Archive for the 'Resensi Film Asia' Category



Attack on Titan – Live Action

Plot:
Sejak kemunculan para raksasa yang dipanggil titan, manusia hampir punah karena habis dimakan oleh titan. Manusia yang tersisa membangun tiga tembok tinggi untuk melindungi mereka dari serangan titan. Selama 100 tahun tidak ada tanda-tanda serangan titan sekalipun sehingga keberadaan titan mulai dianggap sebagai legenda. Eren (Haruma Miura), Mikasa (Kiko Mizuhara) dan Armin (Kanata Hongo) tinggal di balik tembok terluar. Mereka menyaksikan betapa satu titan paling besar berhasil menjebol tembok terluar dan membuat banyak titan lain leluasa masuk dan memakan manusia yang tinggal di balik tembok terluar. Trio Eren, Mikasa dan Armin harus menghadapi kenyataan betapa tinggal di balik tembok tinggi tidaklah membuat eksistensi manusia menjadi aman. Continue reading ‘Attack on Titan – Live Action’

Advertisements

The Liar and His Lover

Judul asli: Kanojo wa, Uso wo Aisugite

Plot:
Perkenalkan Aki Ogasawara, seorang pencipta lagu terkenal merangkap komposer and arranger untuk Crude Play, band nomer satu paling terkenal di Jepang. Aki hidup dalam depresi hingga dia bertemu dengan seorang anak SMA berusia 16 tahun bernama Riko. Dari awal bertemu, Aki sengaja menyembunyikan identitas aslinya termasuk nama dan pekerjaan aslinya kepada Riko. Kencan dengan Riko mulai mengubah hidup Aki jadi lebih ceria dan mulai memiliki semangat hidup, hingga situasi menyebabkan Aki mau tak mau harus berterus terang pada Riko. Continue reading ‘The Liar and His Lover’

The Admiral: Roaring Currents

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/c31/1006439/files/2015/01/img_2280.jpg

Plot:
Mengisahkan pertempuran Myeongyang yang menasbihkan nama Admiral Yi Sun-sin sebagai salah satu legenda jenderal angkatan laut dunia, setelah Yi Sun-sin berhasil memimpin 12 kapal perang kerajaan Joseon mengalahkan 330 kapal perang Jepang yang sedang menginvasi semenanjung Korea.

Komentar:
Saya sudah pernah membaca kisah heroik Admiral Yi Sun-sin yang melegenda karena tak pernah kalah dalam pertempuran kapal yang dipimpinnya. Ketika menonton film ini, mau tak mau saya membaca ulang tentang kisah Admiral Yi beserta detail pertempuran Myeongyang yang memang paling dikenal diantara banyak pertempuran pada masa invasi Jepang terhadap semenanjung Korea.

Hasilnya?
Continue reading ‘The Admiral: Roaring Currents’

Wood Job!

 

 

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/c31/1006439/files/2015/01/img_2279.jpg

Plot:
Setelah lulus dari SMA, Hirano Yuki (Sometani Shota) gagal lulus tes masuk universitas. Hirano memutuskan untuk ikut pelatihan dinas kehutanan sebagai trainee selama setahun gara-gara melihat si cantik Naoki (Nagasawa Masami) dalam leaflet iklan dinas kehutanan. Sebagai anak kota yang terbiasa hidup serba modern, Hirano mendapat kesulitan untuk menjadi trainee penebang pohon di hutan. Apalagi pelatih seniornya Yoki (Ito Hideaki) siap membuli Hirano setiap ada kesempatan. Continue reading ‘Wood Job!’

The Fatal Encounter

IMG_2189.JPG

Plot:
Raja Jeongjeo, penguasa ke-22 dinasti Joseon Korea dikenal sebagai raja yang kurang beruntung. Umur 10 tahun, Jeongjeo harus melihat ayahnya Putra Mahkota Sado dieksekusi hukuman mati atas perintah kakeknya Raja Yeongjo. Sewaktu berusia 24 tahun, Raja Yeongjo wafat dan Jeongjeo otomatis menjadi satu-satunya pewaris tahta langsung karena sang kakek tak punya anak maupun cucu yang lain. Sejak diangkat sebagai raja, Jeongjeo harus berhadapan dengan pertikaian politik sengit antara faksi Noron dan Soron dalam istana. Faksi Noron yang memiliki kekuatan paling besar dan ikut terlibat dalam mempengaruhi keputusan eksekusi Putra Mahkota Sado khawatir jika Jeongjeo akan menuntut balas, sehingga merencanakan untuk membunuh Jeongjeo dan melakukan kudeta. Dalam satu tahun pertama Jeongjeo berkuasa, tercatat 10 kali percobaan pembunuhan pernah dilakukan untuk menghabisi Raja Jeongjeo. Film ini berisi 24 jam terakhir salah satu upaya pembunuhan paling berbahaya terhadap Raja Jeongjeo dalam satu tahun pertama era kekuasaannya.

Continue reading ‘The Fatal Encounter’

The Little House

IMG_2026.JPG

Judul asli: Chiisai Ouchi

Plot:
Setelah wafat, nenek Taki Nunomiya meninggalkan catatan otobiografi dirinya untuk cucu keponakannya Takeshi (Satoshi Tsumabuki), yang meminta nenek Taki menceritakan tentang riwayat hidupnya. Lewat cerita flashback berdasarkan catatan yang dibaca Takeshi, pada tahun 1930an Taki muda (Haru Kuroki) pergi meninggalkan kampung halamannya di Yamagata untuk menjadi seorang pembantu asisten rumah tangga di ibu kota Tokyo. Taki bekerja pada keluarga Hirai yang tinggal di rumah mungil beratap merah. Keluarga Hirai yang terdiri dari suami Masaki (Takataro Kataoka), istrinya yang cantik Tokiko (Takako Matsui) dan anak mereka Kyoichi yang berusia 5 tahun, hidup tentram dan bahagia. Keharmonisan rumah tangga keluarga Hirai mulai diguncang affair, ketika rekan kerja Masaki yang masih muda bernama Itakura (Hidetaka Yoshioka) datang berkunjung dan menarik perhatian Tokiko.

Continue reading ‘The Little House’

Brotherhood of Blades

IMG_2015.JPG

Mulai hari ini, aku akan menulis beberapa review pendek seperti tulisan di bawah ini.

Plot
Tiga orang saudara angkat Lu Jianxing, Shen Lian, dan Yichuan bekerja sebagai petugas Jinyiwei diperintahkan pemimpin Dong Chang untuk menangkap kasim Wei Zhongxian. Setelah mereka berhasil melaksanakan tugas, barulah mereka bertiga sadar kalau telah diperalat. Dilain pihak, ketiga saudara angkat tersebut memiliki masalah pribadi masing-masing. Lu Jianxing ingin naik pangkat hingga terpaksa menyogok petinggi kerajaan, Shen Lian jatuh cinta pada wanita penghibur dan ingin membebaskannya dari rumah bordil, sedangkan Yichuan jatuh cinta pada anak seorang tabib.

Komentar
Tadinya aku menyangka film ini hanyalah film silat biasa yang mengandalkan adegan aksi dan pertarungan kungfu semata. Nyatanya adegan aksinya tak bagus-bagus amat walau tak bisa dibilang jelek. Yang menjadi jualan film ini justru drama yang diakibatkan konflik antar elit penguasa yang menyeret ketiga tokoh saudara angkat ke jurang kehancuran. Aku baru sadar di pertengahan film kalau film ini adalah film drama tragedi, bukan cuma drama silat biasa.

Film ini bersetting pada masa kaisar Chongzen, kaisar terakhir dari dinasti Ming. Plot ceritanya sendiri memang berdasarkan sejarah dimana pada tahun 1627, kaisar Chongzen mengutus Jinyiwei untuk menangkap kasim Wei Zhongxian untuk dimintai pertanggungjawabannya atas korupsi yang dilakukan.

Tragedi yang ditampilkan oleh film ini akan lebih terasa jika penonton mengetahui latar sejarah pemerintahan kaisar Chongzen. Chongzen naik tahta pada usia 17 tahun menggantikan kakaknya kaisar Tianqi yang tak punya anak, dan pada saat itu dinasti Ming sudah keropos dari dalam akibat korupsi dan besarnya kekuasaan kasim. Dari luar, ancaman bangsa Manchu di utara sudah mencapai perbatasan dan hanya bisa dihalangi oleh penjagaan intensif di tembok besar. Sementara itu, di selatan sedang berkobar pemberontakan petani yang tidak tahan dengan pemerintahan korup dinasti Ming yang sudah parah. Pada akhirnya, ibukota Peking jatuh ke tangan pemberontakan petani pimpinan Li Zicheng. Agar keluarganya tak mengalami penghinaan berat, Chongzen memutuskan membunuh seluruh anggota keluarganya sebelum akhirnya bunuh diri.

Tulisan ringkasku tentang hubungan Jinyiwei dan Dong Chang (Biro Timur) bisa dilihat di link ini

Rating: 3.5/5


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic

Advertisements

%d bloggers like this: