Stranger Things Season 3

ST3

 

Plot

Tahun 1986 di kota Hawkins, Eleven, Mike, Lucas, Dustin, Will dan Max sudah tumbuh menjadi anak remaja.
Ketika benih cinta monyet mulai tumbuh di antara mereka, sebuah mall baru yang besar berdiri di kota Hawkins, lengkap dengan bioskop, toko busana hingga toko es krim yang menjadi lokasi keren buat kencan para remaja kasmaran.

Setelah lulus SMA, Steve bekerja di toko es krim dalam mall bersama partner penjual es krimnya Robin, sementara itu Nancy dan Jonathan kerja magang di kantor surat kabar lokal. Berbarengan dengan berdirinya mall, pusat kota Hawkins jadi sepi kehilangan pembeli yang lebih tertarik dengan mall megah.

Kota Hawkins yang berturut-turut mengalami teror monster dunia up-side down perlahan mulai ramai kembali. Apakah teror monster dunia up-side down telah berakhir?
Sepertinya belum.

Komentar

Seperti yang kutulis pada ulasan season 2, karakter-karakter bocah serial ini sudah mulai mentok dan butuh penyegaran. Penambahan karakter baru juga tak terlalu banyak menolong sehingga serial ini memang butuh move on dengan tema baru kalau ingin tetap menarik.

Beruntung Duffer Brothers sadar akan hal ini, mereka mengarahkan tema petualangan imajinasi anak-anak ini menjadi kisah coming of age yang diwarnai aksi teror monster up-side down. Pilihan yang jitu apalagi mengingat usia para aktor cilik serial ini sudah beranjak remaja, jadinya memang tepat untuk mengalihkan genre cerita ke coming of age. Boleh dibilang perubahan genre inilah yang membuat Stranger Things season 3 lebih baik dibanding season 2.

Coming of Age mewarnai season 3 dengan girl talk El dan Max, si jomblo Will yang merasa ditinggal teman-temannya yang kasmaran, hingga El yang menjauhi Hopper yang dianggap orang tua gak ngerti dunia anak remaja.

Kalau season 1 punya Barb dan season 2 punya Bob, karakter baru yang menarik dalam season 3 ini adalah Robin, rekan penjual es krim Steve di toko dalam mall. Tokoh Robin diperankan dengan baik oleh Maya Hawke, anak dari Ethan Hawke dan Uma Thurman.

Dengan pengembangan karakter yang signifikan, baik untuk para bocah yang beranjak remaja maupun Steve dkk yang telah dewasa, Stranger Things tetap menarik untuk ditonton tanpa perlu para tokohnya dibuat jalan-jalan terlalu jauh seperti halnya Eleven di season 2 harus mlipir ke Chicago hingga membuat cerita season 2 kurang fokus.

Selain itu juga ada tambahan plot womance antara dua gadis remaja Eleven dan Max, sebuah ikatan persahabatan baru setelah hubungan keduanya terlihat dingin pada season 2 gara-gara sifat Max yang menyebalkan.

Ditambah dengan bumbu konflik perang dingin Sovyet-Amerika, season 3 ini layak untuk mendapat kesempatan untuk dinikmati para penggemar pop culture era 1980an dengan iringan musik-musik asyik dari era 1980an.

 

 

 

 

 

2 Responses to “Stranger Things Season 3”


  1. 1 Ranger Kimi July 15, 2019 at 12:10 am

    Aku baru selesai nonton ini semalam. Dan aku lebih suka season ini ketimbang season 2. Lebih seru dan berwarna, dan si Joyce gak jadi emak-emak yang berlebihan paniknya. Hahaha. Oh iya, Robin emang keren! Dia termasuk yang bikin season ini jadi segar. Aku suka Robin. 😀

    • 2 AnDo July 16, 2019 at 4:19 pm

      Yup. Season 2 itu sebenarnya mengulang teman yang sama dgn season 1 jadinya pengembangan karakternya mentok. Season 3 ini ngambil jalan yang berbeda, jadinya lebih segar.
      Tiap season emang selalu menampilkan karakter menarik, yang season 3 ini bintangnya emang Robin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: