When Marnie Was There

Sejak berdiri tahun 1985, Film-film buatan Studio Ghibli didominasi oleh produk buatan duo sutradara Hayao Miyazaki dan Isao Takahata. Ketika mereka berdua mulai beranjak tua, perlahan-lahan Studio Ghibli mulai mencari sutradara muda berbakat untuk menggantikan kedua sutradara legenda Ghibli tersebut. Hingga kini, baru 2 sutradara muda yang diberikan oleh Studio Ghibli untuk menggarap film mereka hingga dua kali yaitu Goro Miyazaki dan Hiromasa Yonebayashi. Film Yonebayashi yang pertama adalah Arrietty yang dirilis pada tahun 2010 dan When Marnie Was There adalah film Studio Ghibli kedua yang digarap oleh Yonebayashi. Film yang berjudul asli Omoide no Marnie ini menjadi istimewa karena ini adalah film pertama Studio Ghibli yang tidak memberikan kredit sama sekali pada duo Miyazaki-Takahata. Biasanya ada saja campur tangan mereka berdua dalam film-film buatan Ghibli, kali ini Yonebayashi benar-benar diberikan keleluasaan penuh. Yonebayashi malah ikut menulis skenario yang diadaptasi dari novel When Marnie Was There buah karya penulis cerita anak-anak asal Inggris Joan G. Robinson. Bagaimanakah hasilnya?

Seorang anak introvert berusia 12 tahun bernama Anna (Sara Takatsuki) tinggal bersama ibu angkatnya di kota Sapporo, Hokkaido. Anna adalah anak yang tak bahagia, membenci semuanya termasuk dirinya sendiri. Satu-satunya kesukaannya adalah menggambar. Anna dikirim ke desa nelayan di pinggir pantai Hokkaido oleh ibu angkatnya untuk berlibur. Di tepi pantai, Anna melihat sebuah villa peristirahatan tua tak terurus. Penasaran, Anna mendatangi villa tersebut dan di sanalah Anna bertemu Marnie, seorang gadis bule cilik cantik, berambut pirang, bersifat riang gembira dan optimis. Anna yang sulit berteman ternyata bisa akrab dengan Marnie yang misterius begitu cepatnya.
Lalu siapakah Marnie sebenarnya?
Apakah Marnie sosok nyata yang bersembunyi di dalam villa?
Apakah Marnie hanya tokoh khayalan Anna yang mengharapkan seorang teman yang mengerti dirinya?
Atau mungkinkah Marnie adalah hantu dari masa lalu?
Atau jangan-jangan Marnie adalah makhluk supranatural?

Yonebayashi mengawali film dengan agak lambat. Memperkenalkan Anna sebagai gadis cilik yang tak bahagia seharusnya tak perlu terlalu panjang. Tapi Yonebayashi membayarnya lewat kemunculan Marnie yang misterius. Interaksi Anna-Marnie terlihat menarik dan asyik untuk disimak. Bagaimana Marnie membawa Anna ke dunia yang tak pernah dirasakan Anna, piknik penuh petualangan, pesta, dansa. Bagaimana keduanya saling berbagi rahasia pribadi masing-masing, sambil menyatakan iri terhadap kondisi lawan bicaranya yang terlihat lebih bahagia (walau kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan).

Selain Anna dan Marnie, tokoh-tokoh pendukung lainnya juga tampil tak kalah menarik. Ada Yuriko si ibu angkat, pasangan suami istri Oiwa yang menjadi induk semang Anna, Hisako si wanita pelukis, ada anak-anak lokal kampung nelayan, Sayaka si anak baru, bahkan Toichi si nelayan bisu juga sempat mencuri perhatian. Semua tokoh-tokoh pendukung tersebut memberikan efek emosi yang berbeda setiap kali berinteraksi dengan Anna.

Aku suka dengan twist yang diberikan di akhir film tentang siapakah Marnie. Sebenarnya sih, aku sudah mulai curiga dan menebak sejak pertengahan film. Dan walaupun ternyata tebakanku hampir benar (hanya melenceng sedikit), tetap saja aku hampir mewek mendengar tragedi kisah Marnie.

Secara teknis, anda tak perlu meragukan produk Studio Ghibli. Dari gambar yang artistik mempesona, hingga music scoring yang menawan (walau tak ada parade lagu-lagu keren seperti film From Up on Poppy Hill). Ini film produksi Studio Ghibli loh!

So my verdict, kalau anda seorang penggemar cerita misteri, suka cerita persahabatan, film ini cocok untuk menemani anda. Akhir yang humanis mengingatkanku pada gaya Isao Takahata walaupun tentu saja Yonebayashi memiliki ciri khasnya tersendiri dalam membawakan kisah humanisme dengan ringan, karena garapan Takahata sering kali agak berat dengan menyelipkan pesan filosofis.
Jangan lewatkan untuk menikmati lagu Fine on the Outside yang dibawakan dengan suara manis dan empuk Priscilla Ahn untuk mengiringi ending scroll.

Rating: 4/5

1 Response to “When Marnie Was There”


  1. 1 Yulinda Sibtikar May 6, 2015 at 5:48 am

    Waktu pertama kali nonton film ini aku kira ini film horror hantu cewe pirang Amerika! Hahaha… xD Suka banget sama ceritanya. Sempet berkaca-kaca ketika tau cerita Marnie yang sesungguhnya. Hiks😥 Top banget film ini ^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: