Archive for the 'Resensi Film Asia' Category



Gyakuten Saiban Live Action

Anda seorang gamer? Mungkin pernah main serial video game buatan Capcom berjudul Gyakuten Saiban yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Phoenix Wright: Ace Attorney? Kalau iya, berarti film ini kemungkinan besar sudah diantisipasi untuk ditonton karena film Gyakuten Saiban ini adalah adaptasi dari game adventure dengan tema pengadilan tersebut. Aku sendiri bukan gamer sejati meski pernah main beberapa game, tapi sama sekali belum pernah memainkan game Phoenix Wright: Ace Attorney sehingga boleh dibilang nonton film ini tanpa sedikitpun memiliki pengetahuan tentang plot cerita maupun karakter. Sutradara film ini adalah Miike Takeshi yang dikenal sebagai sutradara pembuat film-film gory, walaupun akhir-akhir ini mulai membuat film lintas genre, mulai dari film jidaigeki, komedi anak-anak, dan kali ini drama pengadilan. Continue reading ‘Gyakuten Saiban Live Action’

Rurouni Kenshin Live Action


Rurouni Kenshin Meiji Kenkaku Rōmantan aka RuRoKen atau dikenal juga sebagai Samurai X merupakan salah satu manga/anime berpengaruh bagiku. Bagaimana tidak? Gara-gara nonton serial animenya, aku jadi ngefans berat sama Judy and Mary dan L’Arc~en~Ciel. Terus terang saja, plot RuRoKen yang menarik bagiku hanya ada dua yaitu kisah Kenshin muda mendapatkan luka silang di pipinya dan story arch Juuppon Gatana dengan musuh utama Shishio. Ketika pertama kali melihat trailer RuRoKen live action ini, seketika saja aku tak terlampau menggebu-gebu untuk nonton secepatnya karena plot cerita film hanya mengambil penggalan awal dari permulaan cerita manga dan animenya dengan musuh utama Udo Jin’e. Menurut kabar, film ini direncanakan sebagai awal dari seri Rurouni Kenshin, entah sebagai film layar lebar bersequel atau sebagai serial TV.
Continue reading ‘Rurouni Kenshin Live Action’

Robo-G

Empat tahun tanpa menghasilkan satu film pun setelah karya terakhirnya Happy Flight (2008), akhirnya Shinobu Yaguchi kembali duduk di kursi sutradara untuk menggarap film terbarunya. Waktu empat tahun rupanya cukup panjang bagi Yaguchi untuk menjadi lebih dewasa dalam berkarya, terutama ide segar bagi style ciri khas beliau yaitu From Zero to Hero. Tiga film terakhirnya selalu menampilkan tokoh utama anak-anak muda yang berjuang keras menuju keberhasilan. Water Boys dengan perenang SMA pecundangnya, Swing Girls bersama murid SMA yang bosan dengan rutinitas, dan terakhir Happy Flight dengan awak pesawat terbang komersil yang masih hijau. Kali ini Yaguchi menempatkan tokoh kakek jompo sebagai si tokoh utama, sebuah pilihan yang menunjukkan Yaguchi semakin berkembang dan tidak bergerak di area yang itu-itu saja walaupun juga tak meninggalkan genre film yang menjadi gaya dan ciri khasnya. Continue reading ‘Robo-G’

The Four

Seperti yang telah kutulis pada postingan sebelumnya, kali ini aku membahas film adaptasi terbaru dari novel silat serial Empat Opas karangan Wen Rui-an yang muncul di layar lebar. Pertama kali lihat trailernya, terus terang saja kalau aku tidak berharap terlalu banyak pada adaptasi buatan sutradara Gordon Chan ini. Gordon Chan dikenal sebagai sutradara film komedi pada awal karirnya sebagai sutradara, yang paling diingat tentunya kolaborasi Gordon Chan dengan komedian Stephen Chow dari Fight Back to School hingga King of Beggars. Akhir-akhir ini Gordon Chan lebih sering terlibat film aksi seperti Painted Skin, The King of Fighters hingga Mural. Dari tiga film terakhirnya, cuma Painted Skin yang kusuka dan sisanya boleh dibilang acak kadut. Yang membuatku kurang suka sewaktu menyaksikan trailer The Four adalah casting tokoh Tanpa Perasaan yang diubah gendernya menjadi seorang wanita. Oh, jangan salah sangka. Aku suka tokoh jagoan perempuan koq, tapi entah kenapa koq aku merasa terjadi miscasting pada sosok Tanpa Perasaan. Benarkah demikian?
Continue reading ‘The Four’

Hara-Kiri: Death of a Samurai

Entah kenapa, akhir-akhir ini Takashi Miike sedang gandrung membuat ulang film jidaigeki (bertema samurai) lama. Setelah membuat remake 13 Assassins, kali ini giliran salah satu film jidaigeki legendaris buatan Masaki Kobayashi yang dibuat ulang oleh Miike. Film yang beredar di Jepang dengan judul Ichimei (satu nyawa) ini merupakan produk remake dari film buatan tahun 1962 berjudul Harakiri. Walaupun jadul, Harakiri merupakan salah satu film jidaigeki yang legendaris karena meraih penghargaan dimana-mana dan mendapat banyak pujian dari kritikus internasional. Dengan format 3D, Miike mencoba mengintrepetasi ulang film yang mengangkat tema ritual bunuh diri kaum samurai demi menjunjung harga diri dan kehormatan mereka sebagai seorang samurai.


Hidupku tak lebih dari hanya sekedar menanti datangnya musim semi setiap tahunnya
(Tsugumo Hanshiro)

Tahun 1634, seorang ronin (samurai tanpa tuan) setengah baya bernama Tsugumo Hanshiro masuk ke halaman rumah klan Ii, sebuah klan samurai bangsawan yang terkenal dan kaya. Saat itu pertempuran Sekigahara telah berakhir selama 30 tahun dan klan Ii termasuk klan pendukung Shogun Tokugawa yang memenangkan perang sehingga memperoleh banyak penghargaan dari Shogun. Tsugumo sendiri dulunya mengabdi pada Fukushima Masanori yang kehilangan tanah dan kekuasaan atas perintah Shogun Tokugawa, sehingga banyak samurai yang tadinya mengabdi akhirnya berpencar tanpa tuan. Tsugumo datang untuk meminjam halaman klan Ii demi melakukan ritual harakiri agar bisa mati sebagai samurai yang terhormat dari pada mati terhina di jalanan. Jaman itu sebenarnya cukup banyak samurai miskin yang datang meminjam halaman untuk harakiri demi mendapatkan imbalan dari klan kaya yang tidak ingin sang samurai mati di halaman rumahnya karena belas kasihan.

Saat itu, penanggung jawab rumah tangga klan Ii yang ada di rumah adalah samurai tua veteran pertempuran Sekigahara bernama Saito. Saito memperingatkan Tsugumo betapa beberapa hari sebelumnya ada samurai muda bernama Chijiiwa Motome dari klan yang sama Fukushima Masanori juga, meminta hal yang sama dengan permohonan Tsugumo dan tewas dengan kondisi tragis. Dengan wajah dingin, Tsugumo tak mengindahkan cerita Saito tentang betapa tragisnya kematian Motome dan tetap memohon pada Saito untuk mengabulkan permintaan harakiri-nya. Ketika persiapan harakiri telah selesai dan Tsugumo siap untuk bunuh diri, tiba-tiba Tsugumo menjelaskan alasannya datang harakiri di halaman klan Ii sekaligus juga menceritakan hubungannya dengan Cijiiwa Motome yang tewas di halaman yang sama beberapa hari sebelumnya. Tragedi yang dialami Chiijiwa Motome dikisahkan oleh Tsugumo dengan gaya narasi kilas balik.

SPOILER ALERT!
Karena aku ingin membandingkan dengan film original produksi tahun 1962, mau tidak mau terpaksa harus membuka sedikit spoiler. Kalau tidak keberatan, silahkan teruskan ke bawah.
Continue reading ‘Hara-Kiri: Death of a Samurai’

Moshidora – Live Action Film

Judul Moshidora merupakan kependekan dari Moshi Kōkō Yakyū no Joshi Manager ga Drucker no “Management” o Yondara (Jika cewek pelajar SMA manajer klub base-ball membaca buku manajemen karangan Drucker), adalah judul sebuah buku manajemen bisnis yang dibawakan dalam bentuk cerita novel fiksi karangan Natsumi Iwasaki. Saking populernya buku ini, serial manga dan anime telah dibuat sebagai bentuk adaptasi dari novel aslinya. Rupanya kepopuleran Moshidora masih sanggup membuat pihak TOHO Cinema membuat versi live-action dari novel dan jadilah film ini. Untuk menarik penonton, direkrutlah anggota grup idol populer saat ini di Jepang AKB48 sebagai pemeran utamanya Atsuko Maeda dan Minami Minegishi, ditambah Koji Seto dan Haruna Kawaguchi sebagai pendukung. Novel Moshidora adalah novel manajemen bisnis yang ditulis sedemikian rupa dalam bentuk fiksi oleh Natsumi Iwasaki agar kaum muda tertarik untuk belajar manajemen. Manga dan anime cukup sukses meraih penggemar, tapi bagaimana dengan film live-action?
Continue reading ‘Moshidora – Live Action Film’

The Viral Factor

Dante Lam adalah salah satu sutradara film action modern yang cukup kusuka selain Peter Chan, kadang kala aku membandingkan karya buatan mereka berdua dengan karya John Woo. Adalah film Beast Stalker yang membuatku menunggu film-film karya Dante Lam. Kali ini Dante Lam menduetkan 2 bintang besar China dalam satu film yaitu Nicholas Tse dari Hong Kong dan penyanyi terkenal dari Taiwan Jay Chow. Kabarnya film ini menghabiskan dana besar sebanyak HK$200 juta dengan lokasi syuting manca negara dari Hong Kong, Singapore, Yordania hingga Malaysia. Continue reading ‘The Viral Factor’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: