Archive for the 'Resensi Film Asia' Category



Shield of Straw

Akhir-akhir ini, film-film buatan Takashi Miike sutradara yang dikenal lewat film gory hanya lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan bagiku. Film terakhirnya yang menurutku lumayan menarik adalah remake Harakiri: Death of a Samurai, sisanya cuma jadi bahan cibiranku. Bahkan Aku no Kyoten (Lesson of Evil) yang menceritakan tentang serial killer berprofesi sebagai guru SMA agak absurd dan membosankan. Bagaimana dengan film berjudul asli Wara no Tate yang di adaptasi dari novel karangan Kazuhiro Kiuchi ini? Continue reading ‘Shield of Straw’

Yurusarezaru Mono, Unforgiven (2013)

“Tadinya kukira, hidup ini cuma membunuh…. bunuh dan bunuh, sampai akhirnya mati dibunuh”
(Jubee Kamata)

Seperti yang kutulis pada review film Unforgiven sebelumnya, Yurusarezaru Mono (dalam bahasa Jepang artinya sama dengan Unforgiven) adalah sebuah film remake dari film original buatan Clint Eastwood tahun 1992. Film yang skenarionya ditulis ulang dan disutradarai oleh Lee Sang-il ini mengambil setting jidaigeki sebagai pengganti panggung dunia koboy karya Eastwood. Dengan mengusung beberapa aktor senior peraih piala Oscar-nya Jepang seperti Ken Watanabe, Koichi Sato, dan Akira Emoto, Yurusarezaru Mono mencoba untuk mendaur ulang Unforgiven dengan napas khas Jepang. Continue reading ‘Yurusarezaru Mono, Unforgiven (2013)’

New World

Film-film Hongkong bertema gangster dulunya laku keras sampai dibikin banyak sequel. Film-film ini dulunya lebih menampilkan sosok gangster yang gagah berani, solider terhadap teman hingga betapa jago mereka bertarung. Contohnya saja film-film kolaborasi John Woo – Chow Yuen-fat dan juga serial Young and Dangerous serta spin-off nya yang panjang itu. Tema glorifying gangster lama kelamaan meredup berganti dengan tema kehidupan gangster yang lebih gelap dan suram. Gaya baru ini mulai merambah ke tetangganya yaitu industri film Korea Selatan. Beberapa diantaranya sanggup menarik perhatianku seperti misalnya A Bittersweet Life (Kim Ji-won dengan aktor Lee Byung-hun) dan Dirty Carnival (Yoo Ha) karena eksekusinya yang unik dan menarik. Aku sendiri tertarik menonton film ini lebih dikarenakan kehadiran salah satu aktor Korea favoritku Choi Min-sik. Bagaimanakah hasilnya?

Continue reading ‘New World’

The Berlin File

Walaupun aku termasuk orang yang tak suka dan masa bodoh dengan drama TV Korea, tapi aku adalah penggemar film layar lebar Korea Selatan, terutama film-film thriller mereka. Boleh dibilang 80 persen film-film Korea yang kutonton adalah film-film bergenre thriller, baik itu berupa campuran thriller dengan sci-fi, perang, detektif, spy, horror ataupun komedi. Ketika sutradara Ryoo Seung-wan berencana membuat film bertema thriller-spionase dengan lokasi setting di Eropa, tentu saja aku menantikan kemunculan karyanya ini. Apalagi ketika beredar kabar kalau salah satu aktor yang namanya sedang mencuat saat ini Ha Jung-woo akan berperan sebagai karakter utamanya. Penggemar film thriller Korea tentunya tak akan melupakan 2 film brutal penuh darah hasil kerja sama trio Ha Jung-woo dengan Kim Yoon-seok dan sutradara Na Hong-jin, The Chaser dan The Yellow Sea.

Continue reading ‘The Berlin File’

Train Brain Express

Entah siapa yang mentranslasikan judul film ini ke dalam bahasa Inggris seperti judul di atas, tapi judul Jepangnya sendiri lebih pas karena mengacu pada salah satu lagu Jazz terbaik yang pernah dibawakan oleh sang bangsawan piano Jazz Duke Ellington, The the “A” Train. Kenapa demikian? Karena salah satu tokoh utamanya penggemar musik yang juga gemar naik kereta. Hal yang membuatku tertarik nonton film ini adalah 2 pemeran utamanya yang boleh dibilang termasuk aktor muda berbakat Jepang yaitu Kenichi Matsuyama dan Eita Nagayama. Bagimana jika 2 gunung (Yama = Gunung) bersatu, akankah menjulang lebih tinggi?
Continue reading ‘Train Brain Express’

The Grandmaster

Kenal Wong Kar-wai? Wong adalah sutradara Hongkong yang dikenal dengan gaya penyutradaraan unik nan artistik disebut sebagai Auteur yang menghiasi film-film garapannya. Aku sendiri bukanlah penggemar berat film-film artistik model Auteur, tapi kadang-kadang ada beberapa yang kusuka. Mengingat kali ini Wong membuat film bergenre martial arts yang menghadirkan master Kungfu bernama Yip Man, aku cukup penasaran dengan hasilnya. Terus terang saja film Wong yang kutonton pertama kali justru film martial arts pertamanya yaitu Ashes of Time yang sukses membuatku tertidur setelah nonton setengah jam. Karena itu aku setengah berharap agar Wong belajar dari pengalamannya membuat Ashes of Time sehingga bisa membuat The Grandmaster sebagai film martial arts keduanya lebih menarik. Continue reading ‘The Grandmaster’

Confession of Murder

Akhir-akhir ini aku lebih banyak nonton film Korea dibandingkan film Jepang. Walaupun demikian aku jarang menulis reviewnya. Maklumlah selain sibuk dalam kehidupan pribadi, penyakit malas juga membuat jari-jari ini kaku buat mengetik tombol keyboard komputer. Baiklah, ini review pertama di bulan April dan kali ini yang diulas adalah sebuah film thriller Korea.

Korea Selatan memiliki perangkat peraturan hukum yang membatasi penuntutan hukum secara legal suatu kasus kriminal hingga 15 tahun setelah awal kejadian. Jika sudah melewati batas waktu 15 tahun, pelaku kasus kriminal tersebut bisa bebas dari hukuman tanpa bisa dituntut oleh pengadilan. Film ini dibuat berdasarkan kasus pembunuhan 10 wanita yang disebut sebagai kasus pembunuhan berantai Hwaseong yang juga menginspirasi film Memories of Murder.
Continue reading ‘Confession of Murder’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 195 other followers

%d bloggers like this: