Tokyo Kazoku (Tokyo Family)

Tokyo Kazoku poster

Cukup lama aku tak pernah menonton film Jepang di bioskop. Terakhir kali aku nonton Rurounin Kenshin akhir Agustus tahun lalu dan setelah itu absen nonton film Jepang hingga aku menemukan Tokyo Kazoku. Aku nonton telat seminggu dan bisa dilihat antusiasme penonton sudah berkurang setelah tayang seminggu, saat itu yang nonton hanya 4 orang termasuk aku. Tokyo Kazoku atau juga dikenal dengan judul Tokyo Family merupakan film terbaru karya sutradara Yoji Yamada yang dikenal sebagai pembuat film bertema keluarga. Aku rata-rata menyukai film buatan Yamada, termasuk juga trilogi Twilight Samurai. Alasannya cukup simpel, Yamada tak memasukkan adegan lebay khas film drama Jepang umumnya tapi lebih memfokuskan scene-scene natural tentang hubungan antar sesama orang Jepang. Tadinya aku membaca kalau Tokyo Kazoku adalah film yang diinspirasi dan diatributkan bagi film legendaris arahan sutradara Yasujiro Ozu, Tokyo Story. Tapi ketika film siap tayang, tiba-tiba muncul ulasan bahwa Tokyo Kazoku lebih merupakan film remake Tokyo Story bukan sekedar film atribut untuk Yasujiro Ozu. Bagaimanakah hasil remake karya Yoji Yamada ini?

Senada dengan cerita film originalnya, Tokyo Story berkisah tentang 2 pasangan suami istri sepuh asal Hiroshima, Shukichi (Isao Hashizume) dan Tomiko Hirayama (Kazuko Yoshiyuki), yang datang berkunjung ke Tokyo untuk bertemu dengan 3 anak mereka yang tinggal di sana. Kedua orang tua tersebut menemukan ketiga anak mereka sudah sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing, anak sulung Koichi (Masahiko Nishimura) sibuk dengan keluarganya dan profesinya sebagai dokter, anak kedua Shige (Tomoko Nakajima) sibuk dengan bisnis salon kecantikan, sementara si bungsu Shoji (Satoshi Tsumabuki) tanpa pekerjaaan tetap, sementara waktu sibuk kerja part time sebagai penata panggung Kabuki. Tinggallah kedua orang tua ini menyibukkan diri mereka sendiri karena ketiga anak mereka sibuk dengan urusan masing-masing tanpa punya waktu untuk bercengkerama dengan orang tua mereka.

Walaupun Tokyo Kazoku merupakan film drama yang bagus, tapi tetap tak bisa menandingi kehebatan Tokyo Story. Yang paling terasa degradasi kualitasnya adalah masalah latar belakang film. Setting Tokyo Story (tahun 1953) berada pada masa Jepang baru kalah perang dan sedang sibuk membangun negara dari keterpurukan dengan menatap masa depan penuh harapan. Sedangkan setting Tokyo Kazoku berada pada tahun 2012 dimana Jepang berada dalam kondisi ekonomi relatif stagnan dengan pola hidup Jepang modern masa kini, contohnya pemuda seperti Shoji yang seharusnya sudah diharapkan hidup mapan malah luntang lantung kerja part-time. Setting cerita ini sangat berpengaruh pada suasana film. Contohnya saja, aku bisa membayangkan betapa melelahkan perjalanan jauh menggunakan KRL tahun 1950-an dari Hiroshima ke Tokyo sehingga menyebabkan pasangan tua Hirayama kelelahan fisik dan mental. Tapi di zaman modern ini, Shukichi dan Tomiko tinggal naik kereta peluru Shinkansen dan dalam waktu 4 jam mereka sudah bisa tiba di Tokyo.

Tentunya ini bukan salah Yoji Yamada karena kondisi sosial kemasyarakatan (dan juga teknologi) tahun 1950-an dan 2012 memang sangat berbeda sehingga otomatis tone film juga turut berubah. Walau demikian pengalaman Yamada selama 50 tahun bergelut sebagai sutradara (catatan penulis: Tokyo Kazoku merupakan buah karya tepat saat 50 tahun perayaan Yoji Yamada sebagai sutradara) mampu membuat skenario asli Tokyo Story yang dirombak dengan setting modern tak kehilangan tema dan fokus film originalnya tentang pergeseran hubungan orang tua dengan anaknya yang telah dewasa. Walaupun harapan akan masa depan Jepang ditengah keterpurukan pasca Perang Pasifik menghilang, Yoji Yamada cukup berhasil menggantikannya dengan kegelisahan stagnannya kondisi Jepang modern yang memudarkan nilai-nilai keluarga.

Tokyo Story menampilkan hubungan menarik antara suami istri tua Hirayama dengan menantunya Noriko yang merupakan istri anak ketiga Shoji yang telah tewas dalam perang. Karena karakter Shoji hadir di Tokyo Kazoku dan mendapat porsi cukup besar, otomatis karakter Noriko sebagai pacar Shoji lebih bersifat sebagai pendukung karakter Shoji. Hadirnya karakter Noriko yang dimainkan Yuu Aoi ini sedikit banyak mencerahkan suasana gloomy Tokyo Kazoku, tak seperti Tokyo Story yang selalu diliputi suasana suram dari awal hingga akhir. Akan tetapi harus diakui karakter Noriko dalam Tokyo Story sangat memorable dan terus terang saja, akting sang aktris legenda Setsuko Hara sebagai Noriko memang tak bisa ditandingi Yuu Aoi. Rasanya sulit melupakan kepedihan Noriko (versi Setsuko Hara) akan kesepiannya dan puncaknya meledak ketika Noriko curhat apa adanya pada si bapak mertua di akhir kisah.

Secara keseluruhan, Tokyo Kazoku lebih enak ditonton dengan alur bertempo sedang tak selambat film originalnya, dan juga suasana film tak sesuram Tokyo Story. Akan tetapi secara kualitas film, Tokyo Story termasuk kategori superb dan tema yang dibawakannya terbukti tak lekang dimakan jaman, karena toh tema tersebut masih relevan dan bisa dibawakan Tokyo Kazoku dengan latar jaman yang berbeda. Kalau anda telah menonton Tokyo Kazoku dan belum menonton versi originalnya, kemungkinan besar anda akan penasaran dengan Tokyo Story. Memang ada baiknya untuk menonton kedua-duanya karena masing-masing film memiliki gayanya tersendiri.

Ah ya, jangan tertipu dengan poster yang menampilkan foto keluarga dimana seluruh anggotanya tersenyum bahagia. Film ini tak secerah senyum mereka di foto koq, walaupun tak semuram Tokyo Story. Toh foto keluarga memang harus terlihat bahagia walaupun dalam hati siapa tahu.

Rating: 4.25/5

4 Responses to “Tokyo Kazoku (Tokyo Family)”


  1. 1 niken February 13, 2013 at 1:05 am

    pingin nonton tapi terpaksa nunggu versi subtitlenya muncul di internet😛

    • 2 AnDo February 13, 2013 at 10:52 am

      @niken
      Kadang kalau dipikir-pikir, menguasai bahasa asing itu benar-benar sangat berguna. Salah satu kegunaannya adalah bisa menonton film berbahasa asing tanpa teks terjemahan😆

  2. 4 Radira March 29, 2013 at 4:19 pm

    Is it remake of “Tokyo Story”??


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: