Archive for the 'Resensi Film Asia' Category



Rurouni Kenshin: Kyoto Taika Hen (Kyoto Inferno)

IMG_1865.JPG

Setelah sukses mendapatkan keuntungan lewat Rurouni Kenshin live action (2012), film sequel hanya tinggal menunggu waktu untuk diproduksi saja. Tak tanggung-tanggung, 2 sequel yang direncanakan akan diputar secara berurutan pada bulan Agustus dan September 2014 di bioskop Jepang. Tak mau kehilangan momen, story arch yang diambil adalah bagian yang paling terkenal dari serial Rurouni Kenshin yaitu Kyoto Arch atau juga dikenal dengan Juppongatana Arch. Boleh dibilang hampir seluruh karakter penting dalam serial Rurouni Kenshin muncul dalam sequel ini termasuk para anggota Juppongatana dan big boss mereka Shishio Makoto, para anggota Oniwabanshu termasuk Shinomori Aoshi dan Misao, dan tentu saja Kenshin and the gang dari film prequelnya. Film ini juga rencananya akan diputar di Indonesia pada bulan September nanti. Rupanya distributor film di Indonesia menyadari kesalahan mereka pada tahun 2012 tak memasukkan Rourouni Kenshin ke dalam daftar tayang, mengingat tingginya popularitas Samurai X (baik manga maupun anime) di Indonesia. Kali ini tak ingin mengulangi kekeliruan mereka, dua sequel Rurouni Kenshin sudah siap tayang di Indonesia via jaringan bioskop Blitz.

Continue reading ‘Rurouni Kenshin: Kyoto Taika Hen (Kyoto Inferno)’

Once Upon A Time in Shanghai

Anda pernah mendengar nama Philip Ng? Jangankan penggemar film biasa, penggemar film martial arts Hongkong sekalipun mungkin tidak kenal. Padahal Philip Ng adalah aktor muda yang digadang-gadang sebagai penerus Donnie Yen. Perjalanan karir Philip Ng dan Donnie Yen memang agak mirip. Jika Donnie Yen lahir di Guangdong China dan sejak usia 11 tahun diboyong kedua orang tuanya ke Boston Amerika, Philip Ng lahir di Hongkong lalu ketika masih kecil diboyong dan dibesarkan orangtuanya di Chicago Amerika. Kedua mulai diajarkan berinteraksi dengan bela diri sejak kecil oleh orangtua masing-masing. Jika Donnie Yen sejak kecil dilatih ibunya Bow-Sim Mark seorang master Taichi, maka Philip Ng berlatih Choy Lee Fut dibawah bimbingan ayahnya Sam Ng. Keduanya sama-sama berprofesi ganda sebagai aktor dan action choreographer, juga mengembangkan MMA (Mixed Martial Arts) dan memasukkan gaya MMA kedalam film yang tata laganya dikoreografi sendiri. Sayangnya karir Philip di Hongkong tak semulus Donnie. Mengawali karirnya di dunia perfilman Hongkong sejak tahun 2003, peran Philip tak pernah jauh dari penata laga dan peran pembantu. Akhirnya kesempatan unjuk gigi sebagai pemeran utamapun tiba. Dalam Once Upon A Time in Shanghai (OUATIS) ini, Philip Ng akhirnya mencicipi peran sebagai tokoh utama.
Continue reading ‘Once Upon A Time in Shanghai’

Wadjda

Aku mendapatkan film ini unik karena Wadjda merupakan film panjang pertama Arab Saudi yang disutradarai oleh seorang sutradara perempuan dan juga film pertama yang disyuting seluruh adegannya di Arab Saudi. Sutradara tersebut bernama Haifaa Al-Mansour dan Al-Mansour menyutradarai film ini tidak di balik kamera melainkan di dalam mobil van, lengkap dengan walkie-talkie untuk berhubungan dengan kru pria di luar. Apakah keterbatasan penyutradaraan ini membuat Wadjda turun kualitasnya?

Wadjda (Waad Mohammed) adalah seorang anak perempuan berumur 11 tahun yang tinggal bersama ibu (Reem Abdullah) dan ayahnya (Sultan Al-Assaf) di ibukota Arab Saudi Riyadh. Wadjda berharap bisa membeli sepeda dan ingin beradu balap dengan temannya Abdullah. Permintaan Wadjda ditolak ibunya dengan alasan perempuan yang naik sepeda dianggap tidak terhormat dan bisa merusak keperawanannya. Meski demikian demi membeli sepeda, Wadjda bertekad memenangkan lomba membaca Al Qur’an di sekolahnya yang berhadiah uang. Ibu Wadjda sendiri sedang galau karena ayah Wadjda berniat berpoligami demi mendapatkan anak lelaki.
Continue reading ‘Wadjda’

Unbeatable

Nick Cheung Ka-fei sudah menjadi salah satu aktor Hongkong favoritku setelah mampu membuatku terpukau dengan aktingnya di film Beast Stalker (2008) garapan sutradara Dante Lam. Cheung memang tidak memiliki tampang ganteng seperti banyak aktor-aktor seangkatannya sehingga Cheung lebih banyak disorot lewat kemampuan aktingnya. Setelah permainannya dalam Beast Stalker dibawah arahan Dante Lam mampu menyabet gelar aktor terbaik di berbagai festival film, kali ini Cheung kembali bekerja sama dengan Dante Lam menggarap Unbeatable yang bertema Mixed Martial Arts (MMA).

Continue reading ‘Unbeatable’

Kaguya-hime no Monogatari

Isao Takahata is back! Sutradara legendaris Studio Ghibli yang ini memang agak pelit membuat film anime jika dibandingkan rekannya sesama pendiri Studio Ghibli, Hayao Miyazaki. Sebagai sutradara, produktivitas Miyazaki telah menelurkan 9 film anime layar lebar untuk Studio Ghibli. Bandingkan dengan Takahata yang “hanya” menyutradarai 5 film hingga sekarang. Film terakhir Takahata yang berjudul My Neighbors The Yamadas dibuat 14 tahun yang lalu dan Takahata memulai proses pembuatan film Kaguya-hime sendiri sejak tahun 2005, yang berarti Takahata butuh 8 tahun untuk menyelesaikan Kaguya-hime. Waktu yang cukup panjang untuk membuat sebuah film animasi bukan? Akan tetapi Paku-san (panggilan akrab Takahata) merupakan sutradara yang perfeksionis seperti halnya Miya-san (panggilan akrab Miyazaki). Detail produksi, dari membuat story-board hingga proses editing akhir, semuanya dikerjakan melalui supervisi langsung oleh Paku-san. Karena itu, jangan kaget kalau misalnya mereka berdua sering kelelahan selesai menggarap satu proyek film anime, mengingat usia mereka yang sudah cukup lanjut (Paku-san 78 tahun, Miya-san 72 tahun). Oleh karena itu, aku benar-benar menantikan karya terakhir Paku-san yang satu ini, terlebih setelah melihat trailer Kaguya-hime yang menampilkan animasi unik yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bagaimanakah hasilnya?
Continue reading ‘Kaguya-hime no Monogatari’

Shield of Straw

Akhir-akhir ini, film-film buatan Takashi Miike sutradara yang dikenal lewat film gory hanya lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan bagiku. Film terakhirnya yang menurutku lumayan menarik adalah remake Harakiri: Death of a Samurai, sisanya cuma jadi bahan cibiranku. Bahkan Aku no Kyoten (Lesson of Evil) yang menceritakan tentang serial killer berprofesi sebagai guru SMA agak absurd dan membosankan. Bagaimana dengan film berjudul asli Wara no Tate yang di adaptasi dari novel karangan Kazuhiro Kiuchi ini? Continue reading ‘Shield of Straw’

Yurusarezaru Mono, Unforgiven (2013)

“Tadinya kukira, hidup ini cuma membunuh…. bunuh dan bunuh, sampai akhirnya mati dibunuh”
(Jubee Kamata)

Seperti yang kutulis pada review film Unforgiven sebelumnya, Yurusarezaru Mono (dalam bahasa Jepang artinya sama dengan Unforgiven) adalah sebuah film remake dari film original buatan Clint Eastwood tahun 1992. Film yang skenarionya ditulis ulang dan disutradarai oleh Lee Sang-il ini mengambil setting jidaigeki sebagai pengganti panggung dunia koboy karya Eastwood. Dengan mengusung beberapa aktor senior peraih piala Oscar-nya Jepang seperti Ken Watanabe, Koichi Sato, dan Akira Emoto, Yurusarezaru Mono mencoba untuk mendaur ulang Unforgiven dengan napas khas Jepang. Continue reading ‘Yurusarezaru Mono, Unforgiven (2013)’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: