Once Upon A Time in Shanghai

Anda pernah mendengar nama Philip Ng? Jangankan penggemar film biasa, penggemar film martial arts Hongkong sekalipun mungkin tidak kenal. Padahal Philip Ng adalah aktor muda yang digadang-gadang sebagai penerus Donnie Yen. Perjalanan karir Philip Ng dan Donnie Yen memang agak mirip. Jika Donnie Yen lahir di Guangdong China dan sejak usia 11 tahun diboyong kedua orang tuanya ke Boston Amerika, Philip Ng lahir di Hongkong lalu ketika masih kecil diboyong dan dibesarkan orangtuanya di Chicago Amerika. Kedua mulai diajarkan berinteraksi dengan bela diri sejak kecil oleh orangtua masing-masing. Jika Donnie Yen sejak kecil dilatih ibunya Bow-Sim Mark seorang master Taichi, maka Philip Ng berlatih Choy Lee Fut dibawah bimbingan ayahnya Sam Ng. Keduanya sama-sama berprofesi ganda sebagai aktor dan action choreographer, juga mengembangkan MMA (Mixed Martial Arts) dan memasukkan gaya MMA kedalam film yang tata laganya dikoreografi sendiri. Sayangnya karir Philip di Hongkong tak semulus Donnie. Mengawali karirnya di dunia perfilman Hongkong sejak tahun 2003, peran Philip tak pernah jauh dari penata laga dan peran pembantu. Akhirnya kesempatan unjuk gigi sebagai pemeran utamapun tiba. Dalam Once Upon A Time in Shanghai (OUATIS) ini, Philip Ng akhirnya mencicipi peran sebagai tokoh utama.

Pemuda miskin dari kampung bernama Ma Yongzhen (Philip Ng) datang ke Shanghai untuk mengadu nasib mencari peruntungan. Sayangnya kehidupan Shanghai terlalu keras bagi anak kampung seperti Yongzhen. Satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakoninya sebagai kuli angkut tak mengubah nasibnya terlalu banyak. Malah kemampuan beladirinya yang unik membuat Yongzhen sering berhadapan dengan masalah dan kekerasan. Hingga akhirnya Yongzhen berkenalan dengan seorang gangster muda yang sedang naik daun, Longqi (Andy On). Dari awalnya bertengkar, beradu kungfu, hingga akhirnya akrab berteman. Kekuasaan Longqi makin lama membuat gangster kapak terintimidasi dan mereka mulai menyusun rencana untuk menyingkirkan Longqi dengan cara bekerja sama dengan pihak Jepang.

Aku tertarik menonton film ini karena OUATIS disebut-sebut sebagai remake film tahun 1972 yang berjudul Boxer from Shantung yang disutradarai legenda Shaw Brothers Chang Cheh. Bahkan Chen Kuantai yang berperan sebagai Ma Yongzhen dalam Boxer from Shantung juga diajak main di OUATIS sebagai salah satu pemimpin Gang Kapak.

Sayangnya garapan Chang Cheh yang bergaya noir dan gritty, penuh kisah keserakahan manusia malah dibelokkan sutradara OUATIS Wong Chingpo menjadi film bertema nasionalisme. Boxer from Shantung berfokus pada perkembangan karakter seorang pemuda kampung nan lugu yang berangsur-angsur kehilangan identitas keluguannya, terkikis oleh sifat serakah dan tamak kekuasaan akibat pengaruh kehidupan kota Shanghai yang keras. Adegan Chen Kuantai bertarung dikeroyok Gang Kapak dengan sebilah kapak tertancap diperutnya benar-benar memorable, sebuah karya sutradara legendaris Chang Cheh yang tak terlupakan.

OUATIS malah membagi fokusnya antara si lugu Yongzhen, si gangster patriot Longqi, gang kapak, hingga spionase Jepang. Tak ada pengembangan karakter yang jelas dan semua tokoh cenderung hitam-putih, khas film-film nasionalisme melawan penjajahan. Malah dalam beberapa adegan, terlihat jelas penulis cerita dan sutradara OUATIS ingin memasukkan 2 film Bruce Lee ke dalam OUATIS. Tokoh yang dibawakan aktor senior Sammo Hung mengingatkanku pada Huo Yuanjia guru tokoh Chenzhen (yang dibawakan Bruce Lee) dalam Fist of Fury. Dengan menambahkan embel-embel spionase Jepang, makin terlihat betapa cerita Fist of Fury ingin dijejalkan ke dalam OUATIS. Lalu coba lihat adegan final fight. Ngapain juga mengambil setting pertarungan akhir di sebuah pagoda dimana tiap tingkat telah menunggu lawan yang lebih tanguh. Mau jadi Game of Death wannabe? Belum lagi jika ingin memperhatikan plot hole yang bertebaran di sana sini. Coba pikir, cewek secantik Tie Ju cuma ditangkap dan diikat. Lagian setelah bebas, tiba-tiba Tie Ju sudah menggenggam rantai pisau senjata andalannya.

Untung saja film ini memiliki Yuen Woo-ping sebagai penata laga. Yuen menunjukkan kelasnya sebagai fight choreographer senior yang mumpuni. Pertarungan dalam film ini memang tak ada yang baru dan tak ada yang spesial, tapi tetap saja enak untuk ditonton. Kungfu tangan kosong Yongzhen terlihat tangguh, ditambah dengan kemampuan Philip Ng yang memang seorang martial artist asli.

My verdict, Philip Ng mampu menunjukkan dirinya sebagai aktor laga yang memiliki kemampuan beladiri solid. Setiap adegan laga mampu dilakoni Philip dengan lincah dan bertenaga. Sayangnya film ini sendiri lemah dalam bercerita dan itu turut memberi andil kurang suksesnya film ini. Semoga saja Philip Ng bisa mendapatkan film laga dengan plot cerita kuat yang dapat melambungkan namanya sebagai aktor laga papan atas, karena sudah saatnya Donnie Yen memiliki penerus.

2 Responses to “Once Upon A Time in Shanghai”


  1. 1 Joesatch July 29, 2014 at 4:35 am

    Pokoknya kepalan tangan kirinya bisa bikin mati kebo dalam 1 kali swing

  2. 2 Jeri July 30, 2014 at 7:25 am

    Salam,

    Blogwalking | Senang bisa jumpa senior blog film. Nice review and keep blogging.

    Salam kenal


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: