Archive for the 'Resensi Film Asia' Category



Wadjda

Aku mendapatkan film ini unik karena Wadjda merupakan film panjang pertama Arab Saudi yang disutradarai oleh seorang sutradara perempuan dan juga film pertama yang disyuting seluruh adegannya di Arab Saudi. Sutradara tersebut bernama Haifaa Al-Mansour dan Al-Mansour menyutradarai film ini tidak di balik kamera melainkan di dalam mobil van, lengkap dengan walkie-talkie untuk berhubungan dengan kru pria di luar. Apakah keterbatasan penyutradaraan ini membuat Wadjda turun kualitasnya?

Wadjda (Waad Mohammed) adalah seorang anak perempuan berumur 11 tahun yang tinggal bersama ibu (Reem Abdullah) dan ayahnya (Sultan Al-Assaf) di ibukota Arab Saudi Riyadh. Wadjda berharap bisa membeli sepeda dan ingin beradu balap dengan temannya Abdullah. Permintaan Wadjda ditolak ibunya dengan alasan perempuan yang naik sepeda dianggap tidak terhormat dan bisa merusak keperawanannya. Meski demikian demi membeli sepeda, Wadjda bertekad memenangkan lomba membaca Al Qur’an di sekolahnya yang berhadiah uang. Ibu Wadjda sendiri sedang galau karena ayah Wadjda berniat berpoligami demi mendapatkan anak lelaki.
Continue reading ‘Wadjda’

Unbeatable

Nick Cheung Ka-fei sudah menjadi salah satu aktor Hongkong favoritku setelah mampu membuatku terpukau dengan aktingnya di film Beast Stalker (2008) garapan sutradara Dante Lam. Cheung memang tidak memiliki tampang ganteng seperti banyak aktor-aktor seangkatannya sehingga Cheung lebih banyak disorot lewat kemampuan aktingnya. Setelah permainannya dalam Beast Stalker dibawah arahan Dante Lam mampu menyabet gelar aktor terbaik di berbagai festival film, kali ini Cheung kembali bekerja sama dengan Dante Lam menggarap Unbeatable yang bertema Mixed Martial Arts (MMA).

Continue reading ‘Unbeatable’

Kaguya-hime no Monogatari

Isao Takahata is back! Sutradara legendaris Studio Ghibli yang ini memang agak pelit membuat film anime jika dibandingkan rekannya sesama pendiri Studio Ghibli, Hayao Miyazaki. Sebagai sutradara, produktivitas Miyazaki telah menelurkan 9 film anime layar lebar untuk Studio Ghibli. Bandingkan dengan Takahata yang “hanya” menyutradarai 5 film hingga sekarang. Film terakhir Takahata yang berjudul My Neighbors The Yamadas dibuat 14 tahun yang lalu dan Takahata memulai proses pembuatan film Kaguya-hime sendiri sejak tahun 2005, yang berarti Takahata butuh 8 tahun untuk menyelesaikan Kaguya-hime. Waktu yang cukup panjang untuk membuat sebuah film animasi bukan? Akan tetapi Paku-san (panggilan akrab Takahata) merupakan sutradara yang perfeksionis seperti halnya Miya-san (panggilan akrab Miyazaki). Detail produksi, dari membuat story-board hingga proses editing akhir, semuanya dikerjakan melalui supervisi langsung oleh Paku-san. Karena itu, jangan kaget kalau misalnya mereka berdua sering kelelahan selesai menggarap satu proyek film anime, mengingat usia mereka yang sudah cukup lanjut (Paku-san 78 tahun, Miya-san 72 tahun). Oleh karena itu, aku benar-benar menantikan karya terakhir Paku-san yang satu ini, terlebih setelah melihat trailer Kaguya-hime yang menampilkan animasi unik yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bagaimanakah hasilnya?
Continue reading ‘Kaguya-hime no Monogatari’

Shield of Straw

Akhir-akhir ini, film-film buatan Takashi Miike sutradara yang dikenal lewat film gory hanya lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan bagiku. Film terakhirnya yang menurutku lumayan menarik adalah remake Harakiri: Death of a Samurai, sisanya cuma jadi bahan cibiranku. Bahkan Aku no Kyoten (Lesson of Evil) yang menceritakan tentang serial killer berprofesi sebagai guru SMA agak absurd dan membosankan. Bagaimana dengan film berjudul asli Wara no Tate yang di adaptasi dari novel karangan Kazuhiro Kiuchi ini? Continue reading ‘Shield of Straw’

Yurusarezaru Mono, Unforgiven (2013)

“Tadinya kukira, hidup ini cuma membunuh…. bunuh dan bunuh, sampai akhirnya mati dibunuh”
(Jubee Kamata)

Seperti yang kutulis pada review film Unforgiven sebelumnya, Yurusarezaru Mono (dalam bahasa Jepang artinya sama dengan Unforgiven) adalah sebuah film remake dari film original buatan Clint Eastwood tahun 1992. Film yang skenarionya ditulis ulang dan disutradarai oleh Lee Sang-il ini mengambil setting jidaigeki sebagai pengganti panggung dunia koboy karya Eastwood. Dengan mengusung beberapa aktor senior peraih piala Oscar-nya Jepang seperti Ken Watanabe, Koichi Sato, dan Akira Emoto, Yurusarezaru Mono mencoba untuk mendaur ulang Unforgiven dengan napas khas Jepang. Continue reading ‘Yurusarezaru Mono, Unforgiven (2013)’

New World

Film-film Hongkong bertema gangster dulunya laku keras sampai dibikin banyak sequel. Film-film ini dulunya lebih menampilkan sosok gangster yang gagah berani, solider terhadap teman hingga betapa jago mereka bertarung. Contohnya saja film-film kolaborasi John Woo – Chow Yuen-fat dan juga serial Young and Dangerous serta spin-off nya yang panjang itu. Tema glorifying gangster lama kelamaan meredup berganti dengan tema kehidupan gangster yang lebih gelap dan suram. Gaya baru ini mulai merambah ke tetangganya yaitu industri film Korea Selatan. Beberapa diantaranya sanggup menarik perhatianku seperti misalnya A Bittersweet Life (Kim Ji-won dengan aktor Lee Byung-hun) dan Dirty Carnival (Yoo Ha) karena eksekusinya yang unik dan menarik. Aku sendiri tertarik menonton film ini lebih dikarenakan kehadiran salah satu aktor Korea favoritku Choi Min-sik. Bagaimanakah hasilnya?

Continue reading ‘New World’

The Berlin File

Walaupun aku termasuk orang yang tak suka dan masa bodoh dengan drama TV Korea, tapi aku adalah penggemar film layar lebar Korea Selatan, terutama film-film thriller mereka. Boleh dibilang 80 persen film-film Korea yang kutonton adalah film-film bergenre thriller, baik itu berupa campuran thriller dengan sci-fi, perang, detektif, spy, horror ataupun komedi. Ketika sutradara Ryoo Seung-wan berencana membuat film bertema thriller-spionase dengan lokasi setting di Eropa, tentu saja aku menantikan kemunculan karyanya ini. Apalagi ketika beredar kabar kalau salah satu aktor yang namanya sedang mencuat saat ini Ha Jung-woo akan berperan sebagai karakter utamanya. Penggemar film thriller Korea tentunya tak akan melupakan 2 film brutal penuh darah hasil kerja sama trio Ha Jung-woo dengan Kim Yoon-seok dan sutradara Na Hong-jin, The Chaser dan The Yellow Sea.

Continue reading ‘The Berlin File’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 215 other followers

%d bloggers like this: