All About Lily Chou-Chou

lilychou


Plot

Film ini berpusat pada 2 tokoh anak SMP yaitu Shūsuke Hoshino (Shugo Oshinari) dan Yūichi Hasumi (Hayato Ishihara). Awalnya mereka berteman baik sejak kelas 1 SMP, cukup akrab hingga Hasumi pernah menginap di rumah Hoshino segala. Ketika sedang berwisata ke Okinawa, Hoshino hampir saja mati tenggelam dan kejadian itu mengubah karakter Hoshino yang tadinya anak baik dan siswa berprestasi menjadi tukang bully, manipulatif dan tak segan meneror orang lain.

Salah satu korban bully Hoshino tak lain dari teman akrabnya sendiri yaitu Hasumi. Hidup Hasumi sejak dibully Hoshino dan geng bully-nya bagaikan berada di neraka. Satu-satunya pelarian Hoshino adalah lagu-lagu yang dibawakan penyanyi Rock kharismatik bernama Lily Chou-Chou (baca: Lili Syu-Syu). Hoshino merasa dirinya berada di dunia yang berbeda penuh kedamaian ketika berada dalam Ether (istilah  fans Lily Chou-Chou, kondisi di mana para pendengar musik Lily Chou-Chou berada di alam bawah sadar dalam keadaan trance). Ironisnya, orang yang memperkenalkan Hasumi pada Lily Chou-Chou justru Hoshino yang juga fans berat Lily Chou-Chou.

Di dunia nyata, Hasumi harus menghadapi bully terhadap dirinya sendiri dan juga berinteraksi dengan korban bully grup Hoshino yang lain seperti Tsuda (Yu Aoi) dan Kuno (Ayumi Ito). Sedangkan di dunia maya, Hasumi aktif di dalam forum media sosial fans Lily Chou-Chou sebagai admin dan sumber informasi Lily Chou-Chou bagi para penggemarnya di forum. Bagaimana bisa musik Lily Chou-Chou bisa memberikan pengaruh yang berbeda pada anak-anak SMP fans beratnya?

Komentar

Film ini aku tonton untuk yang ketiga kalinya, dan untuk kali ini aku bisa lebih fokus pada beberapa detail yang tadinya tak terlalu kuperhatikan. Detail tersebut ada di text message forum online fans Lily Chou-Chou yang bertebaran di sepanjang film dari awal hingga akhir. Walaupun kebanyakan isi dari text message tersebut tentang Lily Chou-Chou dan makna dari musiknya, secara tak langsung juga menyingkap profil para akun yang mendominasi isi forum (terutama akun Philia dan Ao Neko) dan bagaimana musik Lily Chou-Chou mengubah kehidupan mereka dan memperngaruhi keputusan-keputusan yang diambil para penggemarnya. Karena text berjalan lumayan cepat, aku kurang memperhatikannya ketika nonton pertama kali, baru kali ini aku bisa ngeh beberapa bagian.

lilychou2

Film dibuka dengan visualisasi indah, seorang bocah SMP di tengah sawah sedang mendengarkan lagu Lily Chou-Chou lewat earphone. Kemudian penonton dibawa ke kehidupan sehari-hari bocah SMP bernama Hasumi beserta permasalahannya sehari-hari. Dalam beberapa scene, visual yang ditampilkan memang indah, tapi sebagian besar visualisasinya malah berkesan muram dengan tokoh siswa-siswi SMP yang “sakit“. Letupan-letupan tak biasa yang ditampilkan oleh Iwai, membuat film ini “tak enak” ditonton orang normal sekaligus juga membetot para penonton untuk tetap duduk nonton hingga selesai.

Akting para pemerannya kuacungi jempol. Shunji Iwai tampak sengaja membuat dialog lebih sedikit dan memperbesar porsi akting lewat gesture tubuh dan mimik wajah para aktornya. Emosi yang ditampilkan lewat gesture dan mimik para tokoh justru mampu memancing emosi penonton hingga campur aduk. Oshinari, Ishihara, Aoi hingga Ito tak ada yang mengecewakan, mereka semua menampilkan sosok karakter yang dibawakan dengan pas.

Adegan-adegan bully yang dilakukan Hoshino dan geng-nya lumayan mengganggu dan bikin depresi, belum lagi score buatan Takeshi Kobayashi mengiringi film dan membuat suasana semakin muram. Bahkan lagu-lagu Lily Chou-Chou yang membuat para fans beratnya trance, bagiku malah terkesan depresif dan suicidal dengan nada-nada minor yang menguasai musiknya. Tapi uniknya, makin lama didengar , lagu-lagu Lily Chou-Chou malah semakin enak di kuping dan bikin berhalusinasi. Jangan-jangan aku udah masuk ke dunia Ether-nya Lily Chou-Chou, hahaha…..

Lagu yang paling kusuka adalah Glide (diputar pas Ending Scroll) dan Tobenai Tsubasa (diputar pas Shiori Tsuda main layangan). Ada kesan musik Lily Chou-Chou ini gabungan antara Radiohead, Bjork, Beck, hingga musik klasik Claude Debussy yang dibikin Electro. Musik dengan dasar bernuansa Etheral dipadu dengan sedikit psikedelik dan electro memang mampu membius pendengar untuk berhalusinasi masuk ke ruang Ether Lily Chou-Chou.

 

Hingga saat ini, aku masih menganggap All About Lily Chou-Chou sebagai karya terbaik Shunji Iwai (apalagi mengingat Iwai akhir-akhir ini suka bereksperimen yang aneh-aneh dalam membuat film baru). Kalau anda ingin menikmati film ini, sebaiknya nonton dalam kondisi santai supaya bisa enjoy dalam suasana depresif di alam pikiran Shunji Iwai. Depresif, suasana suram, suicidal music dan durasi 3 jam, apalagi yang kurang untuk menguatkan alasanku menganjurkan nonton film ini dalam kondisi rileks?

 

 

 

2 Responses to “All About Lily Chou-Chou”


  1. 1 Kasamago October 7, 2016 at 1:58 am

    hahaha… ni film g cocok bwt hiburan kyknya, lbh enak dtonton bg yg ingin mencoba film dg plot yg unik unik sedap..

    • 2 AnDo October 8, 2016 at 3:01 pm

      Iya, jauh dari kesan menghibur. Tapi setelah nonton sampai habis, entah kenapa kesannya kuat banget sampai bisa kebawa-bawa. Aku sampai donlot album Lily Chou-Chou saking susah lepasnya hahahaha….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: