The Longest Day in Chang’an (Review)

Changan

Plot
Dinasti Tang pada masa pemerintahan Kaisar Xuanzong, era Tianbao tahun ke tiga (tahun 744 Masehi), menjelang pesta besar festival lentera.
Zhang Xiaojing (Lei Jiayin), seorang komandan penyidik dijatuhi hukuman mati karena membunuh atasannya yang menuduhnya menyalah gunakan jabatannya sebagai komandan penyidik untuk membunuh 34 anggota gangster.

Li Bi (Jackson Yee), kepala divisi anti-teror Jing’an, datang membebaskannya dan berjanji akan membantunya untuk diberi grasi oleh putera mahkota asalkan berhasil  membantu divisi Jing’an memecahkan kasus teror menjelang festival lentera di ibukota Chang’an.

Mereka hanya punya waktu 24 jam sebelum aksi teror dimulai pada saat Kaisar Xuanzong meresmikan dimulainya acara festival lentera Chang’an.

Dilain pihak, terjadi intrik politik 2 faksi berseteru dalam istana antara putera mahkota Li Yu dan kanselir Lin Jiu-lang.

Data

Judul asli: Cháng’ān Shīèr Shíchén (12 jam di Chang’an)

berdasarkan novel historical fiction karya Ma Boyong.

Jumlah episode: 48

Sutradara: Cao Dun

Komentar

Serial ini memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi serial drama sejarah favoritku. Plot yang menegangkan, kejadian fiksi yang dimasukkan dengan pas ke dalam alur sejarah asli, intrik politik menarik, sinematografi menawan, kombinasi seimbang antara tokoh sejarah dan karakter fiksi serta detail tata artistik yang cukup meyakinkan.

Yang menjadi pusat perhatianku sejak awal adalah departemen artistik yang menampilkan Chang’an era Tianbao dengan apik. Bangunan, kostum, tata rias, tata rambut, makanan hingga prilaku masyarakat lokal ditampilkan dengan akurasi di atas rata-rata. Sutradara Cao Dun sendiri mengakui keinginannya agar suasana Chang’an pada era Tianbao seakurat mungkin dengan cara selalu mengkonsultasikan tim artistiknya dengan ahli sejarah dinasti Tang. Dikombinasikan dengan sinematografi dan tata cahaya menawan, hasilnya menjadi tayangan kelas satu.

Detail busana dan make-up serial ini memang mencengangkan, baik untuk adegan melibatkan masyarakat biasa maupun para bangsawan istana. Aku malah sempat iseng memeriksa peta Chang’an pada masa dinasti Tang secara historis dan sekedar mencocokkannya dengan kota Chang’an dalam serial ini, ternyata pas. Sampai membuatku berdecak kagum dengan keseriusan detail pembuatan serial ini hingga ke hal-hal remeh.

Misalnya saja Xi Shi (pasar barat) yang terletak di ujung barat kota Chang’an di awal episode satu terlihat banyak pedagang asing. Ini terjadi karena pemerintah dinasti Tang melarang orang lokal mengimpor sendiri barang luar negeri sehingga banyak orang asing terutama dari daerah Sogdia (Persia) datang untuk menjual produk mereka pada orang lokal di Chang’an. Pemerintah daerah Chang’an mengkhususkan pasar barat sebagai daerah orang asing untuk berniaga. Jadinya di Xi Shi memang jadi tempat kumpul banyak orang-orang asing terutama orang Persia yang membawa barang dan ini juga menjelaskan kenapa banyak unta berkeliaran di Xi Shi. Itu pula sebabnya masakan daging domba yang dibawa orang Sogdia jadi populer di Xi Shi, seperti yang diperlihat karakter Zhang Xiaojing dan Longbo ketika memesan sup dan daging domba di kedai makanan.

Salah satu detail yang menarik perhatian adalah salam pada era dinasti Tang dengan menyatukan kedua belah tangan dikepal dengan jari jempol dan kelingking saling menyilang. Hal lain yang menarik lainnya adalah penggunaan menara pengawas yang diposisikan di lokasi strategis untuk menyampaikan informasi dengan cepat. Kemudian juga bagaimana para staff istana menemaramkan cahaya agar kaisar yang ingin beristirahat bisa santai di depan para pejabat istana yang sedang berkumpul.

Plot cerita yang menampilkan protogonis berlomba dengan waktu untuk memecahkan kasus sebelum aksi teror terjadi dieksekusi hingga terasa menegangkan bagi yang menonton. Hampir tak ada celah untuk mengendorkan ketegangan penyelidikan di setiap episode sekaligus membuka simpul-simpul misteri untuk mendapatkan beberapa plot twist yang tersimpan cukup rapi dari awal hingga akhir. Bahkan ketika kasus teror berhasil dipecahkan 6 episode sebelum final sekalipun, serial ini masih menampilkan epilog berupa aksi penculikan yang tak kalah seru.

Adegan aksi yang ditampilkan pun tak dibuat main-main, terutama adegan kejar-kejaran dengan kaki dan kereta kuda di jalan-jalan utama kota Chang’an. Aksi parkour yang digunakan di atas atap maupun ketika kebut-kebutan dengan kereta kuda di antara lentera raksasa dieksekusi dengan keren. Aktor Lei Jiayin kabarnya sampai bolak balik 4 kali dirawat di rumah sakit karena cedera gara-gara dedikasinya ingin melakukan hampir semua adegan stunt dalam serial ini.

Walau aksi teror dalam serial ini adalah kejadian fiktif, intrik politik dalam istana kekaisaran adalah hal nyata. Secara historis, pada masa pemerintahan kaisar Xuanzong memang terjadi friksi beberapa kekuatan dalam istana yang mengerucut menjadi 2 yaitu faksi pangeran mahkota dan kanselir Li Linfu (dalam serial ini tokoh Lin Jiu-lang di dasarkan pada karakter asli dalam sejarah kanselir Li Linfu). Aksi saling sikut, saling tunding dan suap sana sini hingga kirim mata-mata orang dalam bisa diperlihatkan dengan menarik. Bahkan ada saat ketika aku lebih tertarik menebak arah intrik politik ini dibanding pemecahan kasus teror.

Puncaknya adalah perpaduan karakter fiktif dan tokoh sejarah yang dikombinasikan dengan menarik. Para tokoh sejarah ini tetap ditampilkan dengan sifat-sifat asli mereka meskipun dalam beberapa hal mengalami beberapa perubahan agar tetap adaptif dengan plot cerita dan tetap mulus hubungannya dengan karakter fiktif.

Tokoh sejarah yang paling kusuka adalah si multi-talenta penuh muslihat Yuan Zai, penggambarannya sebagai pejabat rendahan yang menggunakan muslihat agar bisa naik pangkat dengan cepat sesuai dengan karakter dalam sejarah aslinya. Di jajaran tokoh fiktif, selain karakter utama Zhang Xiaojing, karakter antagonis Long Bo dan si budak Tan Qi yang imut juga menarik perhatian. Dengan akting para aktor dan aktris di atas rata-rata, karakter fiktif maupun tokoh sejarah terlihat hidup dan meyakinkan.

Pada akhirnya, serial ini intinya ingin menyajikan kisah cinta tak terbalas, sebuah kisah cinta bertepuk sebelah tangan pada tanah airnya yang membalas dengan kepahitan.

Bagaimana ada tokoh yang mencintai tanah airnya dengan tulus hingga rela menderita walaupun negara malah menelantarkannya.

Ada pula tokoh yang memiliki cinta yang sama besar, tak betah disakiti hingga akhirnya berbalik balas mengancam agar cintanya mendapat pengakuan.

Sebuah kisah yang mengingatkan pada orang-orang yang terlibat dalam peristiwa PRRI/Permesta, konflik di Aceh hingga yang terbaru konflik di Papua.

Trivia sejarah.

Novelis Ma Boyong yang menulis novel aslinya dikenal sebagai penulis novel sejarah yang selalu menggunakan data sejarah asli dalam novel fiksi sejarah tulisannya setelah melakukan riset mendalam. Ini ada beberapa data sejarah menarik yang digunakan adaptasi serialnya.

Nama

Banyak nama karakter dan lokasi sejarah asli yang sedikit dimodifikasi untuk menghindari sensor ketat pemerintah China yang melarang penggunaan detail info sejarah asli untuk cerita fiksi di televisi. Biasanya pihak rumah produksi mengakalinya dengan menggunakan karakter huruf hanzhi berbeda tapi dibaca dengan lafal yang sama seperti nama era Tianbao (dengan hanzhi 天宝) diubah menjadi Tianbao (dengan hanzhi 天保).

Cara lainnya adalah mengganti nama tokoh seperti misalnya Li Linfu menjadi Lin Jiulang, atau menggunakan nama kecil seperti nama putera mahkota Li Heng yang pernah menggunakan nama Li Yu. Ada pula penggunaan nama gelar seperti Pangeran Yong yang aslinya bernama Li Lin maupun Lady Taizen yang merupakan gelar taoism Yang Guifei.

Waktu

Penunjukkan jam pada masa dinasti Tang di sebut Shíchén. Satu jam Shíchén setara dengan 2 jam waktu perhitungan masa sekarang. Karena itu satu hari 24 jam pada masa itu setara dengan 12 jam Shíchén. Ini menjelaskan judul asli film dan novelnya 12 jam Shíchén di Chang’an yang berarti 24 jam (masa sekarang) di Chang’an.

Makanan

Orang-orang lokal Chang’an memiliki buah-buahan khas kesemek yang diminum langsung dari buahnya dengan sedotan yang ditancapkan ke buahnya seperti minum jus. Zhang Xiaojing minum jus kesemek ini pada episode 2.

Selain itu juga pada masa dinasti Tang, mengunyah daun mint (mentol) merupakan kebiasaan umum seperti halnya makan daun sirih di nusantara pada masa kerajaan Majapahit. Berbagi daun mint untuk dikunyah merupakan kebiasaan lokal untuk berbagi keakraban.

Menara pengawas

Walaupun menara pengawas dalam serial digunakan untuk mengirim pesan berkode rahasia oleh divisi Jing’an adalah fiksi, menara pengawas pada masa dinasti Tang memang umum didirikan di lokasi strategis untuk menyampaikan informasi dengan cepat dari ujung kota satu ke ujung lainnya. Biasanya info kondisi darurat yang ingin disampaikan dengan segera seperti misalnya kebakaran.

Bersambung ke tulisan bagian kedua tentang karakter sejarah

2 Responses to “The Longest Day in Chang’an (Review)”


  1. 1 nur h. fauziah September 6, 2019 at 5:37 am

    Berbagi daun mint untuk dikunyah merupakan kebiasaan lokal untuk berbagi keakraban.

    Kalo sekarang “Bagi rokoknya donk!” Jadi jaman itu “Bagi mint nya donk!” 😀

    • 2 AnDo September 11, 2019 at 1:08 am

      Iya, analoginya memang seperti itu.
      Tapi saya lebih membayangkan orang makan sirih sih.
      Ada gak ya orang2 era Majapahit nongkrong nawarin sirih spy akrab?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: