Archive for July, 2018

Daftar Film 2018 (April – Juli)

16. Golden Slumber

Adaptasi novel thriller Jepang yang juga pernah diadaptasi menjadi film Jepang di tahun 2010.

Secara ini film Korea, tentu saja bisa ditebak efek melodrama naik level beberapa derajat dibanding adaptasi versi film original Jepangnya yang reviewnya pernah kutulis 8 tahun yang lalu.

Ada beberapa detail perubahan yang tidak ditemukan di versi original dan memang lebih masuk akal versi Korea ini. Orang yang menolong Aoyagi ada 2 orang yaitu seorang serial killer aneh Kill-O dan boss Yakuza dengan motif tak diketahui, sedangkan versi Korea ini hanya satu orang yang menolong Kim Gun-woo yaitu Mr. Min, mantan agen pemerintah yang membelot.

Dari sisi adegan aksi, terus terang saja versi Korea lebih menarik dan seru. Tapi kalau dilihat dari segi penggarapan sutradara, versi Jepang lebih unik karena penonton ditempatkan sebagai si tersangka yang kebingungan harus melarikan diri. Kalu di versi Korea ini, seluruh kebingunan dijabarkan dengan jelas sehingga penonton tinggal menikmati film tanpa harus susah mikir.

Gang Don-won bermain bagus sebagai orang lugu yang gampang dimanfaatkan orang lain, sayangnya tokoh polisi yang mengejarnya tak mendapat porsi sebanyak counterpart-nya di versi Jepang.

Lumayan buat ngisi waktu luang koq, selain menghibur juga pelipur kangen bagi fans cewek yang kangen sama Gang Dong-won.

17. Fullmetal Alchemist
Salah satu manga dengan plot cerita favoritku diadaptasi menjadi film live action.
Review panjangnya ada di sini

18. You Were Never Really Here

Joe (Joaquin Phoenix) mantan tentara dan agen FBI penderita PTSD akut , hidup bersama ibunya yang sudah tua. Suatu hari Joe disewa senator Votto untuk menyelamatkan Nina anak remajanya yang katanya diculik. Tak disangka Votto malah dikabarkan bunuh diri ketika Joe berhasil menyelamatkan Nina.
Joaquin Phoenix di sini hampir tak bisa kukenali, dia benar-benar berubah jadi sosok Joe sosok brutal yang mengalami depresi akut. Entah kapan panitia Oscar bersedia rela memberikan si patung emas buat Joaquin. Jangan-jangan harus seperti Leonardo DiCaprio, harus tua dulu baru dikasih.
19. The Commutter
Mbah Liam tetap heroik aksinya, plotnya juga sebenarnya lumayan seru. Cuma ya karakternya kering sekali dan plot twist gampang sekali ditebak.
Ya udah, nonton aksi mbah Liam aja. Tua tua keladi, makin tua makin jagoan.

20. Pasific Rim Uprising

Kalau lihat spesial efek, sequel Pasific Rim ini lebih bagus dibanding seri Transformer yang bikin pusing kayak liat kaleng bertumbukan, pertarungan bisa terlihat lebih jelas. Walau demikian, adegan aksi pertarungan Jaeger dan Kaiju sama sekali tak efektif, malah cenderung dragging dan makin membosankan.

Selain plot dangkal dan maksa banget, dialognya cheesy dan usaha menciptakan suasana humornya sama sekali gak lucu. Iya saya ngerti, masukin setting China dan barisan para aktornya itu demi mendulang duit box office dari daratan RRC. Tapi yah di sisi lain membuat film ini kering dari kreativitas seperti yang ditampilkan oleh Del Toro dalam prequelnya.
Ngomong-ngomong, aku merasa kayak nonton film Ultraman the movie.

21. Psychokinesis

Plot.
Seorang lelaki setengah baya (RyuSeung-ryong) yang pecundang tiba-tiba memperoleh kekuatan super.
Dengan kekuatan supernya, dia berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan anak perempuan tunggalnya (Sim Eun-kyung) yang sudah tak pernah ditemui bertahun-tahun.

Komentar.
Idenya lumayan, sayang penggarapannya tidak menarik. Komedinya garing, dramanya juga khas melodrama korea yang rada lebay. Yang menarik perhatian justru tokoh antagonis utamanya cewek cakep.

22. The Third Murder

Sebuah karya terbaru sutradara Hirokazu Kore-eda yang pertama kali menampilkan tema pengadilan kasus pembunuhan. Review panjangnya ada di sini

23. Avengers: Infinity War

Akhirnya nonton juga, padahal belum nonton Black Panther 😛
Merasa terasa beda sama Justice League karena film ini bukan cuma sekedar kumpul-kumpul superhero Marvel tapi memang titik kulminasi dari apa yang sudah dipersiapkan dari berbagai macam film MCU sebelumnya, dari seri Ironman, Captain America, Thor, hingga Guardian of Galaxy.
Dan yang paling menyenangkan, Thanos bukanlah Steppenwolf dalam Justice Leage yang cuma sekedar ingin menguasai dunia. Thanos memang bukan bandit biasa, dia super-villain hipster 😛

24. Black Panther

Habis nonton Avengers: Infinity War, rasanya kurang kafah kalau belom nonton Black Panther. Kebetulan tadi buka situs streaming langganan, versi HD BP udah keluar.
Jadilah kupaksa nonton supaya kelar kewajiban agar tidak menjadi dosa.

Anyway, filmnya anti mainstream gak kayak film2 superhero yang biasanya memuja Ameriki. Tumben ada film superhero mengentaskan kehebatan sebuah negara di benua afrika yang biasanya dianggap terbelakang.
Tapi yah bagaimanapun juga, film ini memandang negara hebat di afrika dari sudut kacamata orang bule.
Saya suka film bagus ini koq, walau gak bisa dibilang istimewa kalau ingin mengangkat kehebatan masyarakat kulit hitam.

25. Legend of the Demon Cat.

Awalnya rada gak percaya lihat nama Chen Kaige terpampang sebagai sutradara.
Hah? Chen Kaige bikin film horor? Yang bener?

Pas nonton, ternyata ini film drama sejarah dengan beberapa tokoh sejarah yang lalu lalang. Sebagai protogonis, ada Kukai sang biksu agung dari Jepang dan Bai Letian si penyair besar dinasti Tang. Mereka berdua bekerja sama menyelidiki kasus kematian misterius kaisar Dezong dari dinasti Tang. Selain mereka berdua, ada tokoh masa lalu yang ceritanya ditampilkan kilas balik seperti Kaisar Xuanzhong dan selir kesayangannya Yang Guifei, dan juga Abe no Nakamaro seorang sastrawan Jepang yang tinggal di Tiongkok.

Lalu kucing setan itu?
Hanya sekedar pengantar kisah menuju cerita inti tentang romansa kekaisaran dinasti Tang.
Seperti yang diperkirakan, sinematografi film ini bagus dengan permainan cahaya dan warna yang menawan, khas Chen Kaige. Plot cerita juga bagus dengan skenario yang memasukkan cerita fiksi dengan pas ke dalam kisah sejarah.

Oh iya, film ini beredar di Jepang dengan judul Kukai, nama biksu Jepang yang pada setting cerita masih belum masuk biara Qinglong untuk belajar Buddha Vajrayana. Dan sudah tentu tokoh utamanya untuk peredaran Jepang adalah Kukai, ketika beredar di China dengan tokoh utamanya Bai Letian sedangkan Kukai berperan sebagai side-kick.

Produksi kerja sama China-Jepang ini juga memakai aktor dan aktris campuran China dan Jepang. Untuk tokoh Kukai dan Abe No Nakamaro, Chen Kaige mengarahkan Shota Sometani sebagai Kukai dan Hiroshi Abe sebagai Abe.

Bagi yang suka sejarah China, terutama masa dinasti Tang, film ini memberikan nilai plus.

26. Ready Player One

Ini film sebenarnya biasa aja, dari segi plot hingga dialog tak ada yang mengesankan. Paling yang bikin para geeks bersorak gembira adalah bertaburannya referensi budaya pop di sepanjang film.

Kalian bisa melihat kendaraan legendaris seperti mobil DeLorean (Back to the Future) hingga motornya Kaneda (Akira) beraksi, MechaGodzilla bertarung melawan Gundam dan Iron Giant, Kingkong ngamuk sampai scene film The Shinning.

Memang jualan utama film ini adalah Pop Culture dan itu menyenangkan bagi saya yang lumayan familiar dengan banyak referensinya.

27. In The Fade

Nonton film ini bertepatan dengan kejadian teror bom di Surabaya. What a coincidence?

Anyway, ini film bagus! Memperlihatkan akibat dari teror bom dari sisi pandang ibu dan istri korban pengeboman. Dan Diane Kruger bermain luar biasa sebagai ibu yang kehilangan pengangan hidupnya setelah suami dan anaknya tewas. Review panjangnya ada di postingan sini

28. The Unity of Heroes.

Vincent Zhao Wenzuo kembali main jadi Wong Feihung dalam film yang diproduseri dirinya sendiri ini.

Berhubung ini film buat konsumsi VOD (Video on Demand), jadinya nontonnya gak berharap banyak lah.
Terbukti plotnya cheesy dan kelihatan sekali daur ulang plot serial Wong Feihung lawas.
Ada bibi ke-13 yang kebarat-baratan, ada murid Wong yang jahil, ada rival guru kungfu jagoan yang nantang Wong Feihung, ada tarung barongsai, ada payung jadi senjata andalan dan tentunya juga ada bule jahat dalang semua kejahatan.

Sayang koreografi kungfunya tak sememikat garapan Yuen Woo-ping dalam serial Wong Feihung garapan Tsui Hark yang dimainkan oleh Jet Li, yang ini terlalu banyak memainkan wire-fu. Yuen Woo-ping juga pakai kawat sih tapi hasilnya halus, sedangkan film ini rada abusing penggunaan teknik wire-fu.

Kalau cuma sekedar buat nostalgia, lumayan lah. Apalagi film dibuka dengan adegan selusin orang latihan kungfu di kala senja, dipandu oleh Wong Feihung dengan iringan musik familiar yang terkenal itu. Seketika orang-orang akan terkenang pada Jet Li, bukan Vincent Zhao 😛

O iya, ini film pemanasan sambil menanti produksi film Kung Fu Alliance yang akan menampilkan keroyokan pendekar kung fu kawakan, dari Wong Fei Hung, Huo Yuan Jia, hingga Ip Man.

29. Tomb Raider

Aku suka dengan interpretasi sutradaranya yang membawa aroma realistis dalam setiap adegan eksyen, membuat sosok Lara Croft tidak super tangguh seperti Lara versi Angelina Jolie, dan Alicia Vikander sendiri sanggup menampilkan karakter Lara Croft yang heroik sekaligus manusiawi dengan meyakinkan.

Plot ceritanya? Ya begitu lah. Tak usah terlalu mikir plot twist segala, nikmati aja nonton filmnya.

30. Death Wish

Adaptasi novel karya Brian Garfield sekaligus remake film tahun 1974 yang dibintangi Charles Bronson ini terus terang saja berjalan datar. Tak ada kejutan, tak ada hal baru, cuma sekedar mengulang cerita tentang vigilante.
Beda dengan adaptasi Brian Garfield lain yang berjudul Death Sentence (2007) yang disutradarai James Wan dengan tokoh vigilante yang dibintangi Kevin Bacon. Selain lebih brutal, James Wan juga memberikan konsekwensi akhir tindakan vigilante yang dilakukan tokoh protogonis, konsekwensi yang tidak seheroik cerita vigilante umumnya. Ini yang tidak dimiliki Death Wish versi Bruce Willis yang di bagian akhir  film terlihat seperti John McCleane a la Die Hard.

31. Rampage

Filmnya asyik dan seru, yang jelas menghibur hingga film berakhir dengan bahagia.

Kalau ngomong isi plot, akting dan tetek bengek skenario, ya film ini memang agak anjlok. Apalagi sosok yang dimainkan Dwayne Johnson, dialognya kayak copy-paste dialog tokoh heroik yang diperannya dalam film Journey: The Mysterious Island, Jumanji: Welcome to the Jungle dan film sejenisnya.

But who cares? Ini film memang tujuannya dibuat untuk menghibur, jadi nikmati saja Kingkong berantem lawan Serigala dan Buaya raksasa, dengan gangguan menyebalkan manusia sok jagoan di antara pertarungan makhluk raksasa.

32. Dunkirk
Plotnya sederhana, cuma kisah tentang usaha bertahan hidup para tentara di Dunkirk. Skenarionya juga biasa aja, gak ada dialog istimewa.
Tapi penyutradaraannya yang patut dikasih jempol. Nolan emang sutradara top markotop. Film ini jadi luar biasa karena faktor arahan Nolan sebagai sutradara.

Ditambah dengan garapan divisi teknik yang maksimal, visual yang megah dan sound yang menggugah, film ini patut masuk sebagai nominator Oscar.
Hip Hip Nolan, Horaay!!

33. A Quiet Place

Film horror survival yang menegangkan  dengan sisipan drama keluarga yang menyentuh dan mengharukan. Tak banyak dialog karena memang setting film tak memungkinkan untuk banyak bicara dengan mulut. Karakter bapak, ibu serta anak-anaknya semuanya mengesankan.

Cinta orang tua serta pengorbanan mereka demi anak-anaknya memang sulit dilawan, bahkan oleh monster sekalipun.

NB. (spoiler)

Makhluk yang sensitif terhadap suara itu bukannya memiliki kelemahan kesensitifan mereka?
Koq ya militer USA yang penuh dengan ilmuwan dan peneliti pintar sama sekali gak mikir buat bikin senjata suara frekuensi tinggi? Koq ya cuma mengandalkan senjata mekanik?

34. Believer

Film ini merupakan remake film Hongkong buatan Johnny To yang berjudul Drug War. Mengisahkan tim pimpinan detektif Won-Ho (Cho Jin-woong) bekerja sama dengan pengedar narkoba Young-Rak (Ryu Jun-yeol) demi menangkap pimpinan tertinggi geng narkoba misterius yang berjuluk Guru Lee.

Sutradara Lee Hae-young yang ikut menulis ulang skenarionya ternyata bisa menjadikan film ini punya cita rasa tersendiri dan tidak hanya sekedar membuat ulang. Kalau Johnny To membuat Drug War dengan gaya police procedural dibalut intensitas thriller yang tinggi, Lee membuat Believer dengan gaya melodrama korea lengkap dengan hubungan tarik ulur antara si detektif dengan si pengedar narkoba yang menjadi informannya dipadu dengan aksi brutal khas film Korea.

Beberapa tahun terakhir ini, sinema Jepang, Korea Selatan dan RRC (termasuk Hongkong) sering membuat film remake satu sama lainnya. Believer ini cukup bagus karena berhasil memasukkan gaya orisil tersendiri sehingga bisa lepas dan berbeda dibanding film originalnya.

35. Jurassic World: Fallen Kingdom.

Seperti halnya franchise Jurassic Park lain, film ini sangat menghibur dengan penampilan prima para pemeran utamanya seperti Blue si velociraptor, T-Rex, hingga si pendatang baru Indoraptor. Bahkan penampilan cameo Messosaurus lumayan mencuri perhatian.

Sayang, plot ceritanya hanya mengulang-ngulang seri terdahulu alias tak ada yang baru untuk dikenang.
Malah boleh dibilang film ini mengingatkan pada franchise kedua Jurassic Park 2: The Lost World. Sempat terpikir, film ini seharusnya berjudul Jurassic World 2: The Lost Park.

36. Deadpool 2.

Sebuah film keluarga, lengkap dengan pembunuhan keji di awal film dengan ending manis layaknya film keluarga.

btw, ini review sarkastik sesuai dengan gaya filmnya sendiri yang penuh dialog komedi sarkasme hahahaha….

37. Animal World

Remake film Jepang yang berjudul Kaiji, sekaligus adaptasi dari manga yang berjudul Tobaku Mokushiroku Kaiji. Jika film Kaiji lebih fokus pada tokoh Kaiji (Tatsuya Fujiwara) mempertaruhkan kebebasannya dalam arena judi, Animal World memberikan perpektif berbeda dengan memberikan latar belakang drama keluarga sebelum karakter Kaisi (Li Yifeng) masuk ke kapal judi.

Berhubung latar drama keluarga dan persahabatan sebelum memulai peruntungan di arena judi, seharusnya film ini bisa lebih personal dan dekat dengan penonton. Sayangnya fantasi tokoh badut yang mengiringi peruntungan Kaisi malah lumayan menjengkelkan kalau bukan malah merusak suasana. Bedanya dengan versi Jepang, Animal World menyuguhkan banyak adegan aksi. Lumayan berbeda dan punya ide orisinil tersendiri, tidak jelek jika dibandingkan adaptasi Jepangnya tapi juga tidak lebih bagus.

Lautaro dan Xian

Sebagai fans Inter Milan, kebetulan sekali saya menonton 2 pertandingan pre-season Inter Milan (melawan Zenit dan Sheffield United) dan melihat ada 3 pemain anyar yang permainannya terlihat menonjol, bahkan lebih menonjol dibandingkan muka-muka lama pemain regular. Pemain pertama adalah Kwadwo Asamoah yang direkrut dari Juventus secara gratisan. Asamoah cukup lama bermain di liga serie A Italia sehingga wajar saja terlihat langsung klop dengan gaya dan taktik tim. Untuk itu saya fokus membahas 2 pemain lain yang masih muda dan baru pertama kali main di liga serie A Italia yaitu Lautaro Martinez (21 tahun) dan Xian Emmers (19 tahun).

Continue reading ‘Lautaro dan Xian’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: