Golok Bulan Sabit (Yuan Yue Wen Dao)

Cover novel Yuan Yue Wen Dao jilid pertama

小楼一夜听春雨

xiǎo lóu yí yè tīng chūn yǔ

Mendengarkan hujan musim semi pada suatu malam di loteng kecil.

Itulah syair 7 huruf yang terukir di golok melengkung milik Qingqing.

Sebuah novel Wuxia karya Gu Long.

Plot

Spoiler Alert!!!


Secara garis besar, buku Golok Bulan Sabit ini terbagi menjadi 3 bagian yaitu,

  1. Ding Peng, seorang pemuda yang masih hijau yang berambisi meraih nama besar, baru saja berhasil menaklukkan 3 pendekar ternama dengan pedangnya. Ilmu pedangnya sebenarnya tak istimewa, tapi ada satu jurus dahsyat warisan ayahnya yang mampu mengalahkan 3 jago pedang ternama. Liu Ruosong si jago pedang ke-4 yang ditantang Ding Peng menggunakan cara licik. Ding Peng tertipu, dipermalukan, ilmu pedangnya dicuri, malah Ding Peng dituduh mencuri ilmu pedang warisan ayahnya.
  2. Ding Peng merasa ingin mati. Di saat ingin bunuh diri, Ding Peng bertemu Qingqing yang mengaku sebagai siluman rase. Keduanya jatuh cinta, menikah dan hidup di lembah tempat Qingqing dan keluarga siluman rasenya berada. Ding Peng belajar dan berlatih ilmu golok warisan keluarga Qingqing selama 4 tahun hidupnya di dalam lembah.
  3. Petualangan Ding Peng dan Qingqing di dunia persilatan, membalas dendam dan menuntaskan ambisi Ding Peng menjadi jago nomor satu dunia persilatan.

Komentar

Awalnya ketika mulai membaca buku ini, saya merasa ditarik ke alam yang misterius dengan kata-kata menarik terutama syair tujuh kata yang terukir di golok melengkung milik Qingqing. Sosok Qingqing dan keluarganya yang misterius dengan golok warisan terukir syair 7 kata memberikan aura mistis. Sepertinya Gu Long memang ingin menarik pembaca untuk terus membuka halaman demi halaman untuk menelusuri rahasia keluarga siluman rase dan ilmu golok warisan mereka ini. Penggambaran kehebatan ilmu golok bulan sabit juga menarik, hanya dengan jurus berupa sekali tebasan yang berakibat lawan bisa terpotong di tengah menjadi dua bagian sama persis. Penggambarannya hanya dengan kata-kata puitis, bukan gerak jurus rumit lengkap dengan kembangannya segala melainkan sederhana tak bertele-tele.

Sayangnya gaya bertutur misterius a la Gu Long ini tiba-tiba memudar di tengah cerita pada saat Ding Peng dan Qingqing keluar dari lembah membawa serta ilmu golok dan golok pusaka warisan keluarga Qingqing. Cerita berangsur-angsur semakin tidak konsisten menuju ending.

Gu Long memang dikenal sebagai penulis wuxia yang tidak konsisten dalam bercerita. Dia bisa membuka kisah dengan elegan, mengupas peristiwa yang dialami tokoh utamanya dengan tuturan yang memikat, penokohannya juga digali secara mendalam lewat aspek psikologis, tapi sering kali bagian akhir novelnya kedodoran. Golok Bulan Sabit inipun termasuk di antaranya. Petualangan Ding Peng setelah membalas dendam terasa tidak fokus, padahal misinya menjadi jago nomor satu di kolong langit lebih dari cukup untuk dibedah lebih mendalam.

Selesai membaca novel, barulah saya mendapat info bahwa Yuan Yue Wen Dao ternyata hanya ditulis oleh Gu Long 11 bab, sisanya ditulis oleh ghost writer bernama Sima Ziyan atas persetujuan Gu Long. Memang Gu Long di bagian akhir aktivitasnya (pertengahan tahun 1970an hingga akhir hayatnya) sering kali hanya membuat cerita awal berikut mainframe keseluruhan sebelum akhirnya diselesaikan oleh penulis lain atas nama Gu Long. Jadi 11 bab tulisan Gu Long ini hanya sampai kisah Ding Peng mengalahkan sepasang walet baja demi membela Xie Xiaoyu, sisanya diselesaikan oleh Sima Ziyan.

Produktivitas Gu Long sebagai penulis wuxia termasuk luar biasa dengan puluhan judul yang dihasilkannya, sayangnya kecanduan seks dan alkohol membuat Gu Long tak bisa konsisten menulis bersamaan dengan kesehatannya yang semakin menurun. Hampir separuh judul novelnya diselesaikan oleh penulis lain, apalagi dengan sistem kontrak cerita bersambung yang dimuat dalam surat kabar dan majalah yang terbit secara berkala menuntut konsistensi sang penulis. Dengan kondisi kesehatan semakin buruk dan sering diopname di rumah sakit, terpaksa Gu Long menyerahkan sebagian karyanya ditulis orang lain dengan sepengetahuannya. Beberapa diantaranya berdasarkan supervisi Gu Long atau diberikan garis besar ceritanya hingga ending, sebagian lainnya dibiarkan atas kebebasan penulis lain.

Pergantian penulis ini kadang mengganggu alur cerita dan penokohan, terutama yang ditulis bukan berdasarkan supervisi Gu Long.

Misalnya saja tokoh Qingqing yang menurutku dimunculkan dengan sangat menarik di bagian awal cerita. Sosoknya anggun, cerdas, berilmu tinggi akan tetapi tetap misterius dengan pengakuan sebagai siluman rase. Entah apa yang melatarbelakangi Qingqing mengaku sebagai siluman rase padahal sebagai pembaca (yang sudah paham kalau Gu Long bukan pengarang genre fairy fantasy) tentu saja tahu Qingqing adalah manusia biasa. Penokohan Qingqing juga kuat, khas karakter wanita yang sering ditampilkan oleh Gu Long. Hanya saja kali ini Qingqing dibuat berbeda oleh Gu Long dibanding tipikal femme fatale ciptaannya yang lain seperti Shi Guanyin (serial Chu Luxiang), Lin Xien’er (Pisau Terbang Xiao Li) maupun Murong Qiudi (Pedang Tuan Muda Ketiga).

Qingqing bukanlah femme fatale, malah sosoknya cenderung seperti penggambaran klasik pendekar wanita a la Jin Yong yang alim, anggun, misterius, malah terkesan puitis, mengingatkan pada sosok Xiaolung Nu si Bibi Lung. Mungkin karena itu Gu Long memasukkan karakter Xie Xiaoyu yang nakal penuh muslihat, khas femme fatale Gu Long untuk mengisi posisi lawan karakter Qingqing.

Di tengah cerita, bukan hanya porsi kemunculan tokoh Qingqing berkurang banyak, bahkan karakternya ditempatkan hanya sekadar istri jagoan yang lebih banyak pasif dan berdiri di belakang kehebatan suaminya. Sayang sekali, padahal saya berharap karakter Qingqing bisa meredam ambisi suaminya yang haus nama besar dan juga bisa mengimbangi kebinalan Xie Xiaoyu. Hubungan tarik ulur suami istri Ding Peng-Qingqing bisa menjadi kekuatan cerita, suatu hal yang sayangnya memudar di pertengahan hingga akhir.

Belum lagi latar Liu Ruosong yang dari awal dikatakan sebagai murid Wudang, malah sempat pula mengkhianati perguruannya dengan membunuh Ling Xu tokoh senior Wudang yang bisa dikatakan suheng (kakak seperguruan). Ketka Ding Peng ingin menantang Xie Xiaofeng, Ding Peng bertemu Lin Ruping ketua perguruan Emei yang disebut sebagai kakak seperguruan Liu Rusong. Jadi Liu Rusong ini sebenarnya murid perguruan Wudang atau Emei?

Lalu ada lagi golok bulan sabit milik Qingqing yang katanya begitu keluar dari sarung harus minum darah lawan sehingga Ding Peng harus membuat replikanya dari bahan baja biasa yang dibuat pandai besi agar tak selalu harus mencabut golok bulan sabit yang asli. Entah bagaimana ceritanya, justru Ding Peng mulai sering mencabut golok bulan sabit untuk bertarung, cerita golok replika tiba-tiba hilang tanpa bekas.

Masih ada beberapa inkonsistensi lain yang agak mengganggu kenikmatan membaca, tapi yang paling mengganggu adalah irama penuturan cerita yang berubah drastis. apalagi endingnya yang terasa sekali dikebut paksa supaya cepat selesai.

Di luar itu, ada hal menarik lain dari Golok Bulan Sabit yaitu latar belakang tokoh utamanya Ding Peng. Biasanya Gu Long membuat pendekar jago utamanya sudah hebat dan sakti sejak awal kemunculannya. Asal ilmu kesaktiannya juga kadang tak jelas asal usulnya, tapi sang jagoan jadinya terlihat mandiri tanpa ada penyokong ketua perguruan hebat atau petapa sakti di belakangnya.

Di sini Ding Peng digambarkan hanya anak piawsu (biro pengawal barang) biasa yang miskin. Andalan ilmu pedangnya yang dahsyat juga hanya satu jurus, itupun jurus kebanggaannya dicuri dan malah dia dituduh sebagai maling. Kehebatan Ding Peng justru didapat dari ilmu golok warisan keluarga mertuanya.
Ibaratnya Ding Peng bukan cuma tidak mandiri, dia malah ikutan nebeng di rumah mertua lalu berlatih untuk menguasai ilmu golok keluarga istrinya. Tokoh Ding Peng ini diciptakan oleh Gu Long sangat berbeda dengan tipikal prodigal son a la Gu Long.

Ditambah lagi Ding Peng bukan pendekar single, belum lagi setengah cerita status Ding Peng sudah jadi suami alias sudah menikah. Mana orangnya lumayan setia sama istrinya pula, Sampai-sampai ketika kebelet pengen seks dia sengaja menahan dirinya dari pengaruh obat perangsang dengan tenaga dalam sampai istrinya datang. Di sinilah menariknya karakter Ding Peng, biasanya tokoh utama pria cerita wuxia baik karangan Gu Long Jin Yong maupun Liang Yusheng adalah lajang yang mendapatkan jodohnya di akhir cerita seperti Guo Jing dan Zhang Wuji atau malah jadi playboy seperti Chu Liuxiang dan Xie Xiaofeng.

Golok Bulan Sabit adalah sebuah karya dengan aura mistis yang menarik dengan deretan para tokoh yang siap digali kedalaman karakternya. Sayangnya semua unsur yang membetot perhatian sejak awal itu memudar di tengah cerita, apalagi menjelang akhir yang terkesan terburu-buru ingin diselesaikan dengan cepat.
Seandainya Gu Long sendiri yang menyelesaikan buku ini hingga tuntas, mungkin Golok Bulan Sabit akan lebih memorable bagi para penggemar novel wuxia.

NB.
Yuan Yue Wen Dao pernah diadaptasi menjadi film layar lebar dan serial drama dengan detail dan ending berbeda dibanding novelnya.

0 Responses to “Golok Bulan Sabit (Yuan Yue Wen Dao)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Ando-kun

Live Traffic


%d bloggers like this: