The Blacklist – Sebuah Opini

Ini adalah tulisan opini sebagai pengantar awal sebelum tulisan review lengkap yang akan kutulis nanti setelah The Blacklist rampung ditayangkan untuk satu musim.

Salah satu admin serial addicts memberikan link review The Blacklist di komentar facebook, aku jadi tertarik untuk membahas opini penulisnya. Ada tiga hal yang menarik perhatianku.

1. Aku malas sekali menulis review serial TV setengah-setengah, dalam artian reviewku selalu ditulis setelah satu musim tayang serial habis ditayangkan. Kenapa? Karena banyak sekali hal yang bisa terjadi pada sisa episode hingga final, kadang kala 3-4 episode terakhir justru membuat sebuah serial sangat ditunggu kelanjutannya di musim berikut. Misalkan saja serial Grimm season pertama, aku tak menyangka kalau beberapa episode terakhir justru lumayan membuatku kecanduan nonton. Padahal setengah season awal boleh dibilang standar dan agak membosankan.
Kalaupun ingin membahas detail per episode, itu jauh lebih berguna dibandingkan menulis review pendek berupa rekapitulasi 8 episode awal dari total 20-an episode. Jadi, memberikan kesimpulan untuk sebuah serial yang tayang kurang dari setengahnya itu adalah hal yang absurd. Apalagi jika membandingkan dengan serial yang sudah tayang penuh 2 musim.

2. Membandingkan serial The Blacklist dengan Person of Interest? Really? Menurutku sungguh tidak adil untuk membandingkan keduanya. Kita lihat saja siapa yang berada dibalik layar. Kreator dari PoI adalah Jonathan Nolan, anda kenal dengan nama tersebut? Kalau anda penggemar film, sungguh keterlaluan kalau tak kenal penulis adiknya Christopher Nolan ini. Hasil karyanya yang difilmkan oleh kakaknya itu cukup fenomenal untuk membayangkan level kemampuan Jonathan Nolan. Dibantu J.J Abrams sebagai produser, PoI merupakan serial yang sudah ditunggu-tunggu kemunculannya, malah sebelum ditayangkan. Kalau anda bergelut dibidang review film layar lebar maupun serial, lagi-lagi sungguh keterlaluan jika tak kenal J.J. Abrams.
Bagaimana dengan kreator The Blacklist Jon Bokenkamp? Terus terang saja, Bokenkamp ini tadinya tak punya halaman di wikipedia ketika aku nonton pilot episode The Blacklist. Tak ada yang kuketahui tentang dia sebelumnya. Kalau melihat CV Jon Bokenkamp di imdb, dia baru melahirkan 2 karya skenario film yang habis dicaci kritikus. Di bidang serial TV, Jon Bokenkamp adalah penulis yang masih hijau dan levelnya masih jauh untuk tingkatan orang seperti Jonathan Nolan.
Kalaupun ingin membandingkan The Blacklist, bandingkanlah dengan serial buatan kreator yang selevel.

3. Setiap episode memang menampilkan police procedural biasa, tapi clue-clue dan pertanyaan misterius yang katanya cuma tempelan?
Menurutku malah kasus kriminal yang dihadirkan dalam setiap episode itulah tempelannya, sedangkan bagian utama serial ini adalah clue-clue dan pertanyaan misterius yang selalu hadir dalam setiap episode. Terbukti setelah aku nonton hingga episode 18, clue-clue dan hal-hal misterius tersebut memang mengiring arah cerita ke plot utama yang kemungkinan besar akan menjelaskan banyak pertanyaan tak terjawab di dalam episode-episode awal. Bagaimana dengan police procedural yang ditampilkan tiap episode? Yang namanya tempelan, tak dibahas lagi di episode-episode belakangan tuh.

NB.
– Aku sengaja menampilkan link serial addicts, sekalian promosi blog teman lah:mrgreen:
– Tulisan ini adalah kritik tulisan review berupa opini pribadi, jadinya boleh saja tidak setuju.

2 Responses to “The Blacklist – Sebuah Opini”


  1. 1 dnial March 26, 2014 at 4:28 pm

    Sebenarnya 1-5 episode pertama itu penting untuk direview supaya fans baru bisa menilai layak diikuti atau tidak serial ini. Setelah satu season jadinya post-mortem.

    Saat dulu akan jadi juri, guru SMA-ku memberi petuah: “Jangan nunggu sampai akhir untuk ngasih nilai, di tengah2 kamu sudah bisa mengira2 nilainya bakal seberapa, ngeliatin sampai akhir jarang akan mengubah opinimu, yang ada kamu malah lupa.” Secara statistik sih bisa dibilang regression to the mean.

    After saying that, aku sih nggak terlalu cocok sama Blacklist. Agak aneh. Saat dikasih misteri-misteri di awal aku malah mikir, “So what?” karena aku belum punya keterikatan sama tokoh2nya jadinya nggak penasaran. Sampai episode 3 masih belum penasaran. Ya sudah, pass saja.

    • 2 AnDo March 26, 2014 at 4:48 pm

      Sebenarnya 1-5 episode pertama itu penting untuk direview supaya fans baru bisa menilai layak diikuti atau tidak serial ini.

      Sorry, saya nggak sependapat. Kalau nulis review serial itu justru sebisa mungkin menyeluruh satu musim. Saya nonton serial Alpha sampai 7-8 episode dan saya anggap membosankan, lalu saya stop nonton tanpa bikin review apapun. Saya tahu kalau dnial suka serial Alpha. Sekiranya saya bikin review jelek untuk 7-8 episode dan anda baca, apa sampeyan bakalan mau terus nonton?
      Saya serahkan saja nulis review serial Alpha untuk satu musim bagi yang nonton penuh, dan menurutku itu lebih fair.
      Kalau beneran niat nulis review, mending tulis aja review per satu episode, itu lebih adil untuk menilai suatu serial layak terus diikuti atau tidak.
      Oh iya, musim ini aku nonton serial Tomorrow People hingga episode 6 lalu stop karena nggak cocok, toh aku nggak mau nulis reviewnya karena belum tentu serialnya jelek sampai akhir musim.

      Setelah satu season jadinya post-mortem.

      Buat orang yang belum pernah nonton satu episode-pun, gak bisa dibilang post-mortem lah. Saya nonton “True Detective” salah satu serial detektif terbaik tahun ini setelah memaksakan diri untuk terus lanjut walau 2 episode awal berjalan sangat lamban dan bikin ngantuk… and it is worth. Guess what? Itu semua gara-gara baca review satu season yang sudah mewanti-wanti slow-pace di awal 2 episode.

      Secara statistik sih bisa dibilang regression to the mean.

      Bicara soal statistik, namanya juga statistik. Statistik memang tidak bohong karena bicara kecenderungan, tapi statistik juga sering mengelabui persepsi. Jadinya yah, saya nggak bilang situ salah walaupun juga saya nggak bilang situ benar😛

      After saying that, aku sih nggak terlalu cocok sama Blacklist. Agak aneh. Saat dikasih misteri-misteri di awal aku malah mikir, “So what?” karena aku belum punya keterikatan sama tokoh2nya jadinya nggak penasaran. Sampai episode 3 masih belum penasaran. Ya sudah, pass saja.

      Gak papa lah, namanya juga selera masing-masing orang beda. Situ mau nonton sampai habis juga “so what?”
      Saya sendiri lebih menikmati karakter Red dan akting James Spader dibanding tokoh lain, malah gaya para agen FBI-nya menurutku rada lebay. Sama halnya dengan saya masih ngikutin serial Supernatural, bukan karena plot cerita tapi lebih ke joke dan pop-culture reference yang rada nyeleneh.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: