Laughing in the Wind – Simulasi politik dalam serial silat

Judul lain: The Smiling Proud Wanderer aka Xiao Ao Jiang Hu
Jumlah episode: 40
Adaptasi novel karya: Jin Yong
Produksi: CCTV China (2001)
Produser dan sutradara: Zhang Jizhong dan Huang Jianzhong
Pemain: Li Yapeng (Linghu Chong), Xu Qing (Ren Yingying), Wei Zi (Yue Buqun), Li Jie (Li Pingzhi)

XiaoNovel silat atau cersil (cerita silat) karya Jin Yong (alias Louis Cha aka Chin Yung) yang ini sudah diadaptasi menjadi beberapa film serial oleh stasiun TV Hongkong, Taiwan dan Singapura. Malah sutradara terkenal Tsui Hark pernah membesut film layar lebar yang berjudul Swordsman dan sequelnya Swordsman 2 dgn bintang Jet Li sebagai Linghu Chong. Kali ini CCTV dari China daratan pertama kali menghadirkan adaptasi novel ini dibawah pengarahan produser Zhang Jizhong yang dikemudian hari dikenal dengan karya adaptasi cersil Jin Yong yang lain seperti Demi-gods and Semi-devils (Jimmy Lin sebagai Pangeran Dali Duan Yu), The Legend of the Condor Heroes (Li Yapeng sebagai Guo Jing/Kwee Cheng), Return of the Condor Heroes (Huang Xiao-ming sebagai Yang Guo/Yo Ko dan meroketkan nama Crystal Liu sebagai Xiao Lungli/Shiao Liong-lie)) dan yang akan segera tayang The Heaven Sword and Dragon Sabre (Deng Chao sebagai Zhang Wuji/Thio Buki).

Cersil Jin Yong yang ini walaupun berisi intrik politik sejarah Tiongkok sebagai mana plot cerita karyanya yang lain, tapi Jin Yong dengan lihainya memasukkan kondisi politik masa kini kedalam perseteruan dunia persilatan tanpa memasukkan unsur sejarah. Setting cerita yang dibuat bias tanpa dijelaskan jaman kerajaan dan tahun berapa cerita berlangsung guna mencerminkan betapa intrik politik tidak memandang waktu dan tempat (walaupun dari situasi cerita bisa ditarik kesimpulan kalau setting adalah jaman dinasti Ming). Tokoh-tokoh penting dalam cerita memang dibuat Jin Yong berkarakter “spesial”. Anda bisa membayangkan ketua biara Shaolin, ketua partai Wudang, partai Hoasan, partai Kunlun, dll bertindak bagaikan para pemimpin partai politik didunia sekarang. Anda akan menemukan sosok politisi yang munafik dalam diri ketua partai Hoasan Yue Buqun, lalu anda juga akan melihat politikus ambisius dan licin dalam sosok ketua partai Shongsan, kemudian banyak tokoh oportunis yang suka memancing di air keruh. Mungkin sosok yang paling memorable dan kontroversial dalam novel ini adalah ketua sekte matahari-rembulan Dongfang Bubai yang mengebiri diri sendiri dan menjadi banci demi kekuatan dan kekuasaan. Judul aslinya Xiao Ao Jiang Hu yang berarti mentertawakan dunia persilatan lebih mengacu pada mengejek kemapanan palsu yang membuat para aktor utama kemapanan tersebut bertingkah munafik demi kekuasaan.

Ketika Jin Yong sendiri berkunjung ke lokasi syuting dan membaca skenario adaptasi ini, beliau agak kecewa dengan keputusan Zhang Jizhong yang mengkomersialkan beberapa plot penting dalam novel. Memang ada beberapa bagian novel yang diubah demi serunya visualisasi cerita. Beberapa alegori yang menarik terlihat dikorbankan oleh Zhang Jizhong. Misalnya saja kematian Reng Woxing yang aslinya mati tua karena sakit jantung (cerminan betapa manusia paling hebatpun tak kuasa melawan waktu) justru mati dalam pertarungan seru. Selebihnya, serial adaptasi ini menurutku menunjukkan kelas Zhang Jizhong sebagai produser serial adaptasi yang mumpuni.

Sebagaimana karya Zhang Jizhong yang lain, visual artistik dan sinematografi serial ini memang menjadi daya tarik utama. Anda akan disuguhi pemandangan indah alam China yang mempesona plus setting kota jaman Tiongkok kuno (Jizhong dikenal sebagai produser yang suka membangun set kota khusus untuk syuting filmnya dan setelah syuting selesai, kota tersebut dijadikan objek pariwisata). Kostum untuk para pemainnya juga lumayan, walaupun tidak terlalu wah seperti Return of the Condor Heroes buatan Jizhong tahun 2005. Huang Jianzhong sebagai sutradara terlihat agak kelabakan mengatur plot, walaupun demikian hasilnya tidak bisa dibilang jelek. Bagaimana untuk koreografi laga? Sebagai serial silat, adegan laga merupakan nilai jual penting. Karena hampir seluruh perguruan dalam cerita ini menggunakan pedang sebagai senjata utama, adegan laga dengan pedang banyak menghiasi layar. Sebenarnya koreografi tarung lumayan baik dan keren dipandang, hanya saja khusus untuk ilmu “9 jurus pedang Dugu” andalan Linghu Chong, justru terlihat lebay. Bayangkan saja jurus andalan tokoh utama hanya sekedar jurus jumpalitan loncat sana sini, benar-benar tidak mencerminkan jurus dahsyat.

Mengenai akting para pemain, Li Yapeng yang mendapatkan peran utama Linghu Chong justru bermain seperti terbebani. Linghu yang berkarakter seenaknya dan suka kebebasan justru terlihat kagok dan terikat. Pasangannya Ren Yingying dibawakan oleh Xu Qing dengan memikat. Xu Qing memerankan Yingying yang punya karakter cewek aneh, sulit ditebak dan angot-angotan dengan pas. Kadang aku jadi tersenyum sendiri melihat tingkah Yingying sewaktu sedang marah dan terlihat seperti ingin memutilasi Linghu, lalu tiba-tiba saja ngelendot manja kayak kucing sewaktu Linghu merayunya. Wajar saja kalau Jin Yong sendiri secara pribadi memuji Xu Qing yang dianggapnya sebagai Yingying dalam imajinasinya. Sebenarnya karakter Lin Pingzhi menurutku tokoh yang paling sulit dibawakan. Pingzhi mengawali kisah dengan karakteristik tuan muda yang hidup makmur, lalu seiring dengan pembantaian seluruh keluarganya membuat karakternya berubah dratis menjadi pemurung dan akhirnya jadi pendendam yang membuatnya menghalalkan segala. Aktor Li Jie membawakannya cukup bagus terutama dibagian akhir dimana sosok Pingzhi berubah menjadi gila dendam, hanya saja tampak ada yang kurang pada karakter awal sebagai tuan muda.

Kalau anda pecinta serial silat terutama karya Jin Yong, film ini merupakan salah satu serial yang patut untuk ditonton. Malah khusus untuk adaptasi novel The Smiling Proud Wanderer, serial ini masih merupakan yang terbaik.

NB.
Aku sudah membaca seluruh novel karya Jin Yong dan harus kuakui kalau novel yang ini masuk urutan nomor tiga dari 3 besar novel Jin Yong favorite-ku setelah Duke of Mount Deer dan Demi-gods and Semi-devils. Novel ini telah diterbitkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul bervariasi termasuk Pendekar Hina Kelana.

Catatan pribadi tentang situasi politik Indonesia berdasarkan novel:
Novel ini lebih mirip novel politik yang dibingkai cerita silat daripada sebaliknya. Inget Pemilu setelah reformasi kan? “Kumpulan partai lima gunung” mirip banget sama partai2 gurem yang kalah pemilu dan mencoba ikut lagi dengan berfusi menjadi partai besar untuk menandingi partai yang sudah eksis dan kuat akarnya sejak masa orde baru. Bolehlah Shaolin dialegorikan sebagai partai beringin kuning yang punya sejarah panjang, mengakar kuat dan didukung oleh pemerintah dinasti Ming dan kaum persilatan sebagai partai terbesar. Partai Wudang (Butong) sendiri merupakan partai baru yang langsung melejit menjadi partai besar berkat dukungan sana sini. Ketua partai pertamanya yang bernama Zhang Sanfeng dulunya merupakan alumni pemerintahan lama yang diusir (PHK) dan akhirnya mendirikan partai baru yang ternyata dengan cepat berkembang. Sayangnya generasi selanjutnya dari partai Wudang kurang mumpuni untuk menggantikan ketua pertamanya. Kira-kira partai Wudang mirip sama Partai Demokrat pimpinan SBY nggak yah? Belum lagi partai Hengsan yang merupakan satu-satunya partai dengan pimpinan perempuan (yang kelihatan dihormati oleh pemimpin lain, sekaligus dipandang remeh). Bolehlah anda membuat perumpamaan sendiri.

Rating: 3.5/5

Blood: The Last Vampire – Live Action

Judul lain: ラスト・ブラッド alias Last Blood
Sutradara: Chris Nahon
Produksi: Multi-National production including China, Japan, France and USA (2009)
Pemain: Gianna Jun, Allison Miller, Liam Cunningham, Yasuaki Kurata, Koyuki

lastbloodTidak seperti Dragon Ball dimana aku sendiri bukan merupakan fans, Blood: The Last Vampire (BTLV) adalah salah satu anime favoritku. Ditambah lagi serial TV Blood+ yang menampilkan cerita alternatif yang lebih panjang dan detail tentang tokoh SAYA (sengaja ditulis dengan huruf besar) merupakan salah satu serial anime yang menarik perhatianku. Juga tidak seperti Dragon Ball Evolution (DBE), kemunculan live action BTLV lumayan menggugah minatku untuk menyaksikannya karena kebetulan aku menyaksikan dua versi anime diatas hingga tamat. Secara visual (adegan eksyen) memang cukup mengesankan, lebih baik dibandingkan dengan DBE. Tapi secara cerita boleh dikatakan masih jauh untuk dibandingkan dengan versi anime/manga/serial TV, walaupun plot dan garis besar cerita mengambil langsung dari film animenya.

Seperti juga film anime BTLV dan serial Blood+, film ini juga menampilkan tokoh utama cewek usia SMU berpakaian sailor (pakaian sekolah pelajar wanita Jepang) bergaman katana (pedang para samurai) yang bernama SAYA. Dalam film ini juga SAYA harus berhadapan dengan para makhluk penghisap darah yang disebutnya sebagai blood-sucker (kontras dengan dua versi anime yang dipanggil Chiropteran alias yokushu dalam bahasa Jepang yang berarti si tangan bersayap). Dalam petualangannya yang bersetting tahun 1970 ini, SAYA mendapatkan jejak Onigen (blood-sucker level atas) di Tokyo atas dukungan informasi dari organisasi rahasia yang bernama The Council. Untuk mendapatkan info lebih lanjut dalam Kanto Air Base (nama fiksi sebagai pengganti Yokota Air Base asli dalam anime) Tokyo, SAYA terpaksa menyamar sebagai murid SMU di sekolah khusus untuk anak-anak keluarga tentara yang bertugas di pangkalan militer tersebut. SAYA yang biasanya bertindak sendiri kali ini ditemani Alice, seorang anak Jenderal yang menjadi teman sekelasnya.

Awal film ini sebenarnya cukup menjanjikan karena adegan yang ditampilkan adalah adegan permulaan anime BTLV, dimana SAYA membabat orang yang diyakininya sebagai blood-sucker dalam aksi kejar-kejaran di dalam kereta listrik bawah tanah Tokyo. Untuk menggantikan peran organisasi rahasia Red Shield dalam anime, organisasi yang dinamakan The Council muncul untuk mendukung aktivitas SAYA dibantu dengan agen lapangannya Michael Harrison (David dalam versi anime). Tokoh baru sepasang agen kembar yang ditugaskan The Council untuk “membersihkan” jejak aktivitas SAYA juga sebenar cukup keren, namun sayangnya bersamaan dengan kemunculan tokoh Alice malah imej film jadi berantakan. Banyak sekali keanehan menyebalkan yang tak sesuai dengan alur cerita muncul dan malah mengganggu keasyikan penonton dalam menikmati film. Bagi yang tak berkeberatan dengan spoiler bisa mengunjungi situs ini untuk mengetahui keanehan yang menyebalkan tersebut, terutama yang berhubungan dengan tokoh Alice. Terus terang saja menurutku sutradaranya banyak melakukan kesalahan dengan banyaknya adegan yang terasa tidak nyambung.

Untungnya adegan eksyen lumayan keren, terutama adegan laga cukup mengobati kekecewaan. Terlepas dari proses editing yang agak mengganggu (harap maklum, edit diperlukan dalam adegan laga karena Jeon Jihyun bukanlah ahli bela diri), adegan laga garapan Corey Yuen yang gemar menampilkan wire-fu (Kungfu dengan kawat tipis yang membuat aktornya terlihat meloncat terbang) terlihat jauh lebih baik dibandingkan Dragon Ball Evolution maupun Street Fighter: Legend of Chun-Li. Beberapa adegan pertarungan agak mengingatkan pada film Crouching Tiger Hidden Dragon (CTHD), misalnya adegan kejar-kejaran diatas atap mengingatkan adegan Michelle Yeoh mengejar Zhang Ziyi yang bertopeng dalam CTHD. Untuk adegan laga lain non tarung seperti blood-sucker bersayap yang mencegat truk yang dikendarai SAYA dan Alice malah terlihat menyontek adegan Underworld: Evolution-nya Kate Beckinsale, sehingga meninggalkan kesan kurang enak. Beberapa adegan dengan spesial efek yang ditampilkan agak kurang berkesan, terutama darah muncrat buatan CGI yang terlihat menyebalkan. Teknik pencahayaan yang dipakai untuk menampilkan kesan suram cukup lumayan, paling tidak pilihan warna oranye kemerahan merupakan suatu pilihan menarik untuk menggantikan kesan suram anime yang mengambil warna abu-abu sebagai warna latar.

Akting para pemainnya termasuk standar biasa saja, malah beberapa pemain yang agak kaku berbahasa Inggris terdengar seperti sedang mengeja bacaan. Dengar saja dialog antara SAYA dengan Onigen yang diperankan aktris Jepang Koyuki terdengar seperti orang debat pidato. O ya, anda bisa menyaksikan kembali penampilan aktor senior spesialis film laga Yasuaki Kurata yang didapuk sebagai pengasuh SAYA yang bernama Kato. Terakhir aku melihat penampilan Kurata yang berduel dengan Jet Li dengan mata tertutup dalam film fist of legend.

Bagi yang penasaran ingin menonton film ini, tak usah berharap banyak. Cukup ditanamkan dalam pikiran anda untuk menikmati BTLV versi live action ini sebagai hiburan semata. Bagi penggemar aktris Korea si cakep Jeon Jihyun alias Gianna Jun kayak gue :mrgreen: , anda tidak akan melihat sosok yang streotip dengan peran-peran Jihyun sebelumnya yang menguras air mata. Disini anda bisa melihat aksi Jihyun dalam memukul, menendang, dan bermain pedang bacok sana bacok sini. Lumayan buat hiburan koq.

Rating: 3/5

From secret to opening my heart

Postingan ini ditulis berdasarkan ide masbro Lambrtz yang ternyata juga berdasarkan postingan lain. Hanya saja lagu-lagu yang ku-shuffle cuma koleksi lagu-lagu berbahasa Jepang yang dikhususkan memiliki judul dengan huruf Jepang (terutama kanji) dan dengan penyanyi yang berbeda-beda.

SOMEONE SAYS ‘ARE YOU OKAY’ YOU SAY?
Tokyo Jihen – Himitsu (Rahasia) 秘密
Kondisi adalah rahasia pribadi :mrgreen:
*I am Mysterious-man*

HOW WOULD YOU DESCRIBE YOURSELF?
SID – Uso (Bohong) 嘘
Eh, koq lagu ini yg muncul?
Bohong nih lagu, saya jujur koq. suwer deh!

WHAT DO YOU LIKE IN A GUY/GIRL?
Yoko Takahashi – Zankoku na Tenshi no Tehze (Thesis malaikat kejam) 残酷な天使のテーゼ
As long as you like Neon Genesis Evangelion, I will like all of you

HOW DO YOU FEEL TODAY?
Mika Nakashima – Hito iro (Satu warna) 一色
Today, I am feeling blue…… just plain blue, a sky blue.

WHAT IS YOUR LIFE’S PURPOSE?
Sothern All Stars – Tsunami (Gelombang Tsunami) 津波
Akan kusapu seluruh rencana dimasa depan bagaikan gelombang tsunami :cool:

WHAT’S YOUR MOTTO?
L’arc~en~Ciel – Ibara no Namida (Air mata berduri) いばらの涙
Wakakak…. asli buaya darat :P

WHAT DO YOUR FRIENDS THINK OF YOU?
Sons of All Pussys – Tsumi no Nagame (Pemandangan dosa) 罪の眺め
Contoh buruk buat anak-anak, jangan dekati lelaki sukebe penuh dosa ini :cry:

WHAT DO YOUR PARENTS THINK OF YOU?
YUKI – Aozora (Langit biru) 青空
blue, blue, blue… blue, love is blue……
*Lha, koq lirik lagunya jadi beda… kata orang biru berarti sedih, gw orang yg menyedihkan dong :cry: *

WHAT DO YOU THINK ABOUT VERY OFTEN?
Hideki Kaji – Amai Koibito (Pacar yang manis) 甘い恋人
ngelamun………………….mikir yang manis-manis
*gula kali*

WHAT DO YOU THINK OF YOUR FRIENDS?
Hajime Chitose – Kataritsugu Koto (Cerita turun temurun) 語り継ぐ事
Tell to our descendant about our legendary journey and friendship.

WHAT IS 2+2?
Stereophony – Namida no Mukou (Diseberang air mata) 泪の向こう
Matematika adalah hal yang paling menguras air mata.

WHAT DO YOU THINK OF YOUR BEST FRIEND?
Mr. Children – Shirushi (Tanda panah) しるし
Teman baik = penunjuk jalan :lol:

WHAT IS YOUR LIFE STORY?
Glay – Koko dewanai doko ka e (Bukan disini tapi dimana yah) ここではないどこかへ
Hidupku selalu mencari, mencari, dan mencari….. dimana yah?

WHAT DO YOU WANT TO BE WHEN YOU GROW UP?
B’z – Jinsei no Kairaku (Kenikmatan hidup) 人生の快楽
Long live hedonism……. :lol:

WHAT DO YOU WANT TO HAVE WHEN YOU GROW UP?
Spitz – Nagareboshi (Bintang jatuh) 流れ星
Jangan-jangan aku ini keturunan terakhir dari planet Kryptone yang jatuh ke bumi lewat meteor???

WHAT DO YOU THINK WHEN YOU SEE THE PERSON YOU LIKE?
Shiina Ringo – Honnou (Insting) 本能
I believe my instinct, it never missed.
*mengandalkan insting untuk bertahan hidup, termasuk urusan suka atau gak suka*

WHAT WILL YOU DANCE TO AT YOUR WEDDING?
Remioromen – San gatsu Kokonoka (Tanggal 9 bulan Maret) 三月九日
Udah ketauan nih tanggal pernikahannya, tinggal nyari tahun yang tepat lewat primbon

WHAT SONG WILL PLAYED AT YOUR FUNERAL?
Garnet Crow – Sekai wa Mawaru to iu keredo (Walaupun katanya dunia berputar) 世界は回るというけれど
Biarkan dunia berputar ketika kita nge-band di kuburan bikin kepala setan-setan pada berputar tripping didunia gaib wakakakak….

WHAT IS YOUR HOBBY/INTEREST?
Kenichi Matsuyama – Satsugai (Bunuh) 殺害
Heeeeehhhh????????????? :shock: :shock: :shock:

WHAT IS YOUR BIGGEST FEAR?
The Backhorn – Wana (Perangkap) 罠
Kelemahan terbesar dalam hidup ini, takut diperangkap sama cewek cakep…. :twisted:

WHAT IS YOUR BIGGEST SECRET?
Kumiko Oosugi – Doraemon no Uta (Lagu Doraemon) ドラえもんの歌
uppppsss….. ketauan deh punya kantong ajaib.

WHAT DO YOU WANT RIGHT NOW?
Mai Kuraki – Shiroi Yuki (Salju putih) 白い雪
Sekarang lagi musim panas, benar2 kepengen salju putih. segaaarrrr….

WHAT WILL YOU POST THIS AS?
Zard – Kokoro wo Hiraite (Membuka hati) 心を開いて
Pertentangan bathin. postingan dibuka dengan rahasia (Himitsu) tapi diakhiri dengan membuka hati. urutan shuffle-nya nggak benar nih.
*I told you once before, I am a Mysterious-man* :mrgreen:

Detective Conan OVA 9

Ini cuma sekedar postingan numpang lewat.
conan
Wajah Conan dengan muka Shinichi plus kaca mata

Barusan aja aku nonton Detective Conan OVA 9 yang judulnya 10 nen go no Houjin alias stranger in 10 years. Ceritanya cukup unik karena mengambil perspektif apa yang akan terjadi jika Conan dalam 10 tahun mendatang tidak dapat mengembalikan kondisi tubuhnya seperti semula. Seperti apa yang diulas oleh Ai Habara, Conan telah meminum berkali-kali antidote APTX 4869 hingga akhirnya kebal terhadap pengaruh antidote. Sejak SMP atau 5 tahun terakhir, antidote yang diminum oleh Conan sama sekali tak berpengaruh karena tubuhnya imune terhadap antidote sehingga Conan sudah tak bisa lagi kembali ke tubuh semula. Conan tetap tumbuh bersama dengan para sahabat kelompok detektif ciliknya hingga kelas 2 SMA. Ran dan Sonoko telah menjadi dewasa dan berusia 27 tahun disertai cerita Ran dilamar oleh Dr. Araide. Heiji bersama Kazuha muncul di TV dan bertengkar sampai sang pembawa acara bertanya tentang hari pernikahan mereka. Hingga Kogoro Mouri yang semakin tenggelam dalam lautan alkohol akibat patah hati karena artis pujaannya Yoko Okino akan segera menikah.
shounen
Kelompok detektif remaja ki-ka Mitsuhiko, Genta, Ayumi didepan Conan

Karena cuma OVA, waktu tayangnya juga pendek tak sampai 30 menit. Walaupun demikian aku justru dapat melihat sisi lain yang menarik dari serial ini. Sepertinya cukup menarik untuk melihat perjalanan Conan dan teman-teman detektif ciliknya yang telah tumbuh remaja. Paling tidak sangat bagus untuk selingan serial Conan yang mulai membosankan akhir-akhir ini. Aku harap Aoyama Gosho dapat membuat sebuah cerita spin off yang cukup panjang dari sekedar OVA ditambah dengan sebuah film Detective Conan the movie yang mengisahkan tentang alternative dimension dimana Conan menjadi dewasa tanpa bisa kembali ke tubuh semulanya. Sambil menanti alur utamanya diselesaikan oleh Aoyama Gosho, bukankah cerita Conan dalam setting alternative dimension ini merupakan sebuah penyegaran.

Supernatural – Serial Horor Thriller yang bikin penasaran

“Saving people, hunting things… The family business”
(Dean Winchester, Season one episode Wendigo)

Ide Cerita: Eric Kripke
Genre: Drama, Horor, Thriller, Action
Tayang perdana: The WB Television Network (2005)
Pemain: Jared Padalecki (Sam Winchester) dan Jensen Ackles (Dean Winchester)

SupernaturalSudah cukup banyak aku menonton bermacam-macam genre serial TV, baik yang bertema drama keluarga, sains fiksi, komedi, eksyen, cerita detektif, hingga yang rada nyerempet seks. Akan tetapi sangat jarang ada serial drama misteri horror yang sanggup menarik perhatianku menonton hingga berpanjang-panjang lebih dari 2 musim. Sebelum menonton serial Supernatural, mungkin serial TV terakhir bergenre seperti ini yang masuk hitunganku “penonton setia” adalah serial lawas Friday the 13th: The Series. Sisanya kebanyakan sudah agak bosan sehabis menonton season pertama, lalu berhenti menonton setelah season kedua dimulai. Serial Supernatural ini sudah memasuki musim kelimanya dan masih tetap menarik untuk terus diikuti.

Serial Supernatural pertama kali ditayangkan di USA pada tahun 2005 lewat saluran televisi The WB Television Network (sekarang The CW Television Network) mengetengahkan kisah perjalanan dua orang abang adik keluarga Winchester dalam menghadapi berbagai kasus yang melibatkan hal-hal gaib. Keluarga Winchester adalah keluarga Hunter, dimana Hunter dalam serial ini merupakan profesi sukarela tanpa upah yang berpetualang keliling negeri dalam usahanya menyelidiki gejala-gejala supranatural dan membasminya bila mengganggu ketentraman masyarakat.

Dean Winchester adalah anak sulung dari pasangan John dan Mary Winchester yang memiliki karakter bergaya seenak perutnya, suka ngomong ceplas ceplos, perayu wanita, takut naik pesawat (jadi ingat B.A. dalam The A Team) dan yang paling menarik adalah hobi Dean yang tergila-gila pada musik Classic Rock (musik rock tahun 1970-an dan 80-an). Bertolak belakang dengan karakter adiknya Sam Winchester yang pendiam, teliti dan sering menganggap serius hal yang dianggap abangnya remeh. Ibu mereka Mary tewas ketika Sam masih berumur enam bulan akibat dibunuh setan bermata kuning dan sejak itu John mereka membawa kedua anaknya berpetualang mencari setan yang membunuh Mary sembari melatih Dean dan Sam berbagai keterampilan yang dibutuhkan seorang Hunter. Sejak kecil Dean dan Sam sudah dilatih keras oleh ayahnya untuk menjadi Hunter yang handal dari training menggunakan senjata api, ilmu bela diri tangan kosong hingga pengetahuan mengenai berbagai hal dunia gaib.

Dean-Sam
Akibat kehidupan nomaden sejak kecil, Dean dan Sam tumbuh besar sambil beradaptasi dengan gaya hidup Hunter. Bagi Dean, hidup sebagai Hunter terlihat bagaikan suatu petualangan mengasyikkan dan menjalaninya tanpa keluhan, malah Dean menganggapnya sebagai bisnis keluarga. Selain itu juga Dean masih menyimpan dendam yang sama seperti ayahnya terhadap setan bermata kuning yang telah membunuh ibunya, karena ketika ibunya tewas Dean telah berumur empat tahun dan melihat sendiri betapa ibunya tewas terpaku diatas langit-langit rumah. Berbeda dengan Sam yang masih bayi ketika ibunya tewas sehingga rasa dendamnya kurang mendalam. Selain itu juga bagi Sam yang serius, hidup sebagai Hunter membuat keinginannya melanjutkan sekolahnya semakin jauh dari harapan hingga pada akhirnya Sam bertengkar dengan ayahnya ketika Sam memutuskan untuk pergi ke Universitas Stanford mengejar impiannya masuk fakultas hukum.

Musim pertama serial ini mengisahkan sang ayah John menghilang tanpa kabar sehingga menyebabkan Dean terpaksa berkunjung ke Stanford dan mengajak Sam untuk ikut serta mencari ayahnya. Bukannya jejak sang ayah ditemukan, malah pacar Sam yang bernama Jessica tewas dengan kondisi yang sama dengan kematian Mary Winchester, yaitu terpaku dilangit-langit kamar lalu terbakar. Tak punya pilihan lain, Sam akhirnya mengikuti Dean sambil mencari jawaban mengapa Jessica mengalami nasib yang sama dengan ibunya bertahun-tahun yang lalu dengan harapan bila bertemu ayahnya, seluruh pertanyaan akan terjawab.

Serial ini dihiasi dengan kemunculan makhluk-makhluk supranatural baik yang jaman dulu maupun modern seperti arwah penasaran, Vampire, Werewolf, Zombie, Jin hingga makhluk gaib yang jarang didengar oleh telinga orang-orang Indonesia seperti Wendigo, Trickster, Rougarou dan Shapeshifter. Hobi berat Dean akan musik Classic Rock terpapar jelas pada beberapa hal yang menghiasi film ini. Misalnya saja banyak judul episode yang menggunakan judul lagu lawas yang pernah dibawakan oleh para grup Rock terkenal seperti Rolling Stone, Led Zeppelin, Boston, Black Sabbath, AC/DC, Metallica, Kansas dll, selain juga menampilkan lagu-lagu mereka disepanjang serial. Hal lain yang menjadi ciri khas adalah kebiasaan duo Winchester dalam menyamar (sebagai Dokter, agen FBI, pendeta, petugas asuransi, dll) dengan nama alias yang menggunakan nama personil Rocker seperti misalnya Dr. James Hetfield (nama vokalis Metallica), agen FBI Tyler dan Perry (anggota grup Aerosmith), Pendeta Father Simmons dan Frehley (anggota grup KISS), Detektif Page dan Plant (anggota grup Led Zeppelin), dll.

Hal yang membuat serial ini tetap menarik dan memiliki unsur ketegangan yang stabil adalah alur cerita yang memang telah dirancang dari awal dengan baik, sehingga cerita season dua, tiga dan empat masih menyambung dengan season-season sebelumnya. Sepertinya memang cerita utama sudah ditetapkan dari awal sehingga alurnya tetap berkelanjutan. Ditengah-tengah alur utama, barulah disisipkan beberapa kasus tambahan yang bertujuan memperkuat karakterisasi tokoh maupun menambah bumbu cerita utama. Menurut kabar, dari awalnya memang Eric Kripke sang kreator cerita telah menyiapkan serial Supernatural untuk diselesaikan dalam lima musim. Jika masih ada musim keenam, ada kemungkinan serial ini akan menjadi membosankan seperti kasus serial Smallville.

Selain itu juga hubungan dua karakter tokoh utama yang dibawakan oleh Jensen Ackles dan Jared Padalecki yang bertolak belakang sangat menarik, terutama ketika mereka berdua beradu argumen. Hubungan antara dua saudara ini menjadi salah satu daya tarik. Kita bisa melihat betapa hanya Dean yang dibiarkan Sam untuk memanggil dirinya Sammy (walaupun awalnya Sam agak enggan karena dengan demikian Dean terkesan masih menganggap Sam sebagai anak kecil). Unsur humor ditambahkan lewat karakter Dean yang sering bertingkah seenaknya , gaya hidup bebas dan selera humornya yang kasar dengan porsi yang cukup ngepas (kecuali dalam beberapa episode tertentu yang memang cenderung diarahkan ke genre komedi). Dengan semakin bertambahnya season, karakter tokoh perlahan-lahan mengalami perubahan yang cukup signifikan, dimana Dean terlihat semakin serius dan Sam menunjukan sisi gelap kepribadiannya. Hal ini wajar karena tuntutan cerita memang mengharuskan perubahan demikian. Beberapa karakter pendukung yang muncul dalam beberapa episode di setiap musim turut memeriahkan suasana, terutama tokoh-tokoh cewek yang muncul sebagai penghangat suasana ditengah gersangnya perjalanan Winchester Brothers dalam menghadapi makhluk supranatural. Tapi jangan disangka tokoh-tokoh cewek ini hanya sekedar tempelan, justru karakter mereka cukup kuat untuk menentukan arah jalan cerita selanjutnya.

Jika season pertama mengemukakan tema mencari ayah mereka yang menghilang tanpa kabar, season kedua lebih terfokus pada usaha mereka memburu setan mata kuning yang telah membunuh Mary Winchester. Season ketiga bercerita mengenai terbukanya pintu gerbang neraka (Devil’s Gate) oleh setan mata kuning sehingga menyebabkan banyak setan dalam neraka lepas ke dunia. Season keempat mengetengahkan alasan mengapa setan bermata kuning membunuh ibu Winchester Brothers dan juga alasan atas usaha setan mata kuning membuka Devil’s Gate. Musim keempat semakin menarik dengan kemunculan malaikat (angel of God) yang memiliki peran dan rencana mereka sendiri. Tentu saja konsep malaikat dalam film ini agak berbeda jika dibandingkan dengan konsep kemalaikatan umumnya.

Seru dan bikin penasaran.

Swing Girls – Big Band para cewek SMU

Sutradara: Shinobu Yaguchi
Genre: Drama, komedi, musical
Produksi: Altamira Pictures, Japan (2004)
Pemain: Juri Ueno, Yuta Hiraoka, Shihori Kanjiya, Yuika Motokariya dan Naoto Takenaka.

Swing Girls ……. and a boy
(Takuo Nakamura, pemain piano, leader dan satu-satunya cowok dalam band)

Setelah pada postingan sebelumnya aku membahas film Linda Linda Linda yang bertemakan perjuangan 3 hari grup girl band yang beranggotakan 4 orang, kali ini aku membahas film Swing Girls yang bercerita tentang usaha anak-anak SMU dalam membentuk grup Big Band dari permulaan. Dibilang dari permulaan karena mereka sama sekali tak bisa memainkan alat musik tiup yang menjadi instrument utama Big Band. Kalau anda mengenal nama sutradara Shinobu Yaguchi yang dikenal lewat karya fenomenal Waterboys, tentu anda tak bakal kecewa dengan film garapannya kali ini. Yaguchi kembali mengangkat cerita perjuangan anak-anak SMU dalam menghadapi tantangan untuk melakukan hal yang berbeda. Kalau dalam Waterboys Yaguchi mengangkat cerita anak lelaki berlatih renang indah, kali ini Yaguchi menggunakan grup musik Big Band sebagai tujuan belajar hidup anak-anak SMU (seberapa banyak sih anak SMU tertarik main musik Jazz dalam grup Big Band?).

(warning, sinopsis dibawah mengandung spoiler)
Tomoko Suzuki (Juri Ueno) dan teman-teman sekelasnya merasa bosan dalam kelas matematika pak guru Ozawa (Naoto Takenaka). Supaya bisa membolos dari pelajaran matematika, Tomoko dkk membujuk pak Ozawa untuk mengijinkan mereka untuk mengantar makanan untuk grup brass band yang tertinggal. Karena keteledoran Tomoko dkk, seluruh anggota grup brass band sakit perut akibat makanan basi. Pemain simbal Takuo Nakamura (Yuta Hiraoka) yang mengurusi makanan dituntut bertanggung jawab untuk menyiapkan pemain brass band pengganti, karena tugas brass band selanjutnya adalah mendukung tim baseball sekolah dalam pertandingan yang akan diadakan dalam waktu dekat.

Merasa dikerjai, Takuo ganti meminta pertanggung jawaban Tomoko dkk dengan cara menyuruh mereka mengisi lowongan pemain brass band. Walaupun pada awalnya tak tertarik, tetapi demi bolos pelajaran pak Ozawa secara legal, Tomoko dkk menerima tawaran Takuo. Sayangnya jumlah mereka hanya 14, jumlah yang tak mencukupi untuk kelompok brass band yang membutuhkan 25-26 pemain, walaupun sudah ditambah 2 cewek pemain gitar dan bass grup punk yang barusan bubar. Takuo yang ternyata jago main piano ini mendapatkan ide untuk menutupi kekurangan jumlah pemain dengan cara membentuk kelompok Big Band yang memiliki jumlah pemain standarnya 17 orang. Lewat latihan intensif (walaupun pada awalnya para cewek kurang kerjaan ini cuma main-main), cewek-cewek yang tadinya tak bisa memainkan alat musik ini mulai dapat membawakan sebuah nomor jazz standard karya Duke Ellington, Take the “A” train, dengan “lumayan”. Sayangnya para pemain asli brass band yang tadinya sakit sudah sehat kembali dan meminta balik alat musik mereka.

Terlanjur cinta pada saxophone pinjamannya, Tomoko mulai mencari cara untuk membeli sebuah saxophone walaupun banyak anggota lainnya sudah menyerah. Temannya Yoshie (Shihori Kanjiya) yang mendapat tugas bermain trompet ikut terpengaruh dengan semangat Tomoko, begitu juga Sekiguchi (Yuika Motokariya) yang memang dari awal sangat bersemangat menguasai permainan trombone dan Naomi Tanaka (Yukari Toyoshima) yang mulai gandrung bermain drum. Ditambah Takuo pada piano dan duo cewek punk pada gitar dan bass, mereka mulai berlatih lagu-lagu standar Big Band lain seperti In The Mood karya Glenn Miller. Setelah menyadari kemampuan mereka tak menunjukkan peningkatan berarti tanpa pelatih yang tepat, mereka dikejutkan oleh sosok pak guru matematika Ozawa yang ternyata penggemar musik Jazz. Bagaimanakah perjuangan mereka selanjutnya dan apakah jumlah mereka kembali lengkap 17 orang untuk membawakan Big Band secara lengkap?

Terus terang saja skenario film ini masih menunjukkan beberapa bolong disana sini dengan peristiwa kebetulan demi menyederhanakan dan memendekkan cerita, tapi aku sendiri masih bisa memaklumi jika menonton secara keseluruhan. Nilai yang ingin disampaikan tentang “dimana ada kemauan, disitu ada jalan” cukup berhasil dibawakan oleh Yaguchi tanpa terkesan menggurui. Adegan komedi khas Yaguchi terselip disana sini semakin menyegarkan suasana yang telah dibangun lewat lagu-lagu Big Band lawas yang cukup dikenal oleh para penggemar musik. Sayangnya, karena terlalu banyak kasting pemerannya sehingga fokus tokoh utamanya agak bergeser dan kurang digali. Jadilah latar belakang tokoh dan permasalahan disekelilingnya tertutupi dengan usaha dan semangat para anak SMU ini untuk meraih tujuan mereka bermain musik dalam sebuah grup Big Band. Biarpun demikian, secara keseluruhan Swing Girls masih lebih baik dibandingkan Linda Linda Linda yang menurutku terlalu datar dan sederhana dari segi plot cerita.

Akting para pemain muda Juri Ueno dan Yuta Hiraoka cukup gemilang sehingga mereka diganjar New comer of the Year dalam Japanese Academy Award 2004 selain 5 penghargaan lainnya. Yang cukup mengejutkan, sebagian besar cewek yang berperan sebagai anggota grup Big Band ternyata sebelum main film ini juga memang tak bisa memainkan alat musik. Mereka dilatih bermain saxophone, trumpet, trombone dan drum selama 3 bulan untuk persiapan film dan jadinya mereka benar-benar memainkan seluruh lagu dalam film tanpa pemusik pengganti. Malah khusus untuk Kanjiya dan Motokariya yang baru bergabung satu setengah bulan sebelum syuting perdana (karena harus menyelesaikan kontrak film lain) hanya punya waktu satu setengah bulan untuk menguasai trumpet dan trombone. Sebagai pembuktian dan ajang promosi film, seluruh anggota grup Big Band Swing Girls mengadakan sebuah live concert dan mengeluarkan single dari lagu-lagu yang mereka mainkan dalam film (lihat saja kemampuan mereka dalam klip live concert dibawah).

Tambahan
Jika ingin melihat perjuangan mereka berlatih 3 bulan sampai nangis-nangis sebelum syuting, bisa dilihat di link youtube sini. Sedangkan cuplikan perjuangan Kanjiya dan Motokariya selama 1.5 bulan mengejar ketinggalan bisa dilihat disini. Yang paling lelet bergabung adalah Hiraoka yang juga belum bisa bermain piano dan Toyoshima yang baru pertama kalinya bermain drum. Hiraoka yang satu-satunya cowok bergabung dengan kumpulan 16 cewek lain serta Toyoshima hanya punya waktu latihan 1 bulan, cuplikan latihan 1 bulan mereka berdua bisa dilihat disini.
Hasil latihan mereka bisa dilihat dari video konser mereka di balasan komentar di bawah. O iya, mereka juga sempat mengisi acara Summer Jazz Festival di Nango (2004/8/30) walaupun mereka cuma Big Band amatiran.

Bagi penggemar musik terutama Jazz, rugi kalau belum nonton film ini.
I Love Big Band!!!!

Rating: 3.5/5

Trailer Swing Girls

In the mood oleh Swing Girls dalam live concert

Linda Linda Linda – 3 hari girl band dadakan

Sutradara: Nobuhiro Yamashita
Genre: Drama, musikal, remaja
Produksi: Covers & Co Japan (2005)
Pemain: Bae Do-na, Yuu Kashii, Aki Maeda, Shiori Sekine

lindaposterKetika menonton film ini, tanpa sadar aku teringat pada film-film produksi dalam negeri yang suka mengambil tema yang tak jauh dari cerita hantu dan komedi seks. Kalaupun ada yang mengambil tema diluar “pakem” favorit, tema film yang diambil justru terlalu berat untuk ditonton oleh orang-orang muda maupun kalangan remaja. Hasilnya para remaja Indonesia mengalihkan perhatian mereka pada film-film produksi Hollywood seperti Twilight. Film Linda Linda Linda ini seharusnya bisa menjadi contoh bagaimana membuat film remaja dengan cerita ringan tapi cukup menarik untuk disaksikan.

Sebuah girl band (grup band yang seluruh anggotanya cewek) SMU terancam bubar 3 hari sebelum pertunjukan terakhir mereka diajang festival budaya di sekolah mereka. Pemain gitar yang tangannya cidera dan vokalis yang bertengkar dengan pemain keyboard menjadi penyebabnya. Setelah sang vokalis keluar, pemain keyboard Kei (Yuu Kashii) yang menjadi band leader sementara memutuskan untuk tetap melanjutkan rencana mereka untuk manggung. Pemain bass Nozomi (Shiori Sekine) dan drummer Kyoko (Aki Maeda) mendukung keputusan Kei, walaupun dalam waktu tiga hari mereka harus mencari pemain gitar dan vokalis baru sekaligus berlatih untuk persiapan pertunjukan. Akhirnya diputuskan Kei pindah peranan menjadi pemain gitar sehingga tinggal posisi vokalis yang masih lowong. Ketika mereka bertiga sedang berembug tentang penentuan vokalis, dengan enaknya Kei bilang siapapun cewek pertama yang lewat depan gerbang sekolah yang mulai sepi akan diminta untuk menjadi vokalis anyar band mereka. Dengan mengesampingkan mantan vokalis sebelumnya yang lewat, muncul pelajar asing dari Korea Selatan yang bernama Son (Bae Doo-na). Seketika itu juga mereka bertiga mengajak dan membujuk Son untuk bergabung dengan girl band mereka.

Setelah Son setuju bergabung, kwartet ini mulai memilih lagu dan berlatih memainkannya. Karena hanya memiliki waktu 3 hari saja, mereka memilih untuk membawakan lagu cover version band Punk Rock terkenal The Blue Hearts yang diantaranya berjudul Linda Linda daripada menciptakan lagu original sendiri. Masalah dimulai dari Kei si pemain keyboard yang tidak biasa memainkan gitar. Tetapi yang lebih parahnya lagi adalah masalah Son yang tidak bisa berbahasa Jepang dengan lancar. Waktu pendek selama tiga hari membuat mereka berempat berjuang keras supaya penampilan terakhir di festival budaya sekolah tidak menjadi ajang yang memalukan. Akibatnya mereka begadang semalaman dan kurang tidur. Bagaimanakah hasil akhir dari usaha mereka?

lindalindalinda

Kalau membaca sinopsis singkat diatas, film ini kelihatan sekali mengambil tema dan alur yang sangat sederhana. Tetapi sederhana bukanlah berati tidak menarik. Memang ada film Indonesia seperti Bukan Bintang Biasa yang mengambil tema remaja yang bergelut dengan seni, hanya saja cerita dan alur yang diambil terlalu mengawang-awang. Ada pula film Hollywood yang mengambil tema drama remaja pemusik, namun lagi-lagi dengan cerita yang kurang membumi. Lihatlah film ini, para remaja tokoh utama film ini tidak berniat nge-band untuk tampil dipanggung sebesar Tokyo Budokan yang hanya ada didalam mimpi mereka. Mereka hanya ingin tampil di ajang festival budaya sekolah yang levelnya hanya untuk menghibur teman-teman satu sekolah. Kisah cinta dalam film ini hanyalah bumbu pemanis belaka karena hampir tak terlalu mempengaruhi plot cerita yang lebih berfokus pada hubungan antara anggota band. Mungkin hanya cerita hubungan malu-malu mau antara Kyoko dengan cowok taksirannya Kazuya yang agak mendominasi cabang plot romantisasi anggota band.

Awalnya film ini berjalan agak lamban, tapi seiring dengan masuknya tokoh siswi Korea yang pemalu menjadi vokalis membuat film berangsur menjadi lebih menarik. Tokoh Son yang tidak lancar berbahasa Jepang berusaha untuk tidak mengecewakan teman-temannya dengan cara berlatih menyanyi lagu Jepang sendiri di karaoke. Lucu juga adegan Son dengan bahasa Jepangnya yang pas-pasan mendebat pegawai karaoke untuk mendapatkan sewa karaoke box yang lebih murah. Belum lagi usaha mati-matian Son menyanyi lagu Jepang di karaoke hingga akhirnya dengan setengah putus asa banting setir nyanyi lagu Korea :lol:

Permainan aktris Korea Bae Doo-na sebagai Son memang menjadi daya tarik utama film ini karena keunikan karakter si pelajar asing. Tanpa tokoh Son dan gaya kikuk Bae Doo-na dalam membawakannya, mungkin Linda Linda Linda hanya akan menjadi film remaja yang biasa-biasa saja. Shiori Sekine dan Aki Maeda yang membawakan peran pemain bass dan drummer memang aslinya adalah pemusik, sehingga mereka tidak canggung bermain alat-alat musik dalam film ini. Berbeda dengan Yuu Kashii atau Yuu Odagiri (setelah menikah dengan pemeran Kamen Rider Kuuga, Joe Odagiri) yang aslinya aktris dan model. Paling tidak, penampilan cewek-cewek cute ini membuat susana lebih meriah. Yang agak mengejutkan, mungkin penampilan cameo Kenichi Matsuyama (L dalam Death Note) yang berperan sebagai Maki, cowok yang naksir Son dan “nembak” si siswi Korea pake bahasa Korea :mrgreen:

Judul film ini diambil dari judul lagu band Punk Rock populer Jepang The Blue Hearts, yang terkenal pada akhir 1980-an. Ada 3 lagu milik The Blue Hearts yang dinyanyikan oleh grup tokoh utama dalam film yaitu, Linda Linda, Boku no Migi Te dan Owaranai Uta. Tokoh Son si pelajar Korea yang memberi nama grup mereka berdasarkan nama The Blue Hearts, yaitu Paran Maum (The Blue Heart dalam bahasa Korea). Paran Maum sendiri merilis CD single mereka menyertai album OST Linda Linda Linda yang digarap oleh gitaris The Smashing Pumpkins, James Iha. Bagi penggemar film drama musikal, Linda Linda Linda bisa menjadi pilihan menarik untuk melewatkan waktu.

Rating: 3/5

Trailer

Paran Maum mini concert – Linda Linda and Owaranai Uta

The Ramen Girl – Membuat mie dengan hati

Sutradara: Robert Allan Ackerman
Produksi: View Company ( 2008 )
Pemain: Brittany Murphy, Toshiyuki Nishida, Sohee Park, Tammy Blanchard

Akhir-akhir ini aku jarang nonton film akibat sibuk beraktivitas, baik itu masalah kehidupan sehari-hari maupun aktivitas kampus seperti eksperimen, bikin laporan buat presentasi hingga cari beasiswa sana sini. Ketika ada waktu luang aku menemukan film ini dan tertarik dengan trailer yang kusaksikan lewat youtube. Jadilah film The Ramen Girl ini menemaniku menghabiskan waktu luangku.

Sayangnya skenario buruk, penggarapan apa adanya dan kasting pemain utama yang salah kaprah membuat film ini jadi sekedar tontonan lewat tanpa menimbulkan kesan apapun. Padahal temanya cukup menarik yaitu bagaimana ramen (mie china buatan jepang) bisa membuat perasaan orang yang memakannya menjadi menjadi lebih baik. Intinya sih dengan menyiapkan makanan dengan penuh perasaan, justru perasaan itulah bumbu yang akan membuat orang yang memakan sajian akan menjadi lebih baik.

Abby seorang wanita muda datang dari Amerika untuk menemui kekasihnya Ethan yang bekerja di Tokyo. Kenyataannya tak lama kemudian, justru Ethan mencampakkannya hingga Abby tiba-tiba saja menjadi wanita lemah tak berdaya dengan impian hancur berantakan. Ketika sedang meratapi nasibnya, Abby melihat kedai ramen didekat apartment tempat tinggalnya dan memutuskan pergi ke sana.

Di kedai ramen milik Maezumi ini Abby makan ramen dan sehabis makan tiba-tiba dirinya merasa dirinya lebih baik Pada kesempatan makan yang kedua Abby melihat betapa seorang lelaki yang sedang kusut pikiran menjadi bersemangat setelah makan ramen buatan Maezumi. Sejak itu Abby bertekad untuk belajar bagaimana membuat ramen yang bisa mengubah perasaan orang yang memakannya menjadi lebih baik. Maezumi yang dimintanya menjadi sensei (guru), justru memberikan tugas tukang bersih-bersih kedai hingga toilet. Bagaikan cerita film silat, sang guru yang keras mulai memberikan jurus-jurus membuat ramen mulai dari tugas yang kelihatan remeh. Cerita Abby belajar juga diselingi dengan interaksi Abby dengan Toshi pacar barunya yang orang Jepang turunan Korea dan Gretchen, seorang hostes kenalan Abby yang numpang tinggal di apartement milik Abby.

Tak jelas arah film ini mau dibawa kemana. Film dengan genre semi-cerita kungfu, drama cinta mengharu biru atau masalah kritik sosial budaya. Seluruh tema tadi disajikan campur aduk dengan tanggung, belum lagi hawa kisah semi-fantasi yang mengingatkan film chocolate-nya Juliette Binoche dan Johnnie Depp yang tidak tergarap dengan baik. Ada beberapa kelemahan dalam skenario yang justru memperlihatkan betapa tak masuk akalnya cerita yang dibuat. Misalnya saja bagaimana Abby bisa mempelajari teknik pembuatan ramen yang sempurna (yang katanya rumit) dalam waktu beberapa bulan, sedangkan untuk berkomunikasi dengan sensei Maezumi saja sering tidak nyambung. Lalu ada lagi cerita rahasia pembuatan ramen yang mementingkan kokoro (perasaan) sang pembuatnya. Bagaimana bisa Maezumi seorang pemabuk yang punya masalah keluarga dan punya karakter keras bisa membuat ramen yang mampu mengubah suasana hati pemakannya menjadi gembira. Padahal katanya jika peracik ramen membuat ramen dengan kondisi tak bahagia, sedih dan tertekan, sang pemakan akan terpengaruh dengan kondisi hati si peracik.

Tokoh utama Abby yang dimainkan oleh Brittany Murphy terlihat bagaikan tokoh opera sabun atau lebih cocok lagi sinetron Indonesia yang penuh dengan tangis, lemah tak berdaya, lalu tiba-tiba bangkit melawan dengan bersimbah air mata. Jika Jihan Fahira cocok berperan dalam Sinetron Tersanjung dan sequelnya, maka Brittany Murphy terlihat cukup mewakili perumpamaan Jihan Fahira dalam film ini. Sohee Park yang membawakan tokoh Toshi hanya bermain ala kadarnya. Yang bermain mendingan justru Toshiyuki Nishida, aktor Jepang yang berperan sebagai pemilik kedai ramen Maezumi. Gaya tengil, cerewet dan kasar Nishida sebagai mentor pembuat ramen cukup jitu dan berkesan, hanya saja sayangnya skenario yang kurang kuat membuat Nishida tak bisa berbuat lebih banyak lagi. Begitu pula dengan Tammy Blanchard yang memainkan karakter Gretchen sebenarnya cukup menarik tapi sayang tokoh yang dimainkannya sendiri terlihat hanya sekedar tempelan.

Anda tak perlu membandingkan film ini dengan film bertema bentrok budaya dengan setting Jepang seperti Lost in Translation ataupun film Perancis yang berjudul Fear and Tremblings yang kubahas sebelumnya, karena perbedaan kualitasnya cukup jauh.

NB. (edit untuk yang ingin mengetahui perbedaan ramen, soba dan udon)
mie
Kategori mie di Jepang ada beberapa macam. Jenis mie Jepang yang sering dimakan adalah Soba (terbuat dari buckwheat dan berwarna kecoklatan) dan Udon (bentuk mie lebih tebal, berwarna putih, mirip kweetiau), sedangkan ramen adalah jenis mie China (seperti mie kuning buat mie rebus) yang pembuatannya telah dilokalisasi ala Jepang. Aku sendiri belum pernah makan ramen satu kalipun, maklumlah seluruh ramen mengandung lemak dan irisan daging babi.
Mie instan di Indonesia mungkin identik dengan instant ramen di Jepang karena bentuk dan kemasannya yang mirip, apalagi mie instan pertama didunia dibuat di Jepang dalam bentuk instant ramen. Seperti juga ramen biasa, instant ramen juga mengandung unsur babi.

Rating: 2.25/5

OST part 2: Dorama

Melanjutkan postingan lagu-lagu slow OST anime, kali ini aku menampilkan lagu-lagu yang menjadi OST drama Jepang yang cukup membuatku terkesan. Walaupun drama Jepang akhir-akhir ini mulai disaingi drama korea, termasuk TV Jepang sendiri, tapi soundtrack yang menghiasi dorama (serial drama TV Jepang) masih memiliki kekuatan tersendiri untuk ikut bersaing dan membuat rating drama-nya ikut meningkat. Karena aku sangat jarang nonton drama TV, beberapa daftar lagu dibawah ini malah kuambil dari drama yang tidak ku tonton sampai habis. Berbeda dengan postingan OST anime sebelumnya, walaupun lagu-lagu OST dibawah ini tidak jauh bercerita tentang cinta, tidak semuanya berirama slow dan mellow.

Love Story wa Totsuzen ni by Oda Kazumasa
Salah satu OST dorama favorit-ku sepanjang masa dan menempati urutan 8 single paling laku sepanjang masa di Jepang. Drama yang ceritanya mengalir cepat tanpa banyak adegan tarik ulur (hanya 11 episode) ditambah dengan OST yang menggugah semangat untuk menonton serial drama-nya hingga habis. Sori, nggak ketemu versi MV asli lagunya di youtube, tapi lumayan buat mengenang jaman baheula.

True Love by Fujii Fumiya
Bagi penggemar dorama lawas buatan tahun 90-an, siapa yang nggak tahu lagu ini? Kalau ingat cerita cinta antara Kakei dan Narumi dari drama Ordinary People aka Asunaro Hakusho (kertas putih Asunaro), pasti nggak bakalan lupa sama lagu keren yang dibawakan penyanyi pop ballad terkenal Jepang ini. Asal tahu saja, drama ini yang membuat nama Kimura Takuya meroket jadi bintang ngetop untuk pertama kalinya.

Sora mo Toberu Hazu by Spitz
Lagu ini dikenal luas berkat serial drama Hakusen Nagashi yang ditayangkan oleh Fuji TV. Memang lagunya bagus dengan balutan musik pop yang enak didengar dan gampang dimengerti, tapi terus terang saja lagu ini merupakan lagu Spitz nomor dua yang paling kusuka setelah lagu Robinson yang punya gaya musik lebih atraktif. Ngomong-ngomong, lagu yang berarti “ke langit pun pasti bisa terbang” ini merupakan lagu wajib non-official (tak resmi) yang sering dibawakan oleh para murid yang baru lulus sekolah. Mungkin karena lirik lagunya mengemukakan semangat untuk meraih masa depan.

Sign by Mr. Children
Pertama kali dengar lagu ini, aku malah belum nonton drama Orage Days yang menjadikan lagu sign sebagai theme song-nya. Dramanya sendiri cukup bagus dan tak bertele-tele seperti drama kebanyakan (lagi-lagi cuma 11 episode) dan lagu sign cukup mewakili isi film yang menceritakan tentang gadis tuli yang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat.

Ai wo Komete Hanataba wo by Superfly
Lagu ini merupakan theme song dorama Edison no Haha (Ibunya si Edison) yang ditayangkan oleh TBS yang pernah kutonton bagian awalnya doang. Lagunya enak dengan suara melengking Ochi Shiho diiringi dengan iringan irama slow-rock plus orkestra.

Kimagure Romantic by Ikimono-gakari
Aku belum pernah menonton drama yang menjadikan lagu ini sebagai theme song-nya yaitu Celeb to Binbo Taro (Selebritis dan Taro si kere) yang dibintangi oleh Aya Ueto. Tapi lagunya sendiri penuh semangat dan lucu, apalagi kalau melihat klip videonya yang menarik dengan menampilkan penyanyi Ikimono-gakari Kiyoe-chan yang imut dalam tema permainan RPG.

Sebenarnya daftarnya masih bisa diperpanjang, namun untuk sementara cukup sekian dulu.

Crossing Over – Terlalu banyak maunya

Produksi: The Weinstein Company (2009)
Sutradara: Wayne Kramer
Pemain: Harison Ford, Ashley Judd, Ray Liotta, Summer Bishil

crossing-over-posterMasalah keimigrasian selalu saja menghiasi permasalahan sosial di setiap negara, terlebih lagi di negara maju seperti USA. Kebanyakan dari para imigran dari luar negeri datang ke negara maju dengan motif untuk memperbaiki kondisi perekonomian dirinya dan keluarga. Apalagi negara seperti USA yang menawarkan iming-iming semu American Dream membuat banyak orang tertarik untuk mengadu nasib di sana baik secara legal maupun illegal. Hal lainnya mungkin disebabkan oleh motif politik ataupun alasan mengejar karir. Aku merasa film ini memiliki kemiripan kerangka dengan Crash dengan tendensi dan cara bercerita yang lebih sederhana dibandingkan film terbaik OSCAR 2005 tersebut.

Karena film ini menampilkan banyak karakter dengan permasalahan imigran yang berbeda-beda, dapat diasumsikan tak ada pemeran utama yang betul-betul menjadi sentral cerita. Setiap tokoh dalam kondisi dan batasan tertentu saling berhubungan satu sama lain, baik langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perubahan nasib karakter. Beberapa bagian cerita cukup menarik dan menyentuh perasaan ditambah dengan berbagai konflik sosial kemasyarakatan seperti masalah terorisme, pemalsuan dokumen hingga urusan gangster.

Masalahnya, film ini memuat terlalu banyak hal untuk diceritakan sehingga apa yang ingin disampaikan seakan-akan mentah begitu saja. Contohnya saja bagian cerita yang paling kusukai yaitu tentang Talisma Jahangir, seorang remaja muslim 15 tahun yang berurusan dengan FBI dan dituduh sebagai calon suicide bomber hanya karena menulis makalah tugas sekolah dengan tema memahami maksud dan pemikiran pembajak pesawat insiden 11 September 2003. Cerita Talisma dibikin kontras dengan kisah keluarga Baraheri, imigran politik kaya raya dari Iran yang merasa dirinya sebagai muslim yang baik dan mendapatkan kewarganegaraan USA lewat proses naturalisasi. Belum lagi cerita digali lebih mendalam tiba-tiba perhatian penonton teralih dengan kisah aktris Australia yang mengejar karir Hollywood tapi terhadang visa ijin tinggal, cerita petugas imigrasi menolong anak imigran meksiko, persoalaan pengacara pembela imigran yang ingin mengadopsi anak afrika, hingga urusan Yahudi atheis berkewarganegaraan Inggris yang ingin mendapatkan visa ijin tinggal sebagai pengajar di sekolah Yahudi di USA lewat turunan darah Yahudinya.

Walaupun demikian, film ini menawarkan konflik-konflik yang menarik untuk disimak sekalipun dengan tumpang tindihnya cerita. Anda bisa memikirkan permasalahan yang ditawarkan dalam film ini lebih lanjut setelah menonton tanpa perlu memikirkan ending film. Toh hasil akhir yang didapat oleh para imigran hanya ada tiga koq, dapat ijin tinggal secara legal, gagal dan dideportasi, atau malah nekad tinggal terus tanpa ijin dengan segala resikonya. Mengenai akting para pendukungnya, aktor senior seperti Harison Ford tampil cukup meyakinkan sebagai petugas polisi bagian imigran gelap. Namun yang benar-benar patut mendapat pujian khusus adalah aktris muda turunan India, Summer Bishil yang membawakan peran Talisma sang anak imigran Bangladesh.

Rating: 3.25/5

Next Page »