True Detective – The Complete Season One

Serial ini berbentuk anthology alias mirip dengan miniseri yang plot ceritanya habis dalam satu musim tayang. Karena berbentuk anthology, tayangan untuk musim depan akan menghadirkan plot baru dan jejeran pemeran yang sama sekali berbeda dengan True Detective musim tayang pertama. Yang membuatku tertarik dengan serial ini adalah jejeran aktor yang termasuk mewah untuk ukuran serial TV, terutama duet pemeran utama Matthew McConaughey dan Woody Harrelson.

Kisah dibuka dengan wawancara polisi terhadap dua mantan detektif Rust Cohle (Matthew McConaughey) dan Marty Hart (Woody Harrelson), mereka diwawancara secara terpisah pada jadwal yang berbeda. 17 tahun yang lalu, Rust dan Marty adalah partner detektif yang bertugas mengungkap pembunuhan berantai yang bernuansa ritual. Walau menurut Rust dan Marty mereka berhasil menuntaskan penyelidikan sekaligus menemukan si pembunuh, ternyata 17 tahun kemudian peristiwa pembunuhan serupa terjadi kembali.

Memang Rust dan Marty adalah partner detektif, tapi mereka berdua memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang. Rust adalah orang aneh yang menganut paham nihilisme, muram dan sering ngomong sendiri, introvert dan tak punya teman. Sebaliknya Marty adalah hipokrit, ekstrovert yang disukai rekan sekerja, terlihat punya keluarga bahagia, pendeknya Marty adalah orang normal. Perlahan tapi pasti, lewat gaya cerita kilas balik via wawancara, kisah hidup kedua detektif ini dikupas satu demi satu bersamaan dengan kesibukan mereka mengungkapkan kasus pembunuhan. Hingga akhirnya terjadi peristiwa yang menyebabkan mereka tak bertegur sapa selama 10 tahun. Lalu apakah kasus pembunuhan 17 tahun yang lalu tersebut memiliki kaitan dengan kasus yang ditangani polisi yang mewawancara Rust dan Marty?

Marty the Family-man and Rust the Tax-man

Penampilan duet Matthew McConaughey dan Woody Harrelson memang patut mendapatkan tepuk tangan. Mereka berdua masing-masing mampu membawakan karakter detektif dengan kepribadian kompleks sekaligus saling mengisi satu sama lain ketika berada di dalam satu adegan. Walau demikian harus diakui kalau karakter Rust Cohle mendapat sorotan khusus dibanding Marty Hart karena tokoh Rust memiliki kepribadian yang lebih unik dan menarik, sehingga mau tak mau akting Matthew McConaughey mendapatkan perhatian lebih dari penonton. Setelah mendapatkan piala Oscar tahun ini lewat Dallas Buyers Club, menurutku Matthew McConaughey adalah kandidat kuat peraih aktor terbaik Emmy Award untuk perannya dalam True Detective.

Orang yang berada di belakang layar True Detective adalah pencipta dan penulis naskah Nic Pizzolatto. Penulis novel ini menulis seluruh naskah cerita True Detective sehingga kesinambungan plot cerita dari awal hingga akhir mengalir dengan lancar, tidak seperti kebanyakan serial TV yang ditulis keroyokan. Orang kedua yang memberikan nyawa pada True Detective adalah sang sutradara yang menyutradarai seluruh episode musim pertama yaitu Cary Joji Fukunaga. Berhubung True Detective adalah serial 8 episode, Fukunaga dengan leluasa memberikan ruangan yang cukup untuk adegan drama, prosedural polisi hingga adegan aksi. Memang 2 episode awal berjalan sangat lambat karena Fukunaga ingin memberikan perspektif latar belakar dua tokoh utama. Terus terang saja, aku merasa bosan dan ngantuk ketika nonton episode satu dan sempat terpikir untuk tidak melanjutkannya ke episode selanjutnya. Tapi semuanya terbayar lunas ketika mulai menginjak episode empat, apalagi ketika mendapatkan adegan final episode 4 “Who Goes There”. Sebuah adegan sekali shoot (one-take), tanpa jeda (tanpa edit dan cut) selama sekitar 6 menit, benar-benar epik dan keren sekali. Dulu aku pernah menyaksikan adegan sejenis dalam film Hard Boiled buatan John Woo.

Kalau anda adalah pecinta kisah detektif, True Detective adalah sebuah serial wajib tonton. Jika ingin membandingkannya dengan serial Sherlock, True Detective memberikan nuansa dan pengkarakteran tokoh yang berbeda. Sherlock Holmes dalam Sherlock adalah detektif super yang terlalu tangguh untuk dikalahkan oleh lawan manapun termasuk Moriarty, sedangkan Rust dan Marty adalah detektif biasa yang punya banyak kelemahan dan selalu mengalami masalah dalam kehidupan pribadi masing-masing. Kalaupun aku ingin mengkritik, ada dua hal yang membuat True Detective sedikit mendapatkan nilai minus di mataku. Yang pertama adalah episode pembukaan yang berjalan lambat dan nyaris membuatku membatalkan untuk menonton episode selanjutnya. Yang kedua adalah endingnya yang agak bersuasana cerah. Wajar saja karena sepanjang episode 1 hingga episode 8 aku disuguhi tontonan dengan adegan muram dan kelam sehingga berasumsi akan berakhir penuh kegetiran. Tak tahunya….. Ah sudahlah. Silahkan tonton sendiri.

0 Responses to “True Detective – The Complete Season One”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: