The L Chapter (Bagian 2)

Lanjutan dari tulisan bagian 1 kali ini lebih berfokus pada kisah dari sudut pandangan Hyde tentang kejadian-kejadian di seputar band L’Arc~en~Ciel. Sebenarnya cukup banyak bagian dimana Hyde bercerita tentang proses pembuatan lagu-lagu top hits L’Arc~en~Ciel seperti misalnya [flower], [HEAVEN’S DRIVE] hingga [HONEY], juga pembuatan album yang melelahkan, tapi saya skip karena lumayan panjang (toh tulisan ini juga udah panjang) dan agak berbau teknis.

PERINGATAN:
Dilarang keras meng-copy isi tulisan tentang L’Arc~en~Ciel yang saya buat ini. Boleh memberikan link ke blog ini tapi tidak boleh meng-copy paste isi tulisan di tempat lain. Jadi tolong jangan meng-copy paste isi tulisan walaupun cuma sebagian karena tidak saya ijinkan, cukup baca di sini saja. Terima kasih!

The Hyde head cover

The Hyde head cover

Catatan penulis: sesuai dengan saran Setsunavie, jika ada huruf (LOL) itu berarti bagian Hyde tertawa ketika menulis kalimat sebelumnya.

Saat itu, gue sama sekali gak menyadari persoalan Sakura yang mengkonsumsi narkoba. Gue memang tahu kalau dia pernah mengkonsumsi narkoba di masa lalu, tapi gue gak nyangka kalau dia masih melanjutkan kebiasaannya itu. Siapa sangka Sakura yang kelakuannya mulai aneh dan sering terlambat itu, dan yaaahhh… kalau dipikir-pikir sekarang, ternyata itu sebabnya. Walaupun pada saat itu gue benar-benar gak tahu sama sekali. Pas gue tahu lewat berita di media soal penangkapan Sakura oleh polisi, gue lumayan shock.

Setelah kejadian itu, kami semuanya mengadakan meeting hingga berkali-kali. Hasilnya, walaupun kami bagaikan kapal yang karam tenggelam, diputuskan keberlangsungan L’Arc~en~Ciel tak boleh dihentikan begitu saja. Persoalan Sakura untuk sementara dibiarkan saja dulu, yang penting L’Arc~en~Ciel tetap lanjut terus. Kalau pendapat gue sih, walaupun mengalami banyak permasalahan, kami gak mungkin menunggu Sakura kembali untuk bisa melanjutkan aktivitas. Lalu sambil jalan terus, kami mulai mencari supporting drummer. Kebetulan banget pada saat itu musisi senior dari label yang sama Yukihiro-sempai sering bertemu muka di studio, langsung saja terpikir, “Gimana kalau untuk sementara waktu kita minta Yukihiro untuk mengisi posisi supporting drummer?” Kalau gak salah, gue yang ngomong begitu. Baik anggota yang lain maupun Oishi-sacho pun bilang kalau itu ide yang bagus. Yah, karena Yukihiro itu type drummer yang berbeda sama Sakura, awalnya memang rada kagok main sama gaya Yukihiro. Namun kalau dilihat sekarang, justru dia itu cocok banget sebagai drummer L’Arc~en~Ciel. Kalau ditimbang dari segi sound, pada dasarnya L’Arc~en~Ciel itu band yang gugup. Karena itu, kupikir pas banget ketemu tipe drummer dengan permainan yang solid kayak Yukihiro, yang bisa menyatukan irama permainan sehingga lebih teratur.

[Ditulis oleh Ando-kun, di blog https://yusahrizal.wordpress.com ]
Lalu aktivitaspun dimulai dari awal lagi dengan menciptakan lagu baru, akan tetapi dengan kondisi kayak begini gimana kita bisa berkreasi dan bikin lagu bagus? Gue pikir kalau saja saat itu bisa membuat lagu yang indah sekaligus powerful, tentunya jalan ke depan akan lebih mudah. Tapi pas udah mau nulis malah sama sekali gak bisa mulai. Saat gawat seperti itu, Ken berhasil membuat sebuah lagu yang sesuai dengan gambaran ideal yang gue inginkan. Lagu yang indah sekaligus powerful, dan kami meng-arransemen lagu tersebut bersama-sama. Malah Tetsu yang biasanya gak pernah sumbang saran apapun untuk penulisan lirik, kali ini turut serta ngasih ide. Berkat partisipasi seluruh member, akhirnya selesai juga lagu yang berjudul [niji].

Menurut music director, kalimat [Toki wa kanadete] dalam bahasa Jepang kayaknya terdengar aneh, tapi kami paksakan untuk tetap dipakai apa adanya. Habisnya gue gak mau lagu diawali pakai lirik lain, pokoknya harus [Toki wa kanadete]! (LOL). Dengan rampungnya lagu [niji], konser perdana kami di Tokyo Dome “L’Arc~en~Ciel 1997 REINCARNATION pun dimulai.

Setelah itu ide penetapan status permanen bagi Yukihiro pun mengalir begitu saja dari Tetsu. Gue ngerti sih Tetsu mikir hal itu demi masa depan band. Kalau mau ngomong jujur, bukannya gue mau langsung angkat kedua tangan bilang setuju begitu saja. Terus terang gue suka banget sama Sakura. Sedihnya cuma itu satu-satunya alasan gue buat mempertahankan Sakura. Masalah Sakura bukanlah masalah kebetulan tapi merupakan akumulasi dari berbagai kejadian, sehingga kalau dipikir-pikir kayaknya memang tak ada jalan lain. Hingga sekarangpun entah bagaimana, gue masih merasakan pedihnya luka saat itu.

[Ditulis oleh Ando-kun, di blog https://yusahrizal.wordpress.com ]
Setelah itu rasanya kami melanjutkan pekerjaan terus-menerus tanpa jeda. Namanya juga musisi, kita dikejar-kejar tenggat produksi, memang saat yang berat dan melelahkan. Bahkan ingin istirahat seharipun tak bisa. Ternyata bisa juga kerjaan musisi jadi kayak gini yah?

Dengan bergabungnya Yukihiro, sound L’Arc~en~Ciel jadi lebih teratur. Bagian “?” yang selama ini ambigu, jadi terisi dan lebih jelas perbedaannya. Dengan mengikuti alur ketukan Yukihiro yang “firm/tight“, kami semua menyesuaikannya sehingga ritme permainan yang tadinya kadang kala “melenceng” jadi lebih rapi.

Walaupun Yukihiro terhitung sebagai sempai (senior), dia bukan tipe yang gampang bersosialisasi, agak makan waktu lama juga sebelum akhirnya terbiasa. Tapi dengan senyumannya yang imut, apa adanya, dan juga keseriusannya, menurut pendapat gue Yukihiro adalah orang yang baik.

Sejak itu bagaikan efek bola salju yang bergulir semakin lama semakin besar, L’Arc~en~Ciel dengan cepat semakin membesar bagaikan monster.

Catatan penulis: dari sini saya skip tulisan Hyde yang bercerita tentang kesibukan membuat lagu-lagu, pembuatan double album [ark] dan [ray] hingga konser 1999 Grand Cross Tour dan ditutup dengan pembuatan album [REAL].

Akhirnya mimpi besarku tercapai juga, menurutku sih wajar saja gue bisa jadi musisi pro (LOL). Gara-gara punya mimpi pengen jadi kayak DEAD END band, akhirnya ikut mendirikan L’Arc~en~Ciel, setapak demi setapak, apa yang ingin dilakukan diawal pembentukan semakin lama semakin bertambah. Semakin mendekat dengan cepat ke arah tujuan, ambisi yang tadinya ada di dalam diriku jadinya malah memudar. Gue gak ngerti, apa ini yang namanya sudah diambang batas? Ketika tiba-tiba menengok ke belakang, di saat gue sudah cukup tinggi mendaki, mendadak muncul pertanyaan apakah ini tujuan yang gue harapkan? Dalam pikiranku timbul keinginan untuk tampil selain di tempat L’Arc~en~Ciel berada. Bukan gara-gara ingin membuat Band Magic, melainkan hanya ingin membuat apa saja yang ingin kurefleksikan secara personal. Yang disebut band itu kan gabungan kemampuan dari para anggota. Ibarat [flower], gue pengen membentuk band berbeda, yaitu dimana gue bisa mengaplikasikan keinginan dan apa yang gue rasakan sendiri. Hal itu terus menerus menghantui diri gue.

[Ditulis oleh Ando-kun, di blog https://yusahrizal.wordpress.com ]
Saat itu gue mulai sering ngomong tentang membuat sebuah ruangan berkumpul untuk 4 orang. Dengan uang hasil saweran berempat, kita beli chandelier dan sofa, tapi tetap saja ruangan tersebut bukan istana gue sendiri. Walau gak punya uang, walaupun cuma ruangan kecil, ada saat gue pengen punya ruangan sendiri. Awalnya muncul keinginan untuk menghentikan aktivitas, tapi kemudian malah keinginan untuk punya ruangan sendiri itu malah makin gede. Kalau nggak gue makin susah mengontrol keinginan, lalu band sendiri juga bisa kehilangan respek satu sama lain, dan gue gak merasakan hubungan yang baik antar member. Gue mulai mikir entah bagaimana bakat gue bisa terus berkembang kalau kondisi kayak gini terus berlangsung, itu yang gue sebut udah diambang batas.

Sejak dulu, gue pikir L’Arc~en~Ciel tuh memiliki atmosfer yang sulit untuk didekati, lalu setelah berada dalam lingkaran justru makin sulit untuk didekati. Gue sendiri merasa atmosfer tersebut sudah tak cocok lagi bagi gue, tapi untuk sementara waktu ide tersebut ditampung saja dulu, wajar saja muncul keinginan untuk memiliki ruang pribadi. Dengan kondisi tersebut, apakah album [REAL] memiliki nafas yang selaras antara kami berempat atau nggak? Entahlah, yang jelas dalam album tersebut masih bisa didengar kami sebagai “cool band” yang ada dalam sejarah L’Arc~en~Ciel selama ini.

Lalu sejak tahun 2001 gue memulai aktivitas proyek solo. Pertama kali melakukan proyek solo membuat gue jadi deg-degan karena gue dari dulu pengen banget bikin album solo perdana kayak [ROENTGEN] sebagai tujuan ideal gue. Menurut gue, album kayak [ROENTGEN] gitu gak bakalan bisa dibikin oleh L’Arc~en~Ciel. Benar-benar butuh waktu dan tenaga ekstra, soalnya gue gak pernah membayangkan bikin 10 lagu full buat satu album. Selain itu, karena gue sudah mengumpulkan bahan-bahannya, gue kira ada kemungkinan untuk bisa selesai dalam setahun kalau terus menerus kerja keras.

Kalau gue pikir sekarang, gue tuh mempertajam dan mengasah sense of pop dalam diri gue sewaktu membuat album [ROENTGEN]. Dengan begitu gue rasa mungkin gue bisa lebih matang karenanya. Sejak itu pula gue mulai bekerja sama dengan JIN, seorang manipulator musik. Untuk membuat [ROENTGEN] gue pilih London beserta produser musiknya untuk kerja bareng, tapi untuk menyampaikan pendapat tentang beda nuansa sound yang subtil pakai bahasa Inggris, komunikasinya rada kurang nyaman. Karena itu untuk mengatasi masalah komunikasi tersebut, setelah membuat demo tape di Jepang, gue minta JIN buat memanupulasi lagu pakai komputer dan lagu demo tape itu dibuat untuk orang-orang di London. Itu adalah awal mula cara baru gue membuat lagu dan berlangsung hingga sekarang.

Catatan penulis: dari sini saya skip lagi tulisan Hyde yang bercerita tentang teknis pembuatan album [ROENTGEN] karena cukup panjang dan agak sulit diterjemahkan istilah teknisnya.

[Ditulis oleh Ando-kun, di blog https://yusahrizal.wordpress.com ]
Rekaman [ROENTGEN] di London memakan waktu 2 minggu, lalu balik ke Jepang 2 minggu, terus menerus kayak gitu hingga proyek rekaman selesai. Pengalaman seperti itu kayaknya gak bakalan bisa diulangi lagi deh, bayangin aja ngedon di studio melulu setiap waktu, belum lagi penggunaan orkestra jadi mubazir.

Seluruh buatan gue yang gak dipakai di proyek L’Arc~en~Ciel dipakai di sini, desain cover [ROENTGEN], dari jacket hingga isinya, dari awal hingga akhir semuanya dibikin pakai ide gue sendiri. Pokoknya gue selalu minta ini itu pada desainernya buat mengaplikasi ide gue. Karena itu, gue pikir isinya dalem banget (LOL). Gimana yah, desainnya begitu dalam, rasanya tak ada yang tersia-sia. Tak disangka, akhirnya gue bisa membuat ruang milik gue sendiri seluruhnya. Benar-benar penuh hari-hari yang gue lalui demi tercapainya target tersebut.

Mengenai member L’Arc~en~Ciel lain yang juga menyanyi dalam proyek solo masing-masing, gue sedikit kaget. Tapi gara-gara itu juga, kualitas suara backing-vocal untuk suara dua-tiga sewaktu konser live L’Arc~en~Ciel jadi lebih bagus (LOL). Sebuah proses pematangan yang diluar ekspektasi. Lalu mereka juga pasti melihat dan mendengar cara dan apa saja yang gue bikin dalam proyek solo, pasti mereka juga mikir kalau Hyde juga sudah berubah. Kalau saja lagu-lagu gue dibawa ke L’Arc~en~Ciel, bisa-bisa gak dipakai. Misalkan gue bawa 3 lagu buat L’Arc~en~Ciel, paling 2 lagu bakalan mereka tolak. Dengan demikian album [ROENTGEN] benar-benar memperbesar kapabilitas gue dalam membuat lagu.

Saat itu juga, sebenarnya gue udah gak tahan lagi untuk terus bersama dengan L’Arc~en~Ciel. Misalkan saja pas meeting untuk pengajuan ide. Ide apapun yang ditawarkan di depan, semua member bersikap dingin dan gak memberikan reaksi apapun. Siapapun yang menawarkan dan ide apapun yang diajukan, semua cuek begitu saja dan tak satupun ada yang kasih komentar. Dan gue juga bersikap sama. Padahal orang yang mengajukan ide sudah ngomong panjang lebar. Gue pikir para staff benar-benar capek menghadapi kami. Sepertinya dengan kondisi kayak gitu, masing-masing udah muak tapi merasa terpaksa karena tak punya pilihan lagi. Dalam suasana kayak gitu, mulut gue kayak rusak karena terlalu berat dengan masalah. Kayak gak bisa ngomong walaupun cuma bilang [YES] atau [NO]. Itu cuma salah satu contoh. Masing-masing berkeras ke arah yang berlainan, atmosfer gak enak terus berkelanjutan hingga beberapa tahun, semuanya bersikeras pada pendirian masing-masing, gak mau mencoba kompromi, gak ada kontribusi, ingin menang sendiri dan memaksa yang lain agar mengalah, lupa sudah pada “kebaikan hati” yang lain. Semakin lama kondisi semakin suram. Staff lama dan baru datang silih berganti, tapi masalah tetap saja membengkak bagaikan tumor. Batas kesabaran gue udah habis, gue udah gak kuat lagi. Karena jalur penyelesaian album [ROENTGEN] sudah terlihat jelas, sebelum album dirilis gue kirim surat buat masing-masing anggota L’Arc~en~Ciel. Pokok isinya cuma satu, [GUE PENGEN BERHENTI].

[Ditulis oleh Ando-kun, di blog https://yusahrizal.wordpress.com ]
Waktu itu, gue ketemu dan ngomong terpisah satu per satu sama semua member L’Arc~en~Ciel secara terus menerus, “Ayo kita bikin tur perpisahan buat terakhir kali!” Tapi masing-masing dari mereka malah ngomong masih pengen lanjut terus. Loh? Untuk pertama kalinya gue baru sadar kalau ternyata mereka masih pengen lanjut toh. Katanya sih “Masih ada hal yang pengen dilakukan dengan L’Arc~en~Ciel.” Eh? Ternyata gitu yah? Kalau masih suka dengan L’Arc~en~Ciel, kenapa sih selama ini bersikap tak peduli? Gue sih udah pengen berhenti, tapi kalau misalnya yang lain masih pengen lanjut terus, silahkan mereka mencari vocalist baru sebagai pengganti gue.

Tapi ketika akhirnya ngomong secara jantan dengan Tetsu, gue jadi serba salah. Tetsu bilang, “kemampuan kita sudah semakin matang, kenapa nggak dicoba lanjut barang sedikit lagi?” Walau kata [lanjut] itu telah diputuskannya sendiri, gue sendiri agak merasa berat juga menerimanya. Tapi karena yang lain keliatannya berpikiran positif, yah kenapa gak dicoba aja dulu barang sedikit. Biarpun perasaan gue sudah agak hambar, kalau semuanya ngomong kayak gitu, masa hal yang sudah dibangun hingga sekarang mesti hancur begitu saja gara-gara salah gue. Setelah gue pertimbangkan, kalau memang bisa ditingkatkan lebih baik lagi… gue setuju deh.

Akhirnya gue balik lagi ke L’Arc~en~Ciel…. Lama gak kumpul barengan rasanya memang ada perasaan yang menyegarkan. Tapi koq kesannya, “Tetap aja gak ada yang berubah ya!” (LOL). Emang yang namanya ngeband itu kayak begini kali?

Setelah itu udah berapa tahun ya? Walau situasinya tak selalu mudah, perayaan 20 tahun eksistensi band semakin mendekat, gue pikir setidaknya ada sedikit peningkatan. Biarpun entah sudah berapa kali berdiskusi bareng, tetap saja racun yang terbawa dari proyek solo muncul, yaitu memulihkan kepercayaan betapa pentingnya hubungan antar member. Entah sudah berapa puluh staff datang dan pergi silih berganti, tapi member band tetap tak berubah hingga 13 tahun secara terus menerus. Semisalnya dibandingkan dengan orang-orang lain, kalau bukan bersama orang-orang ini kayaknya ada kemungkinan gue gak bakalan bisa bergerak maju, setidaknya ada bagian kontribusi mereka.

Dan belakangan ini, setiap kali ada meeting, gue merasa semuanya berusaha untuk mempersilahkan yang lain maju lebih dulu. Masing-masing di dalam diri sendiri, timbul rasa percaya diri. Walaupun beda pendapat dengan orang lain, utarakan saja pendapat pribadi dengan jelas, sehingga ada kemungkinan rapat akan menghasilkan keputusan yang lebih baik. Rasanya kami terlihat sedikit lebih dewasa dari sebelumnya. Misalkan saja gue sendiri, selama 20 tahun hingga sekarang, gue merasa semakin menikmati aktivitas menyanyi. Andai saja waktu itu gue beneran keluar dari L’Arc~en~Ciel, mungkin saja kenikmatan bernyanyi tak akan terasa seperti sekarang ini. Yah, kalau gue keluar sih, tentunya bakalan beda lagi ceritanya di masa depan (LOL). Kalau diteruskan, kayak mendapatkan hadiah atas keputusan gue untuk terus. Mungkin hadiah tersebut bagi gue adalah kenikmatan menyanyi.

[Ditulis oleh Ando-kun, di blog https://yusahrizal.wordpress.com ]
Dengan usaha keras untuk menggerakkan kapal L’Arc~en~Ciel, akhirnya kami bisa sampai di posisi yang sekarang. Masing-masing dari member, walaupun memiliki banyak perbedaan, berusaha keras untuk bergerak maju. Orang yang tak ingin menyerah di tengah jalan tentunya memiliki banyak rintangan, namun berkat bantuan para staff juga kami berjuang untuk terus maju. Lagipula banyak fans yang terus setia menanti kami. Gue pikir ada bermacam-macam orang yang berjuang untuk kami supaya bisa terus maju. Bahkan ketika gue bilang mau keluar, kupikir member lainnya dan para staff tetap berusaha untuk terus maju. Gue juga tentunya berusaha dengan berbagai usaha untuk terus maju. Berkat usaha bersama, akhirnya perayaan 20 tahun L’Arc~en~Ciel bisa dilewati juga. Untuk World Tour yang akan datang, itu bukan hanya mimpi L’Arc~en~Ciel, tapi juga mimpi para staff. Begitu juga dengan orang-orang yang terlibat dalam Word Tour tentunya punya impian yang sama. Itu artinya “L’Arc~en~Ciel adalah kapal yang menampung impian yang besar”, begitulah gambaran yang ada dalam diri gue.

Sebaliknya kalau ngomong soal keinginan berhenti dari L’Arc~en~Ciel, gue gak bilang perasaan itu udah hilang loh (LOL). Dahulu, ketika L’Arc~en~Ciel masih baru berdiri, ada seorang sempai yang bilang, “Semakin lama berada di band yang sama, perasaan ingin berhenti yang muncul setiap saat adalah hal yang wajar.” Hal tersebut adalah kebenaran yang mengejutkan dan masih terus ada hingga sekarang. Ketika gue mikir “Bisa berhenti setiap saat”, sedikitnya gue bisa bersabar, kalau ada hal yang gue gak suka… ya udah, gue coba jalan dulu sampai batas tertentu, toh kalau masih tetap gak suka bisa berhenti koq. Kalau hal tersebut berhasil, tanpa disangka, dengan berjalannya waktu rasa tak suka tersebut bakalan menipis dengan sendirinya. Karena itu, gue tetap masih punya perasaan untuk bisa berhenti setiap saat, bahkan sekarangpun gue masih berpikir demikian koq. Buat jaga-jaga, positive-thinking aja lah.

TAMAT

NB.
Sebenarnya ada 3 paragraf lanjutan yang tidak saya terjemahkan. Bagian tersebut adalah pendapat Hyde tentang Tetsu, Ken dan Yukihiro secara pribadi. Kapan-kapan lah kalau sempat diterjemahkan, tapi nggak janji yah😛

14 Responses to “The L Chapter (Bagian 2)”


  1. 1 Kitamura-angel May 30, 2013 at 9:04 am

    Fiuh, akhirnya baca jg… Ah, pas bagian hyde mo berenti, nyesek rasanya.. Thank’s dah lanjutin Ando kun… Dtunggu tulisan chapter yg lain yah…. ♪───O(≧∇≦)O────♪

  2. 2 kumihomiho May 30, 2013 at 3:23 pm

    terima kasih translate nya.. =D

  3. 3 YudoChandra May 31, 2013 at 1:26 pm

    gak kebayang larcenciel tanpa hyde… ternyata sangat sangat berat menjadi anak band… mereka ternyata egois juga [LOL].. lagu2 larcenciel di pilih lewat seleksi berat ^^

  4. 4 setsunavie May 31, 2013 at 1:48 pm

    Thanks as always, Ando-kun ^^
    hyde kenapa bawaannya pengen keluar mulu siiihhh *cekek2 hyde* *dicekek balik*
    Ngerti sih ego musisi, apalagi ngeband profesional dan udah bertahun2..pasti lama2 ada kejenuhan & keegoisan. Tapi menurutku dibanding musik individual masing2, musik Laruku itu udah merupakan kombinasi sempurna dari bakat masing2. Jadi kalo buatku sih, dengerin solo project masing2 tuh rasanya ada yg kurang..that’s why i don’t really pay attention to their solos.

  5. 5 pandukartiko May 31, 2013 at 2:26 pm

    ka ando, itu 3 paragraf terakhirnya kayaknya seru. terjemahin juga dong yah, yah?😀

  6. 6 mutia May 31, 2013 at 3:00 pm

    pliiiissss mau yg pndapat hyde ttg tetsu donk..pliiisss

  7. 7 fahmi May 31, 2013 at 3:33 pm

    di tunggu loh yg 3 paragraf selanjutnya :p

  8. 8 mutia May 31, 2013 at 11:07 pm

    pliiiisss..aku pgn tau banget pandangan hyde ttg tetsu…pliiisss terjemahin yaaa..tlong banget….

  9. 9 AnDo June 1, 2013 at 9:14 am

    @semua komentator
    thanks juga udah nyempetin baca.

    @kitamura angel
    wah… nggak janji bisa translate lagi ya, akhir2 ini susah nyempetin waktu buat nulis di blog, apalagi translate.

    @YudoChandra
    kalau sampai ada satu aja member yang keluar, kayaknya Laruku bakalan beda banget.

    @setsunavie
    you’re welcome
    rocker juga manusia, gitu loh katanya😀
    emang benar sih, satu2nya solo project yang sempat nyantol di kuping paling cuma proyek S.O.A.P-nya Ken, mungkin karena gebukan drum khas Sakura bikin terkenang masa awal2 mereka. Bahkan waktu Ken solo sendirian, gw gak ngikutin lagi karena gaya musiknya udah beda. Begitu juga dengan proyek solo Hyde/Vamps, Tetsu dan Yukihiro/Acid Android, gak pernah khusus ngikutin mereka.
    Best of the best udah pasti pas mereka berempat gabung dan menyatukan bakat terbaik dalam satu wadah L’Arc~en~Ciel.

    @pandukartiko, mutia, fahmi
    Wah… gak tau kapan ada waktu. ntar deh bagian epilog-nya diterjemahin kalau ada waktu.

  10. 10 Heni_SN June 3, 2013 at 10:39 am

    dibalik kekompakan di panggung, di belakang layar ternyata banyak sekali kejenuhan dan keegoisan. salut buat semua member, staff, dan semua yang dibalik layar.
    semoga tetap bisa mempertahankan kebersamaan dalam “kapal L’Arc~en~Ciel yang menampung impian yang besar”🙂

  11. 11 nur h. fauziah June 5, 2013 at 4:05 am

    beneran nahan napas waktu baca hyde mau keluar dari laruku… hufff….

    nambahin suara orang banyak… ayo terjemahin donk epilognya bang… T-T

  12. 12 Rin June 5, 2013 at 6:45 am

    Makasih byk Andou-kun untuk terjemahannya T-T
    terimakasih byk juga buat Tetsu yg udah sangat berperan untuk ngebuat Hyde tetep ada di dalam band..huhuhu…

  13. 13 annita June 6, 2013 at 2:28 pm

    Ando-kun makasih dah di translate in
    Bnr2 mngharukan baca chapter ini
    Tlg dlanjut chapter k’3 nya dong
    *Penaaaran ni*
    khn bnyk yg request jg hehe
    Doumo


  1. 1 The L Chapter (Bagian 1) | Toumei Ningen - The Reviews Trackback on May 31, 2013 at 3:52 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: