Archive for August, 2014

Like Father, Like Son

Sutradara Jepang Kore-eda Hirokazu bisa dibilang lebih dikenal di dunia perfilman barat daripada di dalam negeri, tepatnya di ajang festival film yang sering diikutinya. Sering kali Kore-eda membawakan film bertema keluarga untuk mengeksplorasi budaya Jepang. Dalam Like Father, Like Son, Kore-eda mengeksplorasi hubungan orangtua dan anak ketika sang orang tua mengetahui kalau anak yang 6 tahun mereka besarkan ternyata bukanlah anak kandung mereka. Film yang aslinya berjudul Soshite Chichi ni Naru (akhirnya menjadi bapak) dinominasikan penghargaan Palme d’Or di ajang Festival Film Cannes 2013 sebelum akhirnya berhasil menyabet gelar Jury Prize di ajang yang sama.
Continue reading ‘Like Father, Like Son’

Advertisements

Rurouni Kenshin: Kyoto Taika Hen (Kyoto Inferno)

IMG_1865.JPG

Setelah sukses mendapatkan keuntungan lewat Rurouni Kenshin live action (2012), film sequel hanya tinggal menunggu waktu untuk diproduksi saja. Tak tanggung-tanggung, 2 sequel yang direncanakan akan diputar secara berurutan pada bulan Agustus dan September 2014 di bioskop Jepang. Tak mau kehilangan momen, story arch yang diambil adalah bagian yang paling terkenal dari serial Rurouni Kenshin yaitu Kyoto Arch atau juga dikenal dengan Juppongatana Arch. Boleh dibilang hampir seluruh karakter penting dalam serial Rurouni Kenshin muncul dalam sequel ini termasuk para anggota Juppongatana dan big boss mereka Shishio Makoto, para anggota Oniwabanshu termasuk Shinomori Aoshi dan Misao, dan tentu saja Kenshin and the gang dari film prequelnya. Film ini juga rencananya akan diputar di Indonesia pada bulan September nanti. Rupanya distributor film di Indonesia menyadari kesalahan mereka pada tahun 2012 tak memasukkan Rourouni Kenshin ke dalam daftar tayang, mengingat tingginya popularitas Samurai X (baik manga maupun anime) di Indonesia. Kali ini tak ingin mengulangi kekeliruan mereka, dua sequel Rurouni Kenshin sudah siap tayang di Indonesia via jaringan bioskop Blitz.

Continue reading ‘Rurouni Kenshin: Kyoto Taika Hen (Kyoto Inferno)’

When Marnie Was There

Sejak berdiri tahun 1985, Film-film buatan Studio Ghibli didominasi oleh produk buatan duo sutradara Hayao Miyazaki dan Isao Takahata. Ketika mereka berdua mulai beranjak tua, perlahan-lahan Studio Ghibli mulai mencari sutradara muda berbakat untuk menggantikan kedua sutradara legenda Ghibli tersebut. Hingga kini, baru 2 sutradara muda yang diberikan oleh Studio Ghibli untuk menggarap film mereka hingga dua kali yaitu Goro Miyazaki dan Hiromasa Yonebayashi. Film Yonebayashi yang pertama adalah Arrietty yang dirilis pada tahun 2010 dan When Marnie Was There adalah film Studio Ghibli kedua yang digarap oleh Yonebayashi. Film yang berjudul asli Omoide no Marnie ini menjadi istimewa karena ini adalah film pertama Studio Ghibli yang tidak memberikan kredit sama sekali pada duo Miyazaki-Takahata. Biasanya ada saja campur tangan mereka berdua dalam film-film buatan Ghibli, kali ini Yonebayashi benar-benar diberikan keleluasaan penuh. Yonebayashi malah ikut menulis skenario yang diadaptasi dari novel When Marnie Was There buah karya penulis cerita anak-anak asal Inggris Joan G. Robinson. Bagaimanakah hasilnya?

Continue reading ‘When Marnie Was There’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: