The Grandmaster

Kenal Wong Kar-wai? Wong adalah sutradara Hongkong yang dikenal dengan gaya penyutradaraan unik nan artistik disebut sebagai Auteur yang menghiasi film-film garapannya. Aku sendiri bukanlah penggemar berat film-film artistik model Auteur, tapi kadang-kadang ada beberapa yang kusuka. Mengingat kali ini Wong membuat film bergenre martial arts yang menghadirkan master Kungfu bernama Yip Man, aku cukup penasaran dengan hasilnya. Terus terang saja film Wong yang kutonton pertama kali justru film martial arts pertamanya yaitu Ashes of Time yang sukses membuatku tertidur setelah nonton setengah jam. Karena itu aku setengah berharap agar Wong belajar dari pengalamannya membuat Ashes of Time sehingga bisa membuat The Grandmaster sebagai film martial arts keduanya lebih menarik.

Film dibuka dengan tokoh Yip Man (Tony Leung), pendekar kungfu aliran selatan yang menguasai teknik beladiri Wing-chun, menjabarkan filosofi beladiri berdasarkan cara pandangnya. Setelah menceritakan tentang kehidupan masa kecilnya termasuk diantaranya perkenalannya dengan Wing-chun, Yip Man memperkenalkan sosok istrinya Cheung Wing-sing (Song Hye-kyo). Cerita meloncat ke pertemuan para pendekar di rumah bordil di Foshan yang sedang mengadakan pemilihan ketua untuk mewakili para pendekar aliran selatan dan singkat kata Yip Man dipilih sebagai ketua perwakilan setelah mengalahkan ketua perwakilan pendekar aliran utara Gong Yutian (Wang Qingxiang) dalam pertandingan adu taktik dan filosofi Kungfu. Walaupun bukan pertandingan adu fisik, anak Gong Yutian yang bernama Gong Er (Zhang Ziyi) tak terima ayahnya kalah lalu balik menantang Yip Man untuk adu ilmu silat. Setelah bertanding, Yip Man dan Gong Er akhirnya malah bersahabat.

Tak lama kemudian perang pasifik pecah dan bala tentara Jepang datang menyerbu dan menduduki China termasuk Foshan. Lalu cerita terbelah menjadi 3 bagian yaitu kehidupan Yip Man dan keluarganya, Gong Er yang menantang bekas murid ayahnya Ma San (Zhang Jin) demi membela kehormatan keluarganya, dan tokoh ketiga si tukang cukur Yixiantian (Chang Chen).

Kali ini, setidaknya aku tidak tertidur ketika nonton film ini. Tak seperti Ashes of Time yang dibuka dengan datar, The Grandmaster dibuka dengan cukup menarik walaupun tetap saja dengan pace lambat a la Wong Kar-wai. Sayangnya setelah film masuk kebagian Jepang datang menduduki China, tiba-tiba film ini membingungkan. Mau dibawa mengikuti kisah Yip Man, tapi koq setengah hati. Walaupun potongan kue terbesar ada di kisah Gong Er, kayaknya koq cuma begitu-begitu saja. Memperkenalkan tokoh baru yang menarik seperti si tukang cukur Yixiantian, tapi koq kemunculannya terlalu ujug-ujug tanpa ada penjelasan karakter. Malah sampai film selesai, aku sama sekali tak tahu siapa itu si tukang cukur dan mau ngapain dia hadir di film ini? Hanya satu jawaban kenapa alur cerita film ini berantakan: EDITING!
The Grandmaster awalnya berdurasi asli 4 jam dan demi memenuhi jadwal pemutaran bioskop dipotong menjadi 2 jam. Ibarat daging sapi dipotong dua lalu dicacah sampai tak terlihat bentuk sapinya lagi, The Grandmaster jadinya mirip sebuah film yang berisi beberapa adegan yang dipotong kasar lalu disambung sana-sini supaya terlihat seperti sebuah film utuh.

Menurutku, kisah yang paling menarik untuk dibedah lebih lanjut adalah cerita dari sudut pandang Nyonya Yip Man dan kisah si tukang cukur Yixiantian. Sayangnya Wong lebih memilih memperlebar kisah balas dendam Gong Er yang sudah basi ditampilkan film-film silat sejak jaman Wang Yu jadi pendekar berlengan buntung. Bedah karakter dengan cara unik seperti yang dilakukan oleh Wong dalam In the Mood for Love (my favorite Wong’s film) dan Chungking Express (film Wong kedua yang kutonton) tak terlihat. Karakter utama Yip Man dan Gong Er terlampau biasa dan umum, hasilnya cuma biasa-biasa saja tanpa kesan.

Yang menyelamatkan film ini dari tidurku sewaktu menonton adalah sisi artistik yang memang sudah menjadi senjata utama Wong Kar-wai dalam membuat karyanya. Visualisasi yang ditampilkan di sini oleh Wong memang unik dan stylist seperti karya-karyanya yang lain (catatan: aku bahkan masih mengakui visualisasi padang pasir dalam Ashes of Time memang menarik, walaupun filmnya bikin mengantuk).
Yang kedua adalah segi tata laga yang dikoreografi oleh Yuen Woo-ping. Di sini, Yuen menampilkan beberapa aliran seni beladiri China yang terkenal seperti Wing-chun (oleh tokoh Yip Man), Baguazhang (oleh Gong Er), Xingyiquan (oleh Ma San), Bajiquan (oleh si tukang cukur) dan Hung Ga (Abang Yeung). Kalau kalian mau melihat Wing-chun yang efektif dan berbahaya, silahkan nonton Ip Man versi Donnie Yen karena Wing-chun ditangan Tony Leung jadinya terlampau lembek. Bahkan untuk adegan tarung keroyokan, si tukang cukur Yixiantian masih lebih mengesankan dengan Kungfu Bajiquan menghantam pengeroyoknya daripada Yip Man menghabisi belasan lawan dengan Wing-chun di bawah guyuran hujan. Ah iya, adegan keroyokan ini bakalan mengingatkan pada The Matrix yang koreografinya juga dilakukan oleh Yuen Woo-ping.

Film ini memang bukan film umum untuk semua orang. Aku saja tak bisa menikmati The Grandmaster seperti aku menikmati In the Mood for Love walaupun aku masih bisa menonton sampai habis karena tak semembosankan Ashes of Time. Kalau anda penggemar film laga, mendingan nonton Ip Man versi Donnie Yen untuk kesekian kalinya. Tapi kalau anda penggemar film-film art, The Grandmaster masih lumayanlah walau mungkin kalian akan menggerutu dengan heavy-cutting editornya. Saya jadi berharap semoga edisi asli film yang berdurasi 4 jam itu muncul dalam bentuk DVD karena aku yakin lebih bisa lebih dinikmati.

Rating: 2.75/5

3 Responses to “The Grandmaster”


  1. 1 niken April 9, 2013 at 5:09 am

    wah sudah lama sekali ga nonton film wong kar wai. saya udah nonton beberapa, baik yang chinese-based maupun hollywood-based, kayaknya mendingan yang chinese-based deh. pengalaman nonton Blueberry Nights ga gitu nendang… Sejauh ini saya paling suka itu In The Mood for Love. Tapi kata teman saya, Happy Together juga bagus, sayang belum dapat filmnya. saya juga akui, beberapa filmnya Wong bikin ngantuk dan saya ga tamat nonton Days of Being Wild karena ngantuk banget, hahaha…
    Saya ngerasa Wong Kar Wai ini mirip Tarantino atau Scorcese dalam casting aktor & aktrisnya, karena Tony Leung sering banget nongol tuh, Zang Ziyi juga beberapa kali main di filmnya.
    Btw, tumben nih belakangan sering review film, lagi ga sibuk ya Bang?

    • 2 AnDo April 10, 2013 at 4:53 pm

      @niken
      Sepertinya In The Mood for Love memang film terbaik Wong Kar-wai hingga saat ini. Nonton film buatan dia memang harus ekstra tahan ngantuk😛

      Sibuk sih, hanya saja tulisan ini udah dibuat beberapa minggu sebelumnya, cuma di edit dikit lalu diupload sekarang😀

  2. 3 tedi February 9, 2016 at 7:48 pm

    trimakasih bung ulasannya. sy baru nonton film ini di tv dari jam 11-2 mlm. tapi sy jadi gak bisa tidur karna bingung dgn alur film ini. ulasan film anda sangat membantu sy memahami jalan ceritanya. bravo


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: