Yurusarezaru Mono, Unforgiven (2013)

“Tadinya kukira, hidup ini cuma membunuh…. bunuh dan bunuh, sampai akhirnya mati dibunuh”
(Jubee Kamata)

Seperti yang kutulis pada review film Unforgiven sebelumnya, Yurusarezaru Mono (dalam bahasa Jepang artinya sama dengan Unforgiven) adalah sebuah film remake dari film original buatan Clint Eastwood tahun 1992. Film yang skenarionya ditulis ulang dan disutradarai oleh Lee Sang-il ini mengambil setting jidaigeki sebagai pengganti panggung dunia koboy karya Eastwood. Dengan mengusung beberapa aktor senior peraih piala Oscar-nya Jepang seperti Ken Watanabe, Koichi Sato, dan Akira Emoto, Yurusarezaru Mono mencoba untuk mendaur ulang Unforgiven dengan napas khas Jepang.

Pada jaman Bakumatsu, Jubee Kamata (Ken Watanabe) dikenal sebagai sosok samurai pembunuh yang ditakuti oleh pihak Meiji. Julukan Hitokiri Jubee (Jubee si pembantai) memang patut disematkan karena Jubee banyak membunuh pihak lawan, termasuk dalam perang Boshin yang berakhir dengan kalahnya pihak Shogun Tokugawa yang dibela Jubei. Setelah pertempuran Goryokaku di Hokkaido dimenangkan pasukan Meiji, Jubee berhasil melarikan diri dengan membantai setengah lusin tentara Meiji yang mengejarnya. Jubee menikah dengan seorang wanita Ainu (suku asli yang berdiam di Hokkaido) dan hidup sebagai petani bersama istri dan 2 anaknya. 3 tahun sepeninggal wafatnya sang istri, kehidupan keluarga Jubee sebagai petani mulai sulit akibat gagal panen.

Alur cerita selanjutnya cukup setia pada naskah Unforgiven original. Jubee didatangi teman lamanya sesama mantan samurai Kingo Baba (Akira Emoto) untuk mengikuti sayembara berhadiah seribu yen untuk membunuh dua orang yang melukai seorang pelacur bernama Natsume (Shiori Kutsuna). Ikut serta dengan mereka seorang pemuda Ainu Goro Sawada (Yuya Yagira). Sedangkan sosok Sheriff diwakili kepala polisi Ichizo Oishi (Koichi Sato), seorang mantan samurai Meiji yang ditugaskan sebagai pimpinan keamanan oleh pemerintah restorasi Meiji di Hokkaido.

Pertama-tama aku ingin mengucapkan selamat dan salut pada Lee Sang-il karena mampu memindahkan setting western koboy menjadi panggung dunia jidaigeki yang sangat terasa hawa Jepang-nya. Ada beberapa isu menarik yang ditawarkan Lee dalam adaptasinya ini. Misalnya saja perlakuan orang-orang Jepang pendatang terhadap suku Ainu di Hokkaido yang cenderung meremehkan dan melecehkan karena dianggap kurang beradab (counter-part dalam film western adalah Indian, yang tidak ditampilkan dalam Unforgiven). Selain itu juga, Lee menampilkan betapa banyak samurai yang kehilangan posisinya setelah perang antara pihak Shogun dan Meiji berakhir. Dengan mengganti pistol dengan pedang katana, larangan membawa pedang selain petugas keamanan oleh pemerintah Meiji sangat pas mewakili peraturan dilarang membawa pedang oleh kepala polisi Ichizo Oishi. Terlebih lagi, dengan konteks “pedang merupakan nyawa samurai”, melarang membawa pedang terlihat kentara untuk merepresi sosok samurai oleh pemerintah Meiji. Represi sosok samurai dan kebanggaan posisinya sebagai pembawa pedang, kental terasa pada adegan pelecehan Ichizo terhadap mantan samurai Kitaoji (Jun Kunimura). Adegan ini memang lebih pas latar belakangnya dibandingkan pelecehan sheriff Dagget terhadap English Bob dalam Unforgiven. Jika si tua Munny dalam Unforgiven ditampilkan sulit menembak jitu, Jubee ditampilkan dengan pedang tuanya yang sudah karatan dan sulit dicabut. Lagi-lagi sangat Jepang sekali.

Dari penokohannya sendiri, tokoh-tokoh dalam Yurusarezaru Mono merefleksikan kondisi Jepang pada awal jaman Meiji. Mayoritas samurai Meiji mungkin bernasib lebih baik karena mendapatkan posisi dalam struktur pemerintahan Meiji seperti halnya kepala polisi Ichizo. Tapi banyak juga mantan samurai yang luntang lantung tanpa kerjaan jelas seperti dua orang mantan samurai yang menyiksa si pelacur. Apalagi mantan samurai pihak Shogun Tokugawa yang kalah perang, tentunya kehidupan dan kehormatan mereka jatuh hingga titik nadir seperti Jubee dan Kingo. Menampilkan suku Ainu lengkap dengan dialog berbahasa Ainu asli semakin mempertegas napas Jepang dalam film ini. Betapa Jubei hanya bisa hidup tenang bersama masyarakat Ainu yang memiliki kode kehormatan berbeda dibandingkan masyarakat Jepang umumnya di pulau Honshu.

Akan tetapi bagaimanapun juga bagusnya Yurusarezaru Mono tak bisa mengalahkan superioritas Unforgiven dalam menampilkan kisah redemption seorang pendosa yang ingin membayar dosanya di masa lalu. Menonton Unforgiven original bisa membuatku terhenyak dan sedih ketika Will Munny memutuskan untuk kembali membantai orang. Seakan-akan apa yang susah payah dibangun Will Munny selama belasan tahun untuk menebus dosa, sirna atas nama emosi dan balas dendam. Ini jauh lebih memilukan untuk adegan yang sama dalam Yurusarezaru Mono. Bukan karena akting Ken Watanebe lebih inferior dibandingkan Clint Eastwood, tapi memang sosok Jubee dibangun dengan fondasi dasar yang berbeda dibanding sosok Munny sehingga karakter Munny lebih ikonik dibanding tokoh Jubee. Selain itu juga suasana mellow Unforgiven boleh dibilang turut berkontribusi dalam suasana film dalam merebut simpati penonton, tidak seperti Yurusarezaru Mono yang cenderung lebih berkutat pada masalah kehormatan samurai.

Secara teknis, Yurusarezaru Mono boleh mendapat pujian terutama untuk dari segi sinematografi. Kamera berhasil menangkap landscape Hokkaido yang indah sebagai latar belakang kisah. Sayangnya music score gagal menampilkan musik yang memorable seperti Claudia’s Theme-nya Unforgiven. Tidak bisa dibilang jelek, tapi memang kurang mampu berkontribusi dalam mempengaruhi suasana film seperti halnya Claudia’s Theme. Trio aktor senior Watanabe, Sato dan Emoto mampu membawakan karakter masing-masing dengan baik walaupun boleh dibilang Sato tak seberhasil Gene Hackman dalam membawakan dualisme sosok penegak hukum. Sosok pemuda Ainu yang dibawakan oleh Yuya Yagira mengingatkanku pada sosok Kikuchiyo dalam Seven Samurai, dan itu agak menyebalkan karena membuatku berpikir dia sedang mencopy gaya Toshiro Mifune. Ah iya, mungkin para penggemar manga akan teringat pada kisah redemption Kenshin Himura dalam Rurouni Kenshin, apalagi adanya julukan Hitokiri Jubee walaupun sosok Kenshin bertarung untuk pihak Meiji.

Jadi menurutku Yurusarezaru Mono berhasil mengadaptasi ulang film western klasik Unforgiven dengan gayanya sendiri yang sangat kuat bernapaskan Jepang. Akan tetapi tetap saja Yurusarezaru Mono masih lebih inferior sedikit di bawah Unforgiven, terutama dalam soal membawakan kisah penebusan dosa masa lalu.

Rating: 4/5

7 Responses to “Yurusarezaru Mono, Unforgiven (2013)”


  1. 1 kasamago October 1, 2013 at 6:28 am

    klo sukses msk box office jepang, kykny yurusarezaru mono pny potensi kuat utk diangkat ke serial manga.

    • 2 AnDo October 1, 2013 at 8:04 pm

      @kasamago
      Masuk 10 besar sih tapi gak bisa lebih dari peringkat 6 = kurang laku. Maklumlah, film serius jadinya jarang ada yang mau nonton kali.
      Tapi premisnya emang bagus sih, siapa tau ada yang tertarik bikin manga-nya

  2. 3 ivanprakasa October 1, 2013 at 1:08 pm

    wah kayaknya menarik untuk ditonton nih filmnya…😀
    ntar kalo ada waktu nonton ah…😀

    • 4 AnDo October 1, 2013 at 8:01 pm

      @ivanprakasa
      Masih main sih di bioskop, cuma udah 2 minggu tayang nih. Kalau mau nonton paling sisa tayangnya 2 minggu lagi sebelum turun layar, mesti cepat nonton kalau emang tertarik.

  3. 6 Lisbeth salander February 26, 2016 at 1:42 pm

    Wah ,menurut saya scoringnya yg nambah film ini makin mantap..
    Sampe mau niatin beli di amajon🙂


  1. 1 Unforgiven (2013) BluRay + Subtitle Indonesia | FileLengkap Trackback on April 29, 2015 at 3:25 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: