Unforgiven (1992)

Pertama kalinya aku nonton film Unforgiven saat masih duduk di bangku SMA. Saat itu pengetahuanku tentang film boleh dibilang sangat minim, hasilnya Unforgiven berlalu sebagai film yang menurutku tidak mengesankan. Maklumlah, selera film koboyku jaman itu masih tak jauh dari film dar der dor kayak Young Guns (Emilio Estevez) dan Tombstone (Kurt Russel). Karena ingin menonton film Jepang terbaru berjudul Yurusarezaru Mono yang merupakan adaptasi ulang film Unforgiven original yang disutradarai ClintEastwood, aku memutuskan untuk menonton ulang Unforgiven aslinya. Hasilnya mencengangkan karena aku mendapatkan perspektif yang sama sekali berbeda dibandingkan waktu pertama kali nonton film ini jaman SMA.

Film dibuka dengan sinematografi yang indah, menggambarkan William Munny (Clint Eastwood) sedang menggali makam untuk istrinya yang baru saja meninggal akibat penyakit cacar. Munny adalah mantan koboy tua yang semasa mudanya dikenal sebagai pembunuh sadis, perampok, tukang onar yang tak segan membunuh wanita dan anak-anak. Ketika bertemu istrinya Claudia yang usianya jauh lebih muda, Munny seakan-akan mendapatkan pencerahan. Munny menghentikan petualangannya dan mulai hidup sebagai peternak bersama istri dan 2 anak mereka, hingga akhirnya Claudia meninggal dunia. Pada dasarnya Munny bukanlah seorang peternak, sejak istrinya meninggal dunia mulailah Munny kesulitan mengurus peternakannya dan kekurangan uang.

Seorang koboy muda bernama Schofield Kid (Jaimz Woolvett) datang menawarkan kerja sama memenangkan hadiah seribu dollar untuk membunuh 2 koboy yang membuat onar di kota Big Whiskey, Wyoming. 2 koboy tersebut menyiksa seorang pelacur bernama Delilah (Anna Levine), menyayat wajah dan tubuhnya dengan pisau. Sheriff lokal yang bernama Little Bill Daggett (Gene Hackman) tak ingin kotanya bersimbah darah dan memutuskan menghukum ringan kedua koboy hanya dengan membayar denda. Para pelacur Big Whiskey marah dengan keputusan Dagget dan menyelenggarakan sayembara berhadiah seribu dollar bagi siapa saja yang membunuh 2 koboy penyiksa Delilah.

Menyadari kesulitan keuangannya dan memikirkan masa depan anak-anaknya, Munny memutuskan untuk menerima tawaran Kid. Munny mengajak satu-satunya teman dan mantan partner di masa mudanya Ned Logan (Morgan Freeman) untuk memenangkan sayembara berhadian tersebut. Mampukah 2 orang koboy tua dan seorang koboy muda yang masih hijau menyelesaikan misinya? Dipihak lain, Sheriff Dagget tak segan-segan menghajar bahkan membunuh orang yang datang ke kotanya untuk mengikuti sayembara membunuh dua koboy tersebut.

Unforgiven diawali dengan mellow, malah terlalu mellow untuk sebuah film koboy yang identik dengan aura maskulin. Ditambah dengan theme song yang berjudul Claudia’s Theme, suasana melankolis Unforgiven semakin terasa. Mungkin itu sebabnya aku agak merasa bosan nonton pada menit-menit awal film ini. Film baru mulai terlihat menarik ketika Munny memutuskan untuk melanggar janji pada mendiang istrinya, kembali menggunakan pistol yang tak pernah disentuhnya selama belasan tahun, demi memperbaiki ekonomi keluarganya. Sejak itu, jalan cerita Unforgiven semakin menarik. Ditambah dengan dialog-dialog padat tapi mendalam untuk menggambarkan betapa dunia koboy bukanlah dunia cemerlang yang penuh dengan kisah kepahlawanan, melainkan dunia kelam penuh kekerasan.

Kekuatan utama film ini ada pada karakterisasi dua tokoh utamanya yang ambigu yaitu William Munny dan Sheriff Dagget. Walaupun Munny diceritakan diawal film sebagai pembunuh sadis, penggambaran karakter Munny justru terlihat sebaliknya. Seorang duda tua beranak 2 yang sedang berjuang melawan kemiskinan. Ketika Munny memutuskan untuk kembali menggunakan pistolnya, adegan yang diperlihatkan justru menimbulkan simpati. Ya, siapa yang tak simpati pada orang tua yang menembak dengan pistol saja tak pernah kena sasaran, yang naik kuda saja jatuh melulu dari tunggangannya? Dilain pihak, Sheriff Dagget yang notabene mantan koboy yang menetap sebagai penegak hukum digambarkan sebagai orang yang keras dan tegas sehingga cukup menimbulkan simpati dariku. Wajar saja, toh petugas hukum memang tugasnya menegakkan peraturan hukum walaupun terkesan tidak adil.

Seiring dengan berjalannya cerita, kedua tokoh utama mulai memperlihatkan jalan yang berbeda. Munny semakin digambarkan sebagai sosok anti-hero, sedangkan Sheriff Dagget terlihat semakin otoriter dan cenderung bengis demi menegakkan peraturan bagaikan sosok diktator. Puncaknya di akhir film, kedua tokoh ini dipertemukan dalam sebuah adegan klimaks yang menggambarkan betapa heroisme koboy hanyalah omong kosong belaka. Koboy yang masih hidup diantara adu tembak bukanlah koboy dengan tembakan jitu ataupun mampu mencabut pistol lebih cepat, melainkan orang bernyali besar dan beruntung bisa menembak mengenai musuhnya tanpa terkena tembakan.

Untunglah Unforgiven dibintangi dua bintang gaek yang memang kemampuan aktingnya ada di jejeran aktor papan atas. Tanpa dukungan akting yang kuat, perubahan karakterisasi tokoh yang menarik memang tak akan bisa berbuat banyak. Gene Hackman meraih piala Oscar sebagai aktor pembantu terbaik berkat peran Sheriff Dagget yang bengis. Clint Eastwood sendiri masuk nominasi aktor terbaik walaupun akhirnya harus mengaku kalah pada Al PAcino yang berperan sebagai Letnan Kolonel buta yang jago dansa tango. Ditambah dukungan Morgan Freeman dan Richard Harris membuat Unforgiven bagaikan panggung adu akting antar karakter kuat yang diperankan para aktor mumpuni.

Walaupun progress film boleh dibilang agak lambat, Clint Easwood dapat menjaga ritme film supaya tetap menarik dan suasana mellow yang ditampilkan diawal film mampu membuatku tercengang ketika adegan klimaks berlangsung. Bagaimana tidak? Karakter Munny yang terlihat melankolis di awal film, jadi emosional akibat keadaan sehingga membuat keputusan kembali menjadi pembunuh berdarah dingin. Dan ketika scene terakhir ditampilkan dengan setting sama dengan adegan di awal film, perasaan mellow kembali melanda. Dan lagi-lagi Claudia’s Theme diputar kembali di ujung film menemani scene terakhir membuatku jadi semakin mellow. Benar-benar mempermainkan emosiku.

So my verdict, Unforgiven adalah salah satu film koboy terbaik yang pernah kutonton. Menonton film lama yang pernah ditonton dengan pengalaman dan pengetahuan yang berbeda, memang bisa memberikan perspektif yang berbeda pula.

Rating: 4.5/5

2 Responses to “Unforgiven (1992)”


  1. 1 iza May 23, 2015 at 11:24 am

    boleh dong kalo tukeran link ?

    blog saya di : iza-anwar.blogspot.com


  1. 1 Yurusarezaru Mono, Unforgiven (2013) | Toumei Ningen - The Reviews Trackback on September 28, 2013 at 5:09 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: