Archive for the 'Recommended Movie' Category

When Marnie Was There

Sejak berdiri tahun 1985, Film-film buatan Studio Ghibli didominasi oleh produk buatan duo sutradara Hayao Miyazaki dan Isao Takahata. Ketika mereka berdua mulai beranjak tua, perlahan-lahan Studio Ghibli mulai mencari sutradara muda berbakat untuk menggantikan kedua sutradara legenda Ghibli tersebut. Hingga kini, baru 2 sutradara muda yang diberikan oleh Studio Ghibli untuk menggarap film mereka hingga dua kali yaitu Goro Miyazaki dan Hiromasa Yonebayashi. Film Yonebayashi yang pertama adalah Arrietty yang dirilis pada tahun 2010 dan When Marnie Was There adalah film Studio Ghibli kedua yang digarap oleh Yonebayashi. Film yang berjudul asli Omoide no Marnie ini menjadi istimewa karena ini adalah film pertama Studio Ghibli yang tidak memberikan kredit sama sekali pada duo Miyazaki-Takahata. Biasanya ada saja campur tangan mereka berdua dalam film-film buatan Ghibli, kali ini Yonebayashi benar-benar diberikan keleluasaan penuh. Yonebayashi malah ikut menulis skenario yang diadaptasi dari novel When Marnie Was There buah karya penulis cerita anak-anak asal Inggris Joan G. Robinson. Bagaimanakah hasilnya?

Continue reading ‘When Marnie Was There’

Unforgiven (1992)

Pertama kalinya aku nonton film Unforgiven saat masih duduk di bangku SMA. Saat itu pengetahuanku tentang film boleh dibilang sangat minim, hasilnya Unforgiven berlalu sebagai film yang menurutku tidak mengesankan. Maklumlah, selera film koboyku jaman itu masih tak jauh dari film dar der dor kayak Young Guns (Emilio Estevez) dan Tombstone (Kurt Russel). Karena ingin menonton film Jepang terbaru berjudul Yurusarezaru Mono yang merupakan adaptasi ulang film Unforgiven original yang disutradarai ClintEastwood, aku memutuskan untuk menonton ulang Unforgiven aslinya. Hasilnya mencengangkan karena aku mendapatkan perspektif yang sama sekali berbeda dibandingkan waktu pertama kali nonton film ini jaman SMA.

Continue reading ‘Unforgiven (1992)’

Akunin (Villain)

Ketika Kokuhaku (Confessions) memenangkan Japanese Academy Prize (JAP) sebagai film terbaik, aku tadinya sama sekali tidak kaget karena sudah bisa menebaknya. Akan tetapi yang membuatku sedikit tercengang adalah direbutnya 4 kategori utama untuk para pelakon film oleh sebuah film yang berjudul Akunin. Satoshi Tsumabuki, Eri Fukatsu, Akira Emoto, dan Kirin Kiki berhasil menyapu bersih penghargaan masing-masing untuk kategori aktor utama terbaik, aktris utama terbaik, aktor pembantu terbaik, dan aktris pembantu terbaik dalam acara JAP 2011. Bahkan Eri Fukatsu mampu meraih predikat aktris terbaik dalam acara Montreal World Film Festival. Walaupun Eri Fukatsu bermain bagus dalam Akunin sehingga mampu menyingkirkan Takako Matsu untuk didaulat sebagai aktris terbaik, menurutku akting Takako Matsu masih lebih menggetarkan dalam Confessions. Disisi lain, Akunin menurutku merupakan satu-satunya saingan berat Confessions dalam JAP 2011 untuk penghargaan film terbaik. Kalaupun Akunin akhirnya harus mengakui kekalahannya, secara keseluruhan Akunin tidaklah kalah dibanding Confessions sebagai sebuah film yang bagus. Continue reading ‘Akunin (Villain)’

Ototo (Younger Brother)

Sekali adik tetaplah adik, walaupun dia melakukan hal yang menyusahkanmu

Pernahkah anda mendengar komentar yang kira-kira berbunyi, “Dalam sebuah keluarga biasanya ada saja satu orang yang jadi troublemaker menyusahkan anggota keluarga yang lain.” Aku pernah beberapa kali mendengarnya, malah salah satunya ditujukan untuk adik laki-lakiku sendiri. Karena itu, sambil menonton film ini, aku juga sekaligus merefleksi kehidupan dan pola pandanganku sendiri tentang keluarga. Kalimat dalam quote diatas adalah ucapan kakak sepupu sekaligus kakak angkatku almarhumah Ritati, ketika adikku yang satu itu terlibat hal yang menyusahkan kami sekeluarga. Paling tidak, apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam film Ototo bisa kumaklumi karena tak jauh dari apa yang disampaikan oleh kakakku diatas. Ototo sendiri dalam bahasa Jepang berarti adik lelaki. Continue reading ‘Ototo (Younger Brother)’

Confessions (Kokuhaku)

Walaupun hukum melindungi kalian, aku tak bisa membiarkan kalian begitu saja
~Ibu guru Moriguchi~

Rasanya sudah cukup lama aku tak memberikan nilai rating lebih dari 4 untuk sebuah film. Memang harus ku akui bahwa akhir-akhir ini aku semakin pelit memberi nilai. Walaupun aku menyukai sebuah film dan kuanggap bagus, kadang kala ada unsur yang kurang memuaskanku untuk menempatkan film tersebut dibawah nilai 4. Kebetulan sekali aku menonton film yang menjadi wakil Jepang untuk beradu di ajang Academy Award tahun ini dan kali ini aku dengan suka rela memberikan nilai lebih dari 4 pertamaku di tahun 2011 untuk film yang berjudul asli Kokuhaku. Film garapan sutradara Tetsuya Nakashima (Kamikaze Girls, Memories of Matsuko) ini merupakan adaptasi novel 6 bab karya Minato Kanae yang skenarionya ditulis oleh Nakashima khusus untuk diperankan Takako Matsu. Kabarnya Nakashima tak mau membuat film ini jika bukan Takako Matsu yang berperan sebagai tokoh ibu guru Yuuko Moriguchi.
Continue reading ‘Confessions (Kokuhaku)’

Shall We Dansu? – Dansa sang salaryman

Quote: Mou ichi do, Jinsei ni koi site miyou
(Marilah sekali lagi mencintai kehidupan)

Film ini adalah salah satu film Jepang karya non-Akira Kurosawa yang mampu membuatku sangat terkesan. Ada beberapa alasan yang membuatku menobatkan film ini masuk ke dalam jajaran film Jepang favorite versi ku, baik secara teknis film maupun secara non teknis. Secara teknis, film ini bagus sekali dan merupakan salah satu jendela yang mengubah pandanganku terhadap realitas kehidupan sosial kemasyarakatan Jepang (sebelumnya aku terlampau silau dengan pemaparan versi animanga dan dorama yang terlalu stereotype). Secara non-teknis? Film ini adalah film Jepang pertama yang kutonton ketika aku berada di Jepang. Kemudian, aku menonton film ini bukan di bioskop ataupun lewat DVD player biasa, melainkan dalam sebuah theater kecil perpustakaan daerah kota Fujinomiya. Betul, anda tak salah baca. Theater kecil dalam perpustakaan tersebut mampu menampung penonton sekitar 20 orang dan setiap minggunya mereka memiliki jadwal pemutaran film. Perpustakaan pusat Fujinomiya (ada dua perpustakaan daerah, yang satu lagi perpustakaan barat Fujinomiya) selain menyediakan koleksi buku, koran, majalah dan macam-macam bahan bacaan, juga memiliki koleksi piringan hitam/kaset/MD/CD musik dan DVD film. Pengunjung bisa mendengarkan musik atau menonton film langsung di dalam blok-blok ruang audio visual perpustakaan (jarang kosong sih) atau juga meminjamnya dengan menggunakan kartu anggota. Fasilitas lain adalah ruang nonton film yang telah kusebutkan diatas.
Continue reading ‘Shall We Dansu? – Dansa sang salaryman’

I just didn’t do it – Jujur tempatnya di neraka

Pengadilan bukanlah tempat untuk mengungkapkan kebenaran. Tak lebih dari tempat berspekulasi menentukan bersalah atau tidak berdasarkan bukti yang dikumpulkan.
Kaneko Teppei (Ryo Kase)

Banyak orang-orang yang beranggapan bahwa perempuan Jepang adalah cewek gampangan. Tentunya ini tak bisa dilepas dari pengaruh manga/anime yang isinya menyerempet aktivitas seksual. Belum lagi dengan banyaknya produk hentai, erogame dan juga adult video yang beredar bebas dipasaran. Hal ini menyebabkan banyaknya aktivitas pelecehan seksual di Jepang semakin marak. Di kampusku sendiri sampai melancarkan kampanye anti sexual harassment yang juga merupakan kelanjutan dari kampanye menyeluruh pemerintah Jepang. Salah satu sexual harassment yang banyak terjadi justru berlangsung di dalam ruang fasilitas umum, terutama di dalam kereta listrik. Pelecehan seksual ini di Jepang disebut Chikan-痴漢, dan kebanyakan berupa meraba bagian-bagian tertentu korban dalam kondisi berdesak-desakan di dalam kereta. Perempuan yang menjadi korban biasanya tidak bisa berbuat banyak karena posisi orang-orang yang kerumunan. Terlebih lagi, usia para korban biasanya sangat muda (sekitar usia anak SMP) untuk memiliki keberanian mengungkapkan pelecehan. Jika sang korban cukup berani, dia bisa saja menangkap tangan sang pelaku dan tak melepaskannya sambil berteriak “chikan” hingga keadaannya memungkinkan untuk melaporkan si pelaku ke petugas kereta. Mengenai kasus tukang raba (groper) bisa dibaca sedikit di link tulisan ini
Continue reading ‘I just didn’t do it – Jujur tempatnya di neraka’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: