Archive for the 'Recommended Movie' Category

Parasite

Saya nontonnya agak terlambat walau dari awal sudah ada keinginan untuk nonton sejak menang Palm d’Or festival film Cannes, tapi disimpan hingga akhirnya film ini menang Oscar.

Plotnya mungkin terkesan sederhana dan biasa saja, tentang keluarga miskin yang bekerja di rumah keluarga kaya dengan cara memalsu identitas.


Tapi yang bikin film ini istimewa adalah tema film dengan struktur yang berlapis-lapis, penuh bahasa simbol yang kalau dibahas tak habis dalam sehari. Bahkan jika didiskusikan lebih lanjut bakalan banyak membuka wawasan baru.


Contohnya saja banyak adegan yang menggunakan tangga dan air, silahkan pikir sendiri mengapa Bong Joon Ho banyak menggunakan tangga dan air secara filosofi dan simbolisme.

Salah satu lapisan-lapisan struktur yang ditata oleh Bong Joon Ho adalah fokus cerita tentang keluarga dalam film ini. Awalnya kita diperkenalkan dengan keluarga Kim sebagai keluarga kelas bawah dengan pembawaan dark comedy, lalu selanjutnya kita diperkenalkan pada keluarga Park dengan strata sosial elite. Lalu kita diposisikan untuk melihat interaksi simbiosis kedua keluarga Kim dan Park ini sebagai bangunan utama cerita dengan genre drama serius. Sama sekali tak kusangka kalau di pertengahan cerita, Bong Joon Ho akan memperkenalkan satu keluarga lagi di bawah tanah. Kelihatan mendadak tapi rasanya sangat mulus tanpa dipaksa karena sendari awal memang sudah disiapkan dengan detail oleh Bong Joon Ho lewat clue-clue yang tersebar dalam dialog antar tokoh bahwa ada keluarga ketiga yang akan muncul tanpa diduga dan berlanjut pada genre crime thriller di bagian akhir film. Bahkan di akhir film akhirnya aku mempertanyakan ulang, parasit yang dimaksud film ini sebenarnya yang mana? Keluarga Kim? Keluarga Park? atau semua karakter sesungguhnya parasit satu sama lain?

Salah satu hal yang bikin ternganga dari film ini adalah departemen production designer dan sinematografi. Desain rumah Kim dan kompleks tetangganya hingga rumah Park di atas bukit itu benar-benar keren, dan saya baru tau dari wawancara Bong Joon Ho kalau kedua rumah dan terutama kompleks apartemen semi-basement keluarga Kim dibangun khusus di bawah kolam renang. Ditambah sinematografi ngambil berbagai sudut pandang yang pas bikin tiap momen dalam film serasa begitu penting. Setiap kali kamera mengambil gambar tokoh masuk ke halaman rumah keluarga Park, kamera mengambil posisi memandang ke atas ke arah matahari, seakan kepala yang sedang mendongak. Sedangkan ketika memasuki kompleks tempat tinggal keluarga Kim kamera selalu mengambil posisi melihat ke bawah. Belum lagi lightening yang selalu menempatkan keluarga Park dengan rumah di atas bukit yang terang benderang terkena cahaya matahari, dibanding keluarga Kim yang hanya mendapatkan sebagian cahaya matahari karena matahari terhalang bangunan yang lebih tinggi.


Adegan yang diarahkan oleh Bong Joon Ho seakan tak ada adegan yang sia-sia karena masing-masing semuanya punya makna tersendiri, kadang kita baru sadar ketika nonton cuplikan adegan untuk yang kesekian kalinya karena baru melihat detail-detail kecil yang mungkin terlewat ketika nonton satu kali.


Seperti halnya nonton film Kore-eda, film Bong juga selalu memberikan kesan pertama ketika menonton: bikin perasaan gak enak dan campur aduk. Tapi diakhir film baru sadar kualitas filmnya memang oke punya dan mulai banyak ide dan pikiran di dalam kepala untuk membedah isi film yang tiada habisnya untuk dibahas.

Apakah Parasite memang pantas menyabet Palm de’Or? Ya, saya setuju. Memang pantas.
Bagaimana dengan Piala Oscar? Kebanyakan putusan panitia AMPAS berbau politis, tapi juri Cannes jauh lebih fair dalam menilai film.

10 Ear-worm Film (Bagian Dua)

Sambungan dari tulisan pertama.

 

6. All About Lily Chou Chou.

Berkisah tentang 2 remaja penggemar berat rocker kharismatik nan misterius bernama Lily Chou Chou, serta pengaruh musik Liky Chou Chou pada kedua karakter.
Film ini bernuansa kelam dan depresif, berisi kenakalan dan permasalahan kriminal remaja Jepang seperti bully, enjo kosai (pelacuran pelajar), pelecehan seksual, hingga bunuh diri akibat depresi.

Ini satu-satunya film yang semua lagu dalam album soundtrack kumasukkan dalam playlist dan rutin kudengar hingga lebih dari 3-4 bulan, rekor.

Lagu-lagu yang dibawakan tokoh penyanyi fiktif Lily Chou Chou dinyanyikan oleh penyanyi Jepang Salyu. Suara Salyu yang mendayu terdengar beraura mistis ketika dipadukan dengan suasana depresif film, sampai-sampai bikin ketagihan untuk didengar setelah film habis.
Ketika sedang merasa melankolis, lagu-lagi Lily Chou Chou ini cocok menemani kupingku.

Film Lily Chou Chou pernah kubahas di sini.

 

lilychou

7. That Things You Do.

Bercerita tentang band anak SMA lokal tahun 1960an yang ingin diorbitkan oleh seorang produser musik profesional menjadi band terkenal, gara-gara satu lagu mereka mendadak ngetop akibat diputar terus menerus di radio.

Nonton film ini di bioskop 21 BIP waktu masih zaman kuliah di Bandung.
Plot cerita filmnya lumayan, tapi lagu-lagu dalam filmnya catchy dan langsung nempel di kepala.
Dalam album OST-nya ada 5 lagu yang dibawakan The Wonders, band fiktif dalam film. Semuanya asyik didengar, baik yang rock n roll buat joget twist and shout maupun yang slow buat dansa dansi. Aku masih ingat sampai bela-belain ngerekam lagu-lagu mereka ke dalam kaset rekaman kompilasi lagu-lagu yang kusuka saat itu.

 

ThatThingYouDo

8. Ada Apa Dengan Cinta.

Tentang seorang gadis SMA bernama Cinta, persahabatannya dengan geng teman akrabnya, serta hubungan romantisnya dengan cowok penggemar puisi bernama Rangga.

Ini adalah satu-satunya film Indonesia dengan soundtrack yang bisa bikin aku earworm.
Lagu-lagu buatan Melly Goeslow yang di aransemen suaminya Anto Hoed ini memang pantas dan wajib masuk dalam datar 10 film ear-worm ku ini.
Lagu favoritku dalam album soundtracknya adalah Bahagia dan Tentang Seseorang.

 

9. (500) Days of Summer.

Plot film ini sebenarnya sangat sederhana. Cuma tentang pasang surutnya hubungan cinta antara Tom dan Summer. Yang membuat film ini berbeda adalah bagaimana sutradara mengemas cerita sederhana dengan cara membolak balik alur timeline penceritaan.

Ini film yang membuatku mencari-cari kembali lagu-lagu grup lawas The Smiths gara-gara lagu There is a Light that Never Goes Out terputar ulang tanpa henti di dalam kepala setelah menonton film ini. Hal sama juga berlaku setelah mendengan lagu Here Comes Your Man dari band Pixies.
Selain itu juga film ini sukses membuatku nyanyi karaoke kedua lagu di atas.
Oh iya, tak lupa aku juga mencari lagu-lagu lain dari duo Hal and Oates setelah menonton Tom menari di taman diiringi lagu You Make my Dreams dari mereka.
Salah satu romcom terbaik dengan soundtrack asyik.

 

 

10. Bohemian Rapsody.

Daftar 10 besar film ear-worm ini diakhiri dengan film autobiografi kelompok musik Rock Queen dengan vokalis flamboyannya Freddie Mercury.

Film yang diiringi lagu-lagu hits Queen ini bukan hanya mampu membuatku bernostalgia melainkan juga membuat mulutku ikut bersenandung kecil mengikuti irama lagu dan lirik yang dinyanyikan Freddie. Tak lupa setelah nonton, daftar lagu spotify-ku bertambah dengan lagu-lagu Queen favoritku hingga aku menulis daftar film ear-worm ini.

 

bohemian-rhapsody-movie-poster-review-2018

10 Ear-worm Film (Bagian Satu)

Saya suka nonton film dan saya juga suka musik, karena itu genre film musikal maupun film yang diisi banyak lagu merupakan salah satu genre yang kusuka.
Gara-gara heboh film Bohemian Rhapsody, saya jadi earworm (lagu yang sama terngiang-ngiang dalam kepala) sama lagu-lagu Queen dan memutarnya selama seminggu terakhir.
Di dalam pikiran, saya malah sudah menyusun daftar beberapa film yang bikin saya earworm sehabis nonton dan akhirnya sukses bikin saya memutar lagu-lagu dari film maupun lagu-lagu yang dibawakan musisi dalam filmnya hingga berminggu-minggu. Daftar ini cuma sekedar nomor urut, tidak ada hubungan dengan yang mana yang lebih favorit. Ini tulisan bagian pertama.

Continue reading ’10 Ear-worm Film (Bagian Satu)’

Daftar film 2017 (Januari-Juni)

Ini adalah daftar film-film yang kutonton selama 6 bulan dari Januari hingga Juni tahun 2017. Dalam setengah tahun malah tak sampai jumlahnya mencapai 30 film. Sejak punya anak memang makin bertambah sibuk, hingga waktu nonton juga semakin berkurang.

 

Continue reading ‘Daftar film 2017 (Januari-Juni)’

La La Land

LLL_Poster

Plot

Mia (Emma Stone) seorang barista yang berambisi menjadi seorang aktris bertemu dengan pianis Jazz bernama Sebastian (Ryan Gosling). Cinta, amarah, dan ambisi mewarnai perjalanan cinta mereka berdua di atas panggung kota Los Angeles.

Continue reading ‘La La Land’

When Marnie Was There

Sejak berdiri tahun 1985, Film-film buatan Studio Ghibli didominasi oleh produk buatan duo sutradara Hayao Miyazaki dan Isao Takahata. Ketika mereka berdua mulai beranjak tua, perlahan-lahan Studio Ghibli mulai mencari sutradara muda berbakat untuk menggantikan kedua sutradara legenda Ghibli tersebut. Hingga kini, baru 2 sutradara muda yang diberikan oleh Studio Ghibli untuk menggarap film mereka hingga dua kali yaitu Goro Miyazaki dan Hiromasa Yonebayashi. Film Yonebayashi yang pertama adalah Arrietty yang dirilis pada tahun 2010 dan When Marnie Was There adalah film Studio Ghibli kedua yang digarap oleh Yonebayashi. Film yang berjudul asli Omoide no Marnie ini menjadi istimewa karena ini adalah film pertama Studio Ghibli yang tidak memberikan kredit sama sekali pada duo Miyazaki-Takahata. Biasanya ada saja campur tangan mereka berdua dalam film-film buatan Ghibli, kali ini Yonebayashi benar-benar diberikan keleluasaan penuh. Yonebayashi malah ikut menulis skenario yang diadaptasi dari novel When Marnie Was There buah karya penulis cerita anak-anak asal Inggris Joan G. Robinson. Bagaimanakah hasilnya?

Continue reading ‘When Marnie Was There’

Unforgiven (1992)

Pertama kalinya aku nonton film Unforgiven saat masih duduk di bangku SMA. Saat itu pengetahuanku tentang film boleh dibilang sangat minim, hasilnya Unforgiven berlalu sebagai film yang menurutku tidak mengesankan. Maklumlah, selera film koboyku jaman itu masih tak jauh dari film dar der dor kayak Young Guns (Emilio Estevez) dan Tombstone (Kurt Russel). Karena ingin menonton film Jepang terbaru berjudul Yurusarezaru Mono yang merupakan adaptasi ulang film Unforgiven original yang disutradarai ClintEastwood, aku memutuskan untuk menonton ulang Unforgiven aslinya. Hasilnya mencengangkan karena aku mendapatkan perspektif yang sama sekali berbeda dibandingkan waktu pertama kali nonton film ini jaman SMA.

Continue reading ‘Unforgiven (1992)’

Akunin (Villain)

Ketika Kokuhaku (Confessions) memenangkan Japanese Academy Prize (JAP) sebagai film terbaik, aku tadinya sama sekali tidak kaget karena sudah bisa menebaknya. Akan tetapi yang membuatku sedikit tercengang adalah direbutnya 4 kategori utama untuk para pelakon film oleh sebuah film yang berjudul Akunin. Satoshi Tsumabuki, Eri Fukatsu, Akira Emoto, dan Kirin Kiki berhasil menyapu bersih penghargaan masing-masing untuk kategori aktor utama terbaik, aktris utama terbaik, aktor pembantu terbaik, dan aktris pembantu terbaik dalam acara JAP 2011. Bahkan Eri Fukatsu mampu meraih predikat aktris terbaik dalam acara Montreal World Film Festival. Walaupun Eri Fukatsu bermain bagus dalam Akunin sehingga mampu menyingkirkan Takako Matsu untuk didaulat sebagai aktris terbaik, menurutku akting Takako Matsu masih lebih menggetarkan dalam Confessions. Disisi lain, Akunin menurutku merupakan satu-satunya saingan berat Confessions dalam JAP 2011 untuk penghargaan film terbaik. Kalaupun Akunin akhirnya harus mengakui kekalahannya, secara keseluruhan Akunin tidaklah kalah dibanding Confessions sebagai sebuah film yang bagus. Continue reading ‘Akunin (Villain)’

Ototo (Younger Brother)

Sekali adik tetaplah adik, walaupun dia melakukan hal yang menyusahkanmu

Pernahkah anda mendengar komentar yang kira-kira berbunyi, “Dalam sebuah keluarga biasanya ada saja satu orang yang jadi troublemaker menyusahkan anggota keluarga yang lain.” Aku pernah beberapa kali mendengarnya, malah salah satunya ditujukan untuk adik laki-lakiku sendiri. Karena itu, sambil menonton film ini, aku juga sekaligus merefleksi kehidupan dan pola pandanganku sendiri tentang keluarga. Kalimat dalam quote diatas adalah ucapan kakak sepupu sekaligus kakak angkatku almarhumah Ritati, ketika adikku yang satu itu terlibat hal yang menyusahkan kami sekeluarga. Paling tidak, apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam film Ototo bisa kumaklumi karena tak jauh dari apa yang disampaikan oleh kakakku diatas. Ototo sendiri dalam bahasa Jepang berarti adik lelaki. Continue reading ‘Ototo (Younger Brother)’

Confessions (Kokuhaku)

Walaupun hukum melindungi kalian, aku tak bisa membiarkan kalian begitu saja
~Ibu guru Moriguchi~

Rasanya sudah cukup lama aku tak memberikan nilai rating lebih dari 4 untuk sebuah film. Memang harus ku akui bahwa akhir-akhir ini aku semakin pelit memberi nilai. Walaupun aku menyukai sebuah film dan kuanggap bagus, kadang kala ada unsur yang kurang memuaskanku untuk menempatkan film tersebut dibawah nilai 4. Kebetulan sekali aku menonton film yang menjadi wakil Jepang untuk beradu di ajang Academy Award tahun ini dan kali ini aku dengan suka rela memberikan nilai lebih dari 4 pertamaku di tahun 2011 untuk film yang berjudul asli Kokuhaku. Film garapan sutradara Tetsuya Nakashima (Kamikaze Girls, Memories of Matsuko) ini merupakan adaptasi novel 6 bab karya Minato Kanae yang skenarionya ditulis oleh Nakashima khusus untuk diperankan Takako Matsu. Kabarnya Nakashima tak mau membuat film ini jika bukan Takako Matsu yang berperan sebagai tokoh ibu guru Yuuko Moriguchi.
Continue reading ‘Confessions (Kokuhaku)’


Ando-kun

Live Traffic


%d bloggers like this: