Archive for the 'Resensi Film Eropa' Category

The Green Prince

Plot:
Mosab, putra sulung Seikh Hassan Yousef salah satu tokoh pendiri dan pemimpin Hamas, direkrut Shin Bet (agensi kontraspionase Israel) pada usia 19 tahun untuk memata-matai untuk Hamas selama 10 tahun. Setelah keluar dari Shin Bet, Mosab pergi ke Amerika dan meminta suaka politik di sana. Tahun 2010, Mosab menerbitkan buku kontroversial berjudul Son of Hamas yang menceritakan detail kronologi dirinya menjadi mata-mata berharga untuk Shin Bet.
Continue reading ‘The Green Prince’

Advertisements

The Expatriate

“If he has her, I want her. If he harms her, he’s dead.”

Kesuksesan Taken yang dibintangi Liam Neeson dalam meraup dollar bukan hanya menyebabkan sequelnya Taken 2 dibuat tetapi juga membuat pihak lain ngiler dengan prospek pembuatan film a la Taken yang berbudget relatif murah tapi meraih untung besar. Informant Films Europe yang berbasis di Belgia memutuskan untuk membuat film yang tak jauh beda gayanya dengan Taken dengan membawa Aaron Eckhart, aktor watak Hollywood yang sebelumnya sukses berperan sebagai Harvey Dent aka Two-Face dalam The Dark Knight, sebagai protogonis utama.

Continue reading ‘The Expatriate’

Les Hommes Libres

Ketika sutradara Perancis berdarah Maroko, Ismael Ferroukhi diberitakan akan menggarap film keduanya yang mengetengahkan kisah pendiri Masjid Agung Paris Si Kaddour Ben Ghabrit, aku sudah menunggu kehadiran film ini. Bagaimanapun juga karya perdana Ismael Ferroukhi sebagai sutradara penuh dalam film yang berjudul Le Grand Voyage cukup membuatku terkesan dan tertarik untuk menonton karya-karya beliau selanjutnya. Les Hommes Libres (atau Free Men dalam versi bahasa Inggris) mengisahkan tokoh fiksi bernama Younes dan perubahan jalan hidupnya setelah berinteraksi dengan 2 tokoh sejarah yaitu rektor Masjid Agung Paris Si Kaddour Ben Ghabrit dan penyanyi Aljazair berdarah Yahudi Salim Halali pada masa pendudukan NAZI Jerman atas Perancis.
Continue reading ‘Les Hommes Libres’

Grabbers – Pemabok melawan Aliens


Biasanya film yang bertema alien invasion menghamburkan dana puluhan hingga ratusan juta dollar demi efek keren dan adegan hancur-hancuran. Tapi toh untuk membuat film genre alien invasion yang bagus tak selalu harus dengan biaya produksi besar-besaran, yang penting memiliki kekuatan dari segi lain semisal plot cerita maupun dialog cerdas. Contohnya saja film Inggris berjudul Attack the Block yang dibuat dengan dana hanya 9 juta Pound (sekitar 13 juta USD) ternyata cukup sukses di pasaran maupun di mata kritikus. Bandingkan dengan War of the Worlds-nya Spielberg (132 juta USD) ataupun yang rada murah kayak Super 8 (50 juta USD). Tahun ini muncul film produksi Irlandia berjudul Grabbers yang hanya dibuat dengan dana 3.5 juta Pound. Dengan biaya produksi sekecil itu, apakah Grabbers mampu menghasilkan sebuah film alien invasion yang menarik? Continue reading ‘Grabbers – Pemabok melawan Aliens’

Will – A story of Liverpool’s No. 1 fans

Steven Gerrard is a Supernova, isn’t he?
He moves like a tornado on fire
twisting in all directions at once.
and always has his eye on the goal.
The ball is in the moon, and he is in the earth.
and whatever he wishes, his legs make so.
He is a football Supernova

(Will Brennan)

Menurut anda, final Piala Champion Eropa manakah yang paling dramatis? Salah satu diantaranya mungkin final tahun 1999 dimana Manchester United berhasil membalikkan skor 1-0 menjadi 2-1 lewat dua gol dalam injury time untuk menundukkan Bayern Munchen. Tapi mungkin tak ada yang mengalahkan kenangan final tahun 2005 yang justru lebih dramatis lagi, karena Liverpool yang telah tertinggal 3-0 di babak pertama berhasil mempecundangi AC Milan setelah sukses menyamakan kedudukan menjadi 3-3 di babak kedua dan akhirnya memenangkan pertandingan lewat adu penalti. Film produksi Inggris ini menceritakan tentang perjalanan seorang anak fans Liverpool yang mengunjungi Istambul Turki demi menyaksikan pertandingan final Piala Champion 2005 tersebut. Continue reading ‘Will – A story of Liverpool’s No. 1 fans’

Point Blank (À bout portant)

Fred Cavayé mungkin masih dihitung sutradara hijau kalau melihat film layar lebar yang disutradarainya baru dua biji. Akan tetapi kalau melihat kesuksesan film pertamanya Pour Elle yang diadaptasi menjadi film Amerika The Next Three Days dengan Russel Crow sebagai bintang utamanya, bisa dibilang Fred Cavayé punya “sesuatu” untuk menjadikan film thriller garapannya bukan film thriller biasa saja. Film kedua Fred Cavayé yang berjudul asli À bout portant dibuat pada tahun 2010 dengan kru yang mayoritas sama dengan kru yang membuat film pertamanya Pour Elle sehingga mau tidak mau aku melihat banyak gaya pembuatan Por Elle kembali muncul dalam film ini Continue reading ‘Point Blank (À bout portant)’

Three Investigators The Movies – Trio Detektif rasa Jerman

We Investigate Anything
? ? ?

First Investigator – Jupiter Jones
Second Investigator – Pete Crenshaw
Records & Research – Bob Andrews

Pernah melihat kalimat seperti diatas lengkap dengan 3 tanda tanya yang menurut Jupiter menimbulkan kesan dan penasaran bagi orang yang melihatnya? Ya! Bagi anda yang tumbuh besar di era tahun 1980an/1990an dan gemar membaca kisah misteri, dijamin mengenal tiga pemuda tanggung asal Rocky Beach yang membuka biro penyelidikan dengan nama Trio Detektif. Serial novel yang sempat salah kaprah dianggap karya Alfred Hitchcock di Indonesia ini memang sempat booming bersama serial novel petualangan lainnya seperti Lima Sekawan, Sapta Siaga hingga STOP. Bedanya, Trio Detektif lebih beraroma dewasa dibandingkan Lima Sekawan ataupun Sapta Siaga. Malah bagiku pribadi, Trio Detektif bisa dianggap sebagai jembatan perantara antara novel detektif remaja a la Lima Sekawan menuju novel detektif dewasa seperti Agatha Christie dan serial Sherlock Holmes. Walaupun Trio Detektif cukup dikenal di negara asalnya USA sana, namun kisah Trio Detektif jauh lebih terkenal di Jerman (bahkan sampai memiliki status cult). Tak heran bila film live action ini diproduksi oleh Jerman dengan kru-kru Jerman pula, walaupun menggunakan international casting untuk para aktornya dengan dialog bahasa Inggris.
Continue reading ‘Three Investigators The Movies – Trio Detektif rasa Jerman’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: