La La Land

LLL_Poster

Plot

Mia (Emma Stone) seorang barista yang berambisi menjadi seorang aktris bertemu dengan pianis Jazz bernama Sebastian (Ryan Gosling). Cinta, amarah, dan ambisi mewarnai perjalanan cinta mereka berdua di atas panggung kota Los Angeles.

Komentar

Ini mungkin film terbaik yang kutonton di tahun 2017 hingga hari ini. Bagian yang paling kusukai adalah musik dan lagu yang mewarnai perjalanan cinta Mia dan Sebastian di sepanjang film. Aku suka sekali dengan musik Jazz dan komposisi yang digubah Justin Hurwitz untuk film ini benar-benar masuk dan mengalir mulus ke dalam cerita yang diarahkan oleh sutradara Damien Chazelle.

 

Apa yang dilakukan oleh Chazelle dalam mengarahkan film ini adalah hal terbaik kedua yang kusukai dari La La Land. Unik, inovatif dan kreatif adalah kata-kata yang cocok disematkan pada kreativitas Chazelle. Beberapa adegan one take shoot dengan pergerakan kamera yang dinamis untuk adegan menyanyi merupakan hal yang menarik untuk disimak. Entah berapa kali Gosling dan Stone harus take ulang adegan sulit menyanyi dan menari tanpa ada cut demi memuaskan imajinasi Chazelle, dan hasilnya bisa membuatku bengong terpesona.

Dengan sinematografi indah dan karya divisi art direction yang menawan, dua divisi ini mampu membuat Los Angeles berubah mendadak menjadi panggung romantis a la Paris untuk Mia dan Sebastian, sangat wajar diganjar piala Oscar penghargaan terbaik. Ditambah dengan kostum warna warni meriah dan koreografi tarian yang cakep membuat film ini layaknya versi modern dari film-film duo Fred Astaire dan Ginger Rogers era tahun 1930-1940an.

 

Emma Stone dan Ryan Gosling seakan memang sudah ditakdirkan untuk memerankan Mia dan Sebastian. Akting mereka berdua terlihat total dan saling menyatu satu sama lainnya.

 

Dan epilogue film ini yang indah, syahdu sekaligus menyayat hati penonton yang susah move-on untuk baper seharian sehabis nonton, adalah salah satu adegan ending film romcom terbaik yang pernah kutonton. Racikan antara realita, pengandaian dan harapan, bisa diramu dengan apik dan sempurna oleh Chazelle. Ending scene La La Land ini masuk ke dalam bagian memori spesialku bersama ending beberapa film dan drama semacam Tokyo Love Story dan (500) Days with Summer.

 

Satu-satunya penyesalanku adalah….aku tidak menontonnya di bioskop. Padahal film ini sangat sempurna jika ditonton di layar lebar, lengkap dengan audio stereo theater yang berkualitas dibandingkan speaker komputer yang terbatas.

 

 

Advertisements

5 Responses to “La La Land”


  1. 1 Kasamago June 28, 2017 at 11:41 pm

    sya donlot filmnya krn penasaran ni film hits banget dan ternyata bener.
    g ntn dibioskop krn udah skeptis dg judul n genre nya.. eh gataunya mlh booming.
    harusnya memang di layar lebar y.. lbh dramatis

  2. 3 jensen99 July 4, 2017 at 6:32 am

    Gak nyangka film ini pro kontranya rame juga, termasuk soal musik jazznya. Diluar itu memang menghibur sekali sih lihat interaksi Mia dan Sebs. Favorit saya pas Mia berdiri di depan layar bioskop biar kliatan (standarnya orang dah kontak hape) lalu ujungnya melayang berdua di planetarium. 😁

    • 4 AnDo July 4, 2017 at 7:23 am

      @jensen
      Soal rasisme white saviour itu menurutku menggelikan.
      Musik adalah bahasa universal, siapapun berhak membela musik yang digemarinya.
      Aku punya beberapa adegan favorit dan kuposting di facebook kayak “I hate Jazz” dan gaya filming “Lovely Night” yang pake single shot dan bikin Gosling ngomel kecapekan ngulang melulu.


  1. 1 Daftar film 2017 (Januari-Juni) | Toumei Ningen - The Reviews Trackback on July 4, 2017 at 3:54 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: