Ramy (Season 1)

Ramy

 

Jarang sekali ada serial komedi yang mengetengahkan tentang minoritas muslim yang hidup di negara  mayoritas non-muslim. Kalau film action thriller sih banyak, terutama yang menampilkan minoritas muslim sebagai antagonis terutama yang berkaitan dengan terorisme dan Islamophobia.

Serial komedi terakhir jenis ini yang kutonton adalah serial Kanada berjudul Little Mosque in Prairie yang berakhir tayangannya pada tahun 2012 lalu.
Setelah sekian lama tak ada serial komedi genre ini tak ada yang menarik perhatian, baru serial Ramy ini membuatku tertarik untuk nonton serial dengan tema unik seperti ini.

Ramy mengetengahkan pemuda millennial Amerika awal usia 20an tahun bernama Ramy Hassan (diperankan Ramy Youssef). Ayah Ramy adalah imigran asal dari Mesir dan ibunya berasal dari Palestina, Ramy bersama adiknya Dena lahir dan besar di New Jersey. Dibesarkan dalam latar keluarga muslim, Ramy terjebak secara spritual di antara etnis Arabnya, niatnya untuk tetap beragama Islam serta pergaulan dalam kultur Amerika yang dijalani dalam kehidupannya sehari-hari. Perjalanan spiritual Ramy selalu mengalami ujian  setiap hari hingga akhirnya Ramy memutuskan untuk kembali ke akarnya, Ramy pergi ke Mesir mencari kakeknya untuk menemukan pencerahan.

 

Serial ini mungkin tidak bisa melucu secara terus-terusan karena berada di tengah-tengah drama serius, tapi dalam beberapa momen Ramy bisa membuat penonton tertawa terbahak sekaligus awkward dengan tingkah Ramy dan keluarganya dalam adegan dan dialog yang sederhana. Terombang-ambingnya Ramy secara spiritual adalah drama yang ditawarkan, sedangkankan adegan komedinya diselipkan di antara eksplorasi Ramy dalam menerapkan idealismenya dalam aktivitas keseharian. Misalnya saja adegan flashback pada episode 4 yang membahas tentang Islamophobia dan perilaku rasisme yang dialami Ramy kecil pasca serangan gedung WTC pada 11 September. Rasanya sulit tidak simpati pada Ramy kecil yang mendapat tatapan curiga sesama teman sekelasnya yang masih SD, sampai-sampai Ramy ngeles dia bukan orang Arab melainkan orang Afrika (Mesir letaknya di benua Afrika) malah terasa miris dibanding lucu.

Topik yang dibahas juga lumayan variatif dari soal ta’aruf, misogyny, Islamophobia, anti-semit, keperawanan dan stereotip pandangan orang Amerika tentang muslim, tentunya semua dibawakan dalam perspektif minoritas muslim muda milenial yang tinggal di Amerika.

 

Selain itu juga tokoh-tokoh pendukungnya juga punya karakter yang mengundang tawa seperti keluarga Ramy yang di Mesir kayak para pamannya yang fans berat Donald Trump dan Al-Sisi hingga sepupunya yang kebarat-baratan. Tapi favoritku tetap uncle Naseem adik ibunya Ramy yang misogynist, anti-semit sekaligus kapitalis tulen. Omongan sarkas uncle Naseem ini nyelekit diantara aroma rasis bercampur semangat kapitalis khas Amerika.

 

Mungkin serial ini tak cocok tayang di TV Indonesia karena konten liberalnya akan menyinggung beberapa pihak. Bayangkan, Ramy yang shalat 5 waktu dan nggak mau minum alkohol ternyata masih ok saja melakukan hubungan seks di luar nikah. Memang sih dia merasa harus berbenah tapi lingkungan menyebabkan Ramy gagal melulu mewujudkan keinginannya menjadi muslim yang ideal. Mungkin anda banyak menemukan muslim yang sangat ketat mempersoalkan makan babi haram tapi minum khamar dan seks bebas jalan terus.

Belum lagi episode Do the Ramadhan yang memperlihatkan Ramy berusaha kusyuk menjalankan Ramadhan dengan cara menghentikan nonton film porno dan seks (luar nikah tentunya). Tentunya di luar Ramadhan, aktivitas ini bisa balik lagi dalam kehidupan sehari-hari.

 

Bagi muslim yang pernah tinggal di negara yang penduduknya mayoritas non-muslim, mungkin serial ini jatuhnya lebih lucu dan lebih nyelekit karena pengalaman hidup sehari-hari ketika berada di posisi sebagai minoritas. Tapi secara keseluruhan, serial ini tetap menarik untuk disimak, terutama dengan keringnya tontonan komedi bertema kehidupan minoritas muslim di negara seperti Amerika Serikat.

0 Responses to “Ramy (Season 1)”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: