Archive for the 'Resensi Film Eropa' Category

Strike: The Silkworm

Plot

Seorang pengarang buku yang kepopulerannya sedang mengalami masa surut, hilang hingga 10 hari. Tak ada yang mencarinya karena si pengarang Owen Quine memang sering “menghilang” demi menghabiskan waktunya bersama perempuan lain. Hanya istri dan anaknya saja yang ribut mencari.

Leonora Quine sang istri sudah melapor ke polisi, untuk ke sekian kalinya. Berhubung Owen sudah biasa menghilang berhari-hari dan muncul sendiri, laporan Leonora tak dianggap serius sehingga Leonora berpaling pada Cormoran Strike untuk mencari suaminya.

Cormoran melihat menghilangnya Owen ada hubungan dengan draft tulisan Owen berjudul Bombyx Mori, yang rencananya ingin diterbitkan sebagai novelnya yang terbaru. Bombyx Mori rupanya berisi cerita tentang sekte sesat pemuja setan, lengkap dengan deskripsi ritual penyiksaan, pelecehan seksual, hingga pembunuhan brutal berdarah-darah.
Masalahnya, Bombyx Mori berisi karakter-karakter yang berdasarkan orang-orang dekat Owen yang ada di kehidupan nyata termasuk istrinya, agennya, editornya, penerbitnya, termasuk pacar gelapnya, dengan Owen sebagai tokoh utama.

Kasus mencari orang hilang mendadak berubah menjadi kasus pembunuhan, ketika Cormoran berhasil menemukan Owen Quine, sayangnya sudah jadi mayat dalam keadaan termutilasi, mirip dengan kondisi tokoh utama Bombyx Mori yang tewas mengerikan di akhir cerita.

Continue reading ‘Strike: The Silkworm’

Strike: The Cuckoo’s Calling

Sebenarnya sudah sudah lama tahu soal novel yang menampilkan tokoh detektif swasta Cormoran Strike ketika membaca review buku Alisarbi di lapak blog beliau, hanya saja saya baru tahu kalau novel karya Robert Galbraith ini dibuat adaptasi dalam bentuk serial TV oleh salah satu kanal televisi Inggris BBC One. Bahkan saya tidak tahu kalau serial ini sudah sampai buku kelima yang akan terbit September tahun 2020 mendatang.

Tapi setidaknya saya sekarang bisa menonton serial TV adaptasinya yang hingga kini sudah selesai tayang hingga buku ketiga. Satu novel Cormoran Strike diadaptasi untuk satu musim tayang serial TV dan itu berarti musim pertama serial ini mengadaptasi novel pertama yang berjudul The Cuckoo’s Calling.

Plot

Cormoran Blue Strike (Tom Burke) adalah seorang detektif kurang beruntung berkaki buntung. Mantan polisi militer Inggris ini adalah veteran perang yang dibebas tugaskan setelah kakinya diamputasi akibat terkena bom sewaktu bertugas di Afghanistan. Setelah kembali menjadi warga sipil, Strike membuka biro detektif swasta berbekal skill dan pengalamannya sebagai penyidik polisi militer Inggris, Walau punya kemampuan mumpuni, Strike kurang beruntung dalam bisnis detektifnya. Terlibat hutang dan sulit mendapatkan klien membuat hidup Strike terpuruk. Bahkan untuk mendapatkan sekretarispun, Strike hanya mampu membayar pegawai magang.
Datang lah Robin Ellacott (Holliday Grainger) yang dikirim agen pekerja magang untuk menjadi sekretarisnya. Diluar dugaan, Robin menunjukkan kalau dia punya bakat dan kemampuan investigasi. Dengan cepat Robin beradaptasi dengan tugas-tugas penyidikan kantor Strike, bukan hanya tugas sekretaris sehari-hari saja.

Akhirnya datang kasus besar untuk ditangani Strike walaupun awalnya terlihat hanya sekadar kasus bunuh diri biasa, itupun kejadiannya sudah lewat 3 bulan. Yang datang meminta bantuan adalah John Bristow, adik angkat Charlie teman karibnya sewaktu kecil. Adik angkat paling bungsu mereka adalah super model Lula Landry yang tewas jatuh dari balkon apartemen dan polisi sudah menetapkan Lula bunuh diri. Hanya saja John menganggap kematian Lula adalah kasus pembunuhan, bukan bunuh diri.

Sebenarnya Strike awalnya menganggap penyelidikan kasus kematian Lula sebagai kasus easy money, tanya sana sini sedikit, duit masuk kas, selesai. Apalagi polisi terlihat ogah membantu karena kasus sudah ditetapkan sebagai kasus bunuh diri, toh udah lewat 3 bulan juga. Strike juga menerima kasus lebih dikarenakan gak enak karena keluarga Bristow adalah keluarga teman karibnya, bukan karena polisi bego gak bisa menangani kasus.
Hanya saja, Strike mulai melihat detail celah kecil mencurigakan yang membuatnya menyelidiki kasus bunuh diri Lula lebih mendalam.

Continue reading ‘Strike: The Cuckoo’s Calling’

The Fury of a Patient Man

Plot

Dalam sebuah perampokan toko perhiasan yang menewaskan seorang wanita, Curo (Luis Callejo) yang bertugas sebagai supir perampok tertangkap polisi dan divonis penjara 8 tahun.

Keluar dari penjara, Curro ingin membuka lembaran hidup baru bersama pacarnya Ana (Ruth Diaz) dan anak mereka. Ana sendiri sedang didekati seorang pria pendiam dan pemalu bernama Jose (Antonio de la Torre). Jose malah menawarkan kehidupan yang lebih baik bagi Ana dan anaknya untuk tinggal bersama di sebuah kota kecil.

Hingga Curro sadar bahwa Jose memiliki motif terselubung dibalik keramahannya dalam mendekati Ana dan anak mereka.

Continue reading ‘The Fury of a Patient Man’

The Legacy of Bones



The Legacy of Bones adalah film Spanyol produksi tahun 2019, adaptasi novel karya Dolores Redondo sekaligus merupakan bagian kedua dari trilogi Baztan, sekuel langsung dari bagian pertama trilogi Baztan, The Invisible Guardian yang rilis pada tahun 2017.

Plot

Setelah sukses memecahkan kasus pembunuhan berantai gadis remaja dibagian pertama, Inspektur polisi Amaia Salazar kembali harus pulang ke kampung halamannya di Baztan untuk menyelidiki kasus bunuh diri Jason Medina.
Dalam film The invisible Guardian, Jason Medina ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara oleh Amaia setelah terbukti membunuh anak tirinya. Tiba-tiba Medina bunuh diri di dalam penjara setelah menulis kata Tarttalo dengan menggunakan darahnya.

Kali ini Amaia sedang hamil tua mengandung anak pertamanya ketika sedang memimpin penyelidikan kasus Tarttalo.

Di lain pihak, Maia harus kembali menghadapi ibunya Rosario yang sedang dirawat di rumah sakit jiwa. Situasi semakin rumit ketika Rosario berhasil kabur dari rumah sakit dan tampaknya memiliki hubungan erat dengan kasus Tarttalo yang sedang diselidiki oleh Amaia.

Continue reading ‘The Legacy of Bones’

The Invisible Guardian

Beberapa minggu terakhir, saya menonton beberapa film produksi Spanyol secara beruntun gara-gara membaca postingan bu guru Alisarbi. Mungkin saya sedang merasa bosan nonton film Hollywood dan jarang sekali nonton film produksi Eropa di luar Inggris dan Perancis sehingga ingin mencicip film produksi Spanyol sebagai variasi tontonan.

Plot

Inspektur polisi Amaia Salazar (Marta Etura) mendapat tugas menyelidiki kasus pembunuhan Elazu, seorang remaja putri berusia 13 tahun yang mayatnya ditemukan dalam kondisi telanjang lengkap dengan posisi seperti korban pembunuhan ritual. Amaia menemukan kasus yang mirip terjadi 6 minggu sebelumnya terjadi di kampung halamannya Baztan dan menyimpulkan sedang menghadapi kasus pembunuhan berantai.

Agar lebih fokus menangani kasus, Amaia memutuskan untuk kembali ke Baztan bersama suaminya James, seorang seniman asal Amerika.
Di Baztan, Amaia tinggal bersama bibinya Engrasi dan kembali bertemu dengan 2 kakaknya Flora dan Rosaura.

Selain menangani kasus pembunuhan, Amaia juga harus menghadapi konflik keluarga yang menghantuinya sejak kecil dan membuat Maia memutuskan angkat kaki meninggalkan Baztan dan keluarganya.

Continue reading ‘The Invisible Guardian’

Daftar Film 2018 (Agustus-Oktober)

38. Mission Impossible: Ghost Protocol

39. Mission Impossible: Rogue Nation

Nonton ulang seri Mission Impossible gara-gara banyak yang bilang film Mission Impossible: Fall Out berhubungan dengan seri sebelumnya. Jadi sebelum nonton Fall Out, nonton ulang GP dan RN untuk menyegarkan ingat. Ngomong-ngomong, kedua film Mission Impossible ini cukup menghibur untuk ditonton ulang.

40. Mission Impossible: Fall Off

Nonton di IMAX, kepuasan terasa maksimal. Semua adegan aksi lebih terasa tegang dan mencekam, Tom Cruise emang gila-gilan nekad. Salah satu film action paling seru yang pernah saya tonton. Film ini memang lebih maknyuss kalau nonton pakai sistem IMAX, sampai-sampai pas kebelet pengen pipis di tengah seru-serunya Tom Cruise beraksi, rela ditahan karena gak mau kehilangan momen ketegangan.

41. Trinity, The Nekad Traveler

Entah apa yang ingin diutarakan film ini karena isinya absurd, seabsurd Rizal Mantovani mengarahkan beberapa anak muda mendaki gunung Semeru lalu tiba-tiba jadi nasionalis dadakan.

Satu-satunya kelebihan film ini adalah Maudy Ayunda yang cantik, tetap cakep secakep-cakepnya dengan busana keren dan full make-up walau sedang travel ke daerah-daerah yang biasanya dijelajahi para petualangan, dengan kaos oblong dengan wajah lelah tapi puas.

42. Bleach

Lumayan, layak tonton walau gak bisa dibilang memuaskan.
Silahkan baca review lengkapnya di sini

43. Ploey – You Never Fly Alone

Nonton bareng si bocil. Dari awal udah sadar kalau animasi ini bukan buatan hollywood, ternyata setelah dicek buatan Islandia (Iceland). Plot sangat sederhana dengan konklusi yang juga sederhana. Lumayan membuat si bocil terhibur.

44. Posesif

Ditonton gara-gara film ini masuk nominasi film terbaik FFI 21017 dan jadi kontroversi karena memiliki nominasi untuk 10 kategori.

Filmnya sendiri lumayan bagus, intrik dan thrillernya juga berjalan dengan mulus. Yang paling menonjol adalah akting 2 pemeran utamanya yaitu Adipati Dolken dan Putri Marino. Untuk penyutradaraannya sendiri walaupun bagus menurutku tidak luarbiasa untuk jadi pemenang sutradara terbaik FFI 2017.

45. The Meg

Jaws KW ke-sekian demi jualan hiburan.
Menghibur? O ya jelas menghibur dan seru  dengan plot khas film kelas B, tapi jangan dipikirin kenyataan latar saintifik film layaknya film dokumenter.

46. Skycraper

Lagi-lagi film hiburan buat dinikmati sambil mematikan fungsi otak.

Lakban (duck tape) buat aksi memanjat gedung tinggi? Tom Cruise aja pake sarung tangan khusus untuk memanjat Burj Kalifa, pake lakban itu mission im-im-im-im-im-impossible

Polisi bego nuduh ibu sengaja membiarkan anaknya dikepung api sementara suaminya yang jelas-jelas bertaruh nyawa menyelamatkan anaknya sebagai tipu muslihat? Itu karakter polisi bego mending ditiadakan aja, toh tidak mengganggu plot film.

dan terakhir, The Rock dalam film hampir semuanya nyaris. Nyaris jatoh lah, nyaris kena tembak lah, nyaris ketimpa tiang lah, bahkan Bruce Willis yang susah mati itu aja kalah die hard sama The Rock.

Yang menarik dalam film ini, tokoh utamanya penderita cacat yang harus menggunakan kaki palsu. Tentu saja hal ini untuk menambah ketegangan, tapi tetap saja harus diapresiasi karakterisasi tokoh utama seorang jagoan yang menderita cacat fisik.

47. Greatest Showman

Plot klise tapi saya selalu suka film musikal.
Adegan musikalnya keren dan untuk hal ini saja saya sudah melupakan kurangnya pengolahan karakter para anggota sirkus pimpinan P.T. Barnum yang mentok cuma sekedar orang aneh yang ingin dihargai sebagai manusia.
Oh, saya sudah baca biografi tentang Barnum, jadinya rada meh menonton betapa mulianya karakter Hugh Jackman “menolong” orang-orang yang direkrut untuk tampil di arena sirkusnya.

48. Detective Dee: The Four Heavenly Kings

Entah kenapa Tsui Hark doyan bikin serial Di Renjie yang diplot sebagai detektif era dinasti Tang. Film pertamanya bagus, lalu muncul prequel The Rise of Sea Dragon yang tak perlu. Sekarang muncul lagi sequel dan prequel tersebut.

Film ini bisa dibilang lanjutan dari The Rise of Sea Dragon yang menampilkan tiga sekawan tak akur Di Renjie sang detektif, Shatuo si tabib, dan Yuchi Zhengjin sang pengawal kaisar, bekerja sama memecahkan misteri demi menyelamatkan kaisar dan permaisuri.

Seperti halnya film prequelnya, film ini juga sarat dengan efek CGI tanggung, plot misteri yang tidak bikin penasaran dan gaya menyelidik Di Renjie a la Sherlock Holmes era Tiongkok kuno.

Hasilnya ya biasa saja, malah saya lebih suka film The Thousand Faces of Dunjia yang diproduseri oleh Tsui Hark.

49. Big Brother

Donnie Yen tampil sebagai mantan tentara Amerika yang pulang ke Hongkong dan mengajar di SMA tempat dia bersekolah sebelum pergi ke Amerika dan jadi tentara di sana.

Maunya sih film ini bergaya Dangerous Mind a la Hongkong, tapi ya semuanya serba tanggung. Dramanya klise, isu pendidikan yang dibahas juga tanggung, bahkan adegan aksi juga tanggung. Walau Kenji Tanigaki (yang bikin koreografi untuk Ruruoni Kenshin) berhasil mengkoreografi adegan tarung dengan baik, dengan hanya ada 2 adegan berantem di sepanjang film, tentunya membuat penggemar Donnie Yen kurang puas.

50. Sicario 2: Soldado

Film bagus, tapi tidak seistimewa prequelnya. Akting keren duo del Toro – Brolin dan kebrutalan aksi mereka masih jadi sajian utama.

51. Mojin: The Lost Legend

Tomb Rider versi China, lengkap dengan bongkar kuburan kuno a la fengsui dan 8 diagram bagua. Lumayan sih walau kadang rada lebay, tapi spesial efek a la China gak jelek-jelek amat. Btw, ada Shu Qi main jadi Chinese Lara Croft buat obat kangen.

52. Ant-man and the Wasp

Agak dragging dan membosankan dibanding prequelnya, komedinya juga tak selucu film pertamanya gara-gara tokoh yang dimainkan Michael Pena tak semenonjol film sebelumnya. Tapi layaknya kacang goreng, film ini masih menghibur kalau gak ngantuk pas nonton.
Kejutan: Michelle Pfeiffer!

In the Fade (Aus dem Nichts)

aus-dem-nichts

 

Plot

Sebuah bom meledak di daerah komunitas minoritas Turki di Hamburg Jerman, membunuh Nuri Serci seorang pria etnis Kurdi dan anaknya Rocco yang berusia 5 tahun yang sedang berada di dalam kantornya.

Katja (Diane Kruger) istri Nuri dan ibu Rocco tiba-tiba saja kehilangan makna hidupnya setelah suami dan anaknya direnggut nyawanya. Katja harus menghadapi semua cobaan itu dengan cara pandang baru.

Continue reading ‘In the Fade (Aus dem Nichts)’

The Green Prince

Plot:
Mosab, putra sulung Seikh Hassan Yousef salah satu tokoh pendiri dan pemimpin Hamas, direkrut Shin Bet (agensi kontraspionase Israel) pada usia 19 tahun untuk memata-matai untuk Hamas selama 10 tahun. Setelah keluar dari Shin Bet, Mosab pergi ke Amerika dan meminta suaka politik di sana. Tahun 2010, Mosab menerbitkan buku kontroversial berjudul Son of Hamas yang menceritakan detail kronologi dirinya menjadi mata-mata berharga untuk Shin Bet.
Continue reading ‘The Green Prince’

The Expatriate

“If he has her, I want her. If he harms her, he’s dead.”

Kesuksesan Taken yang dibintangi Liam Neeson dalam meraup dollar bukan hanya menyebabkan sequelnya Taken 2 dibuat tetapi juga membuat pihak lain ngiler dengan prospek pembuatan film a la Taken yang berbudget relatif murah tapi meraih untung besar. Informant Films Europe yang berbasis di Belgia memutuskan untuk membuat film yang tak jauh beda gayanya dengan Taken dengan membawa Aaron Eckhart, aktor watak Hollywood yang sebelumnya sukses berperan sebagai Harvey Dent aka Two-Face dalam The Dark Knight, sebagai protogonis utama.

Continue reading ‘The Expatriate’

Les Hommes Libres

Ketika sutradara Perancis berdarah Maroko, Ismael Ferroukhi diberitakan akan menggarap film keduanya yang mengetengahkan kisah pendiri Masjid Agung Paris Si Kaddour Ben Ghabrit, aku sudah menunggu kehadiran film ini. Bagaimanapun juga karya perdana Ismael Ferroukhi sebagai sutradara penuh dalam film yang berjudul Le Grand Voyage cukup membuatku terkesan dan tertarik untuk menonton karya-karya beliau selanjutnya. Les Hommes Libres (atau Free Men dalam versi bahasa Inggris) mengisahkan tokoh fiksi bernama Younes dan perubahan jalan hidupnya setelah berinteraksi dengan 2 tokoh sejarah yaitu rektor Masjid Agung Paris Si Kaddour Ben Ghabrit dan penyanyi Aljazair berdarah Yahudi Salim Halali pada masa pendudukan NAZI Jerman atas Perancis.
Continue reading ‘Les Hommes Libres’


Ando-kun

Live Traffic


%d bloggers like this: