Archive for the 'Resensi Film Amerika' Category

Fathers and Daughters

fathers-and-daughters-poster

 

Plot:
Jake Davis (Russel Crowe), seorang penulis pemenang pulitzer mengalami mental breakdown setelah kecelakaan yang merenggut nyawa istrinya. Dia harus membesarkan anak perempuan satu-satunya Katie (Kylie Rogers) sambil berusaha bertahan dari masalah keuangan dan gangguan penyakit mentalnya. Sementara itu, adik kandung mendiang istrinya yang kaya raya Elizabeth (Diane Kruger), berusaha untuk mengambil hak asuh keponakannya dari tangan Jake.

 

Di bagian lain, Katie dewasa (Amanda Seyfried) seorang calon psikolog yang juga mengalami masalah mental berkaitan dengan relationship dengan lelaki, berusaha untuk berhubungan serius dengan seorang penulis baik hati bernama Cameron (Aaron Paul).

Continue reading ‘Fathers and Daughters’

Exodus: Gods and Kings

Plot:

Moses sang pangeran Mesir dipaksa meninggalkan istana oleh saudara angkatnya Ramses karena Moses diketahui sebagai Moishe anak orang Ibrani. Moses yang terusir berkelana ke daerah Midian, menikah dan memiliki anak di sana. Moses tiba-tiba mendapat perintah Tuhan untuk kembali ke Mesir memimpin orang Ibrani melawan Ramses yang tirani.

Continue reading ‘Exodus: Gods and Kings’

Unforgiven (1992)

Pertama kalinya aku nonton film Unforgiven saat masih duduk di bangku SMA. Saat itu pengetahuanku tentang film boleh dibilang sangat minim, hasilnya Unforgiven berlalu sebagai film yang menurutku tidak mengesankan. Maklumlah, selera film koboyku jaman itu masih tak jauh dari film dar der dor kayak Young Guns (Emilio Estevez) dan Tombstone (Kurt Russel). Karena ingin menonton film Jepang terbaru berjudul Yurusarezaru Mono yang merupakan adaptasi ulang film Unforgiven original yang disutradarai ClintEastwood, aku memutuskan untuk menonton ulang Unforgiven aslinya. Hasilnya mencengangkan karena aku mendapatkan perspektif yang sama sekali berbeda dibandingkan waktu pertama kali nonton film ini jaman SMA.

Continue reading ‘Unforgiven (1992)’

Jack and The Dubber

jack poster

Mohon maaf telah menelantarkan blog ini hingga satu bulan lebih. Tulisan ini juga sebenarnya tulisan bulan lalu yang diedit dan diperbaiki sedikit sebelum di publish.

Kalian tentunya pernah nonton film asing yang di dubbing (sulih suara). Jangan jauh-jauh lah, di layar TV di Indonesia saja banyak anime-anime yang dialognya di dubbing dengan bahasa Indonesia dan ini dilakukan agar gampang dikonsumsi anak-anak. Di Jepang sendiri sama saja. Film asing yang diputar di TV biasanya bilingual dengan pilihan bahasa Jepang dan bahasa aslinya. Film bioskop buatan Hollywood biasanya tayang 2 versi, yaitu versi jimaku (sound asli dengan subtitle) dan versi fukikae (dubbing). Saya belum pernah sekalipun nonton film versi fukikae di bioskop Jepang, hingga 2 bulan yang lalu. Continue reading ‘Jack and The Dubber’

The Cabin in the Woods

Yang bikin tulisan review film ini sebenarnya sudah cukup banyak dan biasanya aku agak malas menulis review film yang sudah banyak ditulis di blog lain. Tapi entah kenapa, koq tanganku ikutan gatal ingin menulis dengan kata-kataku sendiri.
Awalnya aku malas nonton film beginian, tepatnya genre horror thriller dan lebih spesifik lagi: torture porn. Memang begitulah kesanku ketika pertama kali melihat trailer film ini, another cheap torture porn film. Padahal ada nama Joss Wheddon sutradara The Avengers yang duduk di kursi produser dan juga ada Drew Goddard si penulis cerita Cloverfield yang jadi sutradara. Yang membuatku tertarik nonton gara-gara film ini mendapat banyak pujian tinggi di satu sisi dan juga tak kalah banyak cacian di pihak lain. Memangnya apa keistimewaan film genre torture porn yang biasanya malas kutonton sampai bikin 2 kubu berseberangan?

Peringatan: SPOILER.
Kalau benar-benar ingin menikmati film ini hingga kepuasan maksimal, jangan baca tulisan di bawah lebih lanjut. Nanti saja setelah nonton boleh kita diskusikan bareng bagi yang tertarik.
Continue reading ‘The Cabin in the Woods’

The Adjustment Bureau – Kehendak bebas vs Suratan nasib

You don’t have free will, David. You have the appearance of free will.
(Agen Thompson)

Ya, ini film memang sudah rilis beberapa bulan yang lalu dan aku agak telat membahasnya. Tapi yang membuatku tertarik meriview film ini adalah tema yang diusung yaitu konflik antara dua konsep filosofi: kehendak bebas dan suratan nasib. Film ini merupakan adaptasi dari cerita pendek karya pengarang cerita sains fiksi terkenal Philip K. Dick yang berjudul Adjustment Team. Philip K. Dick memang dikenal sering memasukkan unsur filosofi dalam karya-karyanya dan kali ini tema yang diambil adalah free-will vs predestination dan filosofi biblical tentang kekuasaan Tuhan. Salah satu film adaptasi Philip K. Dick yang menurutku berhasil menerjemahkan konsep kehendak bebas vs suratan nasib adalah Minority Report yang disutradarai oleh Steven Spielberg dan dibintangi Tom Cruise. Masih ingat adegan Tom Cruise melempar dan menggelindingkan bola di meja, lalu ditangkap oleh Collin Farrel sebelum jatuh? Itu adalah adegan yang paling memorable buatku.
Lalu bagaimana dengan The Adjustment Bureau? Continue reading ‘The Adjustment Bureau – Kehendak bebas vs Suratan nasib’

Kick-Ass – Komedi, sadis dan seru

Sudah banyak teman-teman blogger yang me-review film ini, tapi rasanya masih kurang kalau saya tidak menuliskan pendapat saya sendiri. Menurutku film ini dibagi atas 3 stage. Pertama adalah film komedi segar lewat tokoh Dave yang kepengen jadi superhero seperti dalam komik lewat alter-egonya Kick-Ass. Adegan konyol nan lucu diawal film saja sudah lumayan menarik perhatian dan menyebabkan penonton (yang tak tahu tentang cerita komiknya) punya kesan kalau Kick-Ass adalah film komedi. Seiring dengan masuknya tokoh Hit-Girl dan Big-Daddy, stage dua yang banyak menampilkan adegan sadis dimulai dan adegan komedi mulai berkurang secara perlahan. Kalau sudah sering nonton film slasher sih, adegan sabetan dan tikaman pedang berlumuran darah hanya hal lumrah. Bedanya dalam film ini, yang menyabetkan senjata tajam adalah gadis cilik berumur 11 tahun bernama Hit-Girl. Dalam stage ke-tiga, para penonton disuguhkan adegan-adegan pertempuran seru lewat aksi Hit-Girl membebaskan Big-Daddy dan Kick-Ass dari tawanan musuh hingga serbuan ke markas mafia. Adegan akhir yang menggunakan bazooka benar-benar mantap abis (aku sampai takjub dengan visualisasi sutradaranya yang komikal ini). Aksi sadis masih tetap banyak berkelebat, namun adegan komedi kiranya sudah tak tersisa lagi dipenghujung akhir film.
Continue reading ‘Kick-Ass – Komedi, sadis dan seru’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: