Daftar Film 2018 (Januari – Maret)

Supaya tak terlalu panjang, daftar film yang ditonton dibagi tiap 3 bulan saja.
Semakin hari semakin sedikit film yang bisa ditonton dan sepertinya konsistensi banyak nonton film saat seperti masih bujangan akan menurun drastis. Maklumlah waktu 24 jam sehari memang rasanya kurang untuk dihabiskan untuk beragam aktivitas, termasuk nonton film.

Dalam 3 bulan, film-film Asia mendominasi daftar.

 

1. The Brink
Sudah pertengahan Januari dalan baru nonton satu film. Kayaknya emang jumlah tontonan film akan turun jauh tahun ini.

Ini film pertama Zhang Jin aka Max Zhang sebagai lead actor setelah berkali-kali jawara wushu ini cuma mendapat tawaran supporting actor yang kebanyakan peran antagonis. Setelah berperan sebagai jago Wing Chun saingan Donnie Yen dalam Ip Man 3, akhirnya tawaran sebagai aktor utama datang juga.

Sayangnya film aksi perdananya sebagai peran utama tak terlalu bagus-bagus amat. Selain plot terlalu lurus, karakter yang dimainkan Zhang Jin juga tak terlalu banyak dieksplorasi oleh sutradara. Malah tokoh antagonis yang diperankan Shawn Yue lebih menarik dan banyak disorot, untungnya Shawn Yue juga bermain bagus. Akhirnya film ini jatuh biasa-biasa saja. Adegan aksinya sih lumayan terutama duel di atas kapal di tengah badai.

 

2. Thor: Ragnarok

Gak nyangka kalau film ketiga seri Thor kali ini menyenangkan untuk ditonton. Emang sih terlihat melenceng dari pakem Thor seperti 2 seri sebelumnya dengan banyaknya komedi-komedi khas Amerika. Tapi peduli amat, yang penting having fun.

Barter humor pancing tangkap a la srimulat antara Chris Hemsworth dan Tom Hiddleston lucu walau agak lebay di beberapa adegan, gak papa toh menghibur.

Ada surprise kecil, MATT DAMON main jadi LOKI!!!!
Busyet, tadinya nggak ngeh kalau itu Matt Damon, baru sadar pas dia menyeringai hahaha… Mana aktingnya katro dan bikin ilfil.

 

3. Manhunt

Lama gak nonton film heroic bloodshed garapan John Woo. Film ini sudah ramai dibicarakan oleh fans Woo gara-gara Woo bilang mau bikin remake film jadul untuk didedikasikan bagi aktor Jepang lawas mendiang Ken Takakura, dan katanya mau digarap dengan napas yang sama dengan The Killer.

Sayangnya Zhang Han-yu tidak memiliki kharisma layaknya Chow Yun-fat dan Masaharu Fukuyama tak punya aura polisi tangguh seperti Danny Lee. Memang banyak adegan dengan gaya The Killer, tapi tetap saja kurang nampol dan tak meninggalkan kesan mendalam. Apalagi pertempuran final di dalam lab yang cheesy banget, kalah jauh dengan adegan pamungkas di dalam gereja dalam The Killer.

 

4. The Thousand Faces of Dunjia

Sutradaranya Yuen Woo-ping dan produsernya Tsui Hark.
Karena itu film ini penuh dengan adegan laga kungfu khas Yuen dipadu dengan cerita wuxia fantasy dengan CGI a la Tsui Hark.

Lumayan terhibur dengan laga dan adegan komedinya. Plotnya? Lurus banget dan rada cheesy.

 

5. Murder on the Orion Express
Baca beberapa review yang memberikan rating rendah buat film ini membuatku agak malas nonton secepatnya. Toh saya lebih tertarik menonton eksekusi novel ini karena saya sudah membacanya belasan tahun lalu waktu masih tinggal di Bandung.
Tapi koq ya buatku film ini lumayan bagus eksekusinya, Ceritanya mengalir lancar, misterinya tertutup cukup rapat hingga menjelang akhir film, sinematografinya juga bagus, dan yang paling berkesan adalah karakterisasi tokoh yang diperkuat dengan akting mengesankan dari para pelakon terutama Michelle Pfeiffer, Judy Dench dan William Dafoe.
Yang menyebalkan? Sosok Poirot terlalu nyebelin, padahal sosok aslinya dalam novel cukup simpatik dengan berbagai sifat eksentrik seperti cerewet dengan kerapihan hinggal detail terkecil. Cuma ya di film terlalu berlebihan memperlihatkan Poirot gila bentuk simetris.
O iya, saya suka dengan eksekusi dialog penolakan Poirot terhadap tawaran kerja Ratchett, “If you will forgive me for being personal, I do not like your face, M. Ratchett,” ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜๐Ÿ˜‚

6. Liquidator

Flm thriller produksi RRC, tentang pembunuh berantai pintar yang sukses mengelabui polisi.
Awalnya lumayan menarik dengan karakter polisi jenius yang slengeโ€™an. Pas pertengahan tiba-tiba tone film berubah, plot drama dikasih potongan lebih besar tapi sayangnya cheesy. Endingnya juga terlalu biasa, malah datar banget. Kalau mau kasih skor C udah cukup baik hati.

 

7. Honnoji Hotel
Jadi ini film di setel di TV dalam pekan Haruka Ayase, karena selama seminggu sekali dalam sebulan,ย  film-film mbak Haruka disetel di TV.
Haruka Ayase bermain sebagai wanita biasa di masa kini yang tak sengaja bolak balik melakukan perjalanan waktu ke Kuil Honnoji pada masa Oda Nobunaga terbunuh, via elevator dalam hotel tua.

Awalnya sih rasa komedinya lumayan lucu, sampai banyak hal yang “nggak banget” bakal terjadi di era Nobunaga yang membuat film ini jatuh jadi bahan omelan. Misalnya aja mbak Haruka yang baru datang ke era Sengoku-jidai ini gak sengaja bisa berdekatan dan megang Nobunaga. Emangnya di masa itu kerjaan bodyguard cuma duduk nyantai ngalor ngidul? Boro-boro megang, yang ada mbak Haruka udah ditebas pedang ketika berjarak 2-3 meter dari Nobunaga. Dan hal-hal remeh gak masuk akal ini banyak bertebaran di sepanjang film, ada yang lucu dan kebanyakan bikin otak terasa tak berfungsi sewaktu nonton.
Hasilnya habis nonton malah cuma bisa facepalm.

 

8. Along With the Gods: The Two Worlds

Seorang petugas pemadam kebakaran, Kim Jang-ho tewas dalam tugas ketika menyelamatkan seorang anak kecil. 3 petugas akherat mengantarkan Kim untuk melewati pengadilan akherat. Ada 7 pintu neraka yang harus dilewati Kim dalam 49 hari sebelum dinyatakan layak reinkarnasi.

Visual dan CGI nerakanya keren, kreatif juga membuat neraka-nerakanya yang berbeda hukuman dan kondisinya.
Sayang karakterisasi para tokohnya lebay dan konyol. Koq ya bisa para dewa penguasa neraka sedemikian begonya.
Nemu cameo beberapa aktor populer yang main sebagai dewa beberapa menit.
Buat tontonan hiburan sih oke, gak lebih dan gak kurang.

 

9. The Outlaws

Tadinya cuma iseng nonton buat nunggu tidur, eh ternyata filmnya bagus dan akhirnya malah melek terus sampai film habis.

Adaptasi dari kejadian nyata, usaha polisi Seoul memberantas geng China-Korea yang mewabah di Seoul. Dibintangi Ma Dong-Seok, mantan MMA fighter yang banting setir jadi aktor.

Filmnya berhasil mencampur beberapa genre dengan bumbu yang pas. Ada komedi buddy-cop, ada drama birokrasi kepolisian, ada crime thriller persaingan gangster, dibumbui adegan gory mutilasi sana sini, semuanya diracik pas oleh sutradaranya.
Tontonan bagus sekaligus menghibur.

 

10. Forgotten

Yoo-seok diculik selama 19 hari tanpa kabar, lalu tiba-tiba kembali dalam keadaan amnesia. Sang adik Jin-seok yang menyaksikan abangnya diculik berkeras untuk mencari tahu latar belakang peristiwa penculikan kakaknya.

Ada 2 plot twist dalam film ini.
Plot twist pertama mampu membuatku terpana karena sepanjang 1 jam awal tayangan bisa dibungkus dengan rapi dan mulus tanpa bisa ditebak.
Sayangnya plot twist kedua di akhir film dan juga ending yang dipilih terlalu “Korea” alias dibuat melodramatis dan rada lebay.

 

11. Bleeding Steel

Sungguh sayang, kukira Jeki Cen sudah menemukan jalan yang lurus ketika bermain dalam film The Foreigner dengan perannya sebagai seorang ayah pendendam. Tak tahunya dalam film terbarunya Bleeding Steel ini, Jeki kembali salah jalan.
Wahai Jeki, kembalilah ke jalan yang lurus, yaitu jalan aktor yang diridhoi oleh fans beratmu.

 

12. Gods of Egypt
Nonton film ini diputar di TV pas lagi iseng.
Plot ancur, akting ancur, karakterisasi ancur, dan… CGI lumayan lah, maksudnya lumayan mending dibanding sinteron Misteri Gunung Merapi.
Bahkan mitologi dewa Mesir yang rada sinetron bin opera sabun itu masih lebih menarik ceritanya dibanding cerita film ini.
13. Jumanji: Welcome to the Jungle.
Ini memang film buat ngabisin waktu sambil ketawa-tawa, bukan film buat mikir dan diapresiasi. Plot dan aktingnya biasa aja, tapi lumayan seru juga petualangannya. Lumayan terhibur.

14. Pengabdi Setan

Nonton via iPhone 7 istri yang kopian filmnya dibagikan orang lewat facebook.
Layarnya kecil jadinya emang terasa mengurangi efek seram film horor.
Secara filmografi, sinematografinya unik gak kayak film horor Indonesia biasanya. Plotnya juga lumayan dengan beberapa twist yang gak terlalu mengejutkan dibanding film-film thriller Joko Anwar sebelumnya.
Endingnya khas si Joko, menggantung dengan membuka kemungkinan bikin film sequel.

15. Dilan 1990

Biasa aja sih, mungkin yang menarik dari film ini adalah barter dialog penuh gombalan jayus, yang anak SMA era 1990an juga belum tentu bisa ngegombal sejayus itu.

Yang bikin baper itu Bandung 1990an.
Duuuuhhhhhh kangen Bandung 1990an yang masih sejuk.
Bandung pasca 2010 itu panas dan berat, biar urang Bandung aja yang nanggung.
Hahahaha…

 

Advertisements

3 Responses to “Daftar Film 2018 (Januari – Maret)”


  1. 1 jensen99 April 2, 2018 at 12:12 am

    Saya mikir lama tadi di mana ada Matt Damon di Thor Ragnarok. Eternyata… ๐Ÿ˜†

    Kadang2 saya bingung dengan pilihan film Jeki Cen mengingat kemarin nonton Skiptrace dan Kung Fu Yoga, tapi ya tetap merasa harus nonton karena ada beliau. ๐Ÿ˜›

    BTW Orient Express bro, bukan Orion Express. :mrgreen:

    • 2 AnDo April 2, 2018 at 12:27 am

      Owalah, salah ketik judul film. ๐Ÿ˜€

      Jeki Cen ini benar2 gak punya pilihan main film dgn karakter beda apa ya? Koq ya film2 dia stereotip kayak film dia di masa muda. Harusnya Jeki harus mulai punya imej baru.

  2. 3 Alisarbi April 14, 2018 at 3:18 pm

    Ini kalau saya baca daftar film-mu jadinya bukan mau ikutan komentar, tapi nyatetin mana film-film yang kayaknya bagus, hehe.. Wah, saya telat banget lah masalah nonton film, mah! Pertama, gak gitu suka ke bioskop dan kalaupun nonton di TV baru 5 menit udah ketiduran…kecuali film dokumenter.

    Kalau film yang terakhir itu, Dilan. Saya blon nonton dan gak tertarik juga, sih. Cuma hebohnya dimana-mana! Dari ibu-ibu ikutan baper sampe murid-mirid saya kelas 4 SD ikutan heboh! Sampe ada kejadian anak-anak murid saya yang semuanya cowok (saya wali di kelas laki) pada mohon-mohon ke gw. Pasalnya mereka pada mau nonton Dilan, tapi gak dibolehin sama ortunya. Dan mereka minta ke gw supaya ngasih tau ortu mereka kalau anak-anak gak papa nonton Dilan, aelaaaah…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic

Advertisements

%d bloggers like this: