Posts Tagged 'resensi'

Resensi pendek dan singkat [4]

20th Century Boys 3 (2009)

Lagi-lagi bagian ketiga dari trilogi 20th Century Boys mengecewakanku. Ketidak puasan muncul mulai dari akting kaku, dialog cheesy, special effect tanggung, pokoknya setelah menonton sampai habis yang ada hanya rasa sebal. Pertanyaan yang tersisa setelah nonton film ini hanya satu, kemana perginya budget produksi sebesar 6 milyar yen? Tadinya kukira akan habis untuk memeriahkan efek “dunia kiamat”, tak tahunya kemunculan robot dan piring UFO tak jauh beda dibandingkan efek film Kamen Rider di televisi. Hadirnya kembali tokoh Kenji tak menolong bagian terakhir dari trilogi ini menjadi lebih baik. Belum lagi cara pembawaan cerita yang kurang mulus dari sutradaranya menyebabkan orang yang tidak pernah membaca manganya akan bingung dengan siapa sebenarnya sosok tomodachi asli. Ditambah dengan panjangnya durasi film yang mencapai 2.5 jam membuatku nonton sambil melirik jam melulu. Akhir kata, aku cukup khawatir dengan kualitas film Beck, proyek film sang sutradara Yukihiko Tsutsumi yang berikutnya. Semoga saja Beck The Movie tidak mengecewakan para penggemar Beck versi manga dan anime.

Rating: 2.25/5
Continue reading ‘Resensi pendek dan singkat [4]’

Advertisements

I just didn’t do it – Jujur tempatnya di neraka

Pengadilan bukanlah tempat untuk mengungkapkan kebenaran. Tak lebih dari tempat berspekulasi menentukan bersalah atau tidak berdasarkan bukti yang dikumpulkan.
Kaneko Teppei (Ryo Kase)

Banyak orang-orang yang beranggapan bahwa perempuan Jepang adalah cewek gampangan. Tentunya ini tak bisa dilepas dari pengaruh manga/anime yang isinya menyerempet aktivitas seksual. Belum lagi dengan banyaknya produk hentai, erogame dan juga adult video yang beredar bebas dipasaran. Hal ini menyebabkan banyaknya aktivitas pelecehan seksual di Jepang semakin marak. Di kampusku sendiri sampai melancarkan kampanye anti sexual harassment yang juga merupakan kelanjutan dari kampanye menyeluruh pemerintah Jepang. Salah satu sexual harassment yang banyak terjadi justru berlangsung di dalam ruang fasilitas umum, terutama di dalam kereta listrik. Pelecehan seksual ini di Jepang disebut Chikan-痴漢, dan kebanyakan berupa meraba bagian-bagian tertentu korban dalam kondisi berdesak-desakan di dalam kereta. Perempuan yang menjadi korban biasanya tidak bisa berbuat banyak karena posisi orang-orang yang kerumunan. Terlebih lagi, usia para korban biasanya sangat muda (sekitar usia anak SMP) untuk memiliki keberanian mengungkapkan pelecehan. Jika sang korban cukup berani, dia bisa saja menangkap tangan sang pelaku dan tak melepaskannya sambil berteriak “chikan” hingga keadaannya memungkinkan untuk melaporkan si pelaku ke petugas kereta. Mengenai kasus tukang raba (groper) bisa dibaca sedikit di link tulisan ini
Continue reading ‘I just didn’t do it – Jujur tempatnya di neraka’

Resensi pendek dan singkat [3]

1. Motherhood – 2009

“Because mom is do everything and dad only did something. It’s different.”
Itulah kalimat yang diucapkan seorang anak yang minta ibunya lebih banyak dirumah dari pada ayahnya. Ibu mana yang tega menolak permintaan anaknya. Film ini ingin menyampaikan apakah arti menjadi seorang ibu, dan apa yang disampaikan menurutku sangat pas. Film ini cocok buat tontonan keluarga terutama pasangan muda dengan anak kecil, walaupun tentu saja menarik bagi orang yang menyukai film bertema keluarga. Cerita yang mengalir, terasa real dan membumi membuat film ini bisa masuk ke hati para penonton. Memang film ini produksi independen, sehingga bujet produksi tidak memungkinkan adegan spektakular. Tapi teknik pengambilan gambar yang baik membuat adegan yang kebanyakan diambil ditempat itu-itu saja tetap enak untuk ditonton. Uma Thurman sendiri? Wuih, membuatku berpikiran inilah istri yang tepat untuk diajak mengarungi hidup disaat senang dan susah.
Continue reading ‘Resensi pendek dan singkat [3]’

Up in the Air – Traveling and Connecting

Life is better with company. Everybody needs a co-pilot
(Ryan Bingham)

Film ini adalah film pertama ditahun ini yang kutonton untuk mendapatkan nilai 4.5/5 dariku. Tak berlebihan memang, karena film ini menampilkan sebuah film utuh yang hampir tiada cacat. Sutradara film ini Jason Reitman boleh dibilang masih bau kencur kalau melihat jumlah film yang dihasilkannya, tapi jika melihat kualitas film yang diarahkannya, anda pasti akan terkesan dengan kemampuannya. Oh ya, kalau melihat nama keluarganya anda mungkin sudah bisa menebak kalau Jason masih punya hubungan keluarga dengan sutradara film komedi terkenal Ivan Reitman. Jason memang anak lelaki satu-satunya Ivan Reitman yang mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi sutradara. Film ini adalah adaptasi novel karya Walter Kirn dengan judul yang sama.

Perkenalkan sang tokoh utama Ryan Bingham (George Clooney), seorang motivator ulung umur 30-an tahun yang bekerja sebagai career transition counselor (bingung menerjemahkannya). Pekerjaan utamanya adalah menjadi konsultan bagi para karyawan yang baru dipecat supaya menemukan karir baru lainnya untuk dirintis kembali. Tentu saja sebelum memberikan konsultasi, tugas Ryan yang paling penting adalah memecat karyawan tersebut karena bos masing-masing tak punya nyali melakukannya. Untuk melakukan tugasnya, Ryan harus sering terbang (disebut sebagai flyer) kesana kemari keliling USA sehingga boleh dibilang kalau rumahnya adalah pesawat terbang dan keluarga terdekatnya adalah kru pesawat, dengan target pribadi untuk terbang hingga mencapai total jarak 100 juta mil.
Continue reading ‘Up in the Air – Traveling and Connecting’

Julie & Julia: Film 2 in 1

Akhirnya penulis sekaligus sutradara Nora Ephron bikin film lagi setelah terakhir kalinya mengarahkan Nicole Kidman sebagai penyihir pada tahun 2005. Bagi penggemar film-film bertema feminis, tentu anda merasa akrab dengan nama Ephron yang telah menelurkan karya-karya penuh kenangan seperti Slepless in Seattle dan tentu saja karya fenomenalnya sebagai penulis, When Harry met Sally… Kali ini Ephron kembali ke kursi sutradara merangkap penulis skenario dan produser, mengarahkan aktris senior Meryl Streep dan juniornya Amy Adams dalam satu film dengan setting 2 masa (tahun 1950-an dan 2002) serta 2 lokasi (Perancis dan Amerika).
Continue reading ‘Julie & Julia: Film 2 in 1’

Resensi pendek dan singkat [2]

Akhir-akhir ini jatah nonton film serial berkurang karena banyak serial yang libur tayang menjelang natal dan tahun baru. Untuk mengisi kekosongan, film layar lebar kembali menjadi santapan penulis. Hanya saja karena lumayan banyak yang ditonton, ditambah malasnya penulis bikin resensi per film yang memakan waktu, akhirnya hanya membuat resensi pendek seperti ini yang bisa dilakukan. O iya, kali ini resensi pendeknya hanya menampilkan film-film produksi asia.

1. 4th Period Mystery (Korea, 2009)
Masih ingatkah kalian pada anak kecil yang minta fried chicken pada neneknya yang tua renta tapi malah dikasih ayam rebus dalam film Korea yang berjudul The Way Home? Yoo Seung-hoo adalah namanya, dan dia telah cukup dewasa untuk berperan sebagai anak SMU yang mencoba memecahkan kasus pembunuhan disekolah tempat dirinya belajar. Lumayan menghibur sih, terutama untuk penggemar wajah cewek-cewek korea yang cute dan menggemaskan. Tapi dari segi penggarapannya, misteri yang ditawarkan kurang gereget dan yang sangat terlihat adalah sutradaranya gagal membangun ketegangan. Padahal Yoo dan temannya hanya punya waktu untuk memecahkan kasus sampai jam sekolah berdentang di periode ke-4 tanda waktu ganti mata pelajaran. Jadinya malah mirip dengan drama remaja korea dengan selipan misteri pembunuhan yang renyah.

Rating: 2.75

2. Rebellion (Hongkong, 2009)
Shawn Yue mulai banyak terlihat wajahnya dalam film-film aksi produksi Hongkong akhir-akhir ini. Dalam film ini Yue berperan sebagai Po, tukang pukul boss gangster yang pada awal film sekarat akibat percobaan pembunuhan. Karena kekuasaan geng lowong selama menunggu penunjukan boss baru, Po ditunjuk sebagai boss sementara. Tentu saja hal ini membuat anggota geng lainnya merasa dilecehkan, cuma tukang pukul malah diangkat sebagai boss. Padahal masih ada anggota geng lainnya yang memiliki kekuasaan yang lebih besar. Film ini boleh dikatakan bergenre thriller detective karena selain menampilkan konflik antar geng, karakter yang dibawakan Yue juga bertindak sebagai detektif amatir untuk mencari dalang pembunuh si boss. Sayangnya akting Yue terlihat mentah dalam film ini, malah tokoh sekunder yang diperankan Champman To sebagai orang geng nomer dua lebih meyakinkan dibandingkan Yue. Aku benar-benar sebal dengan eksekusi akhir yang cuma menampilkan adegan flashback 3 bulan dan 1 tahun sebelumnya. Kesannya norak dan kayak tak punya ide untuk menampilkan ending yang lebih baik.

Rating: 2.75/5

3. Super Cub (Jepang, 2009)
Film ini mengambil tema yang agak mirip dengan film action komedi Perancis Taxi, hanya saja mobil Taxi digantikan perannya dengan motor ber cc rendah yaitu Honda Super Cub yang dipermak menjadi motor balap super cepat. Tokoh utamanya mantan jawara balapan liar Takeshi yang terpaksa bekerja part time di kedai soba ( jenis mie Jepang), termasuk mengantarkan pesanan dengan motor Honda Super Cub bergigi tiga. Ceritanya memang terlalu mengada-ada dan kadang humor orang Jepang dalam film ini terasa garing bagi penonton non-Jepang yang kurang mengerti tradisi humor orang Jepang.

Rating: 2.5/5

4. Murderer (Hongkong, 2009)
Film ini menarik perhatianku lebih dikarenakan posternya yang mengundang. Tampang manis Aaron Kwok disulap menjadi sosok yang aku sendiri sulit menggambarkannya. Marah? putus asa? gila? dendam? psikopat? entahlah. Yang pasti filmnya cukup menarik untuk diikuti. Thriller yang menegangkan, balutan misteri yang cukup bikin penasaran, plus sedikit adegan gory walaupun tak separah serial SAW. Aku suka dengan sinematografinya, tapi tidak dengan ritme yang dibangun oleh sang sutradara. Seharusnya film ini bisa jadi lebih menegangkan asalkan sutradaranya pandai mengatur tempo. Terlebih lagi Aaron Kwok terlihat over acting dalam memerankan tokoh detektif yang dicurigai sebagai pembunuh, apalagi pada adegan akhir yang menurutku gaya Kwok terlalu berlebihan.

Rating: 3.25/5

New TV Serial: FlashFoward vs The Forgotten

Akhir-akhir ini jadwal nonton filmku tergerus dengan kesibukan di kampus, kalaupun ada waktu yang terselip lebih kupakai untuk nonton serial TV yang selalu kuikuti setiap minggunya dari pada menonton film layar lebar. Belum lagi kini ada serial TV baru yang mulai masuk tontonan serial regularku.
Sebenarnya ada 3 serial baru yang menambah koleksi tontonan serial TV setelah Supernatural, Heroes, Little Mosque in the Prairie hingga Dexter. Kali ini aku hanya akan membahas serial FlashForward dan The Forgotten yang sudah tayang 7 episode lebih, sedangkan serial V yang baru tayang 2 episode akan dibahas nanti setelah cukup banyak episode tayangannya untuk dibuat resensinya.

FlashForward

Plot Cerita:
Pada suatu hari, diasumsikan manusia di seluruh dunia tiba-tiba saja jatuh pingsan mendadak selama 2 menit 17 detik dan pada saat tak sadarkan diri, masing-masing individu mendapatkan visi tentang masa depan diri pribadi pada 6 bulan yang akan datang (disebut dengan nama FlashForward). Mengetahui salah satu bagian dirinya di masa depan menyebabkan perubahan mendadak bagi masing-masing individu. Fenomena apakah yang menyebabkan orang-orang dapat melihat masa depan? Apakah ini suatu hikmah dari yang maha kuasa? atau mereka menjadi korban suatu eksperimen rahasia? Sang tokoh utama agen FBI Mark Benford (Joseph Fiennes) dan rekan-rekannya mendapatkan tugas untuk menyelidiki fenomena tersebut. Belum lagi masing-masing dari anggota tim harus berurusan dengan FlashForward yang mereka dapatkan selama jeda pingsan 137 detik serta interaksi dengan orang-orang yang mendapatkan visi masa depan yang saling berhubungan.
Continue reading ‘New TV Serial: FlashFoward vs The Forgotten’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic

Advertisements

%d bloggers like this: