Muhammad: The Messenger Of God

Tidak seperti Sunni yang secara ketat melarang menampilkan penggambaran fisik  Muhammad, Syiah dikenal lebih longgar dalam hal ini. Malah Syiah kontemporer mengijinkan sosok  Muhammad ditampilkan dalam film dengan syarat harus diperlakukan dengan penuh kehormatan.

Karena itu pula, film buatan Iran arahan sutradara Majid Majidi ini sempat membuat heboh negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim Sunni karena menampilkan sosok Muhammad secara fisik.

Walaupun wajah dan suara Muhammad tidak ditampilkan (hanya bagian punggung dan kepala bersorban terlihat dari belakang, sedangkan suara digantikan teks tulisan), tetap saja ada protes untuk melarang penayangan film ini di negara-negara berpenduduk mayoritas Sunni, termasuk Indonesia.

poster

Plot

Pada masa ketika Muhammad dan kelompok minoritas muslim di Mekkah mengalami persekusi oleh masyarakat Quraish, Abu Thalib sang pemimpin bani Quraish sekaligus paman Muhammad tetap tak bergeming melindungi keponakannya.

Pulang dari pertemuannya dengan Abu Sufyan yang mencoba membujuk Abu Thalib agar melepas perlindungannya pada Muhammad, Abu Thalib mengenang masa lalu. Masa-masa di mana ayahnya Abdul Muthalib masih hidup, ketika Abrahah raja Abesinia menyerang Mekkah dengan pasukan gajahnya dan ketika keponakannya Muhammad lahir pada tahun yang sama. Narasi film ini pun dimulai dengan gaya kilas balik.

 

Komentar
Beberapa kali saya membaca review film ini dengan penekanan Syiah, Syiah dan Syiah lagi sampai bosan membacanya tanpa penjelasan detail sebelah mana bagian Syiah dari biografi Muhammad pada masa kanak-kanak, karena film ini bertutur tentang Muhammad dari masa sebelum lahir hingga beliau berumur 13 tahun.
Masa kanak-kanak Muhammad ini termasuk masa yang jarang ada catatan biografinya, karena biografi Muhammad sebagian besar berpusat pada masa misi kenabian hingga wafat. Kebanyakan biografi masa kanak-kanak Muhammad berasal dari campuran cerita sejarah, folklore dan legenda, karena itu pula saya bingung dengan tuduhan biografi masa kanak-kanak Muhammad versi Syiah. Kalaupun ada pengaruh Syiah, itu tak jauh dari keberadaan sosok fisik Muhammad dalam film.

 

Selain itu juga, memang ada beberapa adegan yang menampilkan kepedulian Muhammad terhadap sesama (termasuk budak) yang belum pernah saya dengar/baca dari versi Sunni, dan saya yakin itu tak lebih dari kreativitas penulis skenario demi menunjukkan betapa mulianya kepribadian Muhammad sejak kanak-kanak. Itupun saya maklumi karena ini genre film drama biografi yang sering melakukan deviasi cerita asli demi membangun karakter tokoh dalam film.

poster2

Abdul Muthalib mengumumkan nama cucunya yang baru lahir pada kumpulan masyarakat Mekkah di depan Ka’bah. Dominasi warna cokelat/kuning natural dipadu dengan lightning keren membuat sinematografinya memukau.

Durasi film Muhammad: The Messenger Of God lumayan panjang yaitu hampir 3 jam. Boleh dibilang 1 jam pertama lumayan dragging ketika bertutur tentang kondisi jazirah Arab pra kelahiran Muhammad, lambatnya film bertutur sampai saya agak bosan menontonnya. Untung saja sinematografi yang digarap Vittorio Storaro memang mengesankan dan mampu membuat saya bertahan untuk terus menonton.

 

Sinematografi merupakan kekuatan utama film ini. Permainan cahaya dan warna yang didominasi warna coklat natural sungguh indah ditonton. Kadang di sela-sela kebosanan, saya masih sempat menimati bagian scene yang memainkan komposisi cahaya dengan warna yang asyik dilihat.

Selain itu, aransemen musik juga lumayan menarik. Usaha A. A. Rahman dalam membangun suasana drama masa jahiliyah jazirah Arab berhasil dengan sukses walaupun tidak bisa dibilang istimewa seperti  masterpiece A. A. Rahman dalam Slumdog Millionaire.

 

Yang paling mencuri perhatianku dari deretan para aktor dan aktris adalah Mina Sadati yang berperan sebagai Aminah. Orangnya cantik sekali, ditambah karakter yang diperankannya lemah lembut sempat membuatku terpukau. Gaya akting para aktor dan aktris cenderung teaterikal, saya kira karena sang sutradara menginginkan film ini dibuat dengan gaya puitis layaknya panggung theater.

poster1

Mina Sadati yang cantik dan anggun.

 

Arahan Majid Majidi sendiri terlihat cenderung ingin membuat film ini puitis, baik dari gaya penyutradaraan, angle kamera yang ditampilkan, sinematografi dan musik, hingga dialog yang ditampilkan. Dengan CGI minimalis, film ini lebih terasa realistis dan intelek dibandingkan jika memaksakan menampilkan berbagai macam mukjizat heboh berbalut CGI.

 

Sebagai sebuah film epic biography, Muhammad: The Messenger Of God mengulang kesalahan yang sering dibuat oleh film-maker film-film sejenis yaitu terlalu kaku. Karakter-karakter yang memenuhi layar boleh dibilang sangat hitam-putih. Protogonis utama adalah kakek (Abdul Muthalib) dan paman (Abu Thalib) Muhammad yang digambarkan sangat berkomitmen, baik hati dan penuh belas kasih tanpa sedikitpun ada area abu-abu di dalamnya. Untuk lawan mereka, sosok Abrahah, Abu Sufyan dan paman Muhammad yang lain Abu Lahab digambarkan sangat negatif, sombong dan antagonis. Aminah sang ibunda digambarkan sebagai sosok yang lemah lembut penuh kasih sayang, begitu pula sang ibu susu Halimah Sa’adiyah. Apalagi sosok Muhammad yang digambarkan sangat-sangat positif.
Saya tidak menyalahkan Majid Majidi dan kru dalam hal ini, karena bagaimanapun mereka juga terikat pada pandangan pribadi mereka terhadap karakter-karakter pendukung sang nabi, terlebih lagi sosok Muhammad sendiri. Lagi pula saya mengerti bahwa baik Sunni, Syiah bahkan Ahmadiyyah sekalipun sangat mengagungkan sosok Muhammad yang dipandang sebagai manusia paling sempurna yang pernah hidup di muka bumi.

Apalagi dewan ulama Iran sebagai sponsor memberikan syarat jika ingin film ini produksi dan dirilis, sosok Muhammad harus ditampilkan sangat positif tanpa cela.

 

7 tahun usaha Majid Majidi membuat film ini, 4 tahun dihabiskan untuk membangun set kota replika Mekkah dan Madinah abad ke-6 termasuk replika Ka’bah pada masa jahiliyyah,  hingga dana produkasi yang menghabiskan 40 juta dollar. Kiranya film Muhammad: The Messenger Of God tidaklah jelek sebagai sebuah film epik, walaupun saya sendiri tidak menganggapnya istimewa. Saya malah menganggap 2/3 bagian akhir film ini cukup bagus.

 

Anda ingin membandingkannya dengan film produksi 1976 The Message yang dibintangi Anthonny Quinn? Saya kira perbandingannya tidak tepat, mengingat film buatan Moustapha Akkad itu lebih fokus ke era ketika Muhammad dewasa yang sedang menjalankan misi kenabian.

Kalau anda  ingin menonton film yang lebih otentik bercerita tentang Muhammad nabi Islam, lebih baik nonton film dokumenter Muhammad: Legacy of the Prophet yang menampilkan banyak pakar sejarah dan agama beropini  tentang Muhammad dan pengaruhnya pada dunia.

Kalau anda termasuk yang berpendapat Muhammad tak boleh ditampilkan sosok fisiknya dalam sebuah film, saya sarankan jangan nonton. Daripada anda memaksa nonton demi mencari celah buruknya film lalu ngomel-ngomel mencaci maki, lebih baik tak usah nonton.
Saya sendiri nonton murni karena ini sebuah film epos biografi, tidak lebih dan tidak kurang.

 

NB.
Film ini sendiri hanya sedikit membahas tentang Islam (hanya pada bagian prolog) karena setting utamanya ada pada masa jahiliyah, yaitu masa sebelum Muhammad menjalankan misi kenabian.

 

 

Advertisements

2 Responses to “Muhammad: The Messenger Of God”


  1. 1 Kasamago August 22, 2017 at 2:38 am

    yg bener2 ditonjolkan kayaknya susana kehidupan jazirah Arab di era nabi..
    bangunan, kehidupan sosial politik, dsb..

  2. 2 AnDo August 22, 2017 at 2:57 am

    @Kasamago
    Iya, setting Mekkah dan Yastrib (era Madinah sebelum hijrah) dibangun khusus buat syuting film selama 4 tahun. Katanya sih mereka konsultasi sama ahli sejarah termasuk tentang bangunan dan isi dalam rumah di jazirah arab abad 7, sampai mereka butuh 4 tahun untuk bikin konstruksi termasuk daerah di sekitar Ka’bah.

    Soal kehidupan sosial politik dan juga budaya padang pasir, memang terasa sekali. Hubungan antar klan, termasuk budaya pemberian nama anak di depan patung berhala ditampilkan. Tak heran pas Abdul Muthalib memberi nama Muhammad pada cucunya bikin heboh, karena nama itu nggak umum pada masa itu. Apalagi Abdul Muthalib ngasih nama di depan Ka’bah, buka depan berhala.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: