Archive for the 'Recommended Movie' Category



Shall We Dansu? – Dansa sang salaryman

Quote: Mou ichi do, Jinsei ni koi site miyou
(Marilah sekali lagi mencintai kehidupan)

Film ini adalah salah satu film Jepang karya non-Akira Kurosawa yang mampu membuatku sangat terkesan. Ada beberapa alasan yang membuatku menobatkan film ini masuk ke dalam jajaran film Jepang favorite versi ku, baik secara teknis film maupun secara non teknis. Secara teknis, film ini bagus sekali dan merupakan salah satu jendela yang mengubah pandanganku terhadap realitas kehidupan sosial kemasyarakatan Jepang (sebelumnya aku terlampau silau dengan pemaparan versi animanga dan dorama yang terlalu stereotype). Secara non-teknis? Film ini adalah film Jepang pertama yang kutonton ketika aku berada di Jepang. Kemudian, aku menonton film ini bukan di bioskop ataupun lewat DVD player biasa, melainkan dalam sebuah theater kecil perpustakaan daerah kota Fujinomiya. Betul, anda tak salah baca. Theater kecil dalam perpustakaan tersebut mampu menampung penonton sekitar 20 orang dan setiap minggunya mereka memiliki jadwal pemutaran film. Perpustakaan pusat Fujinomiya (ada dua perpustakaan daerah, yang satu lagi perpustakaan barat Fujinomiya) selain menyediakan koleksi buku, koran, majalah dan macam-macam bahan bacaan, juga memiliki koleksi piringan hitam/kaset/MD/CD musik dan DVD film. Pengunjung bisa mendengarkan musik atau menonton film langsung di dalam blok-blok ruang audio visual perpustakaan (jarang kosong sih) atau juga meminjamnya dengan menggunakan kartu anggota. Fasilitas lain adalah ruang nonton film yang telah kusebutkan diatas.
Continue reading ‘Shall We Dansu? – Dansa sang salaryman’

I just didn’t do it – Jujur tempatnya di neraka

Pengadilan bukanlah tempat untuk mengungkapkan kebenaran. Tak lebih dari tempat berspekulasi menentukan bersalah atau tidak berdasarkan bukti yang dikumpulkan.
Kaneko Teppei (Ryo Kase)

Banyak orang-orang yang beranggapan bahwa perempuan Jepang adalah cewek gampangan. Tentunya ini tak bisa dilepas dari pengaruh manga/anime yang isinya menyerempet aktivitas seksual. Belum lagi dengan banyaknya produk hentai, erogame dan juga adult video yang beredar bebas dipasaran. Hal ini menyebabkan banyaknya aktivitas pelecehan seksual di Jepang semakin marak. Di kampusku sendiri sampai melancarkan kampanye anti sexual harassment yang juga merupakan kelanjutan dari kampanye menyeluruh pemerintah Jepang. Salah satu sexual harassment yang banyak terjadi justru berlangsung di dalam ruang fasilitas umum, terutama di dalam kereta listrik. Pelecehan seksual ini di Jepang disebut Chikan-痴漢, dan kebanyakan berupa meraba bagian-bagian tertentu korban dalam kondisi berdesak-desakan di dalam kereta. Perempuan yang menjadi korban biasanya tidak bisa berbuat banyak karena posisi orang-orang yang kerumunan. Terlebih lagi, usia para korban biasanya sangat muda (sekitar usia anak SMP) untuk memiliki keberanian mengungkapkan pelecehan. Jika sang korban cukup berani, dia bisa saja menangkap tangan sang pelaku dan tak melepaskannya sambil berteriak “chikan” hingga keadaannya memungkinkan untuk melaporkan si pelaku ke petugas kereta. Mengenai kasus tukang raba (groper) bisa dibaca sedikit di link tulisan ini
Continue reading ‘I just didn’t do it – Jujur tempatnya di neraka’

Up in the Air – Traveling and Connecting

Life is better with company. Everybody needs a co-pilot
(Ryan Bingham)

Film ini adalah film pertama ditahun ini yang kutonton untuk mendapatkan nilai 4.5/5 dariku. Tak berlebihan memang, karena film ini menampilkan sebuah film utuh yang hampir tiada cacat. Sutradara film ini Jason Reitman boleh dibilang masih bau kencur kalau melihat jumlah film yang dihasilkannya, tapi jika melihat kualitas film yang diarahkannya, anda pasti akan terkesan dengan kemampuannya. Oh ya, kalau melihat nama keluarganya anda mungkin sudah bisa menebak kalau Jason masih punya hubungan keluarga dengan sutradara film komedi terkenal Ivan Reitman. Jason memang anak lelaki satu-satunya Ivan Reitman yang mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi sutradara. Film ini adalah adaptasi novel karya Walter Kirn dengan judul yang sama.

Perkenalkan sang tokoh utama Ryan Bingham (George Clooney), seorang motivator ulung umur 30-an tahun yang bekerja sebagai career transition counselor (bingung menerjemahkannya). Pekerjaan utamanya adalah menjadi konsultan bagi para karyawan yang baru dipecat supaya menemukan karir baru lainnya untuk dirintis kembali. Tentu saja sebelum memberikan konsultasi, tugas Ryan yang paling penting adalah memecat karyawan tersebut karena bos masing-masing tak punya nyali melakukannya. Untuk melakukan tugasnya, Ryan harus sering terbang (disebut sebagai flyer) kesana kemari keliling USA sehingga boleh dibilang kalau rumahnya adalah pesawat terbang dan keluarga terdekatnya adalah kru pesawat, dengan target pribadi untuk terbang hingga mencapai total jarak 100 juta mil.
Continue reading ‘Up in the Air – Traveling and Connecting’

(500) Days of Summer/Rab ne Bana di Jodi

Apakah cinta itu manusiawi ataukah bersifat Illahi

(500) Days of Summer

Walaupun Roger Ebert memberikan nilai 4/4 dalam review yang dibuat olehnya, aku menonton film ini dengan harapan rendah dan hanya berharap untuk medapatan hiburan dari cerita komedi romantis. Tahu sendiri lah Mr. Ebert seperti apa, kadang beliau gampang ngasih nilai tinggi buat film yang biasa-biasa aja. Tak disangka, pada awal film saja sudah muncul tulisan “this is not a love story”. Eh? Film apa nih? Sepertinya Roger Ebert gak salah ngasih bintang buat film ini. Sebenarnya sudah banyak blogger tukang nonton yang membahas mengenai film ini, tapi aku tertarik untuk membahasnya dari sudut pandangku. Mengapa? Karena aku pernah mengalami sendiri bagaimana rasanya menjadi Tom Hansen.
Continue reading ‘(500) Days of Summer/Rab ne Bana di Jodi’

Un Prophete – Sang Nabi dibalik Terali

Judul lain: A Prophet
Sutradara: Jacques Audiard
Pemain: Tahar Rahim, Niels Arestrup

Bukanlah pekerjaan gampang untuk membuat film yang bersetting didalam penjara. Selain harus memaksimalkan ruang yang relatif sempit karena syuting ditempat yang itu-itu saja, sutradara harus pintar-pintar menerjemahkan isi skenario sehingga membuat film buatannya tidak membosankan selama 2 jam. Memang tak banyak-banyak amat film penjara yang pernah dibuat karena agak sulit membuatnya menjadi film menarik dan kalau bisa cukup komersil. Lihat saja film Lock Up nya Sylvester Stallone yang membosankan dan kurang laku, walaupun menjual nama si Rambo. Berbanding terbalik dengan film bertema serupa seperti Shawshank in Redemption dan The Green Mile buah karya dari novel adaptasi Stephen King yang sangat menarik untuk ditonton. Film ini disutradarai oleh Jacques Audiard yang dikenal sebagai sutradara The Beat That My Heart Skipped, sebuah film wajib tonton yang mengantarkannya meraih gelar sutradara terbaik Cesar award. Menurutku Audiard berhasil menyuguhkan penjara sebagai sebuah tempat tinggal yang penuh dengan kesedihan, ketakutan, kekerasan, kegembiraan, kebersamaan, sekaligus tempat untuk memulai harapan baru. Continue reading ‘Un Prophete – Sang Nabi dibalik Terali’

Departures – Piala Oscar untuk si Tukang Antar

Judul asli: おくりびと – Okuribito (tukang antar)
Produksi: Tokyo Broadcasting System dan Shochiku ( 2008 )
Sutradara: Takita Yojiro
Pemain: Motoki Masahiro, Hirosue Ryoko, Yamazaki Tsutomu, Yo Kimiko.
Tag:
人は誰でも、いつか。。。おくりびと、おくられびと
Hito wa daredemo, itsuka…Okuribito, Okurarebito
(Manusia itu siapapun, kapankah….. menjadi pengantar, atau yang diantar)

departures

おまえら、死んだ人間で食ってんだろう
Omaera, sinda ningen de kutten darou
Kalian khan hidup dapat makan dari orang mati

(Keluarga klien kepada Daigo dan mentornya Sasaki)

Pada tahun 1996, sebuah novel berjudul Noukanfu Nikki (Catatan harian pria penyelenggara jenazah) karya Aoki Shinmon diterbitkan dan kemudian dibaca oleh aktor Motoki Masahiro. Selain Motoki, mangaka bernama Sasou Akira juga membacanya dan berminat untuk mengadaptasi novel tersebut kedalam manga. Motoki membujuk beberapa sutradara untuk membuat film berdasarkan novel karya Aoki tersebut hingga akhirnya Takita Yojiro yang dikenal sebagai sutradara film samurai “When the Last Sword is Drawn” tertarik untuk membuat film dan turut melobi studio film TBS. Setelah manga karya Sasou diluncurkan, film adaptasi novelnya juga mulai diproduksi.

Cerita film dimulai dengan tokoh utama Kobayashi Daigo mengurus jenazah sambil bercerita tentang latar belakang pekerjaan barunya sebagai penyelenggara jenazah. Lewat narasi diceritakan bagaimana dua bulan sebelumnya, Daigo yang berprofesi sebagai pemain cello harus menghadapi kenyataan bubarnya orchestra tempat dirinya bergabung. Menyadari bakatnya sebagai pemain cello biasa-biasa saja, Daigo akhirnya memutuskan berhenti mengejar karir musiknya dan pulang ke kampung halamannya di Yamagata bersama istrinya Mika. Continue reading ‘Departures – Piala Oscar untuk si Tukang Antar’

Fear and Tremblings – Cinta tidak berarti pasti memahami

Judul asli: Stupeur et tremblements
Produksi: Studio Canal – Perancis ( 2003 )
Genre: Drama-komedi satir
Sutradara: Alain Corneau
Pemain: Sylvie Testud, Kaori Tsuji

fearfilm

“Bagaimana para customer bisa bicara bisnis didepan orang asing yang ngerti bahasa Jepang? Mulai sekarang kamu jangan ngomong bahasa Jepang lagi!”
(Kabag Saito kepada Amelie, setelah rapat dengan customer bubar akibat Amelie menyediakan kopi dan mempersilahkan minum para tamu dengan bahasa jepang)

Dalam film Lost in Translation telah disinggung bagaimana cultural shock terjadi akibat kesalahpahaman dan ketidakpahaman bahasa. Bagaimana bila dibuat kondisi paham bahasa, apakah benturan budaya masih terjadi? Dalam film ini tokoh utamanya fasih berbahasa dan tentu saja memahami bahasa Jepang. Latar belakang yang dipakai film untuk menggambarkan benturan budaya adalah dunia kerja, khususnya pekerja kantoran.

Film diawali dengan pengenalan tokoh Amelie seorang gadis Belgia yang lahir dan tumbuh di Jepang hingga usia 5 tahun. Setelah dewasa Amelie memutuskan untuk kembali lagi ke Jepang. Dia melakukan ini bukan sebagai turis melainkan seorang pekerja (penerjemah) di perusahaan raksasa Jepang Yumimoto dengan kontrak kerja satu tahun dan dengan tujuan jangka panjang, “menjadi orang Jepang!” Amelie merasa jatuh cinta pada Jepang beserta budayanya dan patah hati ketika ketika kembali pulang mengikuti orangtuanya ke Belgia. Kali ini Amelie datang lagi untuk merajut kembali cintanya yang dicerabut belasan tahun yang lalu dengan keyakinan kuat berkat kerja kerasnya untuk menguasai pengetahuan bisnis perusahaan Jepang beserta bahasanya sekalian. Continue reading ‘Fear and Tremblings – Cinta tidak berarti pasti memahami’

Lost in Translation – Lost in Deja Vu

Catatan: Tadinya aku ragu untuk memasukkan tulisan ini ke blogspot yang memuat unek-unekku. Karena berhubungan dengan film, kuputuskan untuk mempostingnya disini.

Sutradara: Sofia Coppola
Produksi: Focus Features ( 2003 )
Pemain: Bill Murray, Scarlett Johansson

Pertama kali aku menonton film ini pada tahun 2004 lewat VCD di Indonesia dengan kondisi mengerti bahasa Inggris, melihat teks terjemahan bahasa Indonesia dan buta bahasa Jepang. Memang film yang mengisahkan tentang 2 orang asing yang kesepian sekaligus merasa terisolasi di tempat yang sama sekali asing sangat menarik untuk disimak. Masih ingat dibenakku seluruh adegan bahasa Jepang sengaja dibiarkan tanpa terjemahan sehingga lebih terasa lost in translation yang diinginkan oleh sang sutradara. Kondisi bentrok budaya antar timur dan barat juga sangat terasa walaupun dulu aku kurang mengerti mengapa Jepang dipilih, toh masih ada budaya timur lain dengan bahasa dan tulisan sama sekali berbeda seperti misalnya China, Korea atau Thailand.
Continue reading ‘Lost in Translation – Lost in Deja Vu’

Ponyo on the Cliff by the Sea – Ikan ingin jadi manusia

Judul asli: Gake no Ue no Ponyo
Sutradara: Hayao Miyazaki
Produksi: Studio Ghibli ( 2008 )
“Ponyo, Ningen ni naritai – Ponyo, kepengen jadi manusia”


Inilah film anime terbaru studio Ghibli karya ke sembilan sutradara animasi terkenal Jepang, Hayao Miyazaki. Setelah sukses secara komersial dengan karya sebelumnya Howl’s Moving Castle yang banyak mendapat kritikan, kali ini Miyazaki menampilkan sebuah kisah fantasi perjuangan seekor ikan mas kecil yang ingin menjadi manusia.

Seekor ikan mas yang terperangkap didalam botol bekas sampah di laut diselamatkan oleh Sosuke, seorang bocah berusia 5 tahun yang tinggal bersama ibu (tiri?)nya yang bernama Lisa (atau Risa). Oleh Sosuke, ikan mas itu diberi nama Ponyo (baca: Po-Nyo). Tanpa sengaja Ponyo merasakan darah manusia setelah menjilat luka di jari Sosuke. Setelah bergaul dengan Sosuke beberapa lama, timbul keinginan Ponyo untuk menjadi manusia. Ditunjang dengan magic yang dimilikinya dan darah manusia yang pernah dicicipinya, Ponyo mulai dapat menumbuhkan kaki dan tangan seperti manusia.
Continue reading ‘Ponyo on the Cliff by the Sea – Ikan ingin jadi manusia’

5 Centimeters Per Second – Anime tentang cinta pertama

Judul asli: Byousoku 5 senchimehtoru
Sutradara: Shinkai Makoto
Produksi: CoMix Wave Inc (2007)

Judul film anime diatas diambil dari laju jatuh bunga sakura yang diucapkan oleh salah satu tokoh utama yang bernama Akari pada awal cerita. Memang film ini mengambil tema yang berkisar pada jarak dan waktu yang mewarnai perjalanan antar tokoh, bahwa jarak dan waktu merupakan komponen krusial yang bisa mengubah jalan hidup seseorang. Film anime ini dibagi tiga babak masing-masing dibawakan narator yang membawakan cerita mengenai perjalanan hidup seorang pria yang bernama Tohno Takaki beserta hubungannya dengan 2 perempuan yang bernama Shinohara Akari dan Sumida Kanae.

Babak pertama: Oukashou – The Chosen Cherry Blossoms
Narator: Tohno Takaki
Bercerita tentang 2 siswa SD yang baru saja pindah ke Tokyo dan menempati kelas yang sama yaitu Takaki dan Akari. Banyaknya kesamaan membuat hubungan mereka berdua lebih dekat dari pada siswa lainnya sampai akhirnya pada usia 13 tahun, Akari pindah sekolah mengikuti orang tuanya ke daerah Tochigi yang jaraknya lumayan jauh dari Tokyo.
Ketika naik kelas 2 SMU gilirang Takaki yang pindah ke daerah Kagoshima, sehingga Takaki memutuskan untuk mengunjungi dan bertemu Akari sebelum jarak mereka semakin jauh yang memungkinkan mereka berdua semakin sulit bertemu. Continue reading ‘5 Centimeters Per Second – Anime tentang cinta pertama’


Ando-kun

Live Traffic


%d bloggers like this: