The Admiral: Roaring Currents

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/c31/1006439/files/2015/01/img_2280.jpg

Plot:
Mengisahkan pertempuran Myeongyang yang menasbihkan nama Admiral Yi Sun-sin sebagai salah satu legenda jenderal angkatan laut dunia, setelah Yi Sun-sin berhasil memimpin 12 kapal perang kerajaan Joseon mengalahkan 330 kapal perang Jepang yang sedang menginvasi semenanjung Korea.

Komentar:
Saya sudah pernah membaca kisah heroik Admiral Yi Sun-sin yang melegenda karena tak pernah kalah dalam pertempuran kapal yang dipimpinnya. Ketika menonton film ini, mau tak mau saya membaca ulang tentang kisah Admiral Yi beserta detail pertempuran Myeongyang yang memang paling dikenal diantara banyak pertempuran pada masa invasi Jepang terhadap semenanjung Korea.

Hasilnya?

Banyak adegan yang dibuat dramatis demi kepentingan hiburan (namanya juga film) sehingga mengurangi keakuratan catatan sejarah originalnya. Supaya terlihat lebih dramatis, dibuatlah perbandingan sangat jomplang antara jumlah kapal Joseon yang cuma 12 dibanding 330 kapal Jepang. Sejarah mencatat Admiral Yi Sun-sin memimpin 13 kapal perang Panokseon melawan 133 kapal perang Jepang yang disupport 200-an kapal logistik. Ingat! Kapal logistik dibawa Jepang demi kepentingan logistik terutama untuk supply konsumsi dan perbaikan kapal rusak mengingat Jepang sedang melakukan invasi dan jauh dari rumahnya sendiri, kapal logistik tidak dilengkapi meriam sehingga tak bisa dipakai perang laut. Selain itu juga, kapal logistik digunakan untuk mengangkut pasukan infantri yang akan diterjunkan ke darat setelah jalur laut diamankan angkatan laut sehingga mereka bisa didaratkan tanpa halangan. Biasanya kapal logistik ditempatkan agak jauh dari medan pertempuran karena kapal logistik menjadi incaran utama musuh karena logistik berperan besar terhadap daya tahan pasukan. Pasukan Joseon tak butuh kapal logistik karena bisa supply langsung dari daratan mengingat mereka pihak yang diinvasi oleh Jepang.
Akan tetapi 13 kapal perang melawan 133 kapal perang saja sudah sangat jomplang dan kemenangan pasukan pimpinan Admiral Yi Sun-sin sudah sangat mencengangkan.

Selain itu juga dramatisasi close-combat antara kapal utama (Flag-ship) Admiral Yi Sun-sin dikeroyok kapal-kapal Jepang terlalu bombastis. Admiral Yi tak akan mau mengadakan close-combat mengingat perbedaan armada yang jomplang sehingga memilih untuk melancarkan strategi perang kapal. Kekuatan kapal perang Joseon yang bernama Panokseon jauh lebih superior dibanding kapal perang Jepang pada saat itu. Konstruksi lambung kapal Panokseon sangat kuat sehingga mampu menampung 20 meriam, bandingkan dengan kapal perang Jepang yang hanya mampu memuat 2-4 meriam. Akan tetapi kapal perang Jepang lebih kecil dan ringan sehingga mampu melakukan manuver dengan cepat dan gesit dibandingkan Panokseon yang lebih kokoh tapi kaku dalam manuver. Kalah jumlah armada membuat Admiral Yi Sun-sin memutuskan untuk memancing armada Jepang agar bertempur di perairan selat Myeongyang yang dikenal memiliki arus kuat, semuanya demi menghentikan kelebihan kemampuan manuver cepat kapal Jepang.
Panokseon yang kokoh lebih stabil diperairan Myeongyang sehingga mampu membidikkan meriam ke arah musuh dengan lebih jitu. Berbeda dengan kapal perang Jepang yang lebih ringan sehingga manuvernya terganggu arus kuat perairan Myeongyang hingga beberapa kali kapal perang jepang saling bertabrakan satu sama lain. Tanpa bisa melakukan manuver untuk menghindari incaran meriam musuh, kapal perang Jepang menjadi mangsa empuk Panokseon yang memang lebih unggul dalam kekuatan meriam.

Soal adegan pertempuran laut, film ini menampilkan perang kapal yang cukup seru. Akan tetapi saya masih lebih suka film Red Cliff 2 yang juga menyuguhkan pertempuran antar kapal perang. Keduanya sama-sama lebay menampilkan adegan perang kapal, tapi setidaknya Red Cliff 2 lebih seru dan lebih lebay😛
Akting Choi Min-sik sebagai sang admiral memang keren dan karismatik, Choi tak mengecewakan saya sebagai penggemar Choi sejak saya menonton Oldboy beberapa tahun silam. Sayangnya akting Choi tak bisa diimbangi lawan mainnya yang lain. Para pemeran samurai Jepang terlalu lebay sebagai musuh, apalagi ketika dialog mereka harus didubbing oleh pengisi suara berbahasa Jepang sehingga terlihat palsu.

Jadi menurut saya, The Admiral: Roaring Currents merupakan film yang seru dan cukup keren. Walaupun demikian, film ini tidak mampu memuaskan ekspektasi saya yang cukup tinggi setelah membaca review yang memuji-muji film ini setinggi langit. Ini film yang bagus tapi over-estimate.

Rating: 3.75/5

3 Responses to “The Admiral: Roaring Currents”


  1. 1 jensen99 March 31, 2016 at 12:04 pm

    Saya suka banget film ini. Terasa seperti biografi Laksamana Yi Sun-sin. Melihat ditengah perang pun masih ada rivalitas dengan Laksamana Won Kyun yang ambisius, akhirnya ratusan kapal binasa di pertempuran Chilcheollyang. Saya salut keteguhan beliau mempertahankan AL padahal disuruh bertempur di darat. Iya dramatisasi pertempurannya lebay tapi gak masalah, seru malah lihat pelaut mindah2in meriam dan amunisi yang berat banget. Hahaha. Yang penting statistik skor 31-0 gak berubah.😀

    • 2 AnDo April 3, 2016 at 1:54 am

      @jensen
      Kayaknya jensen suka film2 berlatar sejarah korea ya? Biasanya kalau nonton, aku suka sekalian baca2 latar belakang sejarahnya. Soalnya aku kurang tau sejarah korea dibandingkan jepang dan china yang lebih familiar.

  2. 3 jensen99 April 3, 2016 at 4:09 am

    1. Saya suka film Korea yang bagus2, sebagian dari film2 itu kebetulan berlatar belakang sejarah. Yang total fiksi juga kutonton kok, asal bagus dan punya donlotannya.:mrgreen:
    2. Memang sudah prosedur tuk baca2 artikel internet (minimal wiki) usai nonton film apapun. Apabila filmnya berlatar/tentang sejarah sekalian belajar, apalagi kalo bukan sejarah yang pernah kubaca sebelumnya. Terakhir kategori ini nonton The Revenant.😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: