Saint Seiya: Legend of Sanctuary

Plot:

Lima Bronze Saint (Pegasus Seiya, Dragon Shiryu, Cygnus Hyoga, Andromeda Shun dan Phoenix Ikki) bertekad menjadi ksatria pelindung Kido Saori yang terlahir sebagai titisan dewi Athena. Demi keselamatan Athena, kelima Bronze Saint tak punya pilihan lain kecuali menyantroni Sanctuary dan harus melewati 12 kuil zodiak, bertarung dengan 12 Gold Saint yang merupakan ksatria terkuat.

Komentar:

Durasi film yang tak sampai 100 menit memang sangat mempengaruhi penilaianku akan versi film CGI Saint Seiya ini. Plot film ini sangat sederhana dan hanya menjual adegan pertarungan antara para ksatria pelindung Athena dengan lawan-lawannya. Dengan plot yang sangat sederhana seperti ini, biasanya lemahnya plot cerita akan ditutupi dengan pengembangan karakter dan interaksi antar tokoh. Manga yang bervolume belasan dan puluhan episode anime memang bisa menampilkan apa yang menjadi kekuatan serial Saint Seiya, tapi tidak untuk film ini. Dengan durasi hanya 93 menit dikurangi dengan banyaknya adegan pertarungan, versi film layar lebar ini sungguh sulit untuk mengembangkan karakter, apalagi untuk membuat jalinan interaksi menarik dari para karakternya.

Ambil contoh saja, satu duel antara Dragon Shiryu vs Cancer Death Mask bisa memakan 2-3 volume penuh dengan puluhan chapter manga atau belasan episode untuk versi serial anime. Di sini bisa dirasakan betapa sulitnya perjuangan Shiryu untuk melewati batas kemampuannya agar bisa mengalahkan Death Mask, perlu perjuangan yang berdarah-darah. Dalam film ini, Shiryu hanya butuh 4-5 menit untuk menumbangkan seorang Gold Saint. Jadinya malah Gold Saint terlihat cupu keberatan gelar doang sehingga perjuangan alot Bronze Saint mengalahkan Gold Saint dengan level berlipat di atasnya jadi tak bisa dirasakan.

Contoh lainnya, pertarungan antara guru dan murid Aquarius Camus vs Hyoga. Latar belakang hubungan Camus dan muridnya yang penuh budi dan dendam, marah dan kasih sayang, bisa membuat pertarungan keduanya sarat emosi. Ketika Camus menurunkan ilmu pamungkas Aurora Execution kepada muridnya dan Hyoga bisa mengalahkan gurunya dengan ilmu tersebut, aroma tragedi bisa dirasakan para pembaca manga maupun penonton anime. Duel guru dan murid dalam film ini termasuk cepat sekali. Hyoga hanya butuh satu kali pukulan untuk menjatuhkan gurunya, tanpa suasana tragedi, tanpa adegan emosional.

Walaupun demikian, tampilan CGI dengan desain armor baru yang keren membuat versi film CGI ini enak dilihat. Untungnya dari awal nonton, saya memang tidak berharap lebih karena memang sudah bisa menduga dan memang perhitungan saya benar adanya. Jadinya yah… Saya lumayan terhibur dan memang film ini ditujukan untuk menghibur para fans Saint Seiya yang ingin bernostalgia.

Rating: 3.25/5

5 Responses to “Saint Seiya: Legend of Sanctuary”


  1. 1 jensen99 December 17, 2014 at 1:52 pm

    Belum nonton, tapi mengutip komentar teman di Twitter, film ini seperti kompilasi sejumlah FMV game yg digabung jadi satu.🙂

    • 2 AnDo December 18, 2014 at 3:20 pm

      @jensen.
      Dibilang kompilasi juga, banyak pertarungan yang hilang koq. Misalnya duel Ikki vs Virgo Shaka, lalu Shiryu vs Capricon Shura, duel Shun vs Pisces Aprodhite juga hilang, Hyoga vs Scorpio Milo juga gak ada.

  2. 3 kasamago December 24, 2014 at 12:38 am

    sisi teknis keren bgt, syg joke n storyline agak menyimpang dr harapan..

  3. 5 Saya January 26, 2015 at 11:43 pm

    CG membuat ekspresi lebih miskin emosi….sayangnya.Salam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: