Archive for the 'Resensi Film Asia' Category



The Fatal Encounter

IMG_2189.JPG

Plot:
Raja Jeongjeo, penguasa ke-22 dinasti Joseon Korea dikenal sebagai raja yang kurang beruntung. Umur 10 tahun, Jeongjeo harus melihat ayahnya Putra Mahkota Sado dieksekusi hukuman mati atas perintah kakeknya Raja Yeongjo. Sewaktu berusia 24 tahun, Raja Yeongjo wafat dan Jeongjeo otomatis menjadi satu-satunya pewaris tahta langsung karena sang kakek tak punya anak maupun cucu yang lain. Sejak diangkat sebagai raja, Jeongjeo harus berhadapan dengan pertikaian politik sengit antara faksi Noron dan Soron dalam istana. Faksi Noron yang memiliki kekuatan paling besar dan ikut terlibat dalam mempengaruhi keputusan eksekusi Putra Mahkota Sado khawatir jika Jeongjeo akan menuntut balas, sehingga merencanakan untuk membunuh Jeongjeo dan melakukan kudeta. Dalam satu tahun pertama Jeongjeo berkuasa, tercatat 10 kali percobaan pembunuhan pernah dilakukan untuk menghabisi Raja Jeongjeo. Film ini berisi 24 jam terakhir salah satu upaya pembunuhan paling berbahaya terhadap Raja Jeongjeo dalam satu tahun pertama era kekuasaannya.

Continue reading ‘The Fatal Encounter’

Advertisements

The Little House

IMG_2026.JPG

Judul asli: Chiisai Ouchi

Plot:
Setelah wafat, nenek Taki Nunomiya meninggalkan catatan otobiografi dirinya untuk cucu keponakannya Takeshi (Satoshi Tsumabuki), yang meminta nenek Taki menceritakan tentang riwayat hidupnya. Lewat cerita flashback berdasarkan catatan yang dibaca Takeshi, pada tahun 1930an Taki muda (Haru Kuroki) pergi meninggalkan kampung halamannya di Yamagata untuk menjadi seorang pembantu asisten rumah tangga di ibu kota Tokyo. Taki bekerja pada keluarga Hirai yang tinggal di rumah mungil beratap merah. Keluarga Hirai yang terdiri dari suami Masaki (Takataro Kataoka), istrinya yang cantik Tokiko (Takako Matsui) dan anak mereka Kyoichi yang berusia 5 tahun, hidup tentram dan bahagia. Keharmonisan rumah tangga keluarga Hirai mulai diguncang affair, ketika rekan kerja Masaki yang masih muda bernama Itakura (Hidetaka Yoshioka) datang berkunjung dan menarik perhatian Tokiko.

Continue reading ‘The Little House’

Brotherhood of Blades

IMG_2015.JPG

Mulai hari ini, aku akan menulis beberapa review pendek seperti tulisan di bawah ini.

Plot
Tiga orang saudara angkat Lu Jianxing, Shen Lian, dan Yichuan bekerja sebagai petugas Jinyiwei diperintahkan pemimpin Dong Chang untuk menangkap kasim Wei Zhongxian. Setelah mereka berhasil melaksanakan tugas, barulah mereka bertiga sadar kalau telah diperalat. Dilain pihak, ketiga saudara angkat tersebut memiliki masalah pribadi masing-masing. Lu Jianxing ingin naik pangkat hingga terpaksa menyogok petinggi kerajaan, Shen Lian jatuh cinta pada wanita penghibur dan ingin membebaskannya dari rumah bordil, sedangkan Yichuan jatuh cinta pada anak seorang tabib.

Komentar
Tadinya aku menyangka film ini hanyalah film silat biasa yang mengandalkan adegan aksi dan pertarungan kungfu semata. Nyatanya adegan aksinya tak bagus-bagus amat walau tak bisa dibilang jelek. Yang menjadi jualan film ini justru drama yang diakibatkan konflik antar elit penguasa yang menyeret ketiga tokoh saudara angkat ke jurang kehancuran. Aku baru sadar di pertengahan film kalau film ini adalah film drama tragedi, bukan cuma drama silat biasa.

Film ini bersetting pada masa kaisar Chongzen, kaisar terakhir dari dinasti Ming. Plot ceritanya sendiri memang berdasarkan sejarah dimana pada tahun 1627, kaisar Chongzen mengutus Jinyiwei untuk menangkap kasim Wei Zhongxian untuk dimintai pertanggungjawabannya atas korupsi yang dilakukan.

Tragedi yang ditampilkan oleh film ini akan lebih terasa jika penonton mengetahui latar sejarah pemerintahan kaisar Chongzen. Chongzen naik tahta pada usia 17 tahun menggantikan kakaknya kaisar Tianqi yang tak punya anak, dan pada saat itu dinasti Ming sudah keropos dari dalam akibat korupsi dan besarnya kekuasaan kasim. Dari luar, ancaman bangsa Manchu di utara sudah mencapai perbatasan dan hanya bisa dihalangi oleh penjagaan intensif di tembok besar. Sementara itu, di selatan sedang berkobar pemberontakan petani yang tidak tahan dengan pemerintahan korup dinasti Ming yang sudah parah. Pada akhirnya, ibukota Peking jatuh ke tangan pemberontakan petani pimpinan Li Zicheng. Agar keluarganya tak mengalami penghinaan berat, Chongzen memutuskan membunuh seluruh anggota keluarganya sebelum akhirnya bunuh diri.

Tulisan ringkasku tentang hubungan Jinyiwei dan Dong Chang (Biro Timur) bisa dilihat di link ini

Rating: 3.5/5

Rurouni Kenshin: Densetsu no Saigo Hen (The Legend Ends)

IMG_2010.JPG

Baru kali ini saya nonton film di bioskop yang terisi penuh tanpa ada kursi kosong. Bahkan ketika saya membeli tiket nonton sehari sebelum penayangan, kursi bagian tengah tinggal tersisa sedikit dan saya beruntung masih bisa mendapatkan bagian aminah (agak minggir di tengah). Teman saya yang nonton dan membeli tiket pada hari H, harus puas mendapatkan kursi di depan layar. Rupanya penonton yang ingin melihat lanjutan Rurouni Kenshi: Kyoto Inferno, cukup antusias datang menonton pada penayangan premier hari pertama. Bagaimanakah kelanjutannya?

Terlebih dahulu, saya ingin mengingatkan bahwa review kali ini mengandung spoiler. Tapi bagi penggemar manga/anime Rurouni Kenshin, sepertinya spoiler yang saya tulis tak akan berpengaruh banyak.

Continue reading ‘Rurouni Kenshin: Densetsu no Saigo Hen (The Legend Ends)’

Like Father, Like Son

Sutradara Jepang Kore-eda Hirokazu bisa dibilang lebih dikenal di dunia perfilman barat daripada di dalam negeri, tepatnya di ajang festival film yang sering diikutinya. Sering kali Kore-eda membawakan film bertema keluarga untuk mengeksplorasi budaya Jepang. Dalam Like Father, Like Son, Kore-eda mengeksplorasi hubungan orangtua dan anak ketika sang orang tua mengetahui kalau anak yang 6 tahun mereka besarkan ternyata bukanlah anak kandung mereka. Film yang aslinya berjudul Soshite Chichi ni Naru (akhirnya menjadi bapak) dinominasikan penghargaan Palme d’Or di ajang Festival Film Cannes 2013 sebelum akhirnya berhasil menyabet gelar Jury Prize di ajang yang sama.
Continue reading ‘Like Father, Like Son’

Rurouni Kenshin: Kyoto Taika Hen (Kyoto Inferno)

IMG_1865.JPG

Setelah sukses mendapatkan keuntungan lewat Rurouni Kenshin live action (2012), film sequel hanya tinggal menunggu waktu untuk diproduksi saja. Tak tanggung-tanggung, 2 sequel yang direncanakan akan diputar secara berurutan pada bulan Agustus dan September 2014 di bioskop Jepang. Tak mau kehilangan momen, story arch yang diambil adalah bagian yang paling terkenal dari serial Rurouni Kenshin yaitu Kyoto Arch atau juga dikenal dengan Juppongatana Arch. Boleh dibilang hampir seluruh karakter penting dalam serial Rurouni Kenshin muncul dalam sequel ini termasuk para anggota Juppongatana dan big boss mereka Shishio Makoto, para anggota Oniwabanshu termasuk Shinomori Aoshi dan Misao, dan tentu saja Kenshin and the gang dari film prequelnya. Film ini juga rencananya akan diputar di Indonesia pada bulan September nanti. Rupanya distributor film di Indonesia menyadari kesalahan mereka pada tahun 2012 tak memasukkan Rourouni Kenshin ke dalam daftar tayang, mengingat tingginya popularitas Samurai X (baik manga maupun anime) di Indonesia. Kali ini tak ingin mengulangi kekeliruan mereka, dua sequel Rurouni Kenshin sudah siap tayang di Indonesia via jaringan bioskop Blitz.

Continue reading ‘Rurouni Kenshin: Kyoto Taika Hen (Kyoto Inferno)’

Once Upon A Time in Shanghai

Anda pernah mendengar nama Philip Ng? Jangankan penggemar film biasa, penggemar film martial arts Hongkong sekalipun mungkin tidak kenal. Padahal Philip Ng adalah aktor muda yang digadang-gadang sebagai penerus Donnie Yen. Perjalanan karir Philip Ng dan Donnie Yen memang agak mirip. Jika Donnie Yen lahir di Guangdong China dan sejak usia 11 tahun diboyong kedua orang tuanya ke Boston Amerika, Philip Ng lahir di Hongkong lalu ketika masih kecil diboyong dan dibesarkan orangtuanya di Chicago Amerika. Kedua mulai diajarkan berinteraksi dengan bela diri sejak kecil oleh orangtua masing-masing. Jika Donnie Yen sejak kecil dilatih ibunya Bow-Sim Mark seorang master Taichi, maka Philip Ng berlatih Choy Lee Fut dibawah bimbingan ayahnya Sam Ng. Keduanya sama-sama berprofesi ganda sebagai aktor dan action choreographer, juga mengembangkan MMA (Mixed Martial Arts) dan memasukkan gaya MMA kedalam film yang tata laganya dikoreografi sendiri. Sayangnya karir Philip di Hongkong tak semulus Donnie. Mengawali karirnya di dunia perfilman Hongkong sejak tahun 2003, peran Philip tak pernah jauh dari penata laga dan peran pembantu. Akhirnya kesempatan unjuk gigi sebagai pemeran utamapun tiba. Dalam Once Upon A Time in Shanghai (OUATIS) ini, Philip Ng akhirnya mencicipi peran sebagai tokoh utama.
Continue reading ‘Once Upon A Time in Shanghai’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: