Nenek dan Polisi

Hari minggu siang hujan lebat, kami baru saja pulang dari makan siang di daerah Anjo dan berniat mau ke Toyoake karena ada janji bertemu dengan pihak real estate apartemen.

Ketika melewati pertigaan di depan Rumah Sakit Yachiyo, seperti biasa aku menghentikan mobil di depan zebra cross karena ada seorang nenek menyebrang jalan. Si nenek terlihat sudah tua sekali, rambut putih peraknya kena angin yang bertiup lumayan kencang, berjalan bertatih-tatih sambil membawa payung. Kelihatan sekali si nenek kebingungan, selain jalannya pelan terlihat kepalanya menoleh kesana kemari dengan raut muka bingung.

Refleks aku berkomentar, “Itu nenek kenapa? Nyasar kali ya?”
Istri malah lebih sigap, dia turun hujan-hujanan dan menghampiri si nenek dan bertanya, “Nenek gak papa?”

Berhubung si nenek lelet sekali gerakannya, aku berinisiatif memajukan mobil untuk menghalangi agar mobil lain yang mau lewat terpaksa bergerak agak memutar menghindari posisi si nenek.

Si nenek malah bercerita di tengah hujan kalau dia mencari alamat saudaranya yang ada di sekitar sana. Beliau bilang terakhir kali berkunjung sekitar 50 tahun yang lalu, lalu bilang umurnya sudah 94 tahun.
Aku kaget juga mendengarnya. Terang saja beliau nyasar, bangunan di sekitar Yachiyo Hospital terlihat lumayan modern, tak terlihat tanda-tanda bangunan yang usianya 50 tahun lebih.

Akhirnya istri minta si nenek naik mobil untuk diantar. Si nenek tadinya minta diantar ke stasiun terdekat saja tapi istri bilang siapa tahu si nenek nanti malah nyasar lebih jauh lagi, misalnya malah naik KRL ke arah berlawanan. Akhirnya kuputuskan untuk mengantar si nenek ke “Koban” terdekat saja. Koban adalah pos polisi kecil yang biasanya berisi 2 polisi patroli dan berada di sekitar daerah yang ramai seperti stasiun besar.

Karena posisi kami tak jauh dari stasiun Shin-Anjo yang lumayan besar, kuputuskan untuk pergi ke sana. Tanpa kusadari dari belakang ada mobil Daihatsu Tanto hitam mengikuti mobil kami.

Sampai depan stasiun, aku kebingungan karena tak terlihat ada Koban dan berniat bertanya pada salah satu kedai di sebelah stasiun. Mobil Daihatsu Tanto hitam yang tadi mengikuti kami berhenti di belakang dan keluar seorang ibu. Baru aku sadar kalau si ibu khawatir melihat si nenek masuk mobil kami dan dia bertanya, apakah si nenek gak papa dan kami mau kemana?

Kubilang saja si nenek minta diantar ke stasiun dan mau pulang naik KRL tapi kami putuskan untuk mengantarnya ke Koban di stasiun Shin-Anjo karena khawatir si nenek nyasar lagi. Ternyata di stasiun Shin-Anjo tak ada Koban.

Si ibu bilang kalau Koban terdekat ada di sebelah Anjo Sports Center Park, sekitar 1.5 km dari stasiun Shin-Anjo.

Jadilah kami pergi ke Anjo Sports Center Park dan mencari Koban di sana, si ibu yang naik Daihatsu Tanto hitam ternyata sudah tidak mengikuti kami lagi.

Sampai depan Koban, aku memberhentikan mobil dan istri membantu si nenek turun untuk diantar ke depan pos polisi. Ada 2 polisi di dalam Koban, satu masih muda dan satu lagi sudah paruh baya. Polisi yang lebih tua menuntun si nenek masuk ke Koban dan menyuruh yang muda untuk mencatat laporan.

Istri sudah kembali masuk mobil dan karena masih hujan deras, si polisi muda memintaku untuk berteduh di depan Koban untuk mencatat laporan.
Pertama, seperti biasa dia bertanya data pribadi seperti nama, alamat hingga nomor telepon. Yang aku tak menyangka dia juga bertanya pekerjaan dan nama serta alamat perusahaan tempatku bekerja. Teman Jepangku bilang seharusnya dia tak perlu minta data perusahaan dan kita bisa menolak menjawab. Tapi karena ada janji dan ingin cepat selesai, aku memberikan semua detail yang dia minta.

Setelah itu barulah dia bertanya kronologi kami bertemu si nenek, di lokasi mana, sekitar jam berapa, dll. Setelah semuanya selesai barulah aku bisa kembali ke mobil dan melanjukan perjalanan ke Toyoake.

Sebenarnya aku sudah sadar kalau pergi ke Koban akan berurusan dengan birokrasi yang agak memakan waktu.

Lalu kenapa kami tetap memutuskan pergi ke pos polisi? Karena polisi Jepang pasti mau mengurus dan mengantar si nenek sampai rumahnya. Daripada si nenek nyasar lagi naik kendaraan umum, mending beliau diantar polisi langsung ke rumahnya pakai mobil patroli, apalagi mencari alamat si nenek bukan masalah besar bagi polisi.

Sekalian membantu polisi Jepang yang kadang kurang kerjaan tak punya hal untuk dilaporkan sehingga mereka kadang iseng ngumpet di persimpangan nyari mobil yang menerobos lampu kuning, atau mencari mobil melewati batas kecepatan yang ditentukan, atau kadang memberhentikan pengendara sepeda bertampang gajin (orang asing) untuk diminta KTP, demi mendapatkan laporan supaya gak dianggap nganggur di waktu kerja.

0 Responses to “Nenek dan Polisi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Ando-kun

Live Traffic


%d bloggers like this: