Sistem Kokudaka

Kokudaka adalah sistem distribusi pendapatan, kekayaan dan pungutan pajak pada era feodal Jepang zaman Edo (periode kekuasaan shogun Tokugawa). Unit yang dipakai adalah koku yaitu besaran volume genma (beras coklat) dengan asumsi 1 koku bisa mencukupi kebutuhan makan 1 orang selama 1 tahun.

Sebelum Kanpaku Toyotomi Hideyoshi berkuasa, Jepang masih menggunakan sistem Kinnou dan Kandaka yang berdasarkan unit mata uang dan luas tanah.

Sistem Kinnou (金納) sendiri diadopsi dari daratan China sejak era dinasti Tang hingga dinasti Ming. Pada masa Sengoku Jidai (masa perperangan), sistem Kinnou kacau balau akibat perang. Bitasen (koin logam kualitas rendah) yang menjadi dasar akomidasi sistem Kinnou mulai sulit beredar dan diperoleh, apalagi sebagian koin uang berasal dari impor kekaisaran di China. Belum lagi masalah kualitas logam yang digunakan sebagai uang semakin membuat sistem Kinnou tidak stabil dan sulit diatur.

Sedangkan sistem Kandaka (貫高制) yang berdasarkan luas tanah sebenarnya sudah dipakai sejak zaman Kamakura dan Muromachi. Seiring dengan berlangsungnya era Sengoku Jidai, perang berkelanjutan membuat sistem dan pajak pertanahan juga menjadi kacau balau seiring dengan banyak perpindahan tangan daerah dari penguasa satu ke penguasa lain.

Di lain pihak, pada era Sengoku Jidai, alat pembayaran yang mulai sering dipakai adalah perak dan perak banyak dihasilkan oleh tambang di darah barat Jepang sehingga perekonomian Jepang jadi tidak seimbang secara daerah barat kontras sekali menjadi terlihat super kaya.

Ketika Toyotomi Hideyoshi diangkat menjadi Kampaku, Toyotomi akhirnya memberlakukan Taiko Kenchi, sebuah peraturan dimana jumlah beras genma yang dihasilkan ladang ditentukan lewat skala unit bernama koku (石). Satu koku ditentukan sebesar 10 meter kubik, pada masa Meiji 1 koku dihitung sekitar 180,39 Liter, secara kasar dihitung sebagai konsumsi beras satu orang dalam setahun dengan perhitungan 3 kali makan sehari.

3 koku diikat menjadi satu.

Penggunaan Koku sebagai dasar perhitungan pembayaran pajak, penghasilan hingga gaji mulai digunakan secara luas di seluruh Jepang sejak berdirinya shogun Tokugawa. Sistem yang menggunakan unit Koku ini disebut Kokudaka-sei alias sistem Kokudaka. Dengan berlakukan Kokudaka-sei, kasta dan tingkatan para samurai mulai terlihat jelas secara jumlah besar untuk gaji mereka menunjukkan status. Makin besar koku yang diperoleh seorang samurai, makin tinggi status dan posisinya.


Apakah dengan berlakunya Kokudaka-sei menyebabkan peredaran koin sebagai alat bayar menghilang?
Tentu tidak, karena Kokudaka-sei yang berfungsi sebagai alat perhitungan dari besaran pembayaran pajak dan penghasilan (termasuk gaji para samurai). Uang koin masih beredar luas sebagai alat pembayaran jual beli, hanya saja banyak sedikit peredarannya tidak lagi mempengaruhi perekonomian Jepang karena dasar semuanya dikembalikan ke unit Koku.
Malah pemerintah Tokugawa mendirikan Zeniza (銭座) yang dioperasikan untuk memperoduksi zeni (銭) setelah organisasi swasta Kanei Tsouho yang membuat koin atas izin shogun tak mampu mengatasi kekurangan pasokan jumlah koin yang beredar. Zeniza sendiri dibubarkan setelah pasokan koin dianggap mencukupi dan seperti yang ditulis di atas, walau tak ada lagi koin yang diproduksi, tetap saja perekonomian Jepang era Tokugawa stabil karena dasar perhitungan tetap dikembalikan ke sistem Kokudaka.

Penggunaan sistem Kokudaka mulai kehilangan keseimbangan di akhir masa kekuasaan shogun Tokugawa. Salah satu penyebabnya karena faktor para samurai yang mulai banyak menukar gaji mereka yang berupa beras menjadi uang. Kokudaka yang tadinya digunakan untuk mengatasi ketidakstabilan peredaran mata uang para era Sengoku Jidai, malah menjadi tidak stabil gara-gara para samurai menjual beras gaji mereka demi mendapatkan uang. Ini disebabkan oleh jatuhnya harga beras pada awal abad 18 akibat produksi melimpah sehingga para samurai mulai merasa aman jika menabung dalam bentuk uang dibanding beras.

Sistem Kokudaka akhirnya benar-benar dihapus seiring dengan tumbangnya shogun Tokugawa dan berdirinya pemerintahan Meiji karena pemerintah Meiji melakukan revolusi besar-besaran di segala bidang termasuk bidang ekonomi dan reformasi pajak. Ditambah lagi dengan penghapusan sistem feodal dan kasta samurai menyebabkan sistem Kokudaka kehilangan makna dan stabilitasnya.

0 Responses to “Sistem Kokudaka”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Ando-kun

Archives

Live Traffic


%d bloggers like this: