Posts Tagged 'samurai'

Yamazakura

Sejak pertama kali menonton film adaptasi dari cerita pendek karya Fujisawa Shuhei yang berjudul Twilight Samurai, boleh dibilang aku jadi ketagihan film-film adaptasi dari karya tulis beliau. Berturut-turut trilogi Samurai buatan sutradara Yoji Yamada yang dibuat berdasarkan cerpen Fujisawa telah kutonton: Twilight Samurai, Kakushiken: The Hidden Blade dan terakhir Love and Honor. Fujisawa tidak menitik beratkan plot ceritanya pada aksi keahlian bertarung para samurai yang menjadi tokoh utama, melainkan menampilkan kehidupan sehari-hari para samurai kelas rendahan. Misalnya saja sosok Seibei sang samurai kelas rendah dalam Twilight Samurai yang ditugaskan klan bentengnya sebagai juru tulis digudang beras, lebih banyak mengangkat kuas (pena) dari pada mengangkat pedangnya. Dalam Yamazakura, tokoh utama yang menjadi fokus cerita bukanlah samurai yang bergaman pedang melainkan seorang perempuan yang bernama Noe.
Continue reading ‘Yamazakura’

From Japan with Eiga

Judul diatas bukanlah judul film ataupun judul lagu, melainkan hanya sebuah judul postingan :mrgreen: Eiga dalam bahasa Jepang berarti film dan memang postingan kali ini berisi 3 film Jepang yang kutonton marathon minggu ini. Film Jepang biasanya memiliki pace yang lambat sehingga banyak orang yang kurang berminat menontonnya (tentu saja kecuali para japanophile). Hanya saja, film Jepang sering menawarkan ide menarik dan unik yang jarang ditawarkan oleh industri film lain termasuk Hollywood. Lihat saja Departures yang menyabet piala Oscar 2009 kategori film berbahasa asing terbaik, ide ceritanya yang unik berhasil mengantarkan film ini mendapatkan penghargaan dimana-mana. Kali ini aku menuliskan 3 film yang dua diantaranya pernah mendapatkan gelar film terbaik Japan Academy Prize (Academy Award versi Jepang).
Continue reading ‘From Japan with Eiga’

Samurai High School

Judul asli: サムライ・ハイスクール (Samurai Haisukuuru)
Produksi: NTV (Nippon Television)
Jumlah episode: 9
Pemain: Miura Haruma, Watanabe Anne, Shirota Yuu


Cukup lama juga aku tak pernah nonton serial TV Jepang alias Dorama sampai habis (terakhir, aku nonton Densha Otoko). Kalaupun nonton, biasanya jarang-jarang sampai selesai. Jika ditanya penyebabnya, kebanyakan dari dorama memiliki ceritanya klise, membosankan dan bertele-tele (tidak semuanya sih, tapi kebetulan yang kutonton emang yang seperti itu). Yah, tentu saja tak se-bertele-tele drama korea yang panjangnya saja bikin aku males nonton hanya dari sekedar melihat jumlah episodenya. Dorama kebanyakan hanya memiliki jumlah episode pendek, paling belasan episode karena diputar per musim (samurai High School sendiri merupakan dorama musim gugur). Kebetulan aku nonton sampai habis dan relatif menyukainya, disini aku membuat tulisan resensi dorama ini.
Continue reading ‘Samurai High School’

Sword of the Stranger – Petualangan Samurai Tanpa Nama

Judul Asli: Stranger – Mukou Hadan
Produksi: Bone Studios (2007)
Genre: Anime wuxia

Anime bergenre wuxia jarang sekali ditemukan, kalaupun ada biasanya publisitasnya kurang sehingga banyak orang tidak mengetahui keberadaannya. Barang kali hanya penggemar anime kelas berat saja yang memiliki informasi dan sering menonton anime genre wuxia ini. Sword of the stranger termasuk diantara anime layar lebar genre wuxia berkualitas yang lewat tanpa terdengar jejaknya di Indonesia. Padahal dari segi cerita dan teknik sinematografi tidak kalah bila dibandingkan dengan anime genre lain dengan teknik CGI ataupun film wuxia biasa.

Sinopsis Cerita
Setting cerita: Jepang pada masa daratan China dikuasai dinasti Ming (1368-1644).

Seorang anak tanggung bernama Kotaro dalam pelarian karena diburu oleh sekelompok orang yang diutus oleh kaisar dinasti Ming untuk menangkap Kotaro. Ksatria Ming terkuat dalam kelompok pengejar bernama Rarou, seorang ahli pedang berambut pirang dan bermata biru. Dalam pelariannya Kotaro yang didampingi oleh anjingnya Tobimaru bertemu dengan seorang samurai petualang yang menyelamatkannya dari buruan utusan kaisar Ming. Samurai petualang tanpa nama tersebut disewa oleh Kotaro dengan tugas mengantar Kotaro sampai ke kuil tujuannya hingga selamat.

Para utusan kaisar Ming bekerja sama dengan seorang daimyo (tuan tanah) Akaike dalam misinya menangkap Kotaro. Konflik mulai semakin tajam ketika masing-masing pihak mulai menunjukkan perbedaan demi kepentingan pribadi masing-masing, termasuk Rarou. Selain itu juga ditengah perjalanan, Kotaro menemukan bahwa Nanashi (artinya tanpa nama) samurai petualang yang dibayar untuk mengantarnya, bukanlah samurai jepang melainkan orang asing yang juga memiliki masa lalu gelap.

Komentar penulis
Memang film ini terlihat seperti kisah samurai model Rurouni Kenshin dengan tokoh samurai petualangnya. Tapi konflik yang dihadirkan agak berbeda dengan memasukkan tokoh utusan dari daratan Tiongkok yang justru berperawakan seperti bule eropa. Selain itu juga gaya bertarung yang ditampilkan dalam film ini lebih mengedepankan konsep pertarungan bergaya perang yang realistis, bukan gaya tarung dengan jurus-jurus tertentu. Yang pasti adegan berdarah-darah cukup banyak mewarnai film ini sehingga lebih baik film ini dimasukkan kedalam kategori 13 tahun keatas.

Hal yang agak menggelitik perasaan adalah beberapa anggota utusan kaisar Ming, ada yang bergaya mirip dengan ninja yang notabene berasal dari Jepang. Selebihnya film ini memberikan tawaran yang menarik untuk ditonton baik dari segi cerita maupun dari segi animasinya. Dialog antar tokohnya juga kadang memiliki arti yang cukup mendalam, sehingga menarik untuk disimak lebih lanjut. Hanya saja dialog utusan kaisar Ming yang tetap menggunakan bahasa mandarin terasa kaku. Mungkin para dubber jepang hanya mengucapkannya secara fonetik tanpa menguasai bahasa aslinya.

NB. Arti harfiah dari judul aslinya Mukou Hadan adalah kisah pedang tanpa tahta.

Rating: 3.25/5

Bushi no Ichibun – Kehormatan samurai buta

Judul lain: Love and Honor
Berdasarkan novel: Moumoku ken kodama kaeshi (Kembalinya gema si pedang buta)
Produksi: Shochiku (2006)
Genre: Jidaigeki (film jaman samurai)

Penulis terkenal cerita silat, Liang Yusheng pernah mengatakan bahwa lebih baik beliau tidak menulis sebuah cerita silat (wuxia) jika tanpa semangat kode etik wuxia terkandung didalamnya. Film Bushi no Ichibun ini memuat sebuah nilai yang dimaksudkan oleh Liang Yusheng yaitu membela kehormatan. Kode etik wuxia dalam dunia “kependekaran” di Jepang disebut Bushido.

Judul Bushi no Ichibun berarti satu bagian dari Bushi. Kata Bushi dapat diartikan secara harfiah sebagai ksatria, sehingga Bushido sendiri diartikan sebagai jalan ksatria. Ada perbedaan mendasar antara panggilan samurai dengan bushi. Biasanya seorang pendekar sejati lebih suka dipanggil bushi dari pada samurai karena samurai lebih dekat dengan dunia politik dari pada bushi dan samurai juga memiliki suatu posisi dan tingkatan tertentu dalam jajaran petugas pemerintahan.

Film buatan 2006 ini adalah karya terakhir dari trilogi film jidaigeki (film bertema samurai) karya sutradara Yoji Yamada yang sebelumnya membesut Twilight Samurai dan Hidden Blade. Kali ini Yoji Yamada kembali mengadaptasi novel karya Shuhei Fujimura (pengarang Twilight Samurai dan Hidden Blade) kedalam film yang dibintangi oleh bintang film terkenal Jepang saat ini Takuya Kimura. Seperti dua karya sebelumnya, film karya Yoji Yamada ini bercerita mengenai samurai kelas bawah yang kadang cukup miskin untuk hanya sekedar mencari makan sehari-hari.

Sinopsis Cerita (Spoiler)
Shinnojo Mimura (Takuya Kimura) adalah seorang lulusan perguruan pedang lokal yang bekerja dibenteng kampung halamannya. Dia tinggal bersama istrinya yang cantik Kayo (Rei Dan) beserta pembantu tua setianya Tokuhei (Takashi Sasano)yang telah ikut keluarganya sejak ayah Shinnojo masih hidup. Tugas Shinnojo sebagai samurai dalam benteng adalah sebagai dokumi yaku. Dokumi yaku adalah samurai benteng yang bertugas mencicipi makanan sebelum diantarkan kepada Daimyo (penguasa benteng), untuk menjaga kemungkinan musuh meracuni Daimyo. Shinnojo sendiri sudah merasa bosan dengan tugasnya itu dan ingin mewujudkan cita-citanya membangun sekolah untuk anak kecil yang ingin berlatih pedang tanpa memandang kasta (biasanya hanya anak samurai yang boleh berlatih pedang di dojo).

Suatu hari Shinnojo Mimura memakan masakan kerang sashimi (masih mentah) yang racunnya belum dibuang bersih sehingga racun kerang membutakan matanya. Bagi seorang samurai, mata buta sama saja dengan hancurnya karir dan tanpa pekerjaan sulit sekali baginya untuk mendapatkan penghasilan demi menghidupi keluarganya.

Keluarga besar Mimura berkumpul termasuk para paman dan bibinya untuk membahas masalah yang menimpa Shinnojo. Pertemuan itu menghasilkan keputusan dimana Kayo diminta untuk mengunjungi dan meminta bantuan pada Toya Shimada (Bandou Mitsugoro), seorang petinggi benteng pernah naksir Kayo sewaktu belum menikah. Diharapkan agar Toya Yamada dapat menggunakan posisinya untuk mempengaruhi dan membujuk Daimyo agar memberikan jaminan bagi kehidupan Shinnojo dikemudian hari, walaupun tak lagi bertugas.

Kayo memang pergi menuruti permintaan para tetua keluarga Mimura walaupun dalam hatinya Kayo tidak menyukai Shimada yang dikenal mata keranjang. Sewaktu mengunjungi Shimada dan meminta bantuannya, Kayo dilecehkan dan diperkosa oleh Shimada dengan alasan suatu permintaan harus ada timbal baliknya.

Akhirnya datang keputusan dari Daimyo yang menyatakan bahwa Shinnojo Mimura tetap mendapatkan penghasilannya selama sebulan sebesar 30 koku (1 koku kira-kira 180 Liter) beras selama seumur hidup, sama dengan penghasilannya sebelum Shinnojo buta. Hanya saja lama kelamaan Shinnojo merasa curiga dengan tingkah laku istrinya, ditambah dengan gosip tentang Kayo diluaran membuat Shinnojo mengetahui perbuatan Yamada terhadap istrinya.

Dalam kemarahan dan keputusasaan atas kondisi dirinya yang seakan mendapatkan belas kasihan orang dengan menjual istrinya, Shinnojo mengusir Kayo. Hanya saja dari Yamazaki, teman kerja sesama Dokumi yaku yang mengunjunginya dikemudian hari, Shinnojo mengetahui bahwa keputusan Daimyo yang memberikan 30 koku per bulan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Yamada.

Dengan kemarahan meluap, Shinnojo menantang Yamada bertarung demi membela harga diri dan kehormatannya. Masalahnya, Toya Yamada adalah seorang samurai lulusan perguruan terkenal Shin Kage Ryuu (aliran pedang bayangan baru) dari Kyoto yang dikenal dengan julukan issatsu no tachi (pedang dengan satu kematian). Sedangkan Shinnojo sendiri hanyalah lulusan sekolah pedang lokal yang sudah buta matanya. Bahkan sensei (guru) yang mengajarkan ilmu pedang pada Shinnojo sendiri menasehatinya untuk membatalkan rencananya bertarung. Mengingat dengan mata normal saja Shinnojo sulit menang, apalagi dengan mata buta. Belum lagi masalah yang ditimbulkan jika pertarungan sesama samurai didalam benteng diadakan. Siapapun pemenangnya, maka hanya ada hukuman mati bagi yang mengganggu keharmonisan persatuan didalam benteng.

Apakah yang dilakukan oleh Shinnojo demi mendapatkan kembali Bushi no ichibun-nya?

Komentar Penulis
Judul “Bushi no Ichibun” diambil dari jawaban Shinnojo terhadap pertanyaan gurunya yang bertanya apa yang terjadi sehingga Shinnojo ingin berduel mati-matian. Shinnojo menjawab, ”Bushi no Ichibun to shika moshiwake agemasen” yang berarti “Ma’af tak dapat menjawab dikarenakan menyinggung satu bagian dari kehormatanku”. Sedangkan judul bahasa inggrisnya adalah Love and Honour yang kurang lebih dapat sedikit mewakili isi cerita.

Tokoh utama dalam dua karya Yoji Yamada sebelumnya adalah pendekar yang ahli dalam memainkan pedangnya. Tapi kali ini tokoh utama yang dihadirkan adalah seorang lulusan perguruan silat lokal yang menantang lulusan perguruan besar dan terkenal. Terbayang dibenak para pecinta cersil, bagaimana seorang ahli silat kampung menantang pendekar pedang terkenal dari Butong pai ataupun Kunlun pai. Belum lagi si ahli silat kampung matanya justru baru saja buta. Shinnojo Mimura bukanlah Zatoichi yang sudah lama buta dan menguasai ilmu pedang yang telah disesuaikan dengan kondisi matanya yang buta. Kekuatan utama Shinnojo adalah semangatnya untuk membela kehormatan dan harga dirinya serta akal muslihatnya.

Dibandingkan dengan dua karya Yoji Yamada yang sebelumnya, film ini cukup lancar bertutur dan mudah dicerna oleh orang non-jepang. Mungkin bagi penggemar film action, film ini agak mengecewakan karena sedikitnya adegan pertarungan. Tetapi bagi para fans cerita drama silat, film ini bisa mengobati rasa rindu dengan sedikitnya drama silat Jepang yang semakin hari semakin langka ditemui.

Dengan adanya tokoh Shin Kage Ryuu didalam cerita, bisa dipastikan setting cerita berkisar pada jaman Muromachi, masa pemerintahan Shogun Ashikaga. Yaitu pada sekitar tahun 1560-an.

Fakta sejarah
Shin Kage Ryuu (Aliran pedang bayangan baru) adalah aliran yang diciptakan oleh master kenjutsu yang bernama Kamiizumi Ise no Kami Nobutsuna pada awal 1560-an, yang mengadaptasi teknik Kage Ryuu (aliran bayangan) sehingga lebih efektif untuk bertarung dengan cepat menghabisi lawan. Teknik ini dinamakan sama dengan teknik dasarnya, hanya saja ditambahkan kata Shin (baru) untuk menunjukkan adanya perubahan gaya dan jurus dibandingkan dengan teknik lama.

Pada tahun 1566, kedudukan Kamiizumi sebagai ketua Shin Kage Ryuu dilanjutkan oleh muridnya Yagyu Sekishusai Muneyoshi. Setelah menjalankan tugasnya sebagai ketua Shin Kage Ryuu selama beberapa tahun, Yagyu malah mendirikan perguruannya sendiri yang bernama Yagyu Shin Kage Ryuu yang juga sangat terkenal. Keluarga Yagyu sendiri merupakan pelatih kepala bagi pasukan Shogun Tokugawa sejak masa pemerintahan Shogun Tokugawa kedua Hidetada Tokugawa.

Cerita mengenai keturunan keluarga Yagyu sendiri banyak diadaptasi menjadi buku, film, manga dan anime. Mungkin yang paling terkenal adalah kepala klan Yagyu generasi ketiga, cucu dari Muneyoshi yaitu Yagyu Jubei Mitsuyoshi.

Rating 3.75/5


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: