Archive for the 'Resensi Film Amerika' Category



The Cabin in the Woods

Yang bikin tulisan review film ini sebenarnya sudah cukup banyak dan biasanya aku agak malas menulis review film yang sudah banyak ditulis di blog lain. Tapi entah kenapa, koq tanganku ikutan gatal ingin menulis dengan kata-kataku sendiri.
Awalnya aku malas nonton film beginian, tepatnya genre horror thriller dan lebih spesifik lagi: torture porn. Memang begitulah kesanku ketika pertama kali melihat trailer film ini, another cheap torture porn film. Padahal ada nama Joss Wheddon sutradara The Avengers yang duduk di kursi produser dan juga ada Drew Goddard si penulis cerita Cloverfield yang jadi sutradara. Yang membuatku tertarik nonton gara-gara film ini mendapat banyak pujian tinggi di satu sisi dan juga tak kalah banyak cacian di pihak lain. Memangnya apa keistimewaan film genre torture porn yang biasanya malas kutonton sampai bikin 2 kubu berseberangan?

Peringatan: SPOILER.
Kalau benar-benar ingin menikmati film ini hingga kepuasan maksimal, jangan baca tulisan di bawah lebih lanjut. Nanti saja setelah nonton boleh kita diskusikan bareng bagi yang tertarik.
Continue reading ‘The Cabin in the Woods’

The Adjustment Bureau – Kehendak bebas vs Suratan nasib

You don’t have free will, David. You have the appearance of free will.
(Agen Thompson)

Ya, ini film memang sudah rilis beberapa bulan yang lalu dan aku agak telat membahasnya. Tapi yang membuatku tertarik meriview film ini adalah tema yang diusung yaitu konflik antara dua konsep filosofi: kehendak bebas dan suratan nasib. Film ini merupakan adaptasi dari cerita pendek karya pengarang cerita sains fiksi terkenal Philip K. Dick yang berjudul Adjustment Team. Philip K. Dick memang dikenal sering memasukkan unsur filosofi dalam karya-karyanya dan kali ini tema yang diambil adalah free-will vs predestination dan filosofi biblical tentang kekuasaan Tuhan. Salah satu film adaptasi Philip K. Dick yang menurutku berhasil menerjemahkan konsep kehendak bebas vs suratan nasib adalah Minority Report yang disutradarai oleh Steven Spielberg dan dibintangi Tom Cruise. Masih ingat adegan Tom Cruise melempar dan menggelindingkan bola di meja, lalu ditangkap oleh Collin Farrel sebelum jatuh? Itu adalah adegan yang paling memorable buatku.
Lalu bagaimana dengan The Adjustment Bureau? Continue reading ‘The Adjustment Bureau – Kehendak bebas vs Suratan nasib’

Kick-Ass – Komedi, sadis dan seru

Sudah banyak teman-teman blogger yang me-review film ini, tapi rasanya masih kurang kalau saya tidak menuliskan pendapat saya sendiri. Menurutku film ini dibagi atas 3 stage. Pertama adalah film komedi segar lewat tokoh Dave yang kepengen jadi superhero seperti dalam komik lewat alter-egonya Kick-Ass. Adegan konyol nan lucu diawal film saja sudah lumayan menarik perhatian dan menyebabkan penonton (yang tak tahu tentang cerita komiknya) punya kesan kalau Kick-Ass adalah film komedi. Seiring dengan masuknya tokoh Hit-Girl dan Big-Daddy, stage dua yang banyak menampilkan adegan sadis dimulai dan adegan komedi mulai berkurang secara perlahan. Kalau sudah sering nonton film slasher sih, adegan sabetan dan tikaman pedang berlumuran darah hanya hal lumrah. Bedanya dalam film ini, yang menyabetkan senjata tajam adalah gadis cilik berumur 11 tahun bernama Hit-Girl. Dalam stage ke-tiga, para penonton disuguhkan adegan-adegan pertempuran seru lewat aksi Hit-Girl membebaskan Big-Daddy dan Kick-Ass dari tawanan musuh hingga serbuan ke markas mafia. Adegan akhir yang menggunakan bazooka benar-benar mantap abis (aku sampai takjub dengan visualisasi sutradaranya yang komikal ini). Aksi sadis masih tetap banyak berkelebat, namun adegan komedi kiranya sudah tak tersisa lagi dipenghujung akhir film.
Continue reading ‘Kick-Ass – Komedi, sadis dan seru’

Resensi pendek dan singkat [3]

1. Motherhood – 2009

“Because mom is do everything and dad only did something. It’s different.”
Itulah kalimat yang diucapkan seorang anak yang minta ibunya lebih banyak dirumah dari pada ayahnya. Ibu mana yang tega menolak permintaan anaknya. Film ini ingin menyampaikan apakah arti menjadi seorang ibu, dan apa yang disampaikan menurutku sangat pas. Film ini cocok buat tontonan keluarga terutama pasangan muda dengan anak kecil, walaupun tentu saja menarik bagi orang yang menyukai film bertema keluarga. Cerita yang mengalir, terasa real dan membumi membuat film ini bisa masuk ke hati para penonton. Memang film ini produksi independen, sehingga bujet produksi tidak memungkinkan adegan spektakular. Tapi teknik pengambilan gambar yang baik membuat adegan yang kebanyakan diambil ditempat itu-itu saja tetap enak untuk ditonton. Uma Thurman sendiri? Wuih, membuatku berpikiran inilah istri yang tepat untuk diajak mengarungi hidup disaat senang dan susah.
Continue reading ‘Resensi pendek dan singkat [3]’

Up in the Air – Traveling and Connecting

Life is better with company. Everybody needs a co-pilot
(Ryan Bingham)

Film ini adalah film pertama ditahun ini yang kutonton untuk mendapatkan nilai 4.5/5 dariku. Tak berlebihan memang, karena film ini menampilkan sebuah film utuh yang hampir tiada cacat. Sutradara film ini Jason Reitman boleh dibilang masih bau kencur kalau melihat jumlah film yang dihasilkannya, tapi jika melihat kualitas film yang diarahkannya, anda pasti akan terkesan dengan kemampuannya. Oh ya, kalau melihat nama keluarganya anda mungkin sudah bisa menebak kalau Jason masih punya hubungan keluarga dengan sutradara film komedi terkenal Ivan Reitman. Jason memang anak lelaki satu-satunya Ivan Reitman yang mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi sutradara. Film ini adalah adaptasi novel karya Walter Kirn dengan judul yang sama.

Perkenalkan sang tokoh utama Ryan Bingham (George Clooney), seorang motivator ulung umur 30-an tahun yang bekerja sebagai career transition counselor (bingung menerjemahkannya). Pekerjaan utamanya adalah menjadi konsultan bagi para karyawan yang baru dipecat supaya menemukan karir baru lainnya untuk dirintis kembali. Tentu saja sebelum memberikan konsultasi, tugas Ryan yang paling penting adalah memecat karyawan tersebut karena bos masing-masing tak punya nyali melakukannya. Untuk melakukan tugasnya, Ryan harus sering terbang (disebut sebagai flyer) kesana kemari keliling USA sehingga boleh dibilang kalau rumahnya adalah pesawat terbang dan keluarga terdekatnya adalah kru pesawat, dengan target pribadi untuk terbang hingga mencapai total jarak 100 juta mil.
Continue reading ‘Up in the Air – Traveling and Connecting’

Julie & Julia: Film 2 in 1

Akhirnya penulis sekaligus sutradara Nora Ephron bikin film lagi setelah terakhir kalinya mengarahkan Nicole Kidman sebagai penyihir pada tahun 2005. Bagi penggemar film-film bertema feminis, tentu anda merasa akrab dengan nama Ephron yang telah menelurkan karya-karya penuh kenangan seperti Slepless in Seattle dan tentu saja karya fenomenalnya sebagai penulis, When Harry met Sally… Kali ini Ephron kembali ke kursi sutradara merangkap penulis skenario dan produser, mengarahkan aktris senior Meryl Streep dan juniornya Amy Adams dalam satu film dengan setting 2 masa (tahun 1950-an dan 2002) serta 2 lokasi (Perancis dan Amerika).
Continue reading ‘Julie & Julia: Film 2 in 1’

(500) Days of Summer/Rab ne Bana di Jodi

Apakah cinta itu manusiawi ataukah bersifat Illahi

(500) Days of Summer

Walaupun Roger Ebert memberikan nilai 4/4 dalam review yang dibuat olehnya, aku menonton film ini dengan harapan rendah dan hanya berharap untuk medapatan hiburan dari cerita komedi romantis. Tahu sendiri lah Mr. Ebert seperti apa, kadang beliau gampang ngasih nilai tinggi buat film yang biasa-biasa aja. Tak disangka, pada awal film saja sudah muncul tulisan “this is not a love story”. Eh? Film apa nih? Sepertinya Roger Ebert gak salah ngasih bintang buat film ini. Sebenarnya sudah banyak blogger tukang nonton yang membahas mengenai film ini, tapi aku tertarik untuk membahasnya dari sudut pandangku. Mengapa? Karena aku pernah mengalami sendiri bagaimana rasanya menjadi Tom Hansen.
Continue reading ‘(500) Days of Summer/Rab ne Bana di Jodi’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: