Posts Tagged 'perancis'

L’Immortel – Manusia 22 peluru

Horeeee….. Jean Reno akhirnya sering main film Perancis lagi. Bukannya saya tidak suka dengan film-film Reno buatan Hollywood, tapi aku merasakan totalitas akting Reno biasanya lebih kuat jika ditangani oleh orang Perancis. Malah salah satu film terbaik buatan Hollywood (sebenarnya sih semi-Hollywood) Reno yaitu Leon aka The Professional, diarahkan oleh Luc Besson yang notabene orang Perancis. Anda juga tentu tak lupa dengan salah satu film Mystery-Thriller terbaik Crimson Rivers, juga merupakan film Perancis. Walaupun demikian, tidak semua film Perancis yang melibatkan Jean Reno bisa memuaskan diriku. Misalnya saja film yang kutonton sebelum L’Immortel yang berjudul Le Premier Cercle . Peran Reno dalam Le Premier Cercle agak mirip dengan L’Immortel yang kubahas dalam postingan ini yaitu Reno berperan sebagai boss gangster. Hanya saja Le Premier Cercle jatuhnya biasa-biasa saja kalau dibandingkan dengan drama gangster Russia-nya Viggo Mortensen dalam Eastern Promises.
Continue reading ‘L’Immortel – Manusia 22 peluru’

Un Prophete – Sang Nabi dibalik Terali

Judul lain: A Prophet
Sutradara: Jacques Audiard
Pemain: Tahar Rahim, Niels Arestrup

Bukanlah pekerjaan gampang untuk membuat film yang bersetting didalam penjara. Selain harus memaksimalkan ruang yang relatif sempit karena syuting ditempat yang itu-itu saja, sutradara harus pintar-pintar menerjemahkan isi skenario sehingga membuat film buatannya tidak membosankan selama 2 jam. Memang tak banyak-banyak amat film penjara yang pernah dibuat karena agak sulit membuatnya menjadi film menarik dan kalau bisa cukup komersil. Lihat saja film Lock Up nya Sylvester Stallone yang membosankan dan kurang laku, walaupun menjual nama si Rambo. Berbanding terbalik dengan film bertema serupa seperti Shawshank in Redemption dan The Green Mile buah karya dari novel adaptasi Stephen King yang sangat menarik untuk ditonton. Film ini disutradarai oleh Jacques Audiard yang dikenal sebagai sutradara The Beat That My Heart Skipped, sebuah film wajib tonton yang mengantarkannya meraih gelar sutradara terbaik Cesar award. Menurutku Audiard berhasil menyuguhkan penjara sebagai sebuah tempat tinggal yang penuh dengan kesedihan, ketakutan, kekerasan, kegembiraan, kebersamaan, sekaligus tempat untuk memulai harapan baru. Continue reading ‘Un Prophete – Sang Nabi dibalik Terali’

Largo Winch – thriller Perancis adaptasi komik Belgia

Aku memang lebih tertarik nonton film thriller buatan Perancis dari pada buatan Hollywood, padahal kalau dipikir-pikir buatan Hollywood jauh lebih bombastis dan banyak menampilkan adegan-adegan seru yang memakan banyak uang dollar. Selain itu juga, film thriller Perancis seringkali memakai cara penceritaan yang agak lambat diawal film, baru kemudian perlahan semakin cepat setelah pertengahan film. Beda dengan film Hollywood yang selalu berusaha menampilkan adegan tegang disetiap menit. Tapi ada satu kelebihan film thriller Perancis yang kusuka, mereka pandai sekali menyimpan kejutan-kejutan spesial yang akan membuat anda tahan menyimak setiap adegan hingga film habis. Kejutan-kejutan itu bagaikan kado yang disimpan dalam kotak yang berlapis-lapis bungkusnya dan disingkap sehelai demi sehelai sehingga membuat anda penasaran. Contoh film thriller Peracis yang kusuka adalah Tell No One yang pernah kubahas sebelumnya.

Film dimulai dengan dibunuhnya Nerio Winch (Miki Manojlovic) milyuner Perancis berdarah Balkan di kapal pesiarnya yang berada di perairan Hongkong. Karena kematiannya bisa menyebabkan kericuhan bursa saham dan mengacukan perekonomian dunia (mengingat perusahaan Winch Group W termasuk salah satu yang terbesar seantero jagat), kematian Winch dilaporkan akibat penyakit kanker. Dewan direksi Group W pimpinan direktur sementara Ann Ferguson (Kristin Scott Thomas) menjadi kacau balau, apalagi mereka baru mengetahui kalau si Winch tua ternyata mewariskan 65% saham miliknya kepada Winch junior bernama Largo yang keberadaannya dirahasiakan hingga tak satupun anggota direksi mengetahuinya. Largo Winch (Tomer Sisley) adalah anak angkat Winch tua yang memang sudah dipersiapkan untuk menggantikan kedudukannya sebagai boss kerajaan bisnis Winch.

Largo sediri sebenarnya enggan untuk melanjutkan kekuasaan bisnis ayah angkatnya, terlihat dari sikap pemberontakannya yang lebih suka bertualang sekehendak hatinya hingga masuk penjara dibelahan bumi Amerika Selatan dengan tuduhan menyelundupkan narkotik. Sampai akhirnya Largo mendapatkan bahwa ayah angkatnya bukan mati karena kanker, melainkan dibunuh. Dari sini mulailah cerita petualangan Largo dalam membuktikan dirinya sebagai pewaris asli kerajaan bisnis Winch, mencari dalang pembunuh ayah angkatnya, menelusuri jejak latar belakangnya di panti asuhan sebelum dipungut, hingga berkelit dari incaran pembunuh ayahnya yang ingin menguasai Group W dengan cara menghabisi pewaris akhir keluarga Winch.

Walaupun seperti film Perancis lainnya yang mengawali kisah dengan lambat, film ini lumayan bisa membuatku penasaran dengan membuka bungkusan misterinya secara perlahan dan satu persatu. Siapa yang berkhianat, siapa yang jual informasi pada musuh, siapa yang menjadi dalang cukup sulit ditebak. Kadang musuh menjadi kawan dan begitu pula sebaliknya hingga aku sampai beberapa kali tertipu salah menduga dan menebak.

Meski secara keseluruhan menarik untuk ditonton, film ini bukannya tanpa kelemahan. Kadang aku merasa sutradaranya Jerome Salle kurang bisa memaksimalkan beberapa adegan tegang sehingga terasa kurang seru. Belum lagi proses edit yang kadang bikin bingung antara mana adegan flashback dan mana adegan masa kini sehingga membuatku bingung dengan kehadiran Nerio Winch yang terlihat seperti hidup kembali. Music score yang ditampilkan kurang membantu mewujudkan ketegangan beberapa adegan aksi, akan tetapi cukup manis dan mulus ketika mengiringi peralihan adegan flashback. Hal terakhir yang agak kusesalkan adalah beberapa miscasting termasuk komedian Tomer Sisley yang didapuk sebagai Largo yang serius serta peran beberapa anggota direksi yang tidak terlihat cocok sebagai anggota dewan pemegang saham.

Sekedar info, film ini merupakan adaptasi komik Belgia yang juga pernah dibuat serial televisinya tahun 2001 seperti halnya komik XIII yang juga penah kubahas. Penulis cerita komik ini sama dengan penulis cerita komik XIII yaitu Jean Van Hamme. Sekali lagi, film ini menekankan nilai jualnya pada thriller dan misteri, sehingga sayang dilewatkan bagi anda para penggemar film jenis ini.

Rating: 3.25/5

Fear and Tremblings – Cinta tidak berarti pasti memahami

Judul asli: Stupeur et tremblements
Produksi: Studio Canal – Perancis ( 2003 )
Genre: Drama-komedi satir
Sutradara: Alain Corneau
Pemain: Sylvie Testud, Kaori Tsuji

fearfilm

“Bagaimana para customer bisa bicara bisnis didepan orang asing yang ngerti bahasa Jepang? Mulai sekarang kamu jangan ngomong bahasa Jepang lagi!”
(Kabag Saito kepada Amelie, setelah rapat dengan customer bubar akibat Amelie menyediakan kopi dan mempersilahkan minum para tamu dengan bahasa jepang)

Dalam film Lost in Translation telah disinggung bagaimana cultural shock terjadi akibat kesalahpahaman dan ketidakpahaman bahasa. Bagaimana bila dibuat kondisi paham bahasa, apakah benturan budaya masih terjadi? Dalam film ini tokoh utamanya fasih berbahasa dan tentu saja memahami bahasa Jepang. Latar belakang yang dipakai film untuk menggambarkan benturan budaya adalah dunia kerja, khususnya pekerja kantoran.

Film diawali dengan pengenalan tokoh Amelie seorang gadis Belgia yang lahir dan tumbuh di Jepang hingga usia 5 tahun. Setelah dewasa Amelie memutuskan untuk kembali lagi ke Jepang. Dia melakukan ini bukan sebagai turis melainkan seorang pekerja (penerjemah) di perusahaan raksasa Jepang Yumimoto dengan kontrak kerja satu tahun dan dengan tujuan jangka panjang, “menjadi orang Jepang!” Amelie merasa jatuh cinta pada Jepang beserta budayanya dan patah hati ketika ketika kembali pulang mengikuti orangtuanya ke Belgia. Kali ini Amelie datang lagi untuk merajut kembali cintanya yang dicerabut belasan tahun yang lalu dengan keyakinan kuat berkat kerja kerasnya untuk menguasai pengetahuan bisnis perusahaan Jepang beserta bahasanya sekalian. Continue reading ‘Fear and Tremblings – Cinta tidak berarti pasti memahami’

Le Grand Voyage – Belajar hidup melalui perjalanan akbar

Sutradara: Ismaël Ferroukhi
Pemain: Nicolas Cazalé, Mohamed Majd
Produksi: 2004

Jika anda ingin menempuh perjalanan dari Jakarta ke Surabaya, kendaraan apakah yang akan anda pilih? Ada beberapa pilihan yaitu naik pesawat, kapal laut, kereta api, bis, atau kendaraan pribadi (mobil/sepeda motor). Memangnya dimanakah letak perbedaannya? Yang pasti naik pesawat lebih menghemat waktu.

Bagaimana kalau anda seorang muslim yang ingin naik haji ke Mekkah, apakah anda akan menempuh perjalanan jauh itu dengan naik kendaraan pribadi? Saya rasa mayoritas akan menjawab tidak, disambung dengan kalimat “lebih praktis naik pesawat”. Dalam film Le Grand Voyage ini seorang ayah diantar anaknya menggunakan mobil untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah di Arab Saudi dari tempat tinggal mereka di Perancis. Walaupun anaknya berkeras supaya ayahnya pergi ke Mekkah naik pesawat seperti orang lain, ayahnya tetap memaksa untuk pergi mengambil jalan darat dengan mobil pribadi. Anda akan menemukan sendiri alasan sang ayah untuk menunaikan ibadah haji dengan mengendarai mobil dalam film ini.

Ada dua film Perancis bertema benturan budaya dan agama yang saya tonton berturut-turut, yaitu Le Grand Voyage dan Monsieur Ibrahim. Walaupun kedua film ini sangat bagus dan mendapat penghargaan internasional dimana-mana, bagi saya pribadi Le Grand Voyage memberikan nilai lebih yang menyentuh.

Kalau Monsieur Ibrahim menceritakan tentang hubungan seorang muslim tua dengan remaja yahudi yang bertetangga, Le Grand Voyage menceritakan hubungan seorang seorang ayah dan anaknya. Bukan hanya hubungan ayah-anak saja dibahas dalam film ini, hubungan antara tua-muda, islam konvensional-islam KTP, budaya timur-barat, imigran generasi pertama-imigran generasi kedua, dan hubungan kemanusiaan itu sendiri. Selain itu juga film ini menggambarkan betapa ayah-anak banyak mendapatkan pelajaran hidup dari perjalanan yang mereka lakukan. Perjalanan ribuan mil lintas benua mereka mulai dari Perancis melewati Italia, Slovenia, Kroasia, Serbia, Bulgaria, Turki, Syria, Yordania hingga Arab Saudi. Le Grand Voyage menuturkan kisah perjalanan ayah-anak ini dengan indah, termasuk didalamnya konflik yang dibangun antara ayah-anak beserta para tokoh yang ditemui dalam perjalanan mereka.

Tokoh imigran ayah yang berasal dari Maroko sepanjang film lebih banyak berbicara dalam bahasa Arab-Maroko kepada anaknya, walaupun sang ayah lancar berbahasa Perancis. Sedangkan sang anak yang lahir dan besar di Perancis terus menerus berbicara dalam bahasa Perancis kepada ayahnya. Anda tentu bisa menebak tujuan sang ayah terus-menerus berbicara dalam bahasa ibu kepada anaknya tersebut. Sang ayah ingin memberikan suatu hadiah yang bermakna dalam kepada anaknya selama perjalanan akbar ini yaitu pelajaran bagaimana menjadi manusia yang utuh.

Film ini sendiri merupakan film non-dokumenter pertama yang diijinkan mengambil gambar di dalam kota Mekkah bertepatan pada musim haji. Mengacu pada kata-kata sutradara Ismaël Ferroukhi sewaktu pengambilan gambar di Mekkah, “Tak seorangpun yang menoleh ke kamera. Malah orang-orang sepertinya tak acuh pada kami para kru film….. Mereka berada dalam dunia lain.”

Rating: 4.5/5


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: