Posts Tagged 'The'

Millennium Trilogy – Kisah misteri dari Swedia

Ketika aksi para detektif dan penyelidik dari film-film Hollywood mulai membosankan, dicarilah sosok detektif alternatif dari dunia perfilman lain. Yang sempat heboh tahun lalu adalah film detektif Inggris Sherlock Holmes, garapan Guy Ritchie dengan bintang (masih) Hollywood Robert Downey Jr. sebagai sang detektif rekaan sastrawan Inggris Sir Arthur C. Doyle tersebut. Lalu bagi yang tertarik dengan film-film dari daerah Scandinavia, tentu tak lupa pada sosok detektif partikelir asal Norwegia Varg Veum yang adaptasi film pertamanya tahun 2007 dari novel (juga) Bitter Flowers buah karya Gunnar Staalesen. Film pertama kisah Varg Veum tersebut diikuti dengan adaptasi novel Staalesen berikutnya hingga total filmnya berjumlah enam. Sepertinya memang daerah Scandinavia tak habis begitu saja menciptakan kisah detektif. Kali ini dari negara tetangganya Varg Veum yaitu Swedia, 3 buah novel misteri karya Stieg Larsson laris manis dipasaran eropa. Uniknya, 3 buah novel yang dijuluki Millennium Trilogy ini justru dirilis dan meledak penjualannya setelah Larsson mendadak meninggal dunia pada tahun 2004. Continue reading ‘Millennium Trilogy – Kisah misteri dari Swedia’

Up in the Air – Traveling and Connecting

Life is better with company. Everybody needs a co-pilot
(Ryan Bingham)

Film ini adalah film pertama ditahun ini yang kutonton untuk mendapatkan nilai 4.5/5 dariku. Tak berlebihan memang, karena film ini menampilkan sebuah film utuh yang hampir tiada cacat. Sutradara film ini Jason Reitman boleh dibilang masih bau kencur kalau melihat jumlah film yang dihasilkannya, tapi jika melihat kualitas film yang diarahkannya, anda pasti akan terkesan dengan kemampuannya. Oh ya, kalau melihat nama keluarganya anda mungkin sudah bisa menebak kalau Jason masih punya hubungan keluarga dengan sutradara film komedi terkenal Ivan Reitman. Jason memang anak lelaki satu-satunya Ivan Reitman yang mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi sutradara. Film ini adalah adaptasi novel karya Walter Kirn dengan judul yang sama.

Perkenalkan sang tokoh utama Ryan Bingham (George Clooney), seorang motivator ulung umur 30-an tahun yang bekerja sebagai career transition counselor (bingung menerjemahkannya). Pekerjaan utamanya adalah menjadi konsultan bagi para karyawan yang baru dipecat supaya menemukan karir baru lainnya untuk dirintis kembali. Tentu saja sebelum memberikan konsultasi, tugas Ryan yang paling penting adalah memecat karyawan tersebut karena bos masing-masing tak punya nyali melakukannya. Untuk melakukan tugasnya, Ryan harus sering terbang (disebut sebagai flyer) kesana kemari keliling USA sehingga boleh dibilang kalau rumahnya adalah pesawat terbang dan keluarga terdekatnya adalah kru pesawat, dengan target pribadi untuk terbang hingga mencapai total jarak 100 juta mil.
Continue reading ‘Up in the Air – Traveling and Connecting’

The Message – Pesan atau Propaganda?

Film produksi China Mainland (RRC) ini bertaburan bintang-bintang serial silat terkenal China yang masing-masing sudah memiliki nama yang cukup dikenal oleh pecinta film-serial silat seperti Huang Xiao-ming (Yo Ko/Yang Guo dalam Return of The Condor Heroes 2006), Zhou Xun (Oey Yong/Huang Rong dalam Legend of The Condor Heroes 2003), Alec Su (Thio Buki/Zhang Wuji dalam Heaven Sword and Dragon Sabre 2003) hingga Li Bingbing (Penyihir rambut putih dalam The Forbidden Kingdom bareng Jet Li dan Jackie Chan). Film bertema thriller misteri dan bernuansa noir spionase ini diangkat dari adaptasi novel berjudul sama (judul asli feng sheng yang berarti suara angin alias gosip) karya Mai Jia yang memang cukup dikenal di RRC sebagai penulis novel misteri.
Continue reading ‘The Message – Pesan atau Propaganda?’

Blood: The Last Vampire – Live Action

Judul lain: ラスト・ブラッド alias Last Blood
Sutradara: Chris Nahon
Produksi: Multi-National production including China, Japan, France and USA (2009)
Pemain: Gianna Jun, Allison Miller, Liam Cunningham, Yasuaki Kurata, Koyuki

lastbloodTidak seperti Dragon Ball dimana aku sendiri bukan merupakan fans, Blood: The Last Vampire (BTLV) adalah salah satu anime favoritku. Ditambah lagi serial TV Blood+ yang menampilkan cerita alternatif yang lebih panjang dan detail tentang tokoh SAYA (sengaja ditulis dengan huruf besar) merupakan salah satu serial anime yang menarik perhatianku. Juga tidak seperti Dragon Ball Evolution (DBE), kemunculan live action BTLV lumayan menggugah minatku untuk menyaksikannya karena kebetulan aku menyaksikan dua versi anime diatas hingga tamat. Secara visual (adegan eksyen) memang cukup mengesankan, lebih baik dibandingkan dengan DBE. Tapi secara cerita boleh dikatakan masih jauh untuk dibandingkan dengan versi anime/manga/serial TV, walaupun plot dan garis besar cerita mengambil langsung dari film animenya.

Seperti juga film anime BTLV dan serial Blood+, film ini juga menampilkan tokoh utama cewek usia SMU berpakaian sailor (pakaian sekolah pelajar wanita Jepang) bergaman katana (pedang para samurai) yang bernama SAYA. Dalam film ini juga SAYA harus berhadapan dengan para makhluk penghisap darah yang disebutnya sebagai blood-sucker (kontras dengan dua versi anime yang dipanggil Chiropteran alias yokushu dalam bahasa Jepang yang berarti si tangan bersayap). Dalam petualangannya yang bersetting tahun 1970 ini, SAYA mendapatkan jejak Onigen (blood-sucker level atas) di Tokyo atas dukungan informasi dari organisasi rahasia yang bernama The Council. Untuk mendapatkan info lebih lanjut dalam Kanto Air Base (nama fiksi sebagai pengganti Yokota Air Base asli dalam anime) Tokyo, SAYA terpaksa menyamar sebagai murid SMU di sekolah khusus untuk anak-anak keluarga tentara yang bertugas di pangkalan militer tersebut. SAYA yang biasanya bertindak sendiri kali ini ditemani Alice, seorang anak Jenderal yang menjadi teman sekelasnya.

Awal film ini sebenarnya cukup menjanjikan karena adegan yang ditampilkan adalah adegan permulaan anime BTLV, dimana SAYA membabat orang yang diyakininya sebagai blood-sucker dalam aksi kejar-kejaran di dalam kereta listrik bawah tanah Tokyo. Untuk menggantikan peran organisasi rahasia Red Shield dalam anime, organisasi yang dinamakan The Council muncul untuk mendukung aktivitas SAYA dibantu dengan agen lapangannya Michael Harrison (David dalam versi anime). Tokoh baru sepasang agen kembar yang ditugaskan The Council untuk “membersihkan” jejak aktivitas SAYA juga sebenar cukup keren, namun sayangnya bersamaan dengan kemunculan tokoh Alice malah imej film jadi berantakan. Banyak sekali keanehan menyebalkan yang tak sesuai dengan alur cerita muncul dan malah mengganggu keasyikan penonton dalam menikmati film. Bagi yang tak berkeberatan dengan spoiler bisa mengunjungi situs ini untuk mengetahui keanehan yang menyebalkan tersebut, terutama yang berhubungan dengan tokoh Alice. Terus terang saja menurutku sutradaranya banyak melakukan kesalahan dengan banyaknya adegan yang terasa tidak nyambung.

Untungnya adegan eksyen lumayan keren, terutama adegan laga cukup mengobati kekecewaan. Terlepas dari proses editing yang agak mengganggu (harap maklum, edit diperlukan dalam adegan laga karena Jeon Jihyun bukanlah ahli bela diri), adegan laga garapan Corey Yuen yang gemar menampilkan wire-fu (Kungfu dengan kawat tipis yang membuat aktornya terlihat meloncat terbang) terlihat jauh lebih baik dibandingkan Dragon Ball Evolution maupun Street Fighter: Legend of Chun-Li. Beberapa adegan pertarungan agak mengingatkan pada film Crouching Tiger Hidden Dragon (CTHD), misalnya adegan kejar-kejaran diatas atap mengingatkan adegan Michelle Yeoh mengejar Zhang Ziyi yang bertopeng dalam CTHD. Untuk adegan laga lain non tarung seperti blood-sucker bersayap yang mencegat truk yang dikendarai SAYA dan Alice malah terlihat menyontek adegan Underworld: Evolution-nya Kate Beckinsale, sehingga meninggalkan kesan kurang enak. Beberapa adegan dengan spesial efek yang ditampilkan agak kurang berkesan, terutama darah muncrat buatan CGI yang terlihat menyebalkan. Teknik pencahayaan yang dipakai untuk menampilkan kesan suram cukup lumayan, paling tidak pilihan warna oranye kemerahan merupakan suatu pilihan menarik untuk menggantikan kesan suram anime yang mengambil warna abu-abu sebagai warna latar.

Akting para pemainnya termasuk standar biasa saja, malah beberapa pemain yang agak kaku berbahasa Inggris terdengar seperti sedang mengeja bacaan. Dengar saja dialog antara SAYA dengan Onigen yang diperankan aktris Jepang Koyuki terdengar seperti orang debat pidato. O ya, anda bisa menyaksikan kembali penampilan aktor senior spesialis film laga Yasuaki Kurata yang didapuk sebagai pengasuh SAYA yang bernama Kato. Terakhir aku melihat penampilan Kurata yang berduel dengan Jet Li dengan mata tertutup dalam film fist of legend.

Bagi yang penasaran ingin menonton film ini, tak usah berharap banyak. Cukup ditanamkan dalam pikiran anda untuk menikmati BTLV versi live action ini sebagai hiburan semata. Bagi penggemar aktris Korea si cakep Jeon Jihyun alias Gianna Jun kayak gue :mrgreen:, anda tidak akan melihat sosok yang streotip dengan peran-peran Jihyun sebelumnya yang menguras air mata. Disini anda bisa melihat aksi Jihyun dalam memukul, menendang, dan bermain pedang bacok sana bacok sini. Lumayan buat hiburan koq.

Rating: 3/5

The Ramen Girl – Membuat mie dengan hati

Sutradara: Robert Allan Ackerman
Produksi: View Company ( 2008 )
Pemain: Brittany Murphy, Toshiyuki Nishida, Sohee Park, Tammy Blanchard

Akhir-akhir ini aku jarang nonton film akibat sibuk beraktivitas, baik itu masalah kehidupan sehari-hari maupun aktivitas kampus seperti eksperimen, bikin laporan buat presentasi hingga cari beasiswa sana sini. Ketika ada waktu luang aku menemukan film ini dan tertarik dengan trailer yang kusaksikan lewat youtube. Jadilah film The Ramen Girl ini menemaniku menghabiskan waktu luangku.

Sayangnya skenario buruk, penggarapan apa adanya dan kasting pemain utama yang salah kaprah membuat film ini jadi sekedar tontonan lewat tanpa menimbulkan kesan apapun. Padahal temanya cukup menarik yaitu bagaimana ramen (mie china buatan jepang) bisa membuat perasaan orang yang memakannya menjadi menjadi lebih baik. Intinya sih dengan menyiapkan makanan dengan penuh perasaan, justru perasaan itulah bumbu yang akan membuat orang yang memakan sajian akan menjadi lebih baik.

Abby seorang wanita muda datang dari Amerika untuk menemui kekasihnya Ethan yang bekerja di Tokyo. Kenyataannya tak lama kemudian, justru Ethan mencampakkannya hingga Abby tiba-tiba saja menjadi wanita lemah tak berdaya dengan impian hancur berantakan. Ketika sedang meratapi nasibnya, Abby melihat kedai ramen didekat apartment tempat tinggalnya dan memutuskan pergi ke sana.

Di kedai ramen milik Maezumi ini Abby makan ramen dan sehabis makan tiba-tiba dirinya merasa dirinya lebih baik Pada kesempatan makan yang kedua Abby melihat betapa seorang lelaki yang sedang kusut pikiran menjadi bersemangat setelah makan ramen buatan Maezumi. Sejak itu Abby bertekad untuk belajar bagaimana membuat ramen yang bisa mengubah perasaan orang yang memakannya menjadi lebih baik. Maezumi yang dimintanya menjadi sensei (guru), justru memberikan tugas tukang bersih-bersih kedai hingga toilet. Bagaikan cerita film silat, sang guru yang keras mulai memberikan jurus-jurus membuat ramen mulai dari tugas yang kelihatan remeh. Cerita Abby belajar juga diselingi dengan interaksi Abby dengan Toshi pacar barunya yang orang Jepang turunan Korea dan Gretchen, seorang hostes kenalan Abby yang numpang tinggal di apartement milik Abby.

Tak jelas arah film ini mau dibawa kemana. Film dengan genre semi-cerita kungfu, drama cinta mengharu biru atau masalah kritik sosial budaya. Seluruh tema tadi disajikan campur aduk dengan tanggung, belum lagi hawa kisah semi-fantasi yang mengingatkan film chocolate-nya Juliette Binoche dan Johnnie Depp yang tidak tergarap dengan baik. Ada beberapa kelemahan dalam skenario yang justru memperlihatkan betapa tak masuk akalnya cerita yang dibuat. Misalnya saja bagaimana Abby bisa mempelajari teknik pembuatan ramen yang sempurna (yang katanya rumit) dalam waktu beberapa bulan, sedangkan untuk berkomunikasi dengan sensei Maezumi saja sering tidak nyambung. Lalu ada lagi cerita rahasia pembuatan ramen yang mementingkan kokoro (perasaan) sang pembuatnya. Bagaimana bisa Maezumi seorang pemabuk yang punya masalah keluarga dan punya karakter keras bisa membuat ramen yang mampu mengubah suasana hati pemakannya menjadi gembira. Padahal katanya jika peracik ramen membuat ramen dengan kondisi tak bahagia, sedih dan tertekan, sang pemakan akan terpengaruh dengan kondisi hati si peracik.

Tokoh utama Abby yang dimainkan oleh Brittany Murphy terlihat bagaikan tokoh opera sabun atau lebih cocok lagi sinetron Indonesia yang penuh dengan tangis, lemah tak berdaya, lalu tiba-tiba bangkit melawan dengan bersimbah air mata. Jika Jihan Fahira cocok berperan dalam Sinetron Tersanjung dan sequelnya, maka Brittany Murphy terlihat cukup mewakili perumpamaan Jihan Fahira dalam film ini. Sohee Park yang membawakan tokoh Toshi hanya bermain ala kadarnya. Yang bermain mendingan justru Toshiyuki Nishida, aktor Jepang yang berperan sebagai pemilik kedai ramen Maezumi. Gaya tengil, cerewet dan kasar Nishida sebagai mentor pembuat ramen cukup jitu dan berkesan, hanya saja sayangnya skenario yang kurang kuat membuat Nishida tak bisa berbuat lebih banyak lagi. Begitu pula dengan Tammy Blanchard yang memainkan karakter Gretchen sebenarnya cukup menarik tapi sayang tokoh yang dimainkannya sendiri terlihat hanya sekedar tempelan.

Anda tak perlu membandingkan film ini dengan film bertema bentrok budaya dengan setting Jepang seperti Lost in Translation ataupun film Perancis yang berjudul Fear and Tremblings yang kubahas sebelumnya, karena perbedaan kualitasnya cukup jauh.

NB. (edit untuk yang ingin mengetahui perbedaan ramen, soba dan udon)
mie
Kategori mie di Jepang ada beberapa macam. Jenis mie Jepang yang sering dimakan adalah Soba (terbuat dari buckwheat dan berwarna kecoklatan) dan Udon (bentuk mie lebih tebal, berwarna putih, mirip kweetiau), sedangkan ramen adalah jenis mie China (seperti mie kuning buat mie rebus) yang pembuatannya telah dilokalisasi ala Jepang. Aku sendiri belum pernah makan ramen satu kalipun, maklumlah seluruh ramen mengandung lemak dan irisan daging babi.
Mie instan di Indonesia mungkin identik dengan instant ramen di Jepang karena bentuk dan kemasannya yang mirip, apalagi mie instan pertama didunia dibuat di Jepang dalam bentuk instant ramen. Seperti juga ramen biasa, instant ramen juga mengandung unsur babi.

Rating: 2.25/5

The Pillows – Japanese Alternative Rock Band

Kemungkinan besar kebanyakan dari anda belum pernah mendengar nama band Jepang yang satu ini. Jangankan di Indonesia, orang muda Jepang sendiri belum tentu kenal dengan nama band pengusung alternative rock ini. Harap maklum, alternative rock bukanlah visual kei yang banyak digandrungi anak muda Jepang. Padahal dikalangan para pemusik Jepang, nama The Pillows sudah cukup layak untuk disandingkan dengan nama band legenda genre lain. Bahkan pada tahun 2004, sebuah album tribute untuk The Pillows berjudul Synchronized Rock pernah diluncurkan dengan pengisi band-band terkenal Jepang seperti Mr. Children, Ellegarden dan Bump of Chicken yang membawakan cover version lagu-lagu lawas milik The Pillows.

pillows31

The Pillow pertama kali terbentuk di Hokkaido pada bulan September tahun 1989. Kisah dimulai dengan bubarnya grup band Kenzi and The Trips dimana Kenji Ueda tadinya bergabung sebagai pemain bass. Pada saat itu Ueda bertemu dengan vokalis grup band The Coinlocker Babys yang bernama Sawao Yamanaka. Ueda dan Yamanaka mulai merencanakan untuk membentuk grup band baru. Ueda mengajak Shinichiro Sato, mantan drummer Kenzi and The Trips untuk ikut bergabung, sedangkan Yamanaka mengajak Yoshiaki Manabe gitaris utama grup band Persia yang juga telah bubar untuk ikut bergabung melengkapi kwartet The Pillows.

Awal karir The Pillows menelurkan dua mini album indies lewat perusahaan rekaman Captain Record hingga mereka pindah dan mendapatkan kontrak dari perusahaan rekaman besar Pony Canyon pada tahun 1991. Formasi awal The Pillows ini masih memainkan musik yang ambigu tanpa ada genre musik utama yang jelas. Pada saat itu pengaruh musik punk dan nama grup Kenzi and The Trips masih kental terasa pada perkembangan musikalitas The Pillows, padahal dalam grup band itu sendiri sangat menginginkan originalitas bermusik yang berbeda. Mungkin ini disebabkan oleh pengaruh kuat Ueda dalam membuat komposisi lagu untuk The Pillows (komposer utama adalah duet Ueda-Yamanaka). Akhirnya demi kelangsungan band, Ueda mengundurkan diri karena perbedaan visi bermusik. Dengan keluarnya leader band dan perpindah perusahaan rekaman, membuat aktivitas The Pillows juga ikutan berhenti selama satu tahun.

pillows4
Trio The Pillows. Kiri-kanan: Sato (drum), Yamanaka (vokal) dan Manabe (gitar)

Yamanaka sebagai leader band yang baru menggantikan Ueda mulai mencari pemain bass untuk mengisi kekosongan. Hanya saja, ketiga anggota The Pilows yang tersisa sama-sama sepakat untuk tak pernah menggantikan posisi pemain bass secara resmi demi menghormati Ueda yang telah membentuk The Pillows. Tatsuya Kashima datang mengisi posisi supporting member untuk pemain bass dan mereka pindah lagi ke perusahaan rekaman baru King Record. Formasi kedua The Pillows ini mulai menetapkan genre musik yang mereka mainkan yaitu alternative rock bergaya jazzy dan bossanova dengan campuran soul. Pada saat inilah mereka mengeluarkan dua album yang menurutku sangat inspiratif dan penuh imajinasi, Kool Spice dan Living Field. Walaupun demikian, album ini masih kurang laku. Mungkin akibat pilihan genre yang kurang popular dikuping masyarakat Jepang. Walaupun demikian, kedua album ini akan menjadi koleksi favorit para fans The Pillows dimasa depan.

junPada tahun 1997, The Pillows meluncurkan album Please Mr. Lostman dengan mengubah gaya bermusik mereka menjadi pure alternative rock tanpa embel-embel jazzy. Album ini cukup sukses dipasaran dan diikuti album-album lain dengan tipe genre serupa. Setelah pelepasan album ke-7 mereka, pada tahun 1999 Kashima memutuskan keluar dan diganti dengan mantan pemain bass grup The Chewinggum Weekend, Jun Suzuki (gambar samping). Hingga sekarang, Suzuki masih tetap terdaftar sebagai supporting member (anggota pendukung) tetap untuk pemain bass. Sebagai supporting member, Suzuki seperti juga halnya dengan Kashima harus menerima konsekuensi gambar dirinya tidak akan pernah muncul dalam cover album, promotion video (PV) clip, maupun sesi pemotretan untuk promosi walaupun hak lainnya sama dengan anggota tetap The Pillows.

Tahun 1999 ini juga, The Pillows didekati pihak studio anime Gainax untuk mengisi soundtrack lagu untuk anime OVA produksi terbaru mereka FLCL (Furi Kuri). Selain mengambil beberapa lagu dari 3 album terakhir, The Pillows juga membuat 2 lagu baru khusus untuk soundtrack anime FLCL. Seiring dengan meledaknya OVA FLCL, nama The Pillows juga ikut terangkat naik. FLCL lebih banyak dikenal di Amerika utara lewat saluran anime Adult Swim sehingga menyebabkan The Pillows beberapa kali bolak-balik diundang untuk manggung di USA. Harus diakui bahwa OST FLCL inilah yang membuat nama The Pillows benar-benar meroket. Dua dari lima lagu favoritku juga berasal dari album OST FLCL (I Think I Can, Funny Bunny, She’s Perfect, Skim Heaven, dan Girl Friend)

pillows5

Hingga kini, The Pillows telah menelurkan 16 studio album (terakhir 2008, album Pied Piper), 28 single, 7 live album hingga 4 album kompilasi. Genre musik yang mereka mainkan sekarang masih tetap alternative rock, belum berubah sejak album Please Mr. Lostman walaupun beberapa lagu dalam satu album kadang mereka mencampurnya dengan pop, blues hingga rock and roll. Tidak seperti Tokyo Jihen yang cukup rumit, komposisi musik mereka gampang dicerna dan enak untuk didengar kuping. Seorang teman penggemar slank (slanker) yang kuberikan album MP3 The Pillows untuk didengarnya mendapatkan kesan bagaikan mendengarkan lagu slank dalam bahasa Jepang (itu katanya dia sih :mrgreen: ). Aku pribadi merasakan keasyikan tersendiri dalam mendengar lagu-lagu yang dibawakan oleh The Pillows. Malah dalam satu kesempatan manggung berdua dengan teman, kami membawakan salah satu lagu The Pilows yang berjudul Funny Bunny. Bagi yang ingin mencoba dengar lagu-lagu mereka bisa mengunduh album The Pillows di halaman J-Music Rare Album Link disamping kanan atas. Bagi yang mau lihat klip musik mereka, silahkan lihat dibawah ini.

The Pillows sekilas info:
busterkun21Main genre: Alternative Rock
Mascot: Buster-kun (gambar samping)
Fans nickname: Little Busters
Recent members:
Sawao Yamanaka (Vocal, Rhythm Guitar)
Yoshiaki Manabe (Lead Guitar)
Sinichiiro Sato (Drums, Percussion)
Jun Suzuki (Bass) – supporting member

Ex Members:
Kenji Ueda (Bass, 1989-1992)
Tatsuya Kashima (Bass, 1993-1999) – supporting member

OST FLCL – I Think I Can

The Pillows live show – Skim Heaven

Manga SKET DANCE mengambil lagu Funny Bunny, sebagai latar cerita band mereka

Gue manggung barengan teman – Funny Bunny

Lagu Girl Friend dari album Living Field yang beraroma jazzy


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: