In Memoriam My Father

———————————-

Mengenang Ayahku

Muhamad Jusuf bin Denan bin Hasan

(8 Januari 1943 – 25 Oktober 2018)

Ayah lahir di Kampong Ujong, kota Tanjung Pandan, Pulau Belitung, sebagai anak bungsu dari 6 bersaudara, sehingga ayah kerap dipanggil Pak Busu.

Kakekku Denan bin Hasan adalah orang Melayu Belitung, seorang pegawai bagian pergudangan perusahaan tambang milik pemerintahan Hindia Belanda di Belitung yang mahir berbahasa Belanda, sedangkan nenekku Halimah menurut ayahku adalah keturunan pendatang dari Jawa Timur.

Ayah kakekku bernama Hasan, seorang pemain rebab yang sering keliling kampung memainkan alat musiknya mengiringi acara kenduri. Menurut ayah, Ki Hasan matanya buta permanen pada usia pertengahan baya setelah mandi malam-malam di sungai, entah apa sebabnya. Walau tak bisa melihat, Ki Hasan masih tetap piawai memainkan jemarinya di atas senar rebab dan tetap sering diundang mengisi acara kenduri dari kampung ke kampung.

 

Ketika masih kecil ayah sudah menjadi anak piatu, ibunda beliau Halimah meninggal dunia karena sakit. Beberapa bulan kemudian, kakekku berencana untuk menikah lagi supaya ada ibu yang bisa mengurus ayah dan abang beliau Sulaiman yang juga masih balita.

Saat itu adik kandung Ki Hasan (aku lupa namanya) dan istri beliau yang tak memiliki anak, berinisiatif meminta agar mereka saja yang membesarkan ayah dan pak Kulai (panggilan kami untuk Sulaiman). Sejak itu ayah menganggap adik kakek beliau dan istrinya sebagai kakek dan nenek kandung sendiri. Karena itu pula, ayah lebih akrab dengan pak Kulai dibanding abang dan kakak beliau yang lain karena mereka besar bersama di bawah satu atap.

 

Di Belitung saat itu belum ada SMA, sehingga ayah minta pada Ki Denan agar bisa pergi ke Jawa untuk melanjutkan sekolahnya setamat SMP. Walau sempat keberatan, tapi akhirnya kakekku mengijinkan ayah untuk merantau ke Jogjakarta.

Cerita beliau tentang suasana Jogjakarta sewaktu bersekolah cukup mengesankan. Beliau bercerita tentang tetangga kost seorang mahasiswa yang suka menyanyi sambil bermain gitar bernama Koes Hendratmo ikut menginspirasi ayah ikut belajar bermain gitar. Kata ayah, beliau lebih cepat belajar alat musik kemungkinan karena darah seni mengalir dari Ki Hasan sang pemain rebab, padahal Ki Denan sama sekali tak pandai bermusik.

 

Soal kepandaian bermusik ini, aku diajari oleh ayah cara bermain keyboard dan gitar. Awalnya kelas 4 SD ketika masih tinggal di kota Kelapa Kampit, ayah mengajari aku cara bermain gitar. Sayangnya gara-gara jari jemariku perih karena memencet senar, aku malah berhenti belajar main gitar setelah satu minggu dan beralih belajar kepandaian beliau yang lain yaitu bermain keyboard.

Lagu pertama yang mampu kumainkan dengan keyboard beserta kunci-kuncinya yang sederhana adalah lagu La Paloma, sedangkan lagu kedua yang mampu kumainkan dengan baik adalah lagu Yellow Bird.

Semua kupelajari dengan memakai keyboard merk Yamaha berwarna biru yang ayah beli di Jakarta.

Ketika aku kelas 2 SMA dan melihat teman-teman yang lain terlihat keren bermain gitar memainkan lagu-lagu Slank dan Guns N’ Roses, aku jadi tertarik kembali ingin belajar main gitar.

Ketika aku meminta beliau mengajariku, ayah malah bercerita tentang cara Yasir Syam mengajari beliau bermain keyboard lalu mulai mengajari aku dengan cara yang sama walau dibalik. Pertama ayah menunjukkan chord C dengan gitar, lalu dibandingkan dengan chord C dengan keyboard sambil menjelaskan chord mayor semuanya menggunakan notasi Do, Mi dan Sol. Kemudian beliau menyuruhku mencari sendiri chord D, G, A dan seterusnya sembari menunjukkan chord F yang agak sulit bagi pemula.

Selain itu ayah juga menunjukkan cara menghitung notasi agar mudah dicari. Beliau mengajari aku bermain gitar dengan gitar Yamaha yang sudah agak retak bagian leher gitarnya.

 

Kembali ke cerita ayahku.

Menjelang beliau lulus SMA, Indonesia mengalami euphoria mobilisasi massa untuk pembebasan Irian Barat yang dikenal dengan nama operasi Trikora. Ayahku termasuk pemuda yang terbakar semangatnya dengan pidato presiden Soekarno yang berapi-api sehingga ikut mendaftar masuk dinas ketentaraan.

Untuk lolos masuk, semua peserta wajib menyertakan surat izin dari orangtua sehingga ayah mengirim surat izin tersebut ke Belitung untuk ditandatangani kakekku. Rupanya Ki Denan tak setuju karena beliau mengirim anaknya ke Jogjakarta untuk bersekolah, bukan agar bisa pergi dan mati di rimba belantara Irian Barat.

Sempat minta izin untuk meneruskan pendidikan dan kuliah di Jogjakarta, tapi akhirnya ayah manut untuk pulang ke Belitung karena kakekku bilang tak punya biaya lebih untuk anaknya masuk dunia perkuliahan.

 

Pulang ke Belitung sempat luntang lantung tak bekerja hanya nge-band bersama teman-teman beliau. Akhirnya setelah sedikit dipaksa kakek, ayah melamar ke BUMN terbesar di Belitung yaitu PT. Tambang Timah Unit Penambangan Timah Belitung (UPTBel).

Gara-gara kakekku dikenal orang-orang UPTBel sebagai pak Denan orang pergudangan, ayah disuruh masuk ke bidang yang sama dengan kakekku.

Jadilah ayah kuli gudang UPTBel. Karir beliau menanjak sedikit demi sedikit hingga terakhir ditunjuk menjadi Kepala Bagian Pergudangan.

 

Suka duka bertahun-tahun bekerja di UPTBel hingga akhirnya kejayaan UPTBel runtuh seiring dengan jatuhnya harga timah dunia dan para pegawai UPTBel mendapat PHK massal.

Ayah sempat down hingga sakit-sakitan karena termasuk karyawan yang terkena kebijakan “pensiun dini”. Semangat beliau sempat bangkit kembali ketika diterima bekerja di koperasi mantan karyawan UPTBel dan aktif di sana hingga pensiun.

 

Awalnya ayah bukanlah orang yang religius, beliau bahkan sering minum alkohol di masa mudanya ketika sibuk main band.

Adalah ayah mertua beliau kakek Amir Siregar, yang akhirnya mengubah jalan hidup ayah. Dari hanya disuruh membaca buku-buku koleksi kakek Amir (buku-buku dalam perpustakaan kek Amir sekamar penuh dan mayoritas buku agama) sampai akhirnya sering diajak diskusi dan sejak itu ayah benar-benar berubah gaya hidupnya.

Ayah mulai belajar agama Islam secara lebih mendalam, rutin mendirikan salat wajib dan sunnat dan mulai sering ikut pengajian. Di hari tuanya, beliau senang sekali jika diajak ke toko buku dan memilih buku-buku agama untuk dibeli dan dibaca di rumah.

Sebelum dihinggapi penyakit pikun, ayah setiap hari masih rutin membaca Al Qur’an dan pergi salat wajib lima waktu ke mesjid dekat rumah.

 

Insya Allah beliau wafat dalam keadaan khusnul khatimah.
Aamiin ya Robbal Alamin.

 

6 Responses to “In Memoriam My Father”


  1. 1 jensen99 October 27, 2018 at 10:40 am

    Turut berdukacita, ando. Semoga semua yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan. 😦

  2. 3 Eka Novita October 27, 2018 at 11:25 am

    Turut berduka cita. Allahumma firghlahu wa’afiini wa’fuanhu.

  3. 5 Kasamago November 5, 2018 at 2:12 pm

    Masyallah.. terharu baca nya gan..
    Saya jadi inget Ayah saya sendiri yang baru saja Pensiun menikmati masa2 Tua nya.

    Bismillah Khusnul Khotimah.. Turut Berbela Sungkawa. Semangat Selalu untuk anda dan keluarga.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: