Archive for the 'Recommended Movie' Category



Ototo (Younger Brother)

Sekali adik tetaplah adik, walaupun dia melakukan hal yang menyusahkanmu

Pernahkah anda mendengar komentar yang kira-kira berbunyi, “Dalam sebuah keluarga biasanya ada saja satu orang yang jadi troublemaker menyusahkan anggota keluarga yang lain.” Aku pernah beberapa kali mendengarnya, malah salah satunya ditujukan untuk adik laki-lakiku sendiri. Karena itu, sambil menonton film ini, aku juga sekaligus merefleksi kehidupan dan pola pandanganku sendiri tentang keluarga. Kalimat dalam quote diatas adalah ucapan kakak sepupu sekaligus kakak angkatku almarhumah Ritati, ketika adikku yang satu itu terlibat hal yang menyusahkan kami sekeluarga. Paling tidak, apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam film Ototo bisa kumaklumi karena tak jauh dari apa yang disampaikan oleh kakakku diatas. Ototo sendiri dalam bahasa Jepang berarti adik lelaki. Continue reading ‘Ototo (Younger Brother)’

Confessions (Kokuhaku)

Walaupun hukum melindungi kalian, aku tak bisa membiarkan kalian begitu saja
~Ibu guru Moriguchi~

Rasanya sudah cukup lama aku tak memberikan nilai rating lebih dari 4 untuk sebuah film. Memang harus ku akui bahwa akhir-akhir ini aku semakin pelit memberi nilai. Walaupun aku menyukai sebuah film dan kuanggap bagus, kadang kala ada unsur yang kurang memuaskanku untuk menempatkan film tersebut dibawah nilai 4. Kebetulan sekali aku menonton film yang menjadi wakil Jepang untuk beradu di ajang Academy Award tahun ini dan kali ini aku dengan suka rela memberikan nilai lebih dari 4 pertamaku di tahun 2011 untuk film yang berjudul asli Kokuhaku. Film garapan sutradara Tetsuya Nakashima (Kamikaze Girls, Memories of Matsuko) ini merupakan adaptasi novel 6 bab karya Minato Kanae yang skenarionya ditulis oleh Nakashima khusus untuk diperankan Takako Matsu. Kabarnya Nakashima tak mau membuat film ini jika bukan Takako Matsu yang berperan sebagai tokoh ibu guru Yuuko Moriguchi.
Continue reading ‘Confessions (Kokuhaku)’

Shall We Dansu? – Dansa sang salaryman

Quote: Mou ichi do, Jinsei ni koi site miyou
(Marilah sekali lagi mencintai kehidupan)

Film ini adalah salah satu film Jepang karya non-Akira Kurosawa yang mampu membuatku sangat terkesan. Ada beberapa alasan yang membuatku menobatkan film ini masuk ke dalam jajaran film Jepang favorite versi ku, baik secara teknis film maupun secara non teknis. Secara teknis, film ini bagus sekali dan merupakan salah satu jendela yang mengubah pandanganku terhadap realitas kehidupan sosial kemasyarakatan Jepang (sebelumnya aku terlampau silau dengan pemaparan versi animanga dan dorama yang terlalu stereotype). Secara non-teknis? Film ini adalah film Jepang pertama yang kutonton ketika aku berada di Jepang. Kemudian, aku menonton film ini bukan di bioskop ataupun lewat DVD player biasa, melainkan dalam sebuah theater kecil perpustakaan daerah kota Fujinomiya. Betul, anda tak salah baca. Theater kecil dalam perpustakaan tersebut mampu menampung penonton sekitar 20 orang dan setiap minggunya mereka memiliki jadwal pemutaran film. Perpustakaan pusat Fujinomiya (ada dua perpustakaan daerah, yang satu lagi perpustakaan barat Fujinomiya) selain menyediakan koleksi buku, koran, majalah dan macam-macam bahan bacaan, juga memiliki koleksi piringan hitam/kaset/MD/CD musik dan DVD film. Pengunjung bisa mendengarkan musik atau menonton film langsung di dalam blok-blok ruang audio visual perpustakaan (jarang kosong sih) atau juga meminjamnya dengan menggunakan kartu anggota. Fasilitas lain adalah ruang nonton film yang telah kusebutkan diatas.
Continue reading ‘Shall We Dansu? – Dansa sang salaryman’

I just didn’t do it – Jujur tempatnya di neraka

Pengadilan bukanlah tempat untuk mengungkapkan kebenaran. Tak lebih dari tempat berspekulasi menentukan bersalah atau tidak berdasarkan bukti yang dikumpulkan.
Kaneko Teppei (Ryo Kase)

Banyak orang-orang yang beranggapan bahwa perempuan Jepang adalah cewek gampangan. Tentunya ini tak bisa dilepas dari pengaruh manga/anime yang isinya menyerempet aktivitas seksual. Belum lagi dengan banyaknya produk hentai, erogame dan juga adult video yang beredar bebas dipasaran. Hal ini menyebabkan banyaknya aktivitas pelecehan seksual di Jepang semakin marak. Di kampusku sendiri sampai melancarkan kampanye anti sexual harassment yang juga merupakan kelanjutan dari kampanye menyeluruh pemerintah Jepang. Salah satu sexual harassment yang banyak terjadi justru berlangsung di dalam ruang fasilitas umum, terutama di dalam kereta listrik. Pelecehan seksual ini di Jepang disebut Chikan-痴漢, dan kebanyakan berupa meraba bagian-bagian tertentu korban dalam kondisi berdesak-desakan di dalam kereta. Perempuan yang menjadi korban biasanya tidak bisa berbuat banyak karena posisi orang-orang yang kerumunan. Terlebih lagi, usia para korban biasanya sangat muda (sekitar usia anak SMP) untuk memiliki keberanian mengungkapkan pelecehan. Jika sang korban cukup berani, dia bisa saja menangkap tangan sang pelaku dan tak melepaskannya sambil berteriak “chikan” hingga keadaannya memungkinkan untuk melaporkan si pelaku ke petugas kereta. Mengenai kasus tukang raba (groper) bisa dibaca sedikit di link tulisan ini
Continue reading ‘I just didn’t do it – Jujur tempatnya di neraka’

Up in the Air – Traveling and Connecting

Life is better with company. Everybody needs a co-pilot
(Ryan Bingham)

Film ini adalah film pertama ditahun ini yang kutonton untuk mendapatkan nilai 4.5/5 dariku. Tak berlebihan memang, karena film ini menampilkan sebuah film utuh yang hampir tiada cacat. Sutradara film ini Jason Reitman boleh dibilang masih bau kencur kalau melihat jumlah film yang dihasilkannya, tapi jika melihat kualitas film yang diarahkannya, anda pasti akan terkesan dengan kemampuannya. Oh ya, kalau melihat nama keluarganya anda mungkin sudah bisa menebak kalau Jason masih punya hubungan keluarga dengan sutradara film komedi terkenal Ivan Reitman. Jason memang anak lelaki satu-satunya Ivan Reitman yang mengikuti jejak ayahnya untuk menjadi sutradara. Film ini adalah adaptasi novel karya Walter Kirn dengan judul yang sama.

Perkenalkan sang tokoh utama Ryan Bingham (George Clooney), seorang motivator ulung umur 30-an tahun yang bekerja sebagai career transition counselor (bingung menerjemahkannya). Pekerjaan utamanya adalah menjadi konsultan bagi para karyawan yang baru dipecat supaya menemukan karir baru lainnya untuk dirintis kembali. Tentu saja sebelum memberikan konsultasi, tugas Ryan yang paling penting adalah memecat karyawan tersebut karena bos masing-masing tak punya nyali melakukannya. Untuk melakukan tugasnya, Ryan harus sering terbang (disebut sebagai flyer) kesana kemari keliling USA sehingga boleh dibilang kalau rumahnya adalah pesawat terbang dan keluarga terdekatnya adalah kru pesawat, dengan target pribadi untuk terbang hingga mencapai total jarak 100 juta mil.
Continue reading ‘Up in the Air – Traveling and Connecting’

(500) Days of Summer/Rab ne Bana di Jodi

Apakah cinta itu manusiawi ataukah bersifat Illahi

(500) Days of Summer

Walaupun Roger Ebert memberikan nilai 4/4 dalam review yang dibuat olehnya, aku menonton film ini dengan harapan rendah dan hanya berharap untuk medapatan hiburan dari cerita komedi romantis. Tahu sendiri lah Mr. Ebert seperti apa, kadang beliau gampang ngasih nilai tinggi buat film yang biasa-biasa aja. Tak disangka, pada awal film saja sudah muncul tulisan “this is not a love story”. Eh? Film apa nih? Sepertinya Roger Ebert gak salah ngasih bintang buat film ini. Sebenarnya sudah banyak blogger tukang nonton yang membahas mengenai film ini, tapi aku tertarik untuk membahasnya dari sudut pandangku. Mengapa? Karena aku pernah mengalami sendiri bagaimana rasanya menjadi Tom Hansen.
Continue reading ‘(500) Days of Summer/Rab ne Bana di Jodi’

Un Prophete – Sang Nabi dibalik Terali

Judul lain: A Prophet
Sutradara: Jacques Audiard
Pemain: Tahar Rahim, Niels Arestrup

Bukanlah pekerjaan gampang untuk membuat film yang bersetting didalam penjara. Selain harus memaksimalkan ruang yang relatif sempit karena syuting ditempat yang itu-itu saja, sutradara harus pintar-pintar menerjemahkan isi skenario sehingga membuat film buatannya tidak membosankan selama 2 jam. Memang tak banyak-banyak amat film penjara yang pernah dibuat karena agak sulit membuatnya menjadi film menarik dan kalau bisa cukup komersil. Lihat saja film Lock Up nya Sylvester Stallone yang membosankan dan kurang laku, walaupun menjual nama si Rambo. Berbanding terbalik dengan film bertema serupa seperti Shawshank in Redemption dan The Green Mile buah karya dari novel adaptasi Stephen King yang sangat menarik untuk ditonton. Film ini disutradarai oleh Jacques Audiard yang dikenal sebagai sutradara The Beat That My Heart Skipped, sebuah film wajib tonton yang mengantarkannya meraih gelar sutradara terbaik Cesar award. Menurutku Audiard berhasil menyuguhkan penjara sebagai sebuah tempat tinggal yang penuh dengan kesedihan, ketakutan, kekerasan, kegembiraan, kebersamaan, sekaligus tempat untuk memulai harapan baru. Continue reading ‘Un Prophete – Sang Nabi dibalik Terali’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: