The Final Master

TheFinalMaster

 

Plot

Seorang sifu (guru ilmu beladiri) Wing Chun bernama Chen Shi (Liao Fan) datang ke kota Tian Jin demi mewujudkan pesan mendiang gurunya untuk membuka perguruan Wing Chun di kota yang dikenal sebagai kota pusat ilmu beladiri China. Di Tian Jin sendiri sudah ada 19 perguruan dan para tetuanya tak ingin menambah perguruan baru sehingga mereka membuat peraturan: Untuk mendirikan perguruan baru, minimal harus mengalahkan 8 wakil perguruan lain.

Chen-sifu datang meminta nasihat tetua senior perguruan di Tian Jin bernama Zheng-sifu (Chen Shieh-Chieh). Zheng-sifu menyarankan agar tidak terjadi bentrokan dan demi menjaga nama baik Chen-sifu sendiri, sebaiknya Chen-sifu mendidik seorang murid asal Tian Jin yang nantinya akan diadu dengan 8 perguruan beladiri. Kalaupun muridnya kalah, Chen tak perlu menanggung malu diusir dari Tian Jin,  dan kalau menang sudah pasti perguruan Wing Chun akan berdiri. Selama mendidik muridnya, Chen disarankan untuk hidup sederhana tanpa memancing perhatian 19 perguruan lain.

 

Demi memuluskan rencananya, Chen-sifu menikahi Zuo Guohui (Song Jiang) seorang perempuan dengan latar belakang kelam hingga tak ada lelaki lain yang berniat menikahinya. Mereka berdua hidup sederhana di pinggir kota Tianjin.
Sementara itu Chen-sifu menemukan bakat beladiri di dalam sosok seorang kuli muda bernama Geng Lianchen (Song Yang) dan mulai melatihnya ilmu Wing Chun.

 

Komentar

Akhir-akhir ini sedikit sekali film kungfu dengan cerita orisinil yang muncul dari belantara perfilman China. Kebanyakan kalau bukan adaptasi novel terkenal, biografi tokoh sejarah biasanya jadi pilihan utama.

 

Xu Haofeng sendiri adalah seorang praktisi beladiri China yang berkecimpung dalam dunia sutradara, penulis buku dan penulisan skenario. Karena itu pula, Xu mampu mengkoreografi sendiri film-film martial arts yang ditulis dan sutradarainya. Xu juga dikenal sebagai fight choreographer yang lebih suka menampilkan pertarungan tanpa CGI, tanpa permainan efek kamera dan efek editing, juga tanpa stuntmen yang mengharuskan aktor pemerannya melakukan sendiri adegan aksi.

 

Sudah 3 film yang disutradarai sendiri oleh Xu (Sword Identity, Judge Archer dan The Final Master) dan masih banyak ruang yang harus dirambah dan dipelajari oleh Xu. Yang paling terlihat di 2 film sebelumnya, Xu masih kurang mampu mengembangkan karakter-karakter yang muncul dalam filmnya. Kebanyakan karakter-karakter tersebut diberi latar belakang lalu mentok begitu saja seiring jalannya plot. Dalam film The Final Master, karakter yang paling menarik justru tokoh istri sang sifu yang dimainkan oleh Song Jiang. Seorang wanita yang dianggap tak layak dinikahi karena masa lalunya yang gelap tapi merasa dirinya masih berharga untuk tawar menawar dengan Chen-sifu saat Chen melamar dirinya. Belum lagi interaksinya dengan sang suami yang unik, lebih mirip hubungan dua pedagang untuk saling menguntungkan dibanding hubungan romansa suami-istri. Beruntunglah Xu mendapatkan casting dengan akting yang solid di dalam diri Liao Fan dan Song Jiang dalam menutupi perkembangan karakter cerita.

Hal lain yang masih harus dikembangkan oleh Xu sebagai penulis skenario, plot filmnya terlalu lurus. Ketika Xu menulis skenario film The Grandmasters untuk Wong Kar-wai, setidaknya ada dua penulis lain yang turut mengembangkan plot cerita. Belum lagi menghitung gaya penyutradaraan Wong yang unik dan tidak lurus. Kalau menonton film yang skenarionya ditulis sendiri oleh Xu, barulah terlihat kalau plot dan gaya berceritanya terlalu lurus, minim konflik ketika ada interaksi antar tokoh.

 

Dari segi  koreografi beladiri, The Final Master tidaklah sebombastis serial Ip Man-nya Donnie Yen yang terus terang saja lebih keren karena unsur editing yang mumpuni. Tapi The Final Master memberikan aku satu kesan mendalam betapa Wing Chun adalah beladiri yang sangat efektif . Barter pukulan dan senjata (butterfly knife adalah senjata pilihan utama praktisi Wing Chun) yang berlangsung cepat dan efektif untuk mentahbiskan Wing Chun sebagai beladiri jarak pendek kelas atas.

Pertarungan praktisi Wing Chun di sini (baik dari tokoh sang guru Chen maupun si murid Geng) lebih mengandalkan gaya bertarung dengan butterfly knife. Bahkan untuk bertarung tangan kosongpun, Wing Chun a la Xu lebih mirip bertarung dengan tapak tangan sebagai pengganti butterfly knife. Latihan yang dilakukan si murid Geng sendiri lebih berfokus dengan senjata, termasuk modifikasi Wooden Dummy yang lengan kayunya digantikan dengan lengan pisau. Terlihat kreatif, unik dan berbeda dibandingkan dengan latihan Wooden Dummy film-film bertema Wing Chun seperti serial Ip Man. Ditambah dengan gaya koreografi Xu yang tanpa efek dan tanpa stuntmen, setiap adegan pertarungan terasa lebih membumi dan wajar.

 

Walaupun masih jauh dari sempurna, Xu Haofeng boleh dibilang sutradara film-film martial arts masa depan yang patut ditunggu karyanya. Mengingat usianya masih muda dan sudah beberapa kali bekerja dibawah bimbingan sutradara berkelas seperti Wong Kar-wai dan Chen Kaige, aku berharap Xu bisa meningkatkan potensinya sebagai sutradara dan penulis skenario handal di masa depan.

 

2 Responses to “The Final Master”


  1. 1 Dwi Okta Nugroho June 28, 2016 at 1:40 pm

    Plot yg menarik bgt, sedikit berbeda dan orisinal. Sjak ip man rasa ny blm ad lg film2 silat china yg bgtu memorable..

    • 2 AnDo June 29, 2016 at 12:51 am

      @Kasamago
      Plotnya agak2 mirip dengan Ip Man 2 yang mau buka perguruan, bedanya Ip Man 2 lebih sederhana.
      Terakhir, Ip Man 3 plot ceritanya biasa aja, cuma koreografi fighting emang keren (terutama IDonnie Yen vs Tyson)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: