Archive for September, 2013

Yurusarezaru Mono, Unforgiven (2013)

“Tadinya kukira, hidup ini cuma membunuh…. bunuh dan bunuh, sampai akhirnya mati dibunuh”
(Jubee Kamata)

Seperti yang kutulis pada review film Unforgiven sebelumnya, Yurusarezaru Mono (dalam bahasa Jepang artinya sama dengan Unforgiven) adalah sebuah film remake dari film original buatan Clint Eastwood tahun 1992. Film yang skenarionya ditulis ulang dan disutradarai oleh Lee Sang-il ini mengambil setting jidaigeki sebagai pengganti panggung dunia koboy karya Eastwood. Dengan mengusung beberapa aktor senior peraih piala Oscar-nya Jepang seperti Ken Watanabe, Koichi Sato, dan Akira Emoto, Yurusarezaru Mono mencoba untuk mendaur ulang Unforgiven dengan napas khas Jepang. Continue reading ‘Yurusarezaru Mono, Unforgiven (2013)’

Advertisements

Unforgiven (1992)

Pertama kalinya aku nonton film Unforgiven saat masih duduk di bangku SMA. Saat itu pengetahuanku tentang film boleh dibilang sangat minim, hasilnya Unforgiven berlalu sebagai film yang menurutku tidak mengesankan. Maklumlah, selera film koboyku jaman itu masih tak jauh dari film dar der dor kayak Young Guns (Emilio Estevez) dan Tombstone (Kurt Russel). Karena ingin menonton film Jepang terbaru berjudul Yurusarezaru Mono yang merupakan adaptasi ulang film Unforgiven original yang disutradarai ClintEastwood, aku memutuskan untuk menonton ulang Unforgiven aslinya. Hasilnya mencengangkan karena aku mendapatkan perspektif yang sama sekali berbeda dibandingkan waktu pertama kali nonton film ini jaman SMA.

Continue reading ‘Unforgiven (1992)’

Nonton 4DX

Lama juga aku tidak mengunjungi blog ini, apalagi mengisinya dengan tulisan. Maklumlah, aku sempat mudik pulang ke Indonesia selama 3 mingguan dan sejak kembali ke Jepang penyakit malas ngeblog kumat. OK, kali ini aku cuma ingin membahas pengalaman nonton film di bioskop dengan teknologi 4DX.

Pertama soal istilah, apa itu 4DX? Menurut penuturan wikipedia, 4DX adalah teknologi perfilman yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan Korea Selatan untuk menggabungkan tontonan dengan efek di lingkungan sekitar. Singkatnya, sambil menonton film, penonton juga bisa merasakan sensasi kejadian di dalam film secara langsung dengan bantuan teknologi khusus seperti misalnya kursi yang bergerak secara mekanik sesuai dengan gerakan adegan dalam film, bau yang keluar untuk mendukung suasana, efek cipratan air pas adegan basah-basahan, hawa panas ketika adegan yang melibatkan api berkobar dan lain-lain.

Tadinya aku bermaksud menonton film 4DX di Nagoya yaitu di bioskop Korona World dengan tiket seharga 3100 yen (1800 yen untuk HTM, 300 yen untuk efek 3D, dan 1000 yen untuk 4DX). Tapi sejak tayangan perdana film 4DX Iron Man 3 di sana, aku belum sempat juga merasakan sensasi 4DX di bioskop Jepang.
Eh…. Ternyata malah aku merasakannya di dalam negeri, tepatnya ketika pulang mudik kemarin sewaktu menonton film Percy Jackson: Sea of Monsters di bioskop Blitz Grand Indonesia.

Kesannya?
Yah, karena ini pengalaman nonton pertama kali, tentu saja aku merasakan sensasi nonton yang berbeda dengan nonton film biasanya. Yang cukup menyenangkan adalah efek bau-bauan bunga sewaktu adegan di hutan dan hawa panas sewaktu adegan melibatkan api. Entah kenapa aku kurang bisa merasakan percikan air ketika adegan film sedang bersetting di laut, mungkin akunya yang kurang sensitif terhadap cipratan air. Sedangkan yang agak mengganggu menurutku gerakan kursi mekanik yang cenderung mengganggu keasyikan nonton. Beberapa kali hentakan kursi membuat kacamata 3D yang kukenakan miring ke kanan-kiri terbentur sandaran kursi sehingga mengganggu konsentrasi nonton.

Yang pasti, nonton 4DX untuk pertama kali cukup menyenangkan. Setidaknya aku pengen nonton film 4DX lagi, tentunya nonton film yang berbeda. Kayaknya sih aku lebih memilih nonton pas sedang mudik lagi, habisnya harga tiket 4DX di Indonesia cuma setengah harga tiket nonton 4DX di Jepang. HTM 4DX di Blitz cuma Rp. 150.000 di hari libur, bandingkan dengan nonton di Korona World Nagoya yang kalau di kurs rupiah bisa mencapai Rp. 310.000-an.


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: