The Green Prince

Plot:
Mosab, putra sulung Seikh Hassan Yousef salah satu tokoh pendiri dan pemimpin Hamas, direkrut Shin Bet (agensi kontraspionase Israel) pada usia 19 tahun untuk memata-matai untuk Hamas selama 10 tahun. Setelah keluar dari Shin Bet, Mosab pergi ke Amerika dan meminta suaka politik di sana. Tahun 2010, Mosab menerbitkan buku kontroversial berjudul Son of Hamas yang menceritakan detail kronologi dirinya menjadi mata-mata berharga untuk Shin Bet.

Komentar:
Ini adalah film dokumenter yang mengadaptasi isi buku Son of Hamas dalam bentuk wawancara langsung dengan Mosab sebagai sumber cerita primer dan wawancara terhadap handler Mosab dalam agensi Shin Bet agen Gonen bin Yitzak sebagai sumber sekunder. Film dipenuhi ilustrasi dari cerita Mosab yang kontroversial, termasuk juga potongan-potongan video dokumenter yang menampilkan ayah Mosab.

Terus terang saja saya tertegun dengan semua keputusan yang dibuat oleh Mosab lewat ceritanya, mulai dari betapa dia mengkhianati ayahnya dan keluarganya, berlanjut mengkhianati bangsanya, dan itu dilakukannya selama 10 tahun penuh. Saya tak habis pikir betapa Mosab sanggup mengambil keputusan dengan konsekuensi akan putus hubungan dengan keluarganya karena setahu saya orang Arab sangat erat dengan aura tribalismenya. Saya tahu pasti Mosab akan menjalani kehidupannya di Amerika penuh dengan kesendirian, dan saya sebagai orang yang menganggap keluarga sebagai hal utama tak akan bisa menjalani apa yang Mosab hadapi sekarang. Menganggap Gonen si handler sebagai saudara? Bagi saya, teman itu bisa datang dan pergi, tapi keluarga inti seperti ayah, ibu, saudara kandung, istri dan anak tak bisa pergi begitu saja tanpa merasa kehilangan yang sangat mendalam.

Ketika Mosab menceritakan betapa Shin Bet memperlakukan dirinya jauh lebih manusiawi ketika diinterogasi dibanding interogator Hamas yang memakai kekerasan fisik, saya harus mengakui bahwa Shin Bet memang menggunakan taktik jitu dan lebih cerdik dibandingkan metode interogasi Hamas. Hamas hanya akan mengekstrak informasi dari si tawanan pada saat itu saja, tapi Shin Bet bisa mendapatkan jauh lebih banyak info rahasia di masa depan karena berhasil merekrut si tawanan sebagai mata-mata ketika dia kembali ke Hamas. Lalu apa yang Mosab katakan betapa Israel lebih manusiawi dibanding Hamas, saya cuma geleng-geleng kepala. Karena apa yang dilakukan tentara Israel dan sayap militer Hamas menurutku sama saja, sama-sama menggunakan kekerasan dan teror terhadap penduduk sipil. Yang membedekan mereka cuma latar belakang dan kubu yang berlawanan.

Terakhir yang terlintas pada pikiran saya setelah nonton rangkaian cerita Mosab, Hamas tidak akan bisa menang melawan Israel jika menggunakan taktik konvensional seperti yang dilakukan sekarang. Isreal benar-benar memainkan taktik perang secara psikologis dalam perang dingin sekaligus mengandalkan teknologi dalam perang langsung. Anak-anak Israel sekolah setinggi mungkin, setelah lulus mereka menggunakan ilmu pengetahuan yang mereka peroleh untuk inovasi teknologi tingkat tinggi demi kepentingan Israel. Anak-anak Palestina? Mereka belajar hingga tingkat dasar dan itupun masih banyak yang tak lulus hingga pendidikan tingkat SMA karena lebih sibuk turun ke jalan ikutan melempar batu pada tentara Israel dibanding menimba ilmu demi masa depan Palestina.
Hasilnya?
Dari tahun 2001, roket yang dipakai Hamas adalah roket Al-Qassam. Sekarang? Hamas masih pakai Al-Qassam, paling dengan beberapa perubahan variasi tanpa ada kemajuan teknologi yang berarti.
Bagaimana dengan Israel? Dari roket Barak, Python, hingga Iron Dome menunjukkan betapa pesatnya teknologi militer yang dikembangkan para ilmuwan dan engineer Israel. Dan ini masih berlanjut dengan roket Iron Beam, dan entah roket berteknologi mutakhir apa lagi yang akan dikembangkan.
Mau mengusir Israel dari tanah Palestina? Benahi dulu sumber daya manusianya.

4 Responses to “The Green Prince”


  1. 1 jensen99 February 1, 2015 at 4:33 pm

    Belum donlot nih, masalah koneksi, tapi dari apa yang saya tau tentang Mosab, dia membuat banyak keputusan benar dalam hidup dia. Dari menjadi informan Shin Bet hingga memeluk Kristen. Andai saja ada jauh lebih banyak anggota Hamas seperti Mosab, masalah Palestina mungkin bisa selesai separuhnya.

    • 2 AnDo February 1, 2015 at 4:45 pm

      @jensen.

      dia membuat banyak keputusan benar dalam hidup dia

      Situ menganut zionist sih. Tapi tanpa membela Palestina pun, saya sih melihat Mosab bunuh diri pelan-pelan. Soal dia convert jadi kristen, itu urusan pribadi dia sama Tuhan, karena pindah agama itu cuma orang yang convert aja yg tau baik buruknya.

      Andai saja ada jauh lebih banyak anggota Hamas seperti Mosab, masalah Palestina mungkin bisa selesai separuhnya.

      Menurutku, seandainya saja pejabat Israel banyak yang seperti Gilad Atzmon, konflik Israel-Palestina bakalan selesai lebih cepat😀

  2. 3 kasamago February 4, 2015 at 12:20 pm

    Last paragraf seolah sanjungan menohok utk kondisi palestine vs israel saat ini,. Mngkin sbnarnya pihak pejuang palestine sudh lm menyadari ketertinggalannya dr israel, tp mo gmn lg disisi israel pun, mereka berupaya keras agar suatu saat palestine tidak mampu menandingi mereka dalam sisi teknologi, ekonomi, dsb.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: