Rurouni Kenshin: Densetsu no Saigo Hen (The Legend Ends)

IMG_2010.JPG

Baru kali ini saya nonton film di bioskop yang terisi penuh tanpa ada kursi kosong. Bahkan ketika saya membeli tiket nonton sehari sebelum penayangan, kursi bagian tengah tinggal tersisa sedikit dan saya beruntung masih bisa mendapatkan bagian aminah (agak minggir di tengah). Teman saya yang nonton dan membeli tiket pada hari H, harus puas mendapatkan kursi di depan layar. Rupanya penonton yang ingin melihat lanjutan Rurouni Kenshi: Kyoto Inferno, cukup antusias datang menonton pada penayangan premier hari pertama. Bagaimanakah kelanjutannya?

Terlebih dahulu, saya ingin mengingatkan bahwa review kali ini mengandung spoiler. Tapi bagi penggemar manga/anime Rurouni Kenshin, sepertinya spoiler yang saya tulis tak akan berpengaruh banyak.

Plot
Setelah kejadian Kyoto Inferno pada film bagian pertama, Kenshin sadar bahwa dirinya bukan tandingan Shishio. Bagaimana tidak? Melawan tangan kanan Shishio yang bernama Soujiro saja dia masih kalah. Untuk itu Kenshin bertekad meningkatkan kemampuannya dan meminta gurunya (Fukuyama Masaharu) mengajarinya Ougi (jurus pamungkas) dari ilmu pedang Hitten Mitsurugi Ryu.
Sementara itu, Shishio dan komplotannya menuju Tokyo dengan kapal perangnya untuk menuntaskan ambisinya.

Note
Terus terang saja, saya agak kecewa.
Dengan masa putar 135 menit, sutradara Keishi Otomo sebenarnya punya ruang gerak cukup banyak untuk mengeksplorasi karakter dan mengembangkan plot cerita lebih baik lagi. Kenapa? Karena film prequel dan bagian pertama Kyoto Inferno sudah lebih dari cukup untuk memberi dasar plot utama. Tapi kenyataannya Otomo malah mengulur-ulur cerita berputar-putar untuk hal yang tidak perlu. Buat apa juga memindahkan adegan final ke Tokyo? Apa tidak bisa dihabiskan di Gunung Hiei daerah Kyoto saja seperti manga yang diadaptasi? Selain menghemat waktu, durasi yang ada bisa dialihkan untuk pengembangan karakter anggota Juppongatana seperti Usui dan Anji. Saya yakin banyak fans akan senang sekali melihat interaksi Anji dan Sanosuke dalam mentransfer ilmu kepalan Futae no Kiwami.

Tapi kenyataannya, selain Seta Soujiro, anggota Juppongatana cuma numpang lewat alias karakter tempelan yang sekedar tampil buat berantem sama jagoan. Pertemuan Anji dan Sanosuke seperti makanan instan, ketemu pertama kali langsung berantem tanpa ada persiapan bikin bumbu-bumbu penyedap terlebih dahulu. Jangan berharap ada kisah transfer Futae no Kiwami di sini. Usui? Dia cuma numpang lewat, nampang pakai tutup mata bertameng batok kura-kura supaya keliatan jagoan. Nyatanya dibunuh Saito cuma sekali gebrak doang, cupu!
Yang lainnya kayak Kamatari, Henya, Iwanbo, Saizuchi, dan si (bukan) raksasa Fuji? Mereka cuma aktor figuran yang lagi cosplay hilir mudik di lokasi syuting😈

IMG_2013.JPG

Shishio, Soujiro, Cho dan para cosplayer Juppongatana yang cuma hilir mudik nampang doang.

Saya mau membahas karakter favorit saya yaitu Hiko Seijuro XIII dalam paragraf khusus ini.
Ketika sosok Fukuyama Masaharu muncul dalam adegan akhir Kyoto Inferno, saya sudah bertanya-tanya apakah Fukuyama berperan sebagai Hiko Seijuro? Adegan awal film The Legend Ends yang memperlihatkan kilas balik pertemuan pertama Hiko Seijuro dengan Himura Shinta yang sedang menggali kuburan lumayan menggetarkan. Ketika masuk ke dalam adegan interaksi Kenshin dengan gurunya, saya merasa ada yang kurang pada karakter Hiko Seijuro. Ya, Hiko versi Fukuyama kurang sombong, kurang sarkastik, dan kurang egois dibanding versi manga. Memang sih, Hiko versi Fukuyama lumayan mengintimidasi Kenshin dan gaya sarkasmenya termasuk taraf wajar, sarkas seorang guru yang marah dan kecewa terhadap muridnya yang melarikan diri. Masalahnya yang membuat karakter Hiko terlihat keren dan intimidatif adalah sikap sombongnya yang memandang jago pedang lain seperti semut kecil tak berguna. Dan Hiko tidak menganggap dirinya sombong, tapi bersikap jujur hehehe. Toh memang Hiko Seijuro XIII terlalu kuat dan dia memang karakter manga Rurouni Kenshin yang paling kuat. Tak ada yang salah pada Fukuyama Masaharu, hanya saja tokoh Hiko Seijuro di down-grade supaya lebih normal seperti guru martial arts kebanyakan. Dan itu membuat saya yang ngefans tokoh Hiko Seijuro XIII kecewa karena Hiko menjadi tidak unik lagi seperti karakter dalam manga:mrgreen:
Tapi setidaknya sebagai master swordsman yang hidup menyendiri seperti petapa, Hiko versi Fukuyama ditampilkan sangat wajar. Agak lusuh, rambut kusut berantakan dan terutama tak memakai jubah Spawn yang aneh itu, bahkan untuk zaman Meiji sekalipun.

Satu lagi hal absurd tak berguna dari film ini, munculnya Perdana Menteri Jepang pertama Ito Hirobumi sungguh dipaksakan. Selain memang tidak muncul dalam versi manga, kemunculannya dalam film juga terkesan mengada-ada. Seberbahaya apakah Shishio bagi Jepang sampai-sampai seorang perdana menteri bela-belain datang berunding dengan musuh? di markas musuh yang penuh tentara pula! Apa tak lebih logis jika yang datang adalah kepala polisi atau Jenderal? Paling tidak, menteri pertahanan lah.
Selain itu juga kemunculan Aoshi pada final fight agak absurd. Bayangkan saja Aoshi sedang luka parah setelah dihajar Kenshin di Kyoto, Aoshi bisa datang ke Tokyo dengan segera. Emangnya Kyoto-Tokyo dekat? Belum lagi Aoshi tiba-tiba datang ikut campur mengeroyok Shishio. Itu pertempuran di atas kapal loh! Emangnya Aoshi datang naik helikopter secara sekoci yang ada terbatas dan hanya dipakai polisi Jepang dan anak buah Shishio.
Karena itu pula, saya tidak habis pikir kenapa adegan final harus dipindah ke Tokyo. Padahal jika mengikuti versi manga, pertempuran terakhir berlangsung di gunung Hiei Kyoto. Sehingga masih logis sekalipun Aoshi datang ikut campur.

IMG_2016.JPG

Dan yang bikin saya sebal adalah ada beberapa adegan lebay yang bikin film ini terkesan film untuk anak-anak. Contohnya, ketika Kenshin ingin menolong Okina Nenji malah dilarang sambil dikasih pesan sponsor, “Pergilah mengejar Shishio! Hanya engkaulah harapan masa depan Jepang!”😮
Adegan lebay yang lainnya silahkan cari sendiri. Kalau yang beginian tidak dianggap lebay, ya sudahlah. Mungkin saya yang terlalu serius nonton.😈

IMG_2012.JPG

Duel satu lawan satu Kenshin vs Shishio, sebelum Shishio dikeroyok 1 lawan 4

Apakah saya benci pada film ini?
Tidak! Film ini tetap berharga untuk ditonton karena satu hal: Fight Choreography!
Adu pedang dan jotos dalam film ini memang menjadi highlight dan sajian utama yang mengesankan. Seperti halnya dalam Kyoto Inferno, duel adu cepat dan lincah Kenshin vs Soujiro masih tetap keren. Duel antara pedang sakabato Kenshin vs double kodachi Aoshi well-choreographed. Adu kepalan Sanosuke vs Anji mungkin tidak terlalu istimewa. Dan semua adegan aksi dalam film ini ditutup dengan final fight yang mempesona: Shishio dikeroyok Kenshin, Sanosuke, Saito dan Aoshi. Shishio benar-benar bagaikan monster, sampai butuh keroyokan 4 jagoan untuk mengalahkannya. Kenji Tanigaki melakukan tugasnya sebagai penata laga dengan sukses, saya benar-benar salut sama murid Donnie Yen ini. Semua adegan aksi dilakukan tanpa CGI maupun wirework (pakai kawat). Saya nonton di TV melihat betapa seriusnya penggarapan adegan aksi dalam film ini. Bukan cuma aktornya saja, cameraman sendiri harus ikut pontang panting merekam adegan pertarungan supaya tidak melewatkan detail. Bahkan saya merasa harus menambahkan nilai 0.25 dalam rating film ini khusus untuk fight choreography yang keren.
Satu hal lagi, saya hampir tak percaya kalau Satoh Takeru melakukan semua adegan aksi tanpa digantikan stuntman. Salut buat Satoh atas totalitasnya.

Rating: 3.25/5

8 Responses to “Rurouni Kenshin: Densetsu no Saigo Hen (The Legend Ends)”


  1. 1 Imelda September 14, 2014 at 8:55 pm

    aku tidak menonton, dan tidak membaca. Tapi aku kagum waktu melihat behind the scenenya. Kameraman nya juga herbring!

  2. 3 Salman Firdaus September 15, 2014 at 10:01 am

    Asiknya, disini belum masuk…😦

  3. 4 kasamago September 24, 2014 at 8:27 am

    well, jd mkin penasaran..

  4. 5 atha ajo October 24, 2014 at 8:32 am

    setuju sama tulisan ini, agak mengecewakan tapi tetep harus menonton. yang masih saya heran sampai sekarang teknik satoh yg loncat loncat sama lari sambil miring kanan kiri.

  5. 6 Agiasaziya January 16, 2015 at 12:57 pm

    Aku penggemar berat Rurouni Kenshin. Manga dan animenya aku lahap…apalagi live actionnya. Ditambah aku suka banget Takeru Sato yang sebelum jadi Kenshin udah aku suka. Meski memang masih ada kekurangan di sana-sini, pesona Kenshin dan shishio edan banget.

  6. 7 Inung84 September 2, 2016 at 7:08 am

    Plg telat tau film ini.. bnr2 nyesel berasa hbs piknik ke planet lain.


  1. 1 Rurouni Kenshin: Kyoto Taika Hen (Kyoto Inferno) | Toumei Ningen - The Reviews Trackback on September 14, 2014 at 4:01 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: