Remake: Pengkhianatan G30S, sebuah ide.

cover-vcd-film-g30s-pki

Ketika membaca berita tentang anak-anak sekolah jaman sekarang tertidur ketika menonton film Pengkhianatan G30S  (PG30S) karya sutradara Arifin C. Noer, tiba-tiba saya mendapatkan ide bagus untuk pembuatan remake film tersebut dengan gaya yang lebih kekinian. Apalagi sebelumnya, Jokowi pernah melontarkan ide untuk membuat ulang film tersebut (remake) untuk generasi muda.

Yang pertama saya perhatikan adalah isu kekerasan dalam film yang ternyata tak dihiraukan oleh para petinggi negara ini, para wakil rakyat, atau malah orang-orang  dewasa yang “anti-PKI”. Jadi saya pikir, adegan kekerasan dalam film remake ini bukanlah masalah dan bisa ditonton semua umur, yang penting bisa menghibur dan membuat para penonton pulang dengan senyum puas.

Yang kedua adalah kualitas film. Film PG30S karya Arifin C. Noer saya anggap salah satu film terbaik yang pernah dibuat oleh dunia perfilman Indonesia. Iya, saya tahu kalau film ini film propaganda pesanan pemerintah Orde Baru, tapi setidaknya PG30S adalah film propaganda terbaik yang pernah saya tonton. Arifin C. Noer dikenal sebagai sosok sutradara keras kepala dan tak mau diatur, tapi perintah pemerintah orba bukanlah perintah yang bisa ditolak sehingga Arifin C. Noer harus putar otak agar besutannya bisa mememenuhi permintaan pemerintah sekaligus membuat karya artistik sesuai dengan hasratnya sebagai sutradara. Arifin C. Noer akhirnya mengambil tema horror slasher untuk menerjemahkan permintaan pemerintah orba, dan terbukti berhasil.

Anda sudah pernah nonton sequel PG30S yang berjudul Djakarta 1966? Tanpa Arifin C. Noer di kursi sutradara, Djakarta 1966 buruk sekali kualitasnya. Terus terang saja saya tertidur kurang dari 30 menit ketika memaksakan diri untuk nonton, apalagi para pelajar SMP/SMA masa sekarang? Karena itu pula film Djakarta 1966 tak pernah diputar setiap tahun oleh TVRI pada jaman orba.

Untuk membuat film dengan kualitas setinggi PG30S tampaknya sulit, apalagi dibikin artistik tanpa membuat penonton muda bosan. Akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan, genre terbaik adalah genre eksyen dengan duel dan adegan tembak-tembakan yang menarik hingga film selesai. Kalau ada yang kritik filmnya tak seberkualitas karya Arifin C. Noer, bilang saja fokus kami adalah membuat anak-anak muda terhibur dan nonton tanpa tidur hingga film habis.

Satu-satunya sutradara film eksyen di Indonesia yang muncul di pikiran saya adalah Gareth Evas yang dikenal dengan film Merantau, dan The Raid beserta sequelnya. Dengan Evans sebagai sutradara, tentunya tidak afdol jika duet Iko Uwais – Yayan Ruhian tidak diikut sertakan.

Iko Uwais cocok untuk didapuk sebagai protogonis sang jagoan Mayor Jenderal legendaris Soeharto dan Yayan Ruhian dengan wajah kereng penuh intimidasinya pas sekali memerankan sosok antagonis utama Dipa Nusantara Aidit. Apakah mereka berdua mirip dengan tokoh aslinya? Situ pengen kontes mirip-miripin tokoh aseli atau mau bikin film? Emangnya situ pikir Mery Streep mirip sama Margaret Thatcher? Emangnya Colin Firth mirip sama King George VI? Atau emangnya Natalie Portman mirip sama Jackie Kennedy?

Bagaimana dengan plotnya? Ya namanya juga film propaganda, harus hitam-putih dong. Yang jagoan harus terlihat kuat, mulia, penuh dedikasi dan rajin menabung. Sedangkan antagonis harus terlihat jahat, intimidatif, dan tentu saja doyan merokok dengan asap rokok mengepul dari mulutnya sepanjang film, kalau bisa pakai cerutu kuba supaya makin terlihat seperti komunis.

Yang paling ditunggu tentunya adegan final confrontation dan saya akan memilih lokasi lubang buaya ketimbang bentrokan di Halim. Terjadi pertempuran seru antara gerombolan PKI yang bersenjatakan martil dan clurit berhadapan dengan tentara bersenjata api. Duel Soeharto – Aidit itu harus, kalau bisa pertarungan dibuat dengan seintens dan seseru mungkin dengan rasa lokal, apalagi kalau bukan pencak silat? Tentunya kita semua sudah tahu kalau Soeharto menang dan Aidit harus rela dieksekusi oleh Yasir Hadibroto yang mendapatkan hadiah sebagai gubernur atas prestasinya.

Lalu kalau ada yang mengkritik alur dan plot remake film PG30S ini tidak sesuai dengan fakta sejarah?

Jawab saja dengan jawaban pamungkas supaya tak ada lagi yang ribut mengkritik di kemudian hari, “Emang Gue Pikirin!”

4 Responses to “Remake: Pengkhianatan G30S, sebuah ide.”


  1. 1 Kasamago September 26, 2017 at 7:26 am

    Klo imajinasi saya, misal G30S diremake.. saya bkin ala Star Wars.
    Aidit jadi Lord Vader, Soeharto jd Luke, Cakrabirawa Storm Trooper,
    Duel Lightsaber bertema Pengkhianatan tentu terasa grande..

    Well, gmn pun juga G30S adalah karya terbaik tiada tanding

    • 2 AnDo September 26, 2017 at 10:58 am

      Terbayang adegan di Lubang Buaya, Aidit melepas martil dan celuritnya sambil berkata dengan suara pilu tercekat,
      “Harto… Aku iki bapakmu tho le..”
      Soeharto menjerit histeris,
      “Tidaaaaakkkk!!!!”
      Dan duel hidup mati ayah-anak pun terjadi.

  2. 3 Alisarbi October 1, 2017 at 12:07 pm

    Hahaha, gw ngebayangin ala CSI+drakor Tunnel ajalah kalo gitu. Alurnya dirubah jadi awal2 udah penemuan mayat. Trus gw ngebayangin pas kejar-kejaran (eh ada adegan kejar2annya gak sih? Gw blon pernah nonton :p) Harto kejar Aidit masuk terowongan trus tau2 dia ada di tahun 98 pas beliau di demo abis2an disuruh turun

    • 4 AnDo October 4, 2017 at 4:41 am

      @Alisarbi
      Wah, ide time traveler itu asyik gilak.
      Btw, gak ada kejar-kejaran di film aslinya. Jenderal Nasution lari loncat tembok ke rumah sebelah aja gak dikejar sama tentara Cakrabirawa, malah percaya aja sama anak muda ngaku jenderal. Ini film Arifin C. Noer ini adalah PKI dan tentara yang disusupi komunis adalah orang2 bego yang mau aja dikerjain tentara pimpinan Jenderal Soeharto.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: