Rurouni Kenshin: Kyoto Taika Hen (Kyoto Inferno)

IMG_1865.JPG

Setelah sukses mendapatkan keuntungan lewat Rurouni Kenshin live action (2012), film sequel hanya tinggal menunggu waktu untuk diproduksi saja. Tak tanggung-tanggung, 2 sequel yang direncanakan akan diputar secara berurutan pada bulan Agustus dan September 2014 di bioskop Jepang. Tak mau kehilangan momen, story arch yang diambil adalah bagian yang paling terkenal dari serial Rurouni Kenshin yaitu Kyoto Arch atau juga dikenal dengan Juppongatana Arch. Boleh dibilang hampir seluruh karakter penting dalam serial Rurouni Kenshin muncul dalam sequel ini termasuk para anggota Juppongatana dan big boss mereka Shishio Makoto, para anggota Oniwabanshu termasuk Shinomori Aoshi dan Misao, dan tentu saja Kenshin and the gang dari film prequelnya. Film ini juga rencananya akan diputar di Indonesia pada bulan September nanti. Rupanya distributor film di Indonesia menyadari kesalahan mereka pada tahun 2012 tak memasukkan Rourouni Kenshin ke dalam daftar tayang, mengingat tingginya popularitas Samurai X (baik manga maupun anime) di Indonesia. Kali ini tak ingin mengulangi kekeliruan mereka, dua sequel Rurouni Kenshin sudah siap tayang di Indonesia via jaringan bioskop Blitz.

Plot
Setelah event film sequelnya, Kenshin bersama teman-temannya Kaoru, Sanosuke, Megumi dan Yahiko tinggal di dojo milik Kaoru dengan tenang. Kemunculan seorang tokoh Bakumatsu bernama Shishio Makoto membuat Kenshin tak bisa berdiam diri, mengingat Shishio berniat mengacaukan Jepang dengan membakar kota Kyoto. Dalam perjalanannya dari Tokyo menuju Kyoto, Kenshin bertemu dengan gadis manis bernama Misao yang ternyata anggota Oniwabanshu. Dan dalam perjalanan itu pula, Kenshin bertemu dan bertarung dengan Seta Soujiro, tangan kanan Shishio, yang mengakibatkan pedang sakabato milik Kenshin patah. Sementara itu di Tokyo sendiri muncul seorang jago pedang bernama Aoshi yang mencari Kenshin untuk membunuhnya.

Note
Terus terang saja, film ini mengulangi kesalahan yang sama dengan prequelnya yaitu tak ada development character yang signifikan. Boleh dibilang hanya Shishio Makoto saja yang mendapatkan pengembangan karakter lewat cerita kilas balik, sisanya tak banyak yang bisa dilihat. Bahkan kisah Aoshi yang diceritakan dengan gaya flashback juga mengecewakan. Sulit bersimpati pada tokoh-tokoh di dalamnya kecuali……. para penonton yang mengikuti anime/manga Rurouni Kenshin. Mau bagaimana lagi? Terlalu banyak karakter yang berseliweran di dalam film ini hingga memang sulit untuk mengembangkan karakter-karakter tersebut. Bagi yang mengikuti anime/manga Rurouni Kenshin tentunya mengetahui dengan jelas latar belakang dan motivasi setiap karakter sehingga bisa mengerti dan bersimpati pada keputusan dan tindakan para tokoh tersebut. Sedangkan yang tak mengikuti anime/manga Rurouni Kenshin, kemungkinan akan bingung dan tak memiliki ikatan dengan tokoh yang muncul di layar. Misalnya saja salah satu motivasi Kenshin untuk pergi ke Kyoto gara-gara terkenang dengan sosok wanita berkimono putih yang menangis di tengah hujan. Bagi yang mengikuti anime/manga langsung saja mengerti, tapi yang nonton live action pertama kali bakalan kebingungan. Ujung-ujungnya tokoh seperti Megumi, Sanosuke hingga Yahiko hanya terkesan tempelan numpang lewat belaka. Sedangkan Kaoru? Walau awalnya keliatan bakalan jadi badass, ujung-ujungnya tetap aja jadi Damsel in Distress lagi.

Soal kasting setiap karakter, memang sulit memuaskan para fans yang nonton karena imajinasi setiap orang berbeda-beda. Misalnya saja ada yang suka kasting Satoh Takeru sebagai Kenshin, ada juga yang tidak. Dalam sequel ini, saya agak kecewa dengan kasting tokoh Seta Soujiro dan Komagata Yumi. Soujiro dalam bayanganku adalah anak muda bertampang shota imut yang selalu tersenyum innocence, sedangkan tampang Kamiki Ryunosuke yang memerankannya terlalu dewasa dan senyumannya terkesan dingin. Padahal keistimewaan Soujiro justru terletak pada pembawaannya yang innocence, sehingga tak ada yang menyangka kalau Soujiro justru pembunuh berdarah dingin yang mampu menyembelih orang sambil tersenyum ramah. Beda lagi dengan Yumi yang menurutku memiliki karakter bitchy, sensual dan yang pasti sangat hot dan seksi. Pemeran Yumi adalah Maryjun Takahashi, seorang model Jepang keturunan Filipina, yang sayangnya agak jauh dari kesan seksi. Hanya bibirnya saja yang seksi, sisanya dengan bokong dan dada relatif rata malah membuyarkan bayanganku tentang Yumi yang sensual.
Yang lainnya seperti kasting Aoshi, Kashiwazaki Nenji, dan Cho si pemburu pedang boleh dibilang lumayan. Malah saya suka dengan Tsuchiya Tao yang dikasting sebagai Misao, tampangnya yang cute dan lucu cocok dengan karakter Misao dalam anime/manga.

Mengenai akting, sekali lagi saya harus mengatakan suka dengan Satoh Takeru sebagai Hitokiri Battosai maupun Kenshin yang sedang serius, tapi kurang terkesan dengan gaya lugu seorang Kenshin si pengelana. Kebetulan sekali porsi Kenshin yang lugu dalam sequel ini berkurang banyak sehingga saya tak mengeluarkan komplain. Sebagai antagonis utama Shishio, tadinya saya agak kecewa dengan pilihan peran yang jatuh pada Fujiwara Tetsuya. Saya agak bosan karena Fujiwara ini termasuk aktor yang sering mendapatkan peran stereotip sebagai psikopat, dari Light Yagami dalam Death Note, Shield of Straw hingga Monsterz. Tapi ternyata Fujiwara mampu membawakan peran Shishio secara mengesankan. Karena tubuh dan tampang Shishio berbalut perban, mau tak mau Fujiwara harus menggunakan bagian lain dari Shishio yang bisa meyakinkan penonton. Dan Fujiwara berhasil memaksimalkan pandangan mata dan suaranya untuk menunjukkan bahwa Shishio Makoto adalah sosok yang berbahaya. Sinar mata Shishio yang tajam dengan pandangan penuh kebencian dan kekejaman cukup meyakinkan. Saya suka dengan nada suara penuh sinisme yang dipakai Fujiwara sewaktu Shishio berdialog dengan Kenshin. Shishio memanggil Kenshin dengan panggilan “Sempai” yang berarti kakak senior dengan sinis, untuk menunjukkan kepada Kenshin bahwa dirinya adalah junior melanjutkan pekerjaan kotor Kenshin sebagai pembunuh pada jaman Bakumatsu (secara tidak langsung mengingatkan bahwa Kenshin dan Shishio sama kotor dan bejadnya).

Adegan action dalam film sequel ini digarap lebih bagus dibanding prequelnya. Yang paling saya suka adalah duel Kenshin vs Soujiro, dimana keduanya sama-sama mengandalkan kecepatan dan kelincahan untuk mengalahkan lawan. Jauh lebih mengesankan dibanding Kenshin vs Udo Jin-e dalam film prequelnya. Sedangkan untuk duel Kenshin vs Cho dan Aoshi vs Nenji, digarap dengan rapi dan cukup baik. Salut buat penata laga Kenji Tanigaki yang kali ini mampu mengaplikasikan ilmu yang ditimba dari Donnie Yen sewaktu Tanigaki mengikutinya di Hongkong. Sayangnya mayoritas anggota kumpulan jagoan elite Shishio yang berjuluk Juppongatana hanya numpang lewat, hanya Soujiro dan Cho saja yang bertarung penuh. Mungkin mereka memang disimpan untuk adegan pertarungan sengit dalam sequel selanjutnya nanti yang akan tayang bulan September. Setidaknya saya melihat ada Hoji, Usui, Anji dan Iwanbo hadir bersama Shishio.

Yang agak disayangkan adalah setting lokasi syuting yang terlalu banyak menggunakan Eiga-mura sebagai setting lokasi kota Kyoto. Karena saya pernah main ke Eiga-mura, saya lumayan ingat sudut-sudut Eiga-mura. Jadinya ketika melihat adegan di kota Kyoto yang cuma itu-itu saja (terutama di area sekitar jembatan), saya mendapat kesan kota Kyoto itu sempit dan kecil amat, padahal Kyoto kan ibu kota kekaisaran Jepang selama bertahun-tahun. Tadinya saya sempat berpikir, koq nggak membangun imitasi kota Kyoto jaman Meiji aja sekalian. Tapi yah, mungkin budget pembuatan film tak cukup untuk membangun kota Kyoto jaman Meiji sehingga sutradara hanya sanggup untuk memaksimalkan Eiga-mura sebagai lokasi setting kota Kyoto jaman Meiji.

Musical score biasa saja, dan untungnya “Rurouni Kenshin main theme” tak sering diputar karena lumayan annoying seperti ketika saya menonton prequelnya.

Trivia: Siapakah tokoh misterius yang diperankan Fukuyama Masaharu di ujung film? Ada fans yang bilang itu Seijuro Hiko, tapi koq kurang yakin. Mari menunggu sequel keduanya Rurouni Kenshin: Legends End.

Rating: 3.5/5

Bersambung ke bagian kedua: The Legend Ends

5 Responses to “Rurouni Kenshin: Kyoto Taika Hen (Kyoto Inferno)”


  1. 1 Radira August 22, 2014 at 12:56 pm

    Kyaaa… udah nonton duluan… enaknya T__T

    Belakangan ini udah jarang menjelajah blog orang jadinya ketinggalan baca review ini..

    Ternyata hasilnya masih belum memuaskan ya.. tapi nggak jelek juga ya??

    Sayang, entar di sini tayangnya cuma di blitz doank dan itu nggak ada di kota saya😦

  2. 2 kasamago August 24, 2014 at 10:37 am

    memang trllu sensitif tuk mengangkat story dg bnyk karakter. Hmm.. smkin tak sabar menikmatinya di bangku bioskop..

    Well down..

  3. 3 giyoungchy October 23, 2014 at 5:22 am

    di Indonesia udah release belum sih yang kenshin tokyo inferno ini??
    maklum, say ajarnag nonton..


  1. 1 Rurouni Kenshin: Densetsu no Saigo Hen (The Legend Ends) | Toumei Ningen - The Reviews Trackback on September 16, 2014 at 6:31 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: