Archive for the 'Resensi Film Amerika' Category

Condor ( Serial TV 2018 )

Condor-Posters

Plot

Joe Turner (Max Irons), lulusan terbaik MIT,  direkrut pamannya Bob (William Hurt) untuk menjadi analis CIA.

Semakin lama bergelut dengan CIA, Joe yang idealis semakin merasa tak nyaman karena aksi CIA sering kali berlawanan dengan idealismenya. Hingga suatu hari program buatannya untuk mendeteksi aksi terorisme dipakai CIA dan berhasil mencegah teror yang berpotensi membunuh ribuan jiwa dalam DC Stadium yang penuh penonton.

Terlalu bersemangat mengungkap siapa orang dibalik teror tersebut malah membuat tim analis CIA tempat Joe bekerja didatangi pembunuh. Berhubung hanya Joe yang lolos hidup-hidup dari pembantaian di kantor analis CIA, Joe jadi buruan CIA yang menuduhnya terlibat pembantaian sekaligus juga diburu pihak yang tak mau plot terorisme mereka dibongkar oleh Joe.

Continue reading ‘Condor ( Serial TV 2018 )’

Daftar Film 2018 (April – Juli)

16. Golden Slumber

Adaptasi novel thriller Jepang yang juga pernah diadaptasi menjadi film Jepang di tahun 2010.

Secara ini film Korea, tentu saja bisa ditebak efek melodrama naik level beberapa derajat dibanding adaptasi versi film original Jepangnya yang reviewnya pernah kutulis 8 tahun yang lalu.

Ada beberapa detail perubahan yang tidak ditemukan di versi original dan memang lebih masuk akal versi Korea ini. Orang yang menolong Aoyagi ada 2 orang yaitu seorang serial killer aneh Kill-O dan boss Yakuza dengan motif tak diketahui, sedangkan versi Korea ini hanya satu orang yang menolong Kim Gun-woo yaitu Mr. Min, mantan agen pemerintah yang membelot.

Dari sisi adegan aksi, terus terang saja versi Korea lebih menarik dan seru. Tapi kalau dilihat dari segi penggarapan sutradara, versi Jepang lebih unik karena penonton ditempatkan sebagai si tersangka yang kebingungan harus melarikan diri. Kalu di versi Korea ini, seluruh kebingunan dijabarkan dengan jelas sehingga penonton tinggal menikmati film tanpa harus susah mikir.

Gang Don-won bermain bagus sebagai orang lugu yang gampang dimanfaatkan orang lain, sayangnya tokoh polisi yang mengejarnya tak mendapat porsi sebanyak counterpart-nya di versi Jepang.

Lumayan buat ngisi waktu luang koq, selain menghibur juga pelipur kangen bagi fans cewek yang kangen sama Gang Dong-won.

17. Fullmetal Alchemist
Salah satu manga dengan plot cerita favoritku diadaptasi menjadi film live action.
Review panjangnya ada di sini

18. You Were Never Really Here

Joe (Joaquin Phoenix) mantan tentara dan agen FBI penderita PTSD akut , hidup bersama ibunya yang sudah tua. Suatu hari Joe disewa senator Votto untuk menyelamatkan Nina anak remajanya yang katanya diculik. Tak disangka Votto malah dikabarkan bunuh diri ketika Joe berhasil menyelamatkan Nina.
Joaquin Phoenix di sini hampir tak bisa kukenali, dia benar-benar berubah jadi sosok Joe sosok brutal yang mengalami depresi akut. Entah kapan panitia Oscar bersedia rela memberikan si patung emas buat Joaquin. Jangan-jangan harus seperti Leonardo DiCaprio, harus tua dulu baru dikasih.
19. The Commutter
Mbah Liam tetap heroik aksinya, plotnya juga sebenarnya lumayan seru. Cuma ya karakternya kering sekali dan plot twist gampang sekali ditebak.
Ya udah, nonton aksi mbah Liam aja. Tua tua keladi, makin tua makin jagoan.

20. Pasific Rim Uprising

Kalau lihat spesial efek, sequel Pasific Rim ini lebih bagus dibanding seri Transformer yang bikin pusing kayak liat kaleng bertumbukan, pertarungan bisa terlihat lebih jelas. Walau demikian, adegan aksi pertarungan Jaeger dan Kaiju sama sekali tak efektif, malah cenderung dragging dan makin membosankan.

Selain plot dangkal dan maksa banget, dialognya cheesy dan usaha menciptakan suasana humornya sama sekali gak lucu. Iya saya ngerti, masukin setting China dan barisan para aktornya itu demi mendulang duit box office dari daratan RRC. Tapi yah di sisi lain membuat film ini kering dari kreativitas seperti yang ditampilkan oleh Del Toro dalam prequelnya.
Ngomong-ngomong, aku merasa kayak nonton film Ultraman the movie.

21. Psychokinesis

Plot.
Seorang lelaki setengah baya (RyuSeung-ryong) yang pecundang tiba-tiba memperoleh kekuatan super.
Dengan kekuatan supernya, dia berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan anak perempuan tunggalnya (Sim Eun-kyung) yang sudah tak pernah ditemui bertahun-tahun.

Komentar.
Idenya lumayan, sayang penggarapannya tidak menarik. Komedinya garing, dramanya juga khas melodrama korea yang rada lebay. Yang menarik perhatian justru tokoh antagonis utamanya cewek cakep.

22. The Third Murder

Sebuah karya terbaru sutradara Hirokazu Kore-eda yang pertama kali menampilkan tema pengadilan kasus pembunuhan. Review panjangnya ada di sini

23. Avengers: Infinity War

Akhirnya nonton juga, padahal belum nonton Black Panther 😛
Merasa terasa beda sama Justice League karena film ini bukan cuma sekedar kumpul-kumpul superhero Marvel tapi memang titik kulminasi dari apa yang sudah dipersiapkan dari berbagai macam film MCU sebelumnya, dari seri Ironman, Captain America, Thor, hingga Guardian of Galaxy.
Dan yang paling menyenangkan, Thanos bukanlah Steppenwolf dalam Justice Leage yang cuma sekedar ingin menguasai dunia. Thanos memang bukan bandit biasa, dia super-villain hipster 😛

24. Black Panther

Habis nonton Avengers: Infinity War, rasanya kurang kafah kalau belom nonton Black Panther. Kebetulan tadi buka situs streaming langganan, versi HD BP udah keluar.
Jadilah kupaksa nonton supaya kelar kewajiban agar tidak menjadi dosa.

Anyway, filmnya anti mainstream gak kayak film2 superhero yang biasanya memuja Ameriki. Tumben ada film superhero mengentaskan kehebatan sebuah negara di benua afrika yang biasanya dianggap terbelakang.
Tapi yah bagaimanapun juga, film ini memandang negara hebat di afrika dari sudut kacamata orang bule.
Saya suka film bagus ini koq, walau gak bisa dibilang istimewa kalau ingin mengangkat kehebatan masyarakat kulit hitam.

25. Legend of the Demon Cat.

Awalnya rada gak percaya lihat nama Chen Kaige terpampang sebagai sutradara.
Hah? Chen Kaige bikin film horor? Yang bener?

Pas nonton, ternyata ini film drama sejarah dengan beberapa tokoh sejarah yang lalu lalang. Sebagai protogonis, ada Kukai sang biksu agung dari Jepang dan Bai Letian si penyair besar dinasti Tang. Mereka berdua bekerja sama menyelidiki kasus kematian misterius kaisar Dezong dari dinasti Tang. Selain mereka berdua, ada tokoh masa lalu yang ceritanya ditampilkan kilas balik seperti Kaisar Xuanzhong dan selir kesayangannya Yang Guifei, dan juga Abe no Nakamaro seorang sastrawan Jepang yang tinggal di Tiongkok.

Lalu kucing setan itu?
Hanya sekedar pengantar kisah menuju cerita inti tentang romansa kekaisaran dinasti Tang.
Seperti yang diperkirakan, sinematografi film ini bagus dengan permainan cahaya dan warna yang menawan, khas Chen Kaige. Plot cerita juga bagus dengan skenario yang memasukkan cerita fiksi dengan pas ke dalam kisah sejarah.

Oh iya, film ini beredar di Jepang dengan judul Kukai, nama biksu Jepang yang pada setting cerita masih belum masuk biara Qinglong untuk belajar Buddha Vajrayana. Dan sudah tentu tokoh utamanya untuk peredaran Jepang adalah Kukai, ketika beredar di China dengan tokoh utamanya Bai Letian sedangkan Kukai berperan sebagai side-kick.

Produksi kerja sama China-Jepang ini juga memakai aktor dan aktris campuran China dan Jepang. Untuk tokoh Kukai dan Abe No Nakamaro, Chen Kaige mengarahkan Shota Sometani sebagai Kukai dan Hiroshi Abe sebagai Abe.

Bagi yang suka sejarah China, terutama masa dinasti Tang, film ini memberikan nilai plus.

26. Ready Player One

Ini film sebenarnya biasa aja, dari segi plot hingga dialog tak ada yang mengesankan. Paling yang bikin para geeks bersorak gembira adalah bertaburannya referensi budaya pop di sepanjang film.

Kalian bisa melihat kendaraan legendaris seperti mobil DeLorean (Back to the Future) hingga motornya Kaneda (Akira) beraksi, MechaGodzilla bertarung melawan Gundam dan Iron Giant, Kingkong ngamuk sampai scene film The Shinning.

Memang jualan utama film ini adalah Pop Culture dan itu menyenangkan bagi saya yang lumayan familiar dengan banyak referensinya.

27. In The Fade

Nonton film ini bertepatan dengan kejadian teror bom di Surabaya. What a coincidence?

Anyway, ini film bagus! Memperlihatkan akibat dari teror bom dari sisi pandang ibu dan istri korban pengeboman. Dan Diane Kruger bermain luar biasa sebagai ibu yang kehilangan pengangan hidupnya setelah suami dan anaknya tewas. Review panjangnya ada di postingan sini

28. The Unity of Heroes.

Vincent Zhao Wenzuo kembali main jadi Wong Feihung dalam film yang diproduseri dirinya sendiri ini.

Berhubung ini film buat konsumsi VOD (Video on Demand), jadinya nontonnya gak berharap banyak lah.
Terbukti plotnya cheesy dan kelihatan sekali daur ulang plot serial Wong Feihung lawas.
Ada bibi ke-13 yang kebarat-baratan, ada murid Wong yang jahil, ada rival guru kungfu jagoan yang nantang Wong Feihung, ada tarung barongsai, ada payung jadi senjata andalan dan tentunya juga ada bule jahat dalang semua kejahatan.

Sayang koreografi kungfunya tak sememikat garapan Yuen Woo-ping dalam serial Wong Feihung garapan Tsui Hark yang dimainkan oleh Jet Li, yang ini terlalu banyak memainkan wire-fu. Yuen Woo-ping juga pakai kawat sih tapi hasilnya halus, sedangkan film ini rada abusing penggunaan teknik wire-fu.

Kalau cuma sekedar buat nostalgia, lumayan lah. Apalagi film dibuka dengan adegan selusin orang latihan kungfu di kala senja, dipandu oleh Wong Feihung dengan iringan musik familiar yang terkenal itu. Seketika orang-orang akan terkenang pada Jet Li, bukan Vincent Zhao 😛

O iya, ini film pemanasan sambil menanti produksi film Kung Fu Alliance yang akan menampilkan keroyokan pendekar kung fu kawakan, dari Wong Fei Hung, Huo Yuan Jia, hingga Ip Man.

29. Tomb Raider

Aku suka dengan interpretasi sutradaranya yang membawa aroma realistis dalam setiap adegan eksyen, membuat sosok Lara Croft tidak super tangguh seperti Lara versi Angelina Jolie, dan Alicia Vikander sendiri sanggup menampilkan karakter Lara Croft yang heroik sekaligus manusiawi dengan meyakinkan.

Plot ceritanya? Ya begitu lah. Tak usah terlalu mikir plot twist segala, nikmati aja nonton filmnya.

30. Death Wish

Adaptasi novel karya Brian Garfield sekaligus remake film tahun 1974 yang dibintangi Charles Bronson ini terus terang saja berjalan datar. Tak ada kejutan, tak ada hal baru, cuma sekedar mengulang cerita tentang vigilante.
Beda dengan adaptasi Brian Garfield lain yang berjudul Death Sentence (2007) yang disutradarai James Wan dengan tokoh vigilante yang dibintangi Kevin Bacon. Selain lebih brutal, James Wan juga memberikan konsekwensi akhir tindakan vigilante yang dilakukan tokoh protogonis, konsekwensi yang tidak seheroik cerita vigilante umumnya. Ini yang tidak dimiliki Death Wish versi Bruce Willis yang di bagian akhir  film terlihat seperti John McCleane a la Die Hard.

31. Rampage

Filmnya asyik dan seru, yang jelas menghibur hingga film berakhir dengan bahagia.

Kalau ngomong isi plot, akting dan tetek bengek skenario, ya film ini memang agak anjlok. Apalagi sosok yang dimainkan Dwayne Johnson, dialognya kayak copy-paste dialog tokoh heroik yang diperannya dalam film Journey: The Mysterious Island, Jumanji: Welcome to the Jungle dan film sejenisnya.

But who cares? Ini film memang tujuannya dibuat untuk menghibur, jadi nikmati saja Kingkong berantem lawan Serigala dan Buaya raksasa, dengan gangguan menyebalkan manusia sok jagoan di antara pertarungan makhluk raksasa.

32. Dunkirk
Plotnya sederhana, cuma kisah tentang usaha bertahan hidup para tentara di Dunkirk. Skenarionya juga biasa aja, gak ada dialog istimewa.
Tapi penyutradaraannya yang patut dikasih jempol. Nolan emang sutradara top markotop. Film ini jadi luar biasa karena faktor arahan Nolan sebagai sutradara.

Ditambah dengan garapan divisi teknik yang maksimal, visual yang megah dan sound yang menggugah, film ini patut masuk sebagai nominator Oscar.
Hip Hip Nolan, Horaay!!

33. A Quiet Place

Film horror survival yang menegangkan  dengan sisipan drama keluarga yang menyentuh dan mengharukan. Tak banyak dialog karena memang setting film tak memungkinkan untuk banyak bicara dengan mulut. Karakter bapak, ibu serta anak-anaknya semuanya mengesankan.

Cinta orang tua serta pengorbanan mereka demi anak-anaknya memang sulit dilawan, bahkan oleh monster sekalipun.

NB. (spoiler)

Makhluk yang sensitif terhadap suara itu bukannya memiliki kelemahan kesensitifan mereka?
Koq ya militer USA yang penuh dengan ilmuwan dan peneliti pintar sama sekali gak mikir buat bikin senjata suara frekuensi tinggi? Koq ya cuma mengandalkan senjata mekanik?

34. Believer

Film ini merupakan remake film Hongkong buatan Johnny To yang berjudul Drug War. Mengisahkan tim pimpinan detektif Won-Ho (Cho Jin-woong) bekerja sama dengan pengedar narkoba Young-Rak (Ryu Jun-yeol) demi menangkap pimpinan tertinggi geng narkoba misterius yang berjuluk Guru Lee.

Sutradara Lee Hae-young yang ikut menulis ulang skenarionya ternyata bisa menjadikan film ini punya cita rasa tersendiri dan tidak hanya sekedar membuat ulang. Kalau Johnny To membuat Drug War dengan gaya police procedural dibalut intensitas thriller yang tinggi, Lee membuat Believer dengan gaya melodrama korea lengkap dengan hubungan tarik ulur antara si detektif dengan si pengedar narkoba yang menjadi informannya dipadu dengan aksi brutal khas film Korea.

Beberapa tahun terakhir ini, sinema Jepang, Korea Selatan dan RRC (termasuk Hongkong) sering membuat film remake satu sama lainnya. Believer ini cukup bagus karena berhasil memasukkan gaya orisil tersendiri sehingga bisa lepas dan berbeda dibanding film originalnya.

35. Jurassic World: Fallen Kingdom.

Seperti halnya franchise Jurassic Park lain, film ini sangat menghibur dengan penampilan prima para pemeran utamanya seperti Blue si velociraptor, T-Rex, hingga si pendatang baru Indoraptor. Bahkan penampilan cameo Messosaurus lumayan mencuri perhatian.

Sayang, plot ceritanya hanya mengulang-ngulang seri terdahulu alias tak ada yang baru untuk dikenang.
Malah boleh dibilang film ini mengingatkan pada franchise kedua Jurassic Park 2: The Lost World. Sempat terpikir, film ini seharusnya berjudul Jurassic World 2: The Lost Park.

36. Deadpool 2.

Sebuah film keluarga, lengkap dengan pembunuhan keji di awal film dengan ending manis layaknya film keluarga.

btw, ini review sarkastik sesuai dengan gaya filmnya sendiri yang penuh dialog komedi sarkasme hahahaha….

37. Animal World

Remake film Jepang yang berjudul Kaiji, sekaligus adaptasi dari manga yang berjudul Tobaku Mokushiroku Kaiji. Jika film Kaiji lebih fokus pada tokoh Kaiji (Tatsuya Fujiwara) mempertaruhkan kebebasannya dalam arena judi, Animal World memberikan perpektif berbeda dengan memberikan latar belakang drama keluarga sebelum karakter Kaisi (Li Yifeng) masuk ke kapal judi.

Berhubung latar drama keluarga dan persahabatan sebelum memulai peruntungan di arena judi, seharusnya film ini bisa lebih personal dan dekat dengan penonton. Sayangnya fantasi tokoh badut yang mengiringi peruntungan Kaisi malah lumayan menjengkelkan kalau bukan malah merusak suasana. Bedanya dengan versi Jepang, Animal World menyuguhkan banyak adegan aksi. Lumayan berbeda dan punya ide orisinil tersendiri, tidak jelek jika dibandingkan adaptasi Jepangnya tapi juga tidak lebih bagus.

Daftar Film 2018 (Januari – Maret)

Supaya tak terlalu panjang, daftar film yang ditonton dibagi tiap 3 bulan saja.
Semakin hari semakin sedikit film yang bisa ditonton dan sepertinya konsistensi banyak nonton film saat seperti masih bujangan akan menurun drastis. Maklumlah waktu 24 jam sehari memang rasanya kurang untuk dihabiskan untuk beragam aktivitas, termasuk nonton film.

Dalam 3 bulan, film-film Asia mendominasi daftar.

 

Continue reading ‘Daftar Film 2018 (Januari – Maret)’

Daftar film 2017 (Juli-Desember)

30. Vampire Cleanup Department

Ini film homage buat film-film vampire komedi jaman Lam Ching-ying yang legendaris itu. Tidak seperti tribute untuk seri Vampire jingkrak sebelumnya Rigor Mortis yang dibuat dengan tone serius, VCD ini digarap dengan gaya dan semangat yang sama dengan film-film vampire jingkrak masa lalu yaitu komedi horror. Aktor senior film-film vampire jadul seperti Chin Siu-ho dan Richard Ng kembali berkumpul sebagai tim pembasmi vampire, ditambah dengan wajah baru Babyjohn Choi sebagai anggota muda rekrutan tim terbaru.

Lumayan menghibur seperti film vampire jingkrak jadul walau tak memorable. Cerita romans antara vampire dan manusia juga kering.

 

31. The Mummy
Dibanding film originalnya, film ini kalah jauh dari segi plot dan komedi. Sama sekali gak lucu, Karakter yang diperankan Tom Cruise juga rada maksa.
Sang ibunda sama sekali gak seram dan juga kurang meneror masyarakat kota London, malah terkesan seksi. Satu-satunya hal yang dimenangkan film ini dibanding film originalnya adalah kualitas CGI.

 

32. Les Parapluies de Cherbourg (The Umbrellas of Cherbourg)
Great story, great Jazz music with sad but beautiful ending.

Kebayang kenapa Damien Chazelle terinspirasi bikin adegan epilogue La La Land dengan nafas yang sama dengan film ini dan Casablanca. Endingnya bikin baper.

 

33. The Lego Batman Movie

Ridiculously funny.

Penuh dengan adegan yang menyelipkan referensi pop culture, baik yang umum, yang berhubungan dengan superhero, maupun franchise Batman jadul sampai era Ben Affleck. Kalaupun tidak mengerti pop culture yang diselipkan, film ini tetap enak dan lucu ditonton.

Cuma satu hal yang bikin aku kurang suka, sikap selfish Batman di sini terlalu “Ironman”. Emang sih ini sebenarnya mau sarkas dengan membikin Ironman jadi lelucon, sampai-sampai password masuk Batcave juga pakai kata “Ironman sucks”. Cuma ya adonan Ironman wannabe-nya kebanyakan sampai bikin bosan.

 

34. Master

Film ini bercerita tentang perseteruan grup perusahaan MLM penipu pimpinan Lee Byung-hun yang licik dengan tim penegak hukum pimpinan Kang Dong-won.

Setengah awal filmnya terlalu dragging dan membosankan dalam menjabarkan sistem penipuan grup MLM Lee Byung-hun. Film baru mulai menarik di pertengahan akhir ketika tim Kang Dong-won mulai membalas dengan cara menipu balik demi menjerat Lee Byung-hun.

Lumayan lah, walau hampir saja berhenti nonton di tengah jalan karena merasa bosan.

 

35. Alien: Covenant

Seperti biasa, plotnya menarik, visualnya keren, CGI juga menarik dan gak tersia-siakan. Kurang suka sama interaksi antar karakter dan pengembangan karakterisasi sepanjang film.
dan plot twist di akhir film, ketebak banget.

 

36. Muhammad The Messenger of God

Nonton dipecah 3 kali gara-gara panjangnya hampir 3 jam. Satu jam bagian awal agak dragging sewaktu membahas kondisi masyarakat Mekkah jahiliyah, termasuk serangan balatentara gajah pimpinan Abrahah ke Mekkah.
2/3 akhir lumayan bagus. Dengan CGI minimalis (saya catat hanya 2 adegan pakai full CGI), film ini lebih terasa real seperti apa adanya dibandingkan pamer mukjizat dengan CGI berlebihan (misalnya cerita ttg Muhammad dadanya dibelah malaikat untuk dicuci hatinya, untunglah tak ada dalam film).

BTW, ini film tentang masa Mekkah jahiliyah, bagian yang ada tentang Islam sendiri hanya ada pada prolog, karena film ini menggunakan narasi kilas balik. Jadinya saya heran dengan caci maki ini film kental dengan Islam versi Syiah.

Review versi lengkap ada di link ini

 

37. Guardian of the Galaxy vol. 2

Nontonnya menyenangkan dan saya terhibur, sama dengan perasaan sewaktu nonton bagian pertama. Malah kali ini ada beberapa adegan dengan dialog yang lebih menarik dan lucu dibanding sequelnya. Keren dan top!

 

38. Spider-Man: Homecoming

Love it.
Lucu dan menghibur.
Suka sama karakter spidey yang ini. Gak seserius Tobey dan gak se”angsty” Garfield, tapi sangat pas untuk karakter anak SMA. Waktu adegan Spidey ketimpa beton, Peter Parker kelihatan sebagai remaja SMA putus asa yang merengek minta tolong karena tak berdaya. Sampai Peter sadar kalau dia punya kemampuan Spiderman. I like that scene.
Plot cerita mungkin gak istemewa, biasalah namanya juga film superhero. Yang kusuka adalah karakterisasi tokoh dan interaksi antar karakter.

Sayang, hubungan roman Liz-Peter kering kali dan sama sekali gak menarik. Kalah jauh sama Gwen-Peter dan Marry Jane-Peter dari seri sebelumnya.

 

39. The Hitman’s Bodyguard

Film ini punya plot yang klise dan banyak bolongnya. Kalau mau nonton, harap matikan saja fungsi otak anda kecuali pas bagian barter dialog antara SLJ dan Ryan Reynolds. Chemistry duet SLJ dan Reylonds memang menjadi highlight film ini, sisanya ya tak usah dipikirkan. Bahkan adegan action juga biasa-biasa saja, digarap sekedarnya dengan campuran komedi supaya terlihat lucu. Jangan bandingkan dengan adegan aksi a la Jackie Chan, kalah jauh lah.

 

40. Pirates of Carribean: Dead Men Tell No Tales

Tahu-tahu udah seri ke-5. Banyak kemajuan dibanding seri ke-4 yang agak membosankan. Hampir semua karakter utama serial original kembali muncul walau sekedar peran cameo. Adegan aksi, visual effect, cerita petualangan, musik, masih tetap keren seperti film-film sebelumnya. Cuma yah lama kelamaan bosan juga, apalagi udah mulai nampilin anak beranak tokoh original. Aku malah kepikir, gimana kalau film ke-6 dibikin cerita tentang cucu buyut Sparrow, Turner dan Barbossa di masa modern 😛

Terakhir….. Karakter Macca gimana yah? Gak bisa dibilang penting sih. Apa Johnny Depp nanti mau ngumpulin rocker tua dari Inggris di seri ke 6? Mick Jagger? Jimmy Page? Ritchie Blackmore? Bryan May? Hayo siapa lagi?

 

41. Transformers: The Last Knight.

Oh God, what did I do?

Wasting my precious time for watching this crap

 

42. Unlocked
Awalnya plot film terlihat keren, lalu dengan cepat berubah menjadi film spionase generik yang punya plot twist gampang ditebak.
Ya begitu lah. Keberadaan cewek bertato naga jadi mubazir.

43. Baby Driver.
Gak nyangka kalau film ini bakalan keren.
Plot heist perampokan bank dan supir jagoan emang mengingatkan pada Drive, filmnya Nicolas Winding Refn yang dibintangi Gosling sebagai si supir. Tapi Baby Driver punya gaya yang berbeda, terutama karena adegan aksi kejar-kejaran pakai mobil dikombinasikan pada ketukan dan ritme lagu yang mengiringi aksi Ansel Elgort di belakang setir mobil.
Terus terang saja, gaya penyutradaraan Edgar Wright yang memadu ritme musik dan aksi kebut-kebutan ini keren dan masuk ke emosi ketika menonton, sampai-sampai aku ikut-ikutan mengetukkan jari dan goyang-goyang kepala.

 

44. Shot Caller.

Plot.
Jacob, seorang ayah dan suami yang baik, masuk penjara akibat kecelakaan lalu lintas yang disebabkan dirinya menyetir dalam keadaan mabuk. Penjara yang dimasukinya berisi para pelaku kekerasan yang kejahatannya berlipat-lipat lebih brutal dibandingkan diri Jacob.
Demi keselamatan dirinya, Jacob terpaksa belajar dan beradaptasi dengan lingkungan brutal penjara, agar bisa kembali ke keluarganya dalam keadaan utuh setelah keluar penjara.
Hingga Jacob sadar kalau Jacob yang masuk penjara, bukanlah lelaki yang sama dengan Jacob yang keluar dari penjara.

Komentar.
Ini film bagus, baik dari sisi drama, dari sisi thriller, dan juga dari segi akting. Yang patut dapat 4 jempol adalah Nikolaj Coster-Waldau, si Jaime Lannister dalam GoT. Akting Nikolaj sebagai Jacob menunjukkan dirinya aktor yang mumpuni. Nikolaj sukses menampilkan perubahan karakter Jacob yang sweet family man perlahan berubah menjadi sosok brutal yang dikenal di dalam penjara dengan nama Money.

 

45. Fabricated City.

Industri perfilman Korea ini punya banyak ide kreatif dalam bercerita. Sayangnya seringkali eksekusinya malah lebay dan terlalu didramatisir berlebihan.

Contohnya film ini. Plotnya menarik, jalan ceritanya juga menegangkan. Sayangnya lebay plus mewek-mewek a la drama Korea pada umumnya.

Tapi setidaknya, film ini lumayan menghibur.

46. Security.
Plot.
Mantan marinir Eddie (Antonio Banderas) bekerja di mall sebagai satpam shift malam. Pada hari pertama kerja, mall kedatangan seorang gadis cilik yang dikejar-kejar kelompok mantan tentara bayaran pimpinan Charlie (Ben Kingsley). Terjadilah pertarungan di dalam mall antara para satpam dan prajurit bayaran.
 
Komentar.
Die Hard wannabe, settingnya dialihkan ke mall. Terus terang aja jadi ngerasa kayak final battle di film Equalizer-nya Denzel Washington.
Standar sih, aktingnya juga biasa, tegangnya juga biasa, dibilang jelek kagak tapi cukup menghibur.

 

47. Wind River

Wah saya suka dengan karakter-karakternya. Agen FBI Rookie, si pemburu, si ayah Indian kesepian, semuanya deh. Setting daerah putih salju itu bikin inget sama film The Crimson Rivers-nya Jean Reno.
Gaya filmnya sendiri cool, serasa nonton film buatan Coen Brothers lengkap dengan tokoh “koboy modern”.

 

48. We Bought A Zoo

Saya selalu lemah menghadapi film dengan tema fatherhood, apalagi kalau si anaknya cewek mungil imut abis. Langsung meleleh deh. Walau gak sampai bikin nganga kayak Almost Famous yang emang brilliant, setidaknya We Bought a Zoo lumayan menyentuh. Apalagi Matt Damon di sini mainnya bagus.

49. V.I.P.
Plot.
Seorang anak petinggi Korea Utara jadi buruan polisi Korea Selatan, agen inteljen Korea Selatan, CIA dan polisi Korea Utara, karena membunuh banyak wanita secara sadis. Masing-masing aparat memiliki agenda tersendiri, sedangkan si serial killer cukup pintar untuk menyadari betapa pentingnya dirinya bagi CIA dan intelijen Korea Selatan.
 
Komentar.
Plotnya sebenarnya lumayan menarik, sayangnya lagi-lagi masalah eksekusi sutradara dan skenario yang kurang menggigit. Yang paling mengganggu itu adegan pre-ending di kapal, nasib si polisi Korut koq ya bikin garuk-garuk ketek tak gatal kalau bukan dibilang bego.
btw, adegan pembantaian korban perempuannya bikin muak. Lumayan detil dan mengerikan sampai-sampai saya nggak tega nonton hingga beberapa kali memeramkan mata walau saya tahu itu cuma akting.
Setidaknya kangen nonton akting Jang Dong-Gun terpenuhi 😛
50. It (Chapter One)
Nonton film ini sebenarnya mengenang jaman masa kecil dulu ketika nonton film versi miniseri di TV, malam-malam sendirian dan ketakutan sampai susah tidur beberapa hari. Dan yang paling penting, bikin aku takut dan tak suka badut.
Di lihat dari segi horor, It sebenarnya tak terlalu menyeramkan. Bahkan adegan-adegan jump scare banyak yang gagal membuat kaget.
Tapi yang paling berkesan buatku dari film adaptasi yang ini adalah drama psikologis, kisah persahabatan, visualisasi yang keren (adegan Georgie main kapal kertas di tengah badai mengesankan), dan juga akting para aktor anak-anak dan si badut dengan senyumannya menyebalkan.
51. The Dark Tower
Kalau lihat premis di serial novelnya sih seru, tapi ketika diadaptasi jadi film koq ya cuma segitu aja. Sudah lamban bercerita tapi pengen cepat dihabisin, plot dangkal, dan development character juga seadanya (padahal karakter Roland dan Walter itu misterius dan menarik).
Cuma ada satu hal yang menarik di film ini. Gaya Idris Elba yang cool dan manly , walaupun dikasih dialog cheesy tetap aja lirikan mata, gaya mencabut pistol sampai cara Elba menghamburkan peluru terlihat keren.
52. A Day (Ha-Ru)
Premis film lumayan menarik, tentang seorang ayah gagal yang ingin memperbaiki dirinya agar jadi ayah yang baik tapi malah dipaksa melihat anaknya mati ditabrak orang setiap hari secara berulang. Ya, berulang terus menerus kayak film Groundhog Day. Cuma kalau Bill Murray bisa bersenang-senang dalam time loop, peran yang dimainkan Kim Myung-min malah tersiksa batin seperti sedang berada di neraka.Bayangkan saja, tiap hari menonton anaknya mati ditabrak mobil, sarap nggak tuh?
Seperti biasa, film Korea memang menawarkan premis yang menarik tapi sayangnya eksekusinya kadang suka menyebalkan. Sebelum dikasih adegan mengharukan di akhir film, saya sudah keburu kesal dan sebal sama anaknya yang dimainkan sama Jo Eun-hyung. Boro-boro jadi simpati, yang ada malah nyukurin….eh.
Sudah saatnya industri film Korea memperbaiki akhlak dan tingkah laku karakter anak-anak dalam film mereka sebelum saya keburu judgmental kalau Korea kids jaman now gak punya adab sopan santun.

btw, si cilik Jo Eun-hyung mirip sama Marshanda ketika masih artis cilik

 

53. Atomic Blonde

Wuih, ini film saingan John Wick 2 buat jadi film action terbaik tahun ini. Sinematografinya keren, penuh dengan warna warni lampu neon remang-remang. Aksi Theron badass dan tarung tangan kosongnya mantap dan seksi. Setting perang dingin di Berlin kerasa “dinginnya”. Paling yang rada mengganggu cuma plot yang dragging, gak kayak John Wick yang langsung tancap gas dari awal hingga habis.
Cakep!

Pas cari info, rupanya Charlize Theron dan Keanu Reeves yang sedang persiapan John Wick 2, berlatih dengan tim fight instructor yang sama (tim yang membuat John Wick pertama) pada waktu yang sama. Theron dan Reeves jadi merasa bersaing dan kadang pas ketemu di tempat latihan, mereka berdua sparring bareng.

 

54. The Shallow

Udah lama gak lihat film terror ikan Hiu yang menarik dan setelah nonton The Shallow rasanya puas. Teror dan ketegangannya konstan dan klimaks pertarungan hiu vs manusia juga memuaskan. Akting Blake Lively keren karena mayoritas isi film adalah bini Ryan Reynold ini bertarung dengan ikan Hiu.
Walau sepanjang film Lively pakai bikini, tak sedikitpun aku menganggapnya seksi, malah kesan yang kutangkap adalah perempuan tangguh.

Bagus!!!

 

55. Memoir of a Murderer.

Walaupun sama-sama produksi Korea Selatan, jangan tertukar dengan film tahun 2003 Memories of Murder yang dibintangi Song Kang-ho.

Plot.

Memoir of a Murderer bercerita tentang seorang Kim Byung-soo serial killer yang sudah berhenti membunuh belasan tahun akibat kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan penyakit alzheimer. Kim hidup tenang bersama anak perempuannya yang sibuk mengatur jadwal ayahnya agar tidak nyasar karena lupa jalan pulang ke rumah.
Hingga terjadi pembunuhan berantai baru di kota tempat tinggalnya. Kim bertemu dengan pacar anaknya dan nalurinya sebagai serial killer membuatnya bisa menebak pacar baru anaknya ini adalah si pembunuh berantai.

Sadar kalau si pembunuh mengincar anaknya sebagai korban berikut, Kim mulai bertarung dengan waktu dan ingatannya yang memudar akibat alzheimer demi menyelamatkan anaknya.

Komentar.

Yang paling kuacungi jempol dalam film ini adalah akting Sol Kyung-gu sebagai serial killer tua yang punya masalah dengan ingatan. Chemistry Sol dengan Kim Seol-hyun yang berperan sebagai anaknya lumayan menyentuh. Hanya saja arahan sutradara Won Shin-yun agak dragging dengan mengulang-ulang gaya penceritaan. Walaupun bisa dimaklumi karena memang itulah masalah yang dialami penderita Alzheimer.
Lumayan bagus, apalagi plot cerita tentang serial killer tua penderita alzheimer juga menarik.

56. War for the Planet of the Apes
Film terbaik diantara sekian serial Planet of the Apes yang pernah kutonton. Sinematografi, development character, sound semuanya keren.
Tapi yang paling keren di antara semuanya adalah Smeagol, ups…maksudnya Andy Serkis. Kalau piala Oscar sudah dimodernisasi dengan memasukkan motion capture, Serkis layak mendapatkan nominasi.

 

57. Paradox

Buset, gak nyangka kalau filmnya bakalan emosional. Tadinya kukira cuma film aksi bak bik buk doang, tapi ternyata drama arahan Wilson Yip lumayan juga.
Louis Koo sebagai ayah yang anaknya diculik bermain bagus, penuh emosi.

Adegan actionnya brutal kayak SPL.
Emang plotnya rada mirip dengan film Taken Liam Neeson, tapi yang ini lebih menarik dan dramanya lebih menyentuh.

 

58. Ajin

Film live action adaptasi manga/anime Ajin: Demi Human. Review lengkapnya bisa dibaca di link ini.

 

59. Blade Runner 2049.

Sengaja nonton versi IMAX gara-gara rekomendasi si Moer. Ternyata emang maknyuss dan memuaskan pakai IMAX. Selain visualnya lebih terasa indah, suara menggelegarnya juga lebih mengaduk emosi. Sound dan visual emang jualan paling kerasa dari Blade Runner 2049. Karena itu demi mendapat kepuasan maksima, film inil emang harus ditonton di layar IMAX. Plot agak dragging sampai butuh hampir 3 jam tayang, tapi masih bisa dimaafkan lah, toh Blade Runner original lebih dragging dan membosankan.

Satu-satunya komplain ya durasinya hampir 3 jam, sampai pegal duduk di kursi. Pas udah gak betah sekitar pertengahan film, aku gerakin kepala kanan kiri dan stretching ringan sekedarnya. Eh, orang sebelah komplain, “Tolong jangan berisik”.
Busyet…
Dan dia nonton dalam diam sampai film habis tanpa bikin gerakan berarti. Jangan-jangan dia replicant yang tahan banting?

 

60. Gongjo (Confidential Assigment)

Film Korea Selatan ini dibuat dengan semangat komedi seri Rush Hour. Kalau dalam Rush Hour kelucuan diciptakan dari konflik budaya China vs African America, maka komedi dalam Confidential Assignment dibuat berdasarkan perseteruan politik antara Korea Selatan dan Korea Utara. Chemistry antara Hyun Bin yang berperan sebagai polisi khusus asal Korea Utara dengan Yoo Hae-jin yang didapuk sebagai detektif kota Seoul Koreas Selatan lumayan memikat. Olok-olokan khas stereotip pandangan masing-masing pihak Korea lumayan menghibur.

 

62. Birth of Dragon.

Mubazir!
Asli, ini film mubazirnya kebangetan.
Cerita tentang Bruce Lee cuma tempelan doang, padahal judulnya pakai image Bruce Lee. Lucunya gak ada adegan privasi Bruce Lee termasuk istri bulenya, Lee malah diperlihatkan gak pernah pulang ke rumah alias ngedon di dojo tempat latihan kungfu doang.
Plot utamanya tentang murid Bruce Lee orang kulit putih yang jatuh cinta sama cewek China cakep yang jadi peliharaan gangster China Town. Bruce Lee? Seliweran sana sini ngelayanin tantangan berantem, plus belain muridnya dari gangster.
Tapi tenang aja. Yang banyak berantem di dalam film tokoh Bruce Lee koq, dan untungnya yang jadi Bruce Lee beneran jago kungfu Wing Chun.
Phillip Ng ini bukan cuma master Wing Chun, dia juga cucu murid Yip Man pula, itung2 Bruce Lee itu paman gurunya Phillip Ng. Sayangnya penampilan apik Phillip Ng sebagai Bruce Lee mubazir gara-gara plot filmnya kacangan.

 

63. Her Love Boils Bathwater.

Plot.
Berkisah tentang ibu Futaba dan anak perempuannya Azumi yang ditinggal pergi oleh sang ayah. Futaba divonis penyakit berat dan hanya punya waktu 2-3 bulan, demi anaknya Futaba menyewa jasa detektif untuk menemukan sang ayah. Ketika sang ayah berhasil diseret balik ke rumah, ternyata sang ayah membawa serta anak hasil hubungannya dengan wanita yang menyebabkan dia pergi.

Komentar.
Ini film slice of life yang heartwarming, khas film yang dibuat untuk membuat penonton sedih dan terharu. Penggarapan dan akting para pemainnya di atas rata-rata.

Sayangnya skenarionya rada dragging. Ada beberapa adegan tak perlu dan lebih mirip sub plot tambahan di luar cerita inti. Sub plot ini kurasa malah agak kebanyakan, kesannya hanya untuk menambah durasi film yang lumayan panjang. Jadinya tema inti tentang mengisi hari-hari terakhir dengan sesuatu yang berarti, malah ditambahi dengan plot-plot lain yang kadang membuat cerita kurang fokus. Ada juga sih sub plot yang lumayan bagus buat dibikin film spin off kalau mau kayak alasan mengapa Azumi belajar bahasa isyarat.
Saya suka dengan Hana Sugisaki yang bermain sebagai Azumi. Tampangnya yang imut kawaii menyenangkan untuk dipandang.

Oh iya, ini film wakil Jepang yang dikirim buat berlaga di ajang Oscar tahun depan. Kayaknya sih sulit buat masuk nominasi final mengingat kurang istimewa untuk berlaga sampai babak final. More than good, but not that special.

 

64. Brotherhood of Blades 2

Lumayan, walau gak sebagus yang pertama. Misterinya gak terlalu bikin penasaran, konflik antara Jin Yiwei dan Dong Fang juga tak terlalu seru. Tampilnya organisasi baru bernama Dong Lin koq ya kurang pas secara saya tahu dalam sejarah aslinya, kalau Dong Lin itu lebih ke gerakan filosofis dan ideologis dibandingkan pemberontak bersenjata.
Yang agak aneh secara ini prequel film pertama, nasib tokoh Lu Wezhao.
Selain itu, Yang Mi masih cantik walau udah jadi ibu beranak satu.

 

65. RV: Resurrected Victims

Film Korea biasanya jagoan dalam produksi genre thriller yang dicampur drama mewek-mewek. Sayangnya yang ini menurutku gagal di semua lini. Plot twist juga kurang nendang, belum lagi karakterisasinya yang kering bikin tidak simpati pada tokoh-tokoh yang mengalami kemalangan.

 

66. Blade of Immortal

Adaptasi manga/anime tentang samurai yang dikutuk tak bisa mati ini mengecewakan. Plotnya memang sudah bisa ditebak secara baca manga Mugen no Junin, masalahnya eksekusi sutradaranya kurang menarik dan agak dragging. Tokoh Rin menyebalkan sekali, sampai pengen nyumpahin dia aja yang kena limpahan kutukan cacing darah.
Kimutaku yang main sebagai Manji si samurai terkutuk bermain lumayan bagus. Tampangnya memang didandani jadi terlihat nggak ganteng, tapi aktingnya cukup meyakinkan sebagai orang yang ingin mati tapi malah dikasih umur panjang.
Sayang, musuh bebuyutannya Shira tampil kurang mengancam dan cara matinya juga kurang memuaskan.

 

67. American Assassin

Plot standar, malah cenderung klise, adegan aksinya juga kurang menegangkan dan tak semenarik serial Bourne. Yang istimewa justru para pemerannya terutama Michael Keaton. Gayanya sebagai dinosaurus sisa-sisa perang dingin yang masih tersisa untuk melatih prajurit baru terlihat meyakinkan.

 

68. Hangman

Film standar thriller pembunuh berantai, nontonnya juga gara-gara ada Al Pacino yang ditandem dengan Karl Urban.
Kurang tegang, kurang misteri, malah karakter-karakternya tak ada yang memorable. Kehadiran Al Pacino di sini sia-sia karena karakterisasi tokoh yang dibawakannya tidak menarik.

 

69. Justice League

Nonton tanpa ekspektasi sebagaimana nonton film-film superhero lainnya, hanya berharap untuk mendapatkan hiburan. Ternyata hasilnya gak jelek-jelek amat.
Kritikus yang membantai film ini sepertinya mengharapkan kisah kedatangan alien dalam Justice League akan seperti Arrival-nya Dennis Villeneuve.
Yang paling kusuka dari film ini adalah karakter Barry Allen yang diplot sebagai anak muda penakut. Takut karena tak punya pengalaman bertempur, bukan karena tak punya nyali. Sedangkan gaya bertarung paling menarik ada pada sosok Wonder Woman, the most badass character in the show.
Character development boleh dibilang jalan ditempat, apalagi mengingat durasi film yang terlalu pendek untuk ukuran film kumpulan superhero yang punya tokoh utama banyak. Tapi bagi-bagi kue spotlight antar tokoh lumayan berimbang walau kurang mendalam, terutama untuk tokoh baru seperti Barry Allen dan Aquaman.
Tokoh Batman di sini koq ya cemen, apalagi mengingat dia lah yang memimpin JL pasca kematian Superman. Kesannya Bruce Wayne gak bisa move-on dan selalu kangen keberadaan Supey, sampai-sampai film ini lebih cocok dikasih sub-judul Justice League: Kami Kangen Superman.
Cyborg dan Aquaman lebih cocok dibilang pelengkap penderita, apalagi kebanyakan latar belakang mereka hanya diceritakan lewat omongan, sulit untuk simpati pada sosok mereka. Mereka berdua memang harus dikasih film solo kalau sosoknya mau lebih memorable.
btw, bagaimanapun juga adegan Clark ketemu emaknya di Kansas itu bikin mataku berkaca-kaca, jadi inget emakku nun jauh di Indonesia sana. Hikksss….
70. Kingsman: The Golden Circle
Sequel petualangan agen Gallahad ini lumayan menghibur walau kesan yang kudapat tidak sekuat prequelnya.
Bonus: Penampilan centil Elton John lumayan nyebelin.
71. The Foreigner

Jeki Cen emang udah tua, tapi tak seharusnya dia bermain sebagai tokoh yang diperankannya 20 tahun yang lalu. Lihat saja Kungfu Yoga, sudah gak lucu kesannya maksa pula.  Apa yang ditampilkan Jeki Cen dalam film ini justru menunjukkan Jeki butuh peran sebagai orang yang menunjukkan usianya yang sebenarnya.

 

72. Beyond Skyline

Gak bisa dibilang bagus sih, tapi dibanding sama prequelnya yang naujubilah ngebosenin, yang ini masih lumayan lah. Plus Iko Uwais bahasa inggrisnya makin bagus prononsasinya. Plot jadi sedikit lebih menarik ketika Iko Uwais muncul, tapi sisanya yah…..

Jangan lewatkan pertempuran melawan alien di sekitar candi Prambanan. 😛

Yang kepikiran: itu alien koq ya berantem pake gaya pencak silat sih. Hahahaha

 

73. Missing You

Plot.

Serial killer Ki-Bum (Kim Sung-oh) tertangkap ketika membunuh korban terakhirnya. Sayangnya karena tidak cukup bukti, dia hanya dihukum untuk satu kasus pembunuhan terakhirnya saja. Sebelum tertangkap, Ki-Bum masih sempat membunuh detektif Nam yang mengejarnya.

15 tahun kemudian Ki-Bum keluar dari penjara. Rekan detektif Nam yang bernama detektif Dae-yeong masih dendam dengan kematian partnernya dan memutuskan untuk memburu Ki-Bum. Sementara itu anak perempuan detektif Nam, Hee-Joo (Shim Eun-kyung) dengan sabar menanti Ki-Bum selama 15 tahun untuk menjalankan rencana yang disusunnya sejak lama.

Komentar.

Terus terang saja, nonton tanpa ekspektasi berlebihan membuat film ini jadi terlihat lebih menarik. 2 plot twist yang disajikan oleh sutradaranya tak bisa kutebak, baik yang dibuka di pertengahan film maupun di akhir film.
Shim Eun-kyung memberikan salah satu penampilan terbaiknya.

 

74. Star Wars: The Last Jedi.

Btw, filmnya ada 2 twist yang gak kusangka bakal terjadi, boleh juga karena gak tertebak.
RIP for every dead characters.
Especially YOU SIR!

Touching scene: Liat Falcon terbang wara wiri dogfight sama pesawat2 musuh. Jadi terharu ingat mendiang Han Solo.

Awesome scene: Luke dihujani tembakan, lalu dengan santai tanpa terluka sedikitpun maju sambil menepis debu di bajunya. Woah!!!!! That’s my Jedi “cool” Master!

 

75. Chasing the Dragon.

Sebenarnya rada malas nonton pas baca sutradaranya Wong Jing karena Wong Jing ini seleranya aneh, film komedinya slaptik terlalu mengumbar humor gak lucu. Kalau bikin film drama dan eksyen, biasanya dengan tema yang lebay. Rata-rata film Wong Jing yang kutonton cuma karena lihat aktor yang main dalam filmnya seperti God of Gamblers dan beberapa film Stephen Chow yang kelucuan komedinya lebih banyak bergantung pada akting para aktornya yang emang jago ngocok perut.
Dan aku nonton film ini gara-gara Donnie Yen dan Andy Lau.

Chasing the Dragon ini biografi seadanya tentang hubungan tokoh nyata dua legenda dunia hitam Hongkong tahun 1960-70an, si gangster pincang Ng Sek-Ho (Donnie Yen) dan si komandan polisi korup Lui Lok (Andy Lau).

Skenario film kurang menarik dengan beberapa dialog yang terkesan seadanya, ditambah dengan arahan sutradara duet Wong Jing dan Stanley Kwan yang suka loncat-loncat bahas fokus plot yang berganti-ganti.
Tapi film ini patut dipuji dalam keseriusan art direction menampilkan susana semrawut Hongkong dan Kowloon tahun 1960an, sinematografi yang menangkap suasananya, serta chemistry antara duo aktornya Donnie Yen dan Andy Lau.

Anda nyari adegan pertarungan spesial karena adanya Donnie Yen? Silahkan kecewa karena berantemnya Donnie Yen di sini lebih ke gaya berantem a la preman jalanan yang main tonjok dan tendang sekenanya gak pakai teknik martial arts, karena itu pula Donnie Yen lebih kelihatan berakting di sini dibandingkan ketika main dalam Ip Man.

Yang menarik, subtitle untuk ICAC (Independent Commission Against Corruption) diterjemahkan oleh translatornya dengan singkatan KPK hahahaha…

BTW, saya masih lebih suka film gangster lawas tentang Ng Sek-Ho yang dibintangi Li Liang-wei yang juga bermain jauh lebih bagus dibanding Donnie Yen di sini, To Be Number One.

 

76. Bright

Plotnya sih lumayan menarik, rasialisme antar eerrr.. makhluk dongeng? Iya di sini ada manusia, orc dan elf. Kurang dwarf sama Sauron dan Hobbit sih hahahaha…
Anyway, dalam beberapa bagian terkesan seperti film garapan David Ayer sebelumnya tentang duo partner polisi beda etnis End of Watch, tentu saja Bright tidak secemerlang End of Watch.
Sisanya lumayan menghibur walau tak memberikan kesan apa-apa.

 

77. Tokyo Ghoul the Movie

Gak disangka filmnya lumayan menghibur, padahal dengan CGI pas-pasan. Efek kuren para ghoul masih keliatan kayak tempelan CGI.
Tapi secara keseluruhan versi live action ini jauh lebih bagus dibandingkan live action Attack on Totan, setidaknya dari segi penggarapan plot dan akting para pemain utamanya.
Masataka Kubota bermain maksimal sebagai manusia yang pelan-pelan berubah jadi sosok ghoul yang doyan makan daging manusia. Permainan Fumika Shimizu juga tak mengecewakan.
Dengan sumber daya minimal, film ini bisa memaksimalkan semuanya. Boleh juga walau gak spesial-spesial amat.

 

78. Wet Woman in the Wind

Plot.
Kosuke seorang lelaki penulis naskah drama merasa hidupnya hampa, mencoba menjauh dari wanita dengan tinggal di sebuah gubuk rombeng di kampung kecil.
Hingga seorang wanita seksi nan bengal melintasinya di pelabuhan, nyebur dan basah kuyup, lalu sambil telanjang dada mencoba mengeringkan baju basahnya.
Dimulailah drama seks komedi antara Kosuke dan Shiori.

Komentar.
Ini film buat lelaki dewasa.
Kenapa?
Film dewasa karena diselipi adegan seks dan ketelanjangan, tipikal film sofporn buatan Nikkatsu, sebuah produsen pink film (softcore) Jepang.
Film buat lelaki karena banyak komedi slaptik kental seksisnya yang mungkin bikin perempuan gak nyaman menonton.

Lihat saja adegan perkenalan Kosuke dan Shiori, seksis sekali dengan menampilkan perempuan seksi telanjang dada, memeras baju basahnya di depan lelaki bingung yang lagi stress.

Kelucuan film ini memang ditempelkan pada adegan-adegan ranjang yang terselip di antara adegan drama.
Misalnya saja Kosuke yang udah kesenangan entah kesambet apa ada 2 cewek bugil siap buat threesome di hadapannya, malah ditendang ceweknya keluar arena karena dianggap “mengganggu”.
Belum lagi seks semalam suntuk sampai-sampai makan malam bergantin sambil gituan di depan kulkas.
Puncaknya? Seks liar sampai gubuk Kosuke runtuh berantakan disertai klimaks. Hahahaha….
Absurd abis.

Saya sih lumayan suka karena emang beberapa adegan komedi slaptiknya lumayan lucu….buat lelaki.

Tertawa sambil ngaceng. Hahahaha…..

 

79. Gintama Live Action.

Komedi yang ditampilkan rasa dan aromanya humor a la anime dan Jepang sekali, penuh dengan referensi yang mungkin hanya fans Jejepangan dan Otaku yang paham dan ngerasa lucu.

Saya sih menikmati humornya walau beberapa kali merasa terlalu lebay, rasanya seperti menonton anime komedi lengkap dengan wajah dipukul melotot sampai mental nabrak pohon atau dinding. Kebetulan filmnya disub oleh translator otaku, jadinya di kanan-kiri subs penuh dengan keterangan dan penjelasan referensi kultural Jepang dan anime supaya orang awam sedikit mengerti.

Baby Driver

baby driver 4
Plot.
Baby (Ansel Elgort), seorang remaja yatim piatu dengan masalah pendengaran, bertindak sebagai supir perampokan yang direncanakan oleh seorang criminal mastermind bernama Doc (Kevin Spacey). Ketika aksi perampokan mulai mengucurkan darah para korban, Baby mulai mempertanyakan moralitas tindakannya. Apalagi Baby mulai mengenal cinta pada gadis pelayan restoran Debora (Lily James).

Continue reading ‘Baby Driver’

Daftar film 2017 (Januari-Juni)

Ini adalah daftar film-film yang kutonton selama 6 bulan dari Januari hingga Juni tahun 2017. Dalam setengah tahun malah tak sampai jumlahnya mencapai 30 film. Sejak punya anak memang makin bertambah sibuk, hingga waktu nonton juga semakin berkurang.

 

Continue reading ‘Daftar film 2017 (Januari-Juni)’

La La Land

LLL_Poster

Plot

Mia (Emma Stone) seorang barista yang berambisi menjadi seorang aktris bertemu dengan pianis Jazz bernama Sebastian (Ryan Gosling). Cinta, amarah, dan ambisi mewarnai perjalanan cinta mereka berdua di atas panggung kota Los Angeles.

Continue reading ‘La La Land’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: