Fullmetal Alchemist (Live Action)

FMA

Plot
Elric bersaudara berada dalam misi pribadi untuk menemukan Philosopher Stone demi mengembalikan kaki-tangan Edward Elric dan seluruh tubuh Alphonse Elric yang hilang akibat penggunaan transmutasi alkemi ilegal. Akibatnya mereka bentrok dengan tentara Alkemi pemerintah dibawah pimpinan atasan langsung sekaligus rival Edward yaitu Kolonel Roy Mustang.
Setelah sempat bersitegang, Edward dan Roy memutuskan bahu membahu menghadapi musuh bersama yaitu Homoculi yang juga memiliki tujuan misterius sehubungan dengan keberadaan Philosopher Stone.

Komentar

Dari segi CGI boleh dibilang versi live action ini lumayan memuaskan alias gak jelek-jelek amat bila dibandingkan film Hollywood. Tapi dari segi plot cerita, harus diakui film ini dangkal sekali. Dengan hanya mengambil segmen mencari Philosopher Stone untuk mengembalikan tubuh Ed dan Al, film ini sama saja dengan memutilasi tubuhnya sendiri demi mendapatkan sebuah film berdurasi 135 menit tanpa susah payah untuk mengembangkan plot manga original supaya lebih menarik. Dengan kata lain, penulis skenario dan sutradaranya terlalu malas berimprovisasi dengan cerita originalnya. Sudahlah salah satu bagian menarik tentang Elric bersaudara mencari bapaknya dihilangkan, pengembangan karakterpun seakan dilupakan begitu saja.

Yang menyebalkan dalam film ini setelah plot yang buruk adalah akting para deretan aktornya terutama si pemeran utama Ryosuke Yamada sebagai Ed Elric si Alkemis Logam. Aktingnya terlihat mentah dengan ekspresi lebay ketika menampilkan Ed yang moody dan terlalu protektif terhadap adiknya Al. Trio antagonis di film ini yang diwakili Homoculi Lust, Envy dan Gluttony seakan-akan menjadi bukti betapa dangkalnya plot film ini, sedikitpun tak ada kesan terhadap Homoculi kecuali mereka penjahat dengan motivasi yang sangat biasa bagi antagonis pada umumnya.

 

Pada akhirnya Fullmetal Alchemist versi live action ini hanya menambah panjang daftar film-film live action adaptasi manga yang gagal dibawakan ke layar lebar. Walau demikian, kalau mau dibandingkan dengan Attack on Titan live action yang super duper buruk itu, film Fullmetal Alchemist masih bisa kutonton sampai habis. Selain CGI yang lumayan, setting Eropa dan sinematografi untuk menangkap landscape dunia Fullmetal Alchemist dengan syuting di Italia cukup membuat film ini masih bisa dinikmati disela-sela plot dan akting yang ala kadarnya.

 

Advertisements

2 Responses to “Fullmetal Alchemist (Live Action)”


  1. 1 Kasamago April 13, 2018 at 3:10 am

    Meski memang tidak memuaskan, dalam review saya malah lumayan menghibur, Hubungan dramatis antara Al dan Ed tetap menawan..

    di unsur teknis, rasanya budget memang berpengaruh..

    • 2 AnDo April 13, 2018 at 7:01 am

      @Kasamago
      CGI FMA jauh lebih mending dibanding Tokyo Ghoul yang dananya mungkin gak sampai setengah FMA, jadinya ya aku ngasih jempol.
      Setting eropa juga lumayan bagus ngambil sudut-sudut lokasinya, gak wah sih tapi aku suka dengan landscape minimalis berhubung budget tipis.

      Hubungan dramatis Ed-Al di sini sayangnya menurutku gak maksimal gara2 akting Yamada yang mentah. Berhubung sosok Al dalam baju zirah pakai CGI, memang gak gampang bagi aktor pemeran Ed untuk menampilkan emosi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic

Advertisements

%d bloggers like this: