Archive for the 'Resensi Film Eropa' Category

Daftar Film 2018 (Agustus-November)

38. Mission Impossible: Ghost Protocol

39. Mission Impossible: Rogue Nation

Nonton ulang seri Mission Impossible gara-gara banyak yang bilang film Mission Impossible: Fall Out berhubungan dengan seri sebelumnya. Jadi sebelum nonton Fall Out, nonton ulang GP dan RN untuk menyegarkan ingat. Ngomong-ngomong, kedua film Mission Impossible ini cukup menghibur untuk ditonton ulang.

40. Mission Impossible: Fall Off

Nonton di IMAX, kepuasan terasa maksimal. Semua adegan aksi lebih terasa tegang dan mencekam, Tom Cruise emang gila-gilan nekad. Salah satu film action paling seru yang pernah saya tonton. Film ini memang lebih maknyuss kalau nonton pakai sistem IMAX, sampai-sampai pas kebelet pengen pipis di tengah seru-serunya Tom Cruise beraksi, rela ditahan karena gak mau kehilangan momen ketegangan.

41. Trinity, The Nekad Traveler

Entah apa yang ingin diutarakan film ini karena isinya absurd, seabsurd Rizal Mantovani mengarahkan beberapa anak muda mendaki gunung Semeru lalu tiba-tiba jadi nasionalis dadakan.

Satu-satunya kelebihan film ini adalah Maudy Ayunda yang cantik, tetap cakep secakep-cakepnya dengan busana keren dan full make-up walau sedang travel ke daerah-daerah yang biasanya dijelajahi para petualangan, dengan kaos oblong dengan wajah lelah tapi puas.

42. Bleach

Lumayan, layak tonton walau gak bisa dibilang memuaskan.
Silahkan baca review lengkapnya di sini

43. Ploey – You Never Fly Alone

Nonton bareng si bocil. Dari awal udah sadar kalau animasi ini bukan buatan hollywood, ternyata setelah dicek buatan Islandia (Iceland). Plot sangat sederhana dengan konklusi yang juga sederhana. Lumayan membuat si bocil terhibur.

44. Posesif

Ditonton gara-gara film ini masuk nominasi film terbaik FFI 21017 dan jadi kontroversi karena memiliki nominasi untuk 10 kategori.

Filmnya sendiri lumayan bagus, intrik dan thrillernya juga berjalan dengan mulus. Yang paling menonjol adalah akting 2 pemeran utamanya yaitu Adipati Dolken dan Putri Marino. Untuk penyutradaraannya sendiri walaupun bagus menurutku tidak luarbiasa untuk jadi pemenang sutradara terbaik FFI 2017.

45. The Meg

Jaws KW ke-sekian demi jualan hiburan.
Menghibur? O ya jelas menghibur dan seru  dengan plot khas film kelas B, tapi jangan dipikirin kenyataan latar saintifik film layaknya film dokumenter.

46. Skycraper

Lagi-lagi film hiburan buat dinikmati sambil mematikan fungsi otak.

Lakban (duck tape) buat aksi memanjat gedung tinggi? Tom Cruise aja pake sarung tangan khusus untuk memanjat Burj Kalifa, pake lakban itu mission im-im-im-im-im-impossible

Polisi bego nuduh ibu sengaja membiarkan anaknya dikepung api sementara suaminya yang jelas-jelas bertaruh nyawa menyelamatkan anaknya sebagai tipu muslihat? Itu karakter polisi bego mending ditiadakan aja, toh tidak mengganggu plot film.

dan terakhir, The Rock dalam film hampir semuanya nyaris. Nyaris jatoh lah, nyaris kena tembak lah, nyaris ketimpa tiang lah, bahkan Bruce Willis yang susah mati itu aja kalah die hard sama The Rock.

Yang menarik dalam film ini, tokoh utamanya penderita cacat yang harus menggunakan kaki palsu. Tentu saja hal ini untuk menambah ketegangan, tapi tetap saja harus diapresiasi karakterisasi tokoh utama seorang jagoan yang menderita cacat fisik.

47. Greatest Showman

Plot klise tapi saya selalu suka film musikal.
Adegan musikalnya keren dan untuk hal ini saja saya sudah melupakan kurangnya pengolahan karakter para anggota sirkus pimpinan P.T. Barnum yang mentok cuma sekedar orang aneh yang ingin dihargai sebagai manusia.
Oh, saya sudah baca biografi tentang Barnum, jadinya rada meh menonton betapa mulianya karakter Hugh Jackman “menolong” orang-orang yang direkrut untuk tampil di arena sirkusnya.

48. Detective Dee: The Four Heavenly Kings

Entah kenapa Tsui Hark doyan bikin serial Di Renjie yang diplot sebagai detektif era dinasti Tang. Film pertamanya bagus, lalu muncul prequel The Rise of Sea Dragon yang tak perlu. Sekarang muncul lagi sequel dan prequel tersebut.

Film ini bisa dibilang lanjutan dari The Rise of Sea Dragon yang menampilkan tiga sekawan tak akur Di Renjie sang detektif, Shatuo si tabib, dan Yuchi Zhengjin sang pengawal kaisar, bekerja sama memecahkan misteri demi menyelamatkan kaisar dan permaisuri.

Seperti halnya film prequelnya, film ini juga sarat dengan efek CGI tanggung, plot misteri yang tidak bikin penasaran dan gaya menyelidik Di Renjie a la Sherlock Holmes era Tiongkok kuno.

Hasilnya ya biasa saja, malah saya lebih suka film The Thousand Faces of Dunjia yang diproduseri oleh Tsui Hark.

49. Big Brother

Donnie Yen tampil sebagai mantan tentara Amerika yang pulang ke Hongkong dan mengajar di SMA tempat dia bersekolah sebelum pergi ke Amerika dan jadi tentara di sana.

Maunya sih film ini bergaya Dangerous Mind a la Hongkong, tapi ya semuanya serba tanggung. Dramanya klise, isu pendidikan yang dibahas juga tanggung, bahkan adegan aksi juga tanggung. Walau Kenji Tanigaki (yang bikin koreografi untuk Ruruoni Kenshin) berhasil mengkoreografi adegan tarung dengan baik, dengan hanya ada 2 adegan berantem di sepanjang film, tentunya membuat penggemar Donnie Yen kurang puas.

50. Sicario 2: Soldado

Film bagus, tapi tidak seistimewa prequelnya. Akting keren duo del Toro – Brolin dan kebrutalan aksi mereka masih jadi sajian utama.

51. Mojin: The Lost Legend

Tomb Rider versi China, lengkap dengan bongkar kuburan kuno a la fengsui dan 8 diagram bagua. Lumayan sih walau kadang rada lebay, tapi spesial efek a la China gak jelek-jelek amat. Btw, ada Shu Qi main jadi Chinese Lara Croft buat obat kangen.

52. Ant-man and the Wasp

Agak dragging dan membosankan dibanding prequelnya, komedinya juga tak selucu film pertamanya gara-gara tokoh yang dimainkan Michael Pena tak semenonjol film sebelumnya. Tapi layaknya kacang goreng, film ini masih menghibur kalau gak ngantuk pas nonton.
Kejutan: Michelle Pfeiffer!

In the Fade (Aus dem Nichts)

aus-dem-nichts

 

Plot

Sebuah bom meledak di daerah komunitas minoritas Turki di Hamburg Jerman, membunuh Nuri Serci seorang pria etnis Kurdi dan anaknya Rocco yang berusia 5 tahun yang sedang berada di dalam kantornya.

Katja (Diane Kruger) istri Nuri dan ibu Rocco tiba-tiba saja kehilangan makna hidupnya setelah suami dan anaknya direnggut nyawanya. Katja harus menghadapi semua cobaan itu dengan cara pandang baru.

Continue reading ‘In the Fade (Aus dem Nichts)’

The Green Prince

Plot:
Mosab, putra sulung Seikh Hassan Yousef salah satu tokoh pendiri dan pemimpin Hamas, direkrut Shin Bet (agensi kontraspionase Israel) pada usia 19 tahun untuk memata-matai untuk Hamas selama 10 tahun. Setelah keluar dari Shin Bet, Mosab pergi ke Amerika dan meminta suaka politik di sana. Tahun 2010, Mosab menerbitkan buku kontroversial berjudul Son of Hamas yang menceritakan detail kronologi dirinya menjadi mata-mata berharga untuk Shin Bet.
Continue reading ‘The Green Prince’

The Expatriate

“If he has her, I want her. If he harms her, he’s dead.”

Kesuksesan Taken yang dibintangi Liam Neeson dalam meraup dollar bukan hanya menyebabkan sequelnya Taken 2 dibuat tetapi juga membuat pihak lain ngiler dengan prospek pembuatan film a la Taken yang berbudget relatif murah tapi meraih untung besar. Informant Films Europe yang berbasis di Belgia memutuskan untuk membuat film yang tak jauh beda gayanya dengan Taken dengan membawa Aaron Eckhart, aktor watak Hollywood yang sebelumnya sukses berperan sebagai Harvey Dent aka Two-Face dalam The Dark Knight, sebagai protogonis utama.

Continue reading ‘The Expatriate’

Les Hommes Libres

Ketika sutradara Perancis berdarah Maroko, Ismael Ferroukhi diberitakan akan menggarap film keduanya yang mengetengahkan kisah pendiri Masjid Agung Paris Si Kaddour Ben Ghabrit, aku sudah menunggu kehadiran film ini. Bagaimanapun juga karya perdana Ismael Ferroukhi sebagai sutradara penuh dalam film yang berjudul Le Grand Voyage cukup membuatku terkesan dan tertarik untuk menonton karya-karya beliau selanjutnya. Les Hommes Libres (atau Free Men dalam versi bahasa Inggris) mengisahkan tokoh fiksi bernama Younes dan perubahan jalan hidupnya setelah berinteraksi dengan 2 tokoh sejarah yaitu rektor Masjid Agung Paris Si Kaddour Ben Ghabrit dan penyanyi Aljazair berdarah Yahudi Salim Halali pada masa pendudukan NAZI Jerman atas Perancis.
Continue reading ‘Les Hommes Libres’

Grabbers – Pemabok melawan Aliens


Biasanya film yang bertema alien invasion menghamburkan dana puluhan hingga ratusan juta dollar demi efek keren dan adegan hancur-hancuran. Tapi toh untuk membuat film genre alien invasion yang bagus tak selalu harus dengan biaya produksi besar-besaran, yang penting memiliki kekuatan dari segi lain semisal plot cerita maupun dialog cerdas. Contohnya saja film Inggris berjudul Attack the Block yang dibuat dengan dana hanya 9 juta Pound (sekitar 13 juta USD) ternyata cukup sukses di pasaran maupun di mata kritikus. Bandingkan dengan War of the Worlds-nya Spielberg (132 juta USD) ataupun yang rada murah kayak Super 8 (50 juta USD). Tahun ini muncul film produksi Irlandia berjudul Grabbers yang hanya dibuat dengan dana 3.5 juta Pound. Dengan biaya produksi sekecil itu, apakah Grabbers mampu menghasilkan sebuah film alien invasion yang menarik? Continue reading ‘Grabbers – Pemabok melawan Aliens’

Will – A story of Liverpool’s No. 1 fans

Steven Gerrard is a Supernova, isn’t he?
He moves like a tornado on fire
twisting in all directions at once.
and always has his eye on the goal.
The ball is in the moon, and he is in the earth.
and whatever he wishes, his legs make so.
He is a football Supernova

(Will Brennan)

Menurut anda, final Piala Champion Eropa manakah yang paling dramatis? Salah satu diantaranya mungkin final tahun 1999 dimana Manchester United berhasil membalikkan skor 1-0 menjadi 2-1 lewat dua gol dalam injury time untuk menundukkan Bayern Munchen. Tapi mungkin tak ada yang mengalahkan kenangan final tahun 2005 yang justru lebih dramatis lagi, karena Liverpool yang telah tertinggal 3-0 di babak pertama berhasil mempecundangi AC Milan setelah sukses menyamakan kedudukan menjadi 3-3 di babak kedua dan akhirnya memenangkan pertandingan lewat adu penalti. Film produksi Inggris ini menceritakan tentang perjalanan seorang anak fans Liverpool yang mengunjungi Istambul Turki demi menyaksikan pertandingan final Piala Champion 2005 tersebut. Continue reading ‘Will – A story of Liverpool’s No. 1 fans’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: