Jack and The Dubber

jack poster

Mohon maaf telah menelantarkan blog ini hingga satu bulan lebih. Tulisan ini juga sebenarnya tulisan bulan lalu yang diedit dan diperbaiki sedikit sebelum di publish.

Kalian tentunya pernah nonton film asing yang di dubbing (sulih suara). Jangan jauh-jauh lah, di layar TV di Indonesia saja banyak anime-anime yang dialognya di dubbing dengan bahasa Indonesia dan ini dilakukan agar gampang dikonsumsi anak-anak. Di Jepang sendiri sama saja. Film asing yang diputar di TV biasanya bilingual dengan pilihan bahasa Jepang dan bahasa aslinya. Film bioskop buatan Hollywood biasanya tayang 2 versi, yaitu versi jimaku (sound asli dengan subtitle) dan versi fukikae (dubbing). Saya belum pernah sekalipun nonton film versi fukikae di bioskop Jepang, hingga 2 bulan yang lalu.

Ceritanya waktu itu saya nonton film Jack and Giant Slayer di bioskop sama PGKN. Filmnya sendiri tayang 3 layar di bioskop yang kami kunjungi. Karena 2 layar yang memutar film tertulis fukikae alias dubbing, aku memilih film yang tayang di layar ke-3 karena menyangka layar ke-3 memutar versi jimaku. Ternyata…… 3 layar yang memutar film ternyata semuanya memutar film yang di dubbing. Padahal biasanya paling tidak, ada 1 layar yang memutar film versi subtitle dengan sound asli (berbahasa Inggris maksudnya). Karena sudah bayar dan sudah masuk bioskop, ya sudah… ditonton saja. Tentunya PGKN agak sebal karena kemampuan bahasa Jepangnya belum cukup untuk nonton film berbahasa Jepang tanpa subtitle. Tapi ternyata saya juga merasa kesal pas nonton.

Sebenarnya pekerjaan dubber Jepang sangat professional, malah Seiyu (dubber Jepang) termasuk salah satu pekerjaan bergengsi yang kadangkala disambi oleh artis-artis dan penyanyi ngetop. Hasil dubbingnya juga cukup bagus, setidaknya hampir tak terlihat tumpang tindih antara gerakan mulut dan suara dialog.

Masalahnya, nggak enaknya nonton versi dubbing itu bukanlah masalah teknis melainkan masalah non-teknis. Nonton film Jepang dengan dialog berbahasa Jepang adalah wajar, tapi nonton film Hollywood dengan dialog berbahasa Jepang jadinya aneh. Belum lagi terkadang ada dialog berbau humor a la orang barat yang kalau dibawakan dalam bahasa Jepang jadinya aneh. Mau ketawa koq rasanya ada yang absurd. Karena itu di sepanjang film, saya hampir tak bisa tertawa walaupun kelihatannya film menampilkan adegan komedi. Beberapa review memuji film ini, terutama yang berkaitan dengan sense of humor. Tapi saya sendiri tidak bisa menikmati humor yang dipuji-puji para penulis review tersebut. Alhasil filmnya terlihat agak membosankan.

Saya pernah ngobrol tentang hal ini dengan Liu, teman orang RRC keturunan Korea yang jago berbahasa Jepang dan bahasa Inggrisnya masuk level lumayan. Liu bilang kepadaku kalau dia selalu nonton film Hollywood versi fukikae karena malas membaca subtitle. Soalnya menurut dia subtitle itu adalah distraksi yang bisa menurunkan konsentrasi nonton film. Memang sih, kadangkala saya juga suka tanpa sadar melirik ke arah subtitle walaupun ngerti dialog dalam bahasa Inggris-nya, mungkin pernyataan Liu soal distraksi itu benar. Kebiasaan kali yah?

Gara-gara peristiwa ini, saya mendapatkan pelajaran untuk selalu memperhatikan dengan cermat format film yang akan ditonton sebelum membeli tiket bioskop. Jangan sampai terulang nonton film di bioskop dalam versi fukikae.

0 Responses to “Jack and The Dubber”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: