telah cukup dewasa untuk berperan sebagai anak SMU yang mencoba memecahkan kasus pembunuhan disekolah tempat dirinya belajar. Lumayan menghibur sih, terutama untuk penggemar wajah cewek-cewek korea yang cute dan menggemaskan. Tapi dari segi penggarapannya, misteri yang ditawarkan kurang gereget dan yang sangat terlihat adalah sutradaranya gagal membangun ketegangan. Padahal Yoo dan temannya hanya punya waktu untuk memecahkan kasus sampai jam sekolah berdentang di periode ke-4 tanda waktu ganti mata pelajaran. Jadinya malah mirip dengan drama remaja korea dengan selipan misteri pembunuhan yang renyah.

Rating: 2.75

2. Rebellion (Hongkong, 2009)
Shawn Yue mulai banyak terlihat wajahnya dalam film-film aksi produksi Hongkong akhir-akhir ini. Dalam film ini Yue berperan sebagai Po, tukang pukul boss gangster yang pada awal film sekarat akibat percobaan pembunuhan. Karena kekuasaan geng lowong selama menunggu penunjukan boss baru, Po ditunjuk sebagai boss sementara. Tentu saja hal ini membuat anggota geng lainnya merasa dilecehkan, cuma tukang pukul malah diangkat sebagai boss. Padahal masih ada anggota geng lainnya yang memiliki kekuasaan yang lebih besar. Film ini boleh dikatakan bergenre thriller detective karena selain menampilkan konflik antar geng, karakter yang dibawakan Yue juga bertindak sebagai detektif amatir untuk mencari dalang pembunuh si boss. Sayangnya akting Yue terlihat mentah dalam film ini, malah tokoh sekunder yang diperankan Champman To sebagai orang geng nomer dua lebih meyakinkan dibandingkan Yue. Aku benar-benar sebal dengan eksekusi akhir yang cuma menampilkan adegan flashback 3 bulan dan 1 tahun sebelumnya. Kesannya norak dan kayak tak punya ide untuk menampilkan ending yang lebih baik.

Rating: 2.75/5

3. Super Cub (Jepang, 2009)
Film ini mengambil tema yang agak mirip dengan film action komedi Perancis Taxi, hanya saja mobil Taxi digantikan perannya dengan motor ber cc rendah yaitu Honda Super Cub yang dipermak menjadi motor balap super cepat. Tokoh utamanya mantan jawara balapan liar Takeshi yang terpaksa bekerja part time di kedai soba ( jenis mie Jepang), termasuk mengantarkan pesanan dengan motor Honda Super Cub bergigi tiga. Ceritanya memang terlalu mengada-ada dan kadang humor orang Jepang dalam film ini terasa garing bagi penonton non-Jepang yang kurang mengerti tradisi humor orang Jepang.

Rating: 2.5/5

4. Murderer (Hongkong, 2009)
Film ini menarik perhatianku lebih dikarenakan posternya yang mengundang. Tampang manis Aaron Kwok disulap menjadi sosok yang aku sendiri sulit menggambarkannya. Marah? putus asa? gila? dendam? psikopat? entahlah. Yang pasti filmnya cukup menarik untuk diikuti. Thriller yang menegangkan, balutan misteri yang cukup bikin penasaran, plus sedikit adegan gory walaupun tak separah serial SAW. Aku suka dengan sinematografinya, tapi tidak dengan ritme yang dibangun oleh sang sutradara. Seharusnya film ini bisa jadi lebih menegangkan asalkan sutradaranya pandai mengatur tempo. Terlebih lagi Aaron Kwok terlihat over acting dalam memerankan tokoh detektif yang dicurigai sebagai pembunuh, apalagi pada adegan akhir yang menurutku gaya Kwok terlalu berlebihan.

Rating: 3.25/5

Menunggu penerus Ghibli: Karigurashi no Arrietty

Bagi penggemar film animasi buatan Ghibli, Studio Ghibli telah mengumumkan peluncuran film terbarunya yan berjudul Karigurashi no Arrietty (Arrietty si tukang pinjam) pada musim panas 2010. Film ini merupakan debut animator muda Ghibli kelahiran 1973 yang bernama Yonebanashi Hiromasa sebagai sutradara penuh, setelah sebelumnya bekerja dibawah mentornya Miyazaki Hayao (sebagai ilustrator dan animator Princess Mononoke, Spirited Away, Howl’s Moving Castle, hingga Ponyo) dan Takahata Isao (sebagai animator dalam My Neighbor Yamadas).

Karigurashi no Arrietty sendiri merupakan adaptasi dari serial novel The Borrowers karya penulis Inggris Mary Norton yang pernah di adaptasi ke dalam mini seri TV dan film layar lebar sebelumnya. Dua dari trio pendiri Studio Ghibli ikut terlibat dalam proyek ini. Miyazaki Hayao dikabarkan terjun langsung membantu Yonebayashi dalam pembuatan film animasi ini dibantu Suzuki Toshio sebagai produser, ketika Takahata sendiri sedang sibuk dengan proyek pembuatan film terbarunya yang telah lama ditunggu-tunggu, Taketori Monogatari yang dibuat berdasarkan cerita rakyat Jepang Kaguya Hime. Aku curiga, jangan-jangan kedua film ini bakalan dirilis barengan seperti Totoro dan Grave of the Fireflies. Bagaimanapun juga, karya perdana Yonebayashi ini patut ditunggu sekaligus menanti apakah regenerasi Ghibli akan berlangsung dengan sukses ataukah mereka harus menanti lagi dimasa depan, munculnya generasi baru yang akan melanjutkan tongkat estafet dari tangan trio Ghibli, Miyazaki, Takahata dan Suzuki.

Summer Wars – Antara perang virtual dan realita

Hito wo mamotte koso, onore mo mamoreru
~Dengan melindungi orang lain, diri sendiri juga terlindungi~

(Shimada Kanbei – Shichinin no Samurai aka Seven Samurai)
Para penggemar anime mungkin pernah mendengar nama sutradara Hosoda Mamoru sang sutradara versi anime adaptasi novel The Girl who leapt through time (dikenal dengan singkatan TokiKake) yang meraih penghargaan dimana-mana dan mengalahkan film buatan Ghibli, Tales from Earthsea yang dirilis pada tahun yang sama diberbagai festival. Kali ini Hosoda benar-benar fokus demi proyek Summer Wars hingga selama 3 tahun belakangan ini Hosoda hanya memiliki satu proyek saja dan menolak mengerjakan proyek yang lain. Hasilnya, Summer Wars tidaklah mengecewakan dari segi kualitas dan dapat menghibur orang-orang yang menontonnya. Film ini merupakan film anime kedua garapan Hosoda setelah debutnya 3 tahun yang lalu lewat TokiKake.
Continue reading ‘Summer Wars – Antara perang virtual dan realita’

Snow and Winter

Bulan Desember di Jepang berarti sudah mulai memasuki musim dingin dan di tempat-tempat tertentu (terutama Jepang utara) juga salju sudah mulai turun. Di Jepang tengah, walaupun salju belum turun tetapi udara sudah mulai turun dibawah 10 derajat di malam hari dan biasanya mulai mencapai puncak kedinginan di bulan januari. Aku sendiri tidak suka pada musim dingin, malah boleh dikatakan aku jauh lebih suka berpeluh-peluh berkeringat karena kepanasan dari pada meringkuk dibawah selimut sepanjang hari karena kedinginan.

Satu-satunya hal yang kusuka dari musim dingin hanyalah salju. Bukan salju yang bertumpuk di pekarangan ataupun salju yang berserakan di sepanjang jalan, tetapi lebih spesifik lagi salju yang turun dari langit. Melihat salju turun memang menyenangkan walaupun jika sudah sampai menjadi badai berubah menjadi menakutkan. Memasuki bulan Desember, WordPress juga menyediakan efek salju turun di halaman blog hingga awal Januari nanti. Untuk menyambut salju dan musim dingin, 3 buah tembang berlainan genre (Pop, Jazz fushion, dan JRock) yang dibawakan live oleh Mai Kuraki, Sukima Switch dan L’Arc~en~Ciel tentang salju dan musim dingin akan menyambut kedatangan anda. Selamat meringkuk dibawah selimut.
*Sleeping like a log*

Shiroi Yuki (Salju Putih) – Mai Kuraki

Fuyu no Kuchibue (Siulan musim dingin) – Sukima Switch

Winter Fall – L’Arc~en~Ciel

Anime indies durasi pendek

Menurut anda, anime seperti apakah yang bagus? Jawabannya mungkin bermacam-macam. Ada yang menyukai teknik animasi, ada yang lebih memilih keunikan cerita, ada juga yang menyukai anime tertentu karena karakter anime itu sendiri, dsb.

Anime dibawah ini adalah anime indie produksi independen tanpa melibatkan rumah produksi anime besar. Adalah Takero dan Iwasaki yang menunjukkannya padaku, dan aku pikir apa salahnya berbagi disini. Durasi 2 anime ini tak sampai 3 menit, tapi cerita dan gambar yang ditampilkan cukup mengesankan. Terbukti bahwa untuk membuat anime bagus tak perlu durasi panjang, yang penting ide ceritanya unik dan menurutku tak kalah dengan animasi pendek buatan PIXAR. Anime pertama berjudul Nekketsu Uchujin, sedangkan anime kedua berjudul Fumiko no Kokuhaku. Khusus pada anime kedua, adegan jatuhnya Fumiko benar-benar mengesankan. Pernahkah anda mimpi merasa jatuh begitu lama tanpa pernah sampai ke dasar? Seperti itulah kesanku pada anime Fumiko no Kokuhaku. Selamat menikmati dan kasih komentar.

Judul: Nekketsu Uchujin (manusia luar angkasa lekas naik darah)
Karya: Yamamoto Junichi
diambil dari link ini

Judul: Fumiko no Kokuhaku (pengakuan Fumiko/Fumiko menyatakan perasaan)
Karya: Ishida Hiroyasu
link youtube dengan subtitle bahasa Inggris

NB. Kalau anda tertarik dengan karya Makoto Shinkai yang berjudul 5 cm per second, mungkin anda juga tertarik untuk menonton anime dibawah ini. Hanya saja lebih sederhana dan tidak terlalu WAH seperti karya Makoto. Maklumlah, namanya juga produksi anime indies. Sayang tidak ada teks terjemahan untuk anime dibawah ini, tapi gambarnya WOW…..

Judul: Meguriau Sekai (Dunia bertemu kembali)
Produksi: New Adventure
part 1 dan part 2

Next Page »