Kaze Tachinu

Para penggemar film-film animasi Studio Ghibli tentunya sudah terbiasa dengan pattern dua sutradara legendaris Ghibli. Hayao Miyazaki dikenal dengan film-filmnya yang berbau fantasi, terkadang supranatural. Counterpart-nya di Ghibli Isao Takahata lebih dikenal lewat film-filmnya yang bergaya neo-realism, natural dan lebih humanis. Tahun ini Studio Ghibli meluncurkan 2 film karya sutradara andalannya, tapi genre yang dipilih justru terbalik. Takahata membuat Kaguya Hime no Monogatari yang didasarkan pada legenda cerita rakyat Jepang, sedangkan Miyazaki memilih membuat film Kaze Tachinu yang bergaya neo-realism tanpa embel-embel supranatural. Untuk pertama kali Hayao Miyazaki membuat film biografi dan yang dipilihnya kali ini adalah Jiro Horikoshi, desainer pesawat Zero yang menjadi andalan angkatan perang Jepang jaman perang dunia kedua, termasuk diantaranya sukses berperan dalam menghancurkan pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii.

Peringatan, beberapa bagian review kali ini berisi spoiler.

Sejak kecil, Jiro Horikoshi cilik sudah tergila-gila dengan dunia avionik. Cita-citanya adalah membuat pesawat terbang yang indah seperti idolanya desainer pesawat terbang asal Italia Giovanni Battista Caproni. Setelah dewasa, Jiro (Hideaki Anno) pindah ke Tokyo untuk melanjutkan studinya di bidang teknik penerbangan Universitas Tokyo. Dalam perjalanan, Jiro bertemu dengan seorang gadis muda bernama Naoko (Miori Takimoto) bersama ibunya di dalam gerbong kereta api. Akibat gempa besar Kanto, kereta menjadi rusak dan ibu sang gadis mengalami patah kaki. Jiro membantu keduanya hingga pulang ke rumah mereka lalu pergi begitu saja tanpa meninggalkan nama.

Setelah lulus kuliah, Jiro bersama teman karibnya sejak kuliah Honjo (Hidetoshi Nishijima) bekerja di perusahaan Mitsubishi divisi aircraft di Nagoya. Ditempatkan dibawah supervisi mentornya Kurokawa (Masahiko Nishimura), Jiro dengan cepat menarik perhatian kepala divisi Hattori dan setelah beberapa tahun bekerja, Jiro dipercaya untuk menggarap desain pesawat berikutnya.

Di pihak lain, Jiro yang sedang berlibur di sebuah resort musim panas bertemu kembali dengan Naoko yang sedang berlibur bersama ayahnya. Cinta bersemi di antara kedua anak muda ini walau terhalang sakit TBC yang diderita Naoko.

Miyazaki jelas-jelas membagi film ini menjadi dua segmen yaitu Jiro dengan obsesi hidupnya terhadap dunia penerbangan dan melodrama cinta antara Jiro dengan Naoko. Sebenarnya aku cukup kaget dan merasa terganggu dengan peralihan segmen yang agak mendadak dari kisah Jiro sang desainer pesawat terbang menjadi Jiro yang romantis. Tapi itu tak membuatku kehilangan kenikmatan menyaksikan romantisme percintaan Jiro – Naoko. Segmen melodrama cinta ini bisa menjadi andalan tear-jerker a la melodrama cinta dengan tokoh yang sedang mengalami sakit berat. Sayangnya ending segmen melodrama film ini kurang kuat untuk membuatku meneteskan airmata menyaksikan perpisahan Jiro – Naoko karena terlalu datar tanpa klimaks, sehingga membuat hubungan Jiro – Naoko jadi terkesan selipan diantara kisah Jiro dan obsesi pesawatnya. Istilahnya, aku sudah bersiap untuk menangis terharu, tapi eh malah nggak jadi. Tapi setidaknya aku suka dengan ending segmen mimpi yang memperlihatkan Jiro menyaksikan pesawat hasil desainnya telah banyak membuat kerusakan dan merenggut nyawa manusia.

Melodrama cinta dua anak manusia

Miyazaki yang tampaknya ingin memasukkan gaya fantasi khasnya, berinovasi dengan memunculkan adegan mimpi Jiro yang bertemu Caproni. Sekuen mimpi ini menarik untuk diikuti apalagi dibalut dengan barter dialog antara Jiro dengan Caprioni tentang ironi desainer pesawat dan perang. Selain itu aku menyukai dialog-dialog yang didasarkan skenario hasil tulisan Miyazaki sendiri, yang membahas situasi pada jaman itu. Misalnya betapa parahnya situasi ekonomi Jepang pada jaman pra perang dunia kedua sehingga menyebabkan tak ada pihak yang ingin membuat pesawat terbang kecuali pihak militer, dan Jiro yang hanya ingin membangun pesawat tak bisa berbuat apa-apa ketika pesawat hasil desainnya dipakai sebagai pesawat tempur. Atau ketika Jiro dan Honjo menebak-nebak pesawat hasil buatan mereka akan dipakai untuk menyerang negara mana.

Skenario Kaze Tachinu ini sebenarnya dibuat berdasarkan manga buatan Hayao Miyazaki yang terinspirasi dari cerita pendek karangan Hori Tatsuo. Cerpen Hori Tatsuo sendiri bercerita tentang perjuangan gadis penderita TBC. Digabung dengan biografi perjalanan Jiro Horikoshi, jadilah Kaze Tachinu versi Hayao Miyazaki.

Terus terang saja, anime karya Miyazaki kali ini tak cocok buat anak-anak kecil. Tak ada tokoh fantasi yang lucu seperti Totoro ataupun Ponyo. Ceritanya pun termasuk berat untuk ukuran anak-anak, malah mungkin untuk beberapa orang dewasa agak membosankan. Maklumlah, ini adalah film biografi yang kisah hidup tokohnya didramatasir secara bebas. Tapi aku sendiri lumayan suka menonton perjalanan hidup seorang tokoh nyata bernama Jiro Hirokoshi ditangan Miyazaki.

Untuk urusan animasi visual, tak perlu ditanyakan lagi karena ini adalah film produksi Studio Ghibli garapan Hayao Miyazaki. Tapi kalaupun aku ingin menunjuk adegan favoritku dalam film ini, adegan gempa besar Kanto adalah bagian yang paling menarik perhatianku. Walaupun animasi, adegan ini lumayan mencekam dengan suasana hiruk pikuk panik penduduk yang mengalami musibah gempa bumi. Datangnya gempa membuatku berimajinasi seakan-akan disebabkan ada monster raksasa di bawah tanah yang menguncang-guncang bumi. Detail gambar landscape-nya sangat bagus, begitu juga dengan teknik pewarnaan yang menawan. Setelah 2 kali nonton film buatan Studio Ghibli di layar bioskop, aku baru sadar kalau gambarnya memang jauh lebih indah dibandingkan nonton di layar monitor/TV.

Yang menarik, Hayao Miyazaki berhasil menggandeng animator senior sekelas Hideaki Anno untuk mengisi suara Jiro Horikoshi dewasa. Anda yang hobi anime tentunya kenal dengan si pencipta anime fenomenal Neon Genesis Evagelion. Anno cukup berhasil membawakan peran Jiro yang serius karena walaupun masih muda, Jiro memang terlihat seakan-akan lebih tua dan matang dibanding anak-anak muda seusianya. Tapi untuk adegan romantis ketika berhadapan dengan Naoko, rasanya agak aneh. Mungkin karena peran Naoko sendiri diisi oleh aktris muda Miori Takimoto yang usianya terpaut lebih dari setengah usia Anno.

Jadi menurutku, karya Hisao Miyazaki kali ini memang tak sebaik karya fenomenalnya seperti My Neighbor Totoro ataupun Spirited Away. Dengan membuat film dengan tema realisme yang berbeda dibanding biasanya, sepertinya sutradara senior ini ingin mencoba mengobservasi genre lain di luar fantasi. Tapi terlepas dari beberapa kelemahannya, Kaze Tachinu masih merupakan film animasi yang bagus dan lumayan mengharukan bagi penonton yang hatinya gampang tersentuh.

Di akhir film, lagu lawas produksi tahun 1973 milik Yuki Matsutoya yang berjudul Hikoki-gumo akan menghibur anda.

Rating: 3.75/5

6 Responses to “Kaze Tachinu”


  1. 1 eka July 31, 2013 at 12:06 pm

    seriously, dmana nontonnya mas? T.T Mas tinggal di jepang ya. Gk sbar nntnnya

  2. 2 Imelda August 1, 2013 at 1:15 am

    Riku dan Kai cuma suka adegan Jiro kecil melawan anak-anak yang sedang membully anak lebih kecil😀

    • 3 AnDo August 3, 2013 at 2:41 pm

      @Imelda
      Iya mbak, kayaknya anak kecil gak bakalan tertarik sama cerita Jiro dewasa, mereka justru lebih memperhatikan awal film cerita waktu Jiro masih kecil.
      Apalagi Jiro dewasa ngerokok melulu kayak kereta api😛

  3. 4 Haji Abdul Karim August 16, 2013 at 4:39 am

    Hai salam kenal, cuma mau bilang blog Yusahrizal saya nominasikan di Liebster dan Sunshine Award ya http://manusia-unta.blogspot.com/2013/08/liebster-sunshine-award.html

  4. 5 yun_addict9 January 13, 2014 at 5:48 pm

    hai… bisa di share link buat download filmnya? ^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: