Lautaro dan Xian

Sebagai fans Inter Milan, kebetulan sekali saya menonton 2 pertandingan pre-season Inter Milan (melawan Zenit dan Sheffield United) dan melihat ada 3 pemain anyar yang permainannya terlihat menonjol, bahkan lebih menonjol dibandingkan muka-muka lama pemain regular. Pemain pertama adalah Kwadwo Asamoah yang direkrut dari Juventus secara gratisan. Asamoah cukup lama bermain di liga serie A Italia sehingga wajar saja terlihat langsung klop dengan gaya dan taktik tim. Untuk itu saya fokus membahas 2 pemain lain yang masih muda dan baru pertama kali main di liga serie A Italia yaitu Lautaro Martinez (21 tahun) dan Xian Emmers (19 tahun).

LAUTARO

Pemain Argentina Lautaro Javier Martinez direkrut dari klub liga Argentina Racing Club berkat koneksi Argentina. Lautaro diminati banyak klub besar Eropa walau terlihat dua klub Madrid paling serius mau merekrutnya. Meskipun Real Madrid yang terlihat ingin membangun tim muda melakukan pendekatan serius, Atletico Madrid lah yang hampir mendapatkan tanda tangan Lautaro berkat pengaruh pelatih Atletico Madrid yang notabene orang Argentina yaitu Diego Simone. Untunglah legenda Inter Milan Diego Milito berhasil menggagalkan transfer Lautaro ke klub Spanyol itu. Pahlawan gelar treble Inter Milan itu setelah pensiun bekerja sebagai sporting director Racing Club dan menginginkan Lautaro mengikuti jejaknya bermain bersama Inter Milan. Bersama wakil presiden Inter Milan Javier Zanetti yang juga legenda Argentina, mereka berdua sukses membujuk Lautaro untuk memilih Inter Milan.

Pada pertandingan banjir gol melawan Zenith yang berakhir 3-3, Lautaro bermain sebagai striker tunggal menggantikan Icardi dan mencetak satu gol. Terlihat Lautaro memiliki skill dribbling bagus, fisik yang kuat  dan tendangan keras serta suka bekerja keras untuk mendapatkan bola. Dari sini saya bisa meilhat betapa Lautaro berbeda dengan Gabigol yang minta dilayani, sering menunggu operan daripada bergerak mencari bola. Lautaro adalah striker pekerja keras.

Dalam laga melawan Sheffield United, Lautaro dipasang sebagai second striker bertandem dengan Icardi yang bermain sebagai striker utama dalam skema 4-4-2. Gol yang dicetak Icardi bermula dari umpan matang Lautaro untuk Candreva yang diteruskan ke Icardi. Dalam pertandingan ini Lautaro sering turun ke tengah dan rajin  menjemput bola, menggunakan dribble untuk melewati satu dua pemain sambil menarik bek-bek lawan agar posisi Icardi lebih bebas untuk mencetak gol. Walau belum matang dan masih beberapa kali membuat kesalahan, terlihat jelas Lautaro akan berkembang menjadi  second striker ataupun gelandang serang berbahaya jika dipasang bersama Icardi. Koneksinya bersama Icardi terlihat cukup mulus dan mereka berdua bisa bekerja sama dengan baik. Yang menonjol dalam pertandingan ini adalah umpan terobosan Lautaro yang menjadi awal gol yang dicetak Icardi, memperlihatkan visi Lautaro dalam membaca alur serangan di atas rata-rata.

Kelemahan Lautaro yang masih perlu diasah adalah insting mencetak gol dan akurasi tendangan jarak jauhnya. Dengan Mauro Icardi sebagai mentornya, besar harapan Lautaro akan berkembang untuk memperbaiki kelemahannya.

XIAN

Xian Emmers adalah pemain muda Belgia yang ikut mengantarkan tim primavera Inter Milan meraih juara liga primavera Italia tahun 2018. Anak dari mantan pemain nasional Belgia Marc Emmers ini direkomendasikan pelatih primavera Inter Milan Stefano Vecchi kepada pelatih tim senior Inter Milan Luciano Spalletti, sebagai produk terbaik dari juara liga primavera 2018 tersebut. Setelah meraih gelar juara primavera, hampir seluruh anggota tim utama primavera Inter Milan dijual, kecuali Xian yang dipromosikan oleh Spalletti untuk ikut berlatih bersama tim senior Inter Milan.

Pada laga melawan Zenit, Xian masuk sebagai pemain pengganti Borja Valero dan main berduet dengan Roberto Gagliardini di lapangan tengah dalam sistem 4-2-3-1. Dalam laga ini Xian terlihat sangat percaya diri, mengingatkan pada Javier Zanetti muda pada saat awal kedatangannya di Inter Milan. Bola di kakinya mengalir mulus dan operannya juga penuh dengan perhitungan matang layaknya pemain yang sudah lama malang melintang di liga utama.

Dalam pertandingan melawan Sheffiel United, Xian dipasang sebagai starter di posisi gelandang kanan dan kembali berduet dengan Gagliardini dalam skema 4-4-2.

Gagliardini yang banyak bermain sebagai starter pada musim sebelumnya sering kali salah umpan dan terlihat gugup, tapi tidak untuk Xian. Walau terhitung pemain junior, Xian malah tampil layaknya pemain matang dan sama sekali tak terlihat gugup serta sanggup mengalirkan bola penuh perhitungan. Permainannya memang terlihat sederhana tapi efektif dan tidak membuat kesalahan yang tidak perlu. Masih ingat dengan Kondogbia yang sering bolanya direbut ketika sedang menggiring bola? Xian bermain efektif, dia tidak mendribble bola ketika dianggapnya tak perlu melainkan langsung dioper ke pemain lain. Karena itu pula dalam pertandingan ini Xian jarang membuat kesalahan.

Malah permainan segitiga Xian dengan Lautaro dan Icardi hampir berbuah gol, ketika umpan Xian ke Lautaro diteruskan dengan back pass ke Icardi dan sontekan Icardi masih mampu ditepis kiper Sheffield United.

Seperti halnya Lautaro yang butuh bimbingan Mauro Icardi, pemain senior sesama orang Argentina, Xian Emmers juga membutuhkan mentor. Beruntung ada Radja Nainggolan, sosok gelandang asal Belgia yang kaya pengalaman berlaga di serie A. Saya berharap banyak Lae Nainggolan akan menjadi mentor untuk Xian agar bisa tumbuh menjadi gelandang tengah yang hebat di masa depan.

Sungguh beruntung tim nasional Belgia. Walau Eden Hazard dan Kevin De Bryne masih berada di puncak karirnya, sudah ada pemain muda seperti Xian mengantri untuk menggantikan mereka menjadi gelandang tengah masa depan timnas Belgia.

6 Responses to “Lautaro dan Xian”


  1. 1 jensen99 July 26, 2018 at 4:30 am

    Saya gak nonton live kedua pertandingan, hanya nonton highlight di youtube di selular, tapi sekilas itu bisa lihat kontribusi Martinez di gol-gol Inter. Gak kalah terkesan lihat penampilan Yann Karamoh. Emmers gak kelihatan menonjol di cuplikan 5 menit itu, tapi semoga akan menonjol di musim berjalan bersama dengan seluruh tim. Forza Inter!!

    • 2 AnDo July 26, 2018 at 4:44 am

      Karamoh cedera dan gak main di 2 pertandingan terakhir. Kalau liat cuplikan 2 pertandingan awal sebelum cedera (vs Lugano dan vs Sion), Karamoh memang menonjol.
      Tadinya Inter nyari RW buat back up Candreva, tapi sejak ditolak Malcolm dan Karamoh mainnya bagus, Inter batal nyari RW dan skrg fokus nyari RB dan DM.

      Btw, coba tonton penampilan Xian Emmers di sini. Segitiga Icardi-Emmers-Lautaro bagus, sayang tembakan Icardi ditepis kiper. Kalo gol keren tuh.

  2. 4 jensen99 July 26, 2018 at 4:51 am

    Kayaknya memori saya mix antara pertandingan yang ada Karamoh dan partai2 Inter sesudahnya. Ah kacau ini komentar sambil kerja sambil baca warkopolo. Maafkan. 😆

  3. 6 Dwi Okta Nugroho July 30, 2018 at 2:20 pm

    Masa depan cerah menanti..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: